Ketika Rumah yang Dulu Nyaman Mulai Terasa Menyesakkan “Gue stres! Di rumah terus, lihat tembok, tembok, dan tembok lagi!” “Pengen nongkrong sama teman, makan bakso langganan, tapi nggak bisa ke mana-mana.” “Pelanggan sepi, pemasukan turun, sementara tagihan terus datang.” Kalimat-kalimat seperti itu sangat sering terdengar ketika pandemi COVID-19 mencapai puncaknya pada tahun 2020–2022. Banyak orang yang sebelumnya aktif bekerja, bersosialisasi, dan beraktivitas di luar rumah mendadak harus membatasi geraknya demi mencegah penyebaran virus. Kondisi tersebut ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Bahkan bagi sebagian orang, tekanan psikologis akibat pandemi terasa lebih berat dibandingkan ancaman penyakit itu sendiri. Pandemi mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Aktivitas kerja berubah menjadi work from home (WFH), sekolah dilakukan secara daring, kegiatan ibadah dibatasi, dan berbagai bentuk interaksi sosial berkurang drastis. Pe...
Research, Publication, and Community Development for Better Wellbeing and Quality of Life