Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label perasan

DETEKSI DINI STRES DIRI AKIBAT PANDEMI CORONA

Ketika Rumah yang Dulu Nyaman Mulai Terasa Menyesakkan “Gue stres! Di rumah terus, lihat tembok, tembok, dan tembok lagi!” “Pengen nongkrong sama teman, makan bakso langganan, tapi nggak bisa ke mana-mana.” “Pelanggan sepi, pemasukan turun, sementara tagihan terus datang.” Kalimat-kalimat seperti itu sangat sering terdengar ketika pandemi COVID-19 mencapai puncaknya pada tahun 2020–2022. Banyak orang yang sebelumnya aktif bekerja, bersosialisasi, dan beraktivitas di luar rumah mendadak harus membatasi geraknya demi mencegah penyebaran virus. Kondisi tersebut ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Bahkan bagi sebagian orang, tekanan psikologis akibat pandemi terasa lebih berat dibandingkan ancaman penyakit itu sendiri. Pandemi mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Aktivitas kerja berubah menjadi work from home (WFH), sekolah dilakukan secara daring, kegiatan ibadah dibatasi, dan berbagai bentuk interaksi sosial berkurang drastis. Pe...

WEBINAR NGABUBURIT KAJIAN RAMADHAN: KENALI GEJALA STRES AKIBAT PANDEMI CORONA

KENALI GEJALA STRES AKIBAT PANDEMI CORONA SEBELUM TERLAMBAT

Pandemi yang Mengubah Segalanya Ketika pandemi COVID-19 pertama kali muncul pada awal tahun 2020, sebagian besar masyarakat fokus pada dampak fisiknya. Berita mengenai angka penularan, kematian, rumah sakit yang penuh, hingga penggunaan masker menjadi konsumsi sehari-hari. Namun seiring berjalannya waktu, dunia menyadari bahwa pandemi tidak hanya menyerang kesehatan fisik. Ada dampak lain yang jauh lebih tersembunyi, tetapi tidak kalah berbahaya, yaitu gangguan kesehatan mental. Rasa takut tertular, kehilangan pekerjaan, pembatasan aktivitas sosial, kesepian, ketidakpastian ekonomi, hingga kehilangan orang-orang yang dicintai menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa. Banyak orang yang sebelumnya sehat secara mental mulai mengalami kecemasan, stres, gangguan tidur, bahkan depresi. Menurut World Health Organization (WHO), pandemi COVID-19 menyebabkan meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan mental di berbagai negara. Pada saat yang sama, banyak layanan kesehatan jiwa justru mengala...

DISKURSUS KEMATIAN DAN KIAMAT DALAM PESPEKTIK KEILMUAN SAINS

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Tulisan ini adalah sebuah hasil perenungan dan diskusi hebat   atas meninggalnya sahabat saya.   Seorang sahabat yang telah mengisi kehidupan saya di masa kuliah dulu, di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. Namanya adalah Fajar Wahyudiarto.   Biarlah tulisan ini mengenang semua hal baik yang telah beliau lakukan sepanjang hidupnya.   Khususnya bagi saya adalah bagaimana dia menjadi pribadi yang suka menolong, lembut, penuh kasih sayang tulus, humoris, rajin, dan pekerja keras.   Sebuah pribadi paripurna dari seorang mahasiswa yang bergulat dengan berbagai permasalahan di perkuliahan yang penuh dengan kompetisi hebat, yaitu di Universitas Indonesia.   Kami pernah tidur di kamar yang sama, mengerjakan tugas dalam kelompok yang sama, dan berada di kelas yang sama. Suka duka kami lalui bersama.   Senang, sedih dan kebahagiaan begitu kental kami rasakan, ka...

VITAMIN B DAN DEPRESI

Agus Syarifudin  Partadiredja Tanuarga Solusi masalah depresi dengan pemberian anti depresan, saat ini efektivitasnya mulai diragukan. Anti depresan baru memiliki efek terhadap gejala depresi setelah tiga hingga empat minggu penggunaan. Di sisi lain, pemberian anti-depresan juga memiliki efek samping seperti obesitas, mual, dan lainnya. Sedangkan pemberian vitamin tidak memiliki efek samping. Penelitian tentang nutrisi menemukan bahwa vitamin dapat digunakan sebagai treatment pendamping bagi penderita depresi. Salah satu vitamin yang memiliki efek positif terhadap penanganan gejala depresi adalah Vitamin B. Vitamin B dibutuhkan untuk memfungsikan silkus metilasi, produksi monoamine oxidase, pembentukan DNA, dan memperbaiki serta mempertahankan fosfolipid. Baca juga:  Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh Vitamin B dan Mood. Dalam ilmu kimia, metilasi menunjukkan penambahan (adisi) suatu gugus metil pada suatu substrat, atau penggantian (substitusi) suatu atom (atau gu...

Memutus Mata Rantai Perundungan: Panduan Holistik Melawan "Lingkaran Setan" Bullying di Era Digital

Perundungan atau bullying telah lama menjadi momok menakutkan yang mengintai ruang-ruang sosial kita. Sayangnya, seiring berkembangnya teknologi, ancaman ini tidak lagi terbatas pada sudut-sudut sepi di halaman sekolah atau koridor kantor, melainkan telah menyusup ke dalam genggaman tangan melalui layar gawai. Artikel ini akan membedah secara mendalam apa itu perundungan, bagaimana dampaknya terhadap psikologis manusia, realitas yang terjadi di Indonesia, serta langkah konkret yang dapat diambil oleh orang tua dan guru untuk mengakhiri siklus destruktif ini. 1. Memahami Anatomi Perundungan ( Bullying ) Perundungan ( bullying ) adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan, dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu. Tindakan penindasan ini tidak bersifat tunggal; ia bermanifestasi dalam berbagai bentuk yang da...

TRANSCRANIAL LLLT

Telah diketahui bahwa gangguan depresi terjadi karena adanya permasalahan pada tingkat seluler.   Metabolisme di tingkat seluler, khususnya mitokondria mengalami disfungsi sehingga terjadi produksi yang menggangu metabolisme sel saraf.   Hal ini dikarenakan adanya inflamasi atau pembengkakan pada jaringan saraf.   Proses inflamasi ini menghasilkan protein yang memberikan sinyal kepada sistem kekebalan tubuh.   Proses yang terjadi pada tingkatan seluler ini mempengaruhi kerja pada tingkatan jaringan dan organ.   Baca juga:  VITAMIN B DAN DEPRESI Oleh karena itu permasalahan depresi harus ditangani dengan intervensi yang mampu menjangkau tingkat seluler.   Bagaimana mekanisme metabolisme di tingkat sel diperbaiki sehingga akan berdampak positif di tingkatan jaringan dan organ.   Bahkan pada tingkatan yang komplek, perbaikan di tingkat seluler ini diharapkan dapat memperbaiki sistem kerja organ dan tubuh secara keseluruhan. Salah satu interve...