Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Banyak orang mengira bekerja dari rumah ( work from home ) atau sistem hybrid adalah anugerah terbesar bagi pekerja di Jabodetabek. Tidak ada lagi drama macet di Sudirman, tidak perlu berdesakan di KRL Commuter Line pagi hari, dan bisa bekerja sambil mengenakan celana piyama. Namun, sebagai seorang pemerhati neurosains dan psikologi, saya ingin melemparkan sebuah kenyataan pahit yang mungkin tidak ingin Anda dengar: Bekerja dari kamar tamu atau meja makan Anda sebenarnya sedang menciptakan "kebakaran" di dalam sirkuit otak Anda yang jauh lebih berbahaya daripada polusi Jakarta. Kebebasan yang Anda rasakan itu semu. Tanpa disadari, dinding rumah Anda kini telah berubah menjadi dinding kantor yang tidak pernah tutup. Inilah yang disebut dengan jebakan boundary blurring atau pengikisan batas antara kehidupan profesional dan personal yang diperparah oleh technostress . Baca artikel lainnya: Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Mod...
Telah diketahui bahwa seluruh kerja sistem organ tubuh manusia saling berkaitan, baik secara langsung ataupun tidak. Rangsangan dari luar tubuh yang menyebabkan gangguan pada salah satu sistem organ tentu akan berakibat kepada sistem organ lainnya. Di era modern yang serba cepat, manusia sering kali mengabaikan bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik berada di bawah satu komando biologis yang sama. Stres sebagai salah satu permasalahan dalam kejiwaan ternyata berdampak luas kepada sistem organ lainnya. Perkembangan keilmuan telah mengetahui bagaimana stres sebagai faktor psikologis berkaitan erat dengan kerja otak serta sistem kekebalan tubuh. Sistem kerja otak dan sistem kekebalan tubuh adalah sistem kerja organ yang vital bagi individu. Permasalahan pada kedua sistem ini tentu akan berdampak besar kepada kesehatan dan kualitas hidup individu dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya. Kajian mendalam mengenai interaksi ini telah menjadi ketertarikan tersendiri dalam cabang ...