Langsung ke konten utama

TENAGA AHLI


Vera Safira Ibrahim, S.Psi., M.M., Psikolog. Beliau lulusan Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia untuk meraih gelar profesi psikolognya pada tahun 1996. Kemudian melanjutkan studi di Program Magister Management Universitas Prasetya Mulya Business School. Beliau memiliki karir di bidang Managemen Sumber Daya Manusia lebih dari 20 tahun sebagai assesor. Beliau juga berminat di dalam training, coaching & counseling, pendidikan, dan kesehatan mental. Beliau pernah bekerja di Truba Jurong Engineering sebagai HR Spesialist dan di Perusahaan Gas Negara sebagai HR Consultan. Saat ini beliau juga sebagai pengajar dan psikolog di Balai Rehabilitasi Sosial Wanita Tuna Susila Mulya Jaya, Kementerian Sosial Republik Indonesia, Jakarta. Beliau memiliki nomor ijin praktek psikolog: 1198-20-1-2 dan Nomor Induk Anggota (NIA) Ikatan Psikolog Klinis Indonesia bernomor: 22 01 3623..

 


Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga. Beliau adalah lulusan Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia pada tahun 2003 dan seorang neuropsycholoy enthusiast. Beliau memiliki berbagai pengalaman sebagai peneliti, pemerhati, dan praktisi dari keilmuan sains, humaniora, dan kesehatan lebih 20 tahun. Beliau pernah bekerja di Pusat Peragaan IPTEK Taman Mini Indonesia Indah; LSM Center of Electoral Reform (CETRO); LSM University Network For Free and Fair Election; Nippon Koei Co., Ltd.; PZ Cusson Indonesia; PT. Tiga Raksa Satriam, Tbk.; Homeschooling Kak Seto; Pusat Studi Kajian Gender dan Seksualitas, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia; Pusat Kajian Sains dan Teknologi Fakultas Teknik Universitas Indonesia; dan Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu; 




Postingan populer dari blog ini

Burnout: Penyebab, Gejala, Dampak, Tes, dan Cara Pulih Berdasarkan Neurosains

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Burnout bukan terjadi karena Anda "lemah". Bisa jadi justru karena Anda terlalu kuat bertahan. Di media sosial, kita sering melihat budaya hustle : lembur dianggap dedikasi, selalu online dianggap profesional, dan membalas pesan kantor tengah malam dianggap loyalitas. Akibatnya, banyak pekerja merasa bersalah ketika beristirahat, padahal otaknya sudah memberi sinyal bahaya. Yang ironis, sebagian orang baru menyadari dirinya mengalami burnout ketika tubuh mulai "protes": sulit tidur, mudah marah, kehilangan motivasi, sering lupa, atau merasa lelah meski baru bangun tidur. Padahal, burnout bukan sekadar capek biasa. Menurut World Health Organization, burnout merupakan sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola, bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja. Ilustrasi pekerja yang alami burnout Baca artikel lainnya:  Apa itu Burnout? Pendahuluan Bayangkan seorang karyawan di Jakarta yang setiap hari menghab...

Deteksi Dini Stres dan Depresi

Stres! Itulah yang sering diungkapkan saat pikiran kita kalut atau banyak permasalahan. Namun jika ditelaah lebih lanjut, stres tidak hanya bersifat psikis saja. Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Oleh karena itu, saat tubuh kita merasakan tekanan dari luar baik fisik, psikis, emosi maupun mental maka tubuh dapat memberikan respon. Secara umum pemicu stres atau stressor dapat didefinsikan sebagai segala tantangan yang muncul dari dalam atau luar yang mengganggu internal tubuh kita. Tubuh kita akan merespon stressor yang terlibat dalam berbagai mekanisme fisiologi yang dirancang untuk mengembalikan homeostasis. Homeostasis adalah suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang di alaminya. Baca juga:  VITAMIN B DAN DEPRESI Saat stres datang kesei...

Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Saat ini stres menjadi permasalahan utama di perkotaan. Bahkan stres yang berujung kepada depresi menjadi permasalahan serius. Tingginya rutinitas pekerjaan, beban tugas sekolah dan perkuliahan serta komplesitas masalah di perkotaan mendorong berbagai hal menjadi pemicu stres. Jika tidak ditangani dengan baik, maka stres yang berkepanjangan akan mengarah kepada depresi dan gangguan mood. Namun temuan ilmiah terakhir stres juga berkaitan erat dengan fisiologis tubuh dimana dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh atau immune system. Hal ini tidak tertutup kemungkinan menyebabkan penyakit autoimun. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh. Banyak ditemukan bahwa penyakit autoimun sepert Lupus, sarkoidosis, vitiligo, hipotiroidisme dimana salah satu pemi...