Langsung ke konten utama

Featured post

Work From Home Bisa Merusak Kesehatan Mental? Ini Penjelasan Neurosainsnya

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Banyak orang mengira bekerja dari rumah ( work from home ) atau sistem hybrid adalah anugerah terbesar bagi pekerja di Jabodetabek. Tidak ada lagi drama macet di Sudirman, tidak perlu berdesakan di KRL Commuter Line pagi hari, dan bisa bekerja sambil mengenakan celana piyama. Namun, sebagai seorang pemerhati neurosains dan psikologi, saya ingin melemparkan sebuah kenyataan pahit yang mungkin tidak ingin Anda dengar: Bekerja dari kamar tamu atau meja makan Anda sebenarnya sedang menciptakan "kebakaran" di dalam sirkuit otak Anda yang jauh lebih berbahaya daripada polusi Jakarta. Kebebasan yang Anda rasakan itu semu. Tanpa disadari, dinding rumah Anda kini telah berubah menjadi dinding kantor yang tidak pernah tutup. Inilah yang disebut dengan jebakan boundary blurring atau pengikisan batas antara kehidupan profesional dan personal yang diperparah oleh technostress . Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Mod...

Cara Mudah Bikin Otak "Plong" dan Hati Tenang dalam 30 Hari



Pernahkah Anda merasa pikiran sangat ruwet, pusing memikirkan masa depan, atau merasa capek padahal tidak sedang kerja berat? Rasanya seperti HP jadul yang mulai "lemot" atau macet saat dipakai. Kalau sudah begini, kita jadi gampang marah, sulit konsentrasi, dan sering merasa tidak berdaya.

Tahukah Anda? Ternyata otak kita itu mirip seperti mesin. Kalau mesin terus-menerus dipaksa bekerja tanpa dirawat, lama-lama mesinnya akan panas atau overheat. Begitu juga otak kita. Kabar baiknya, ada cara sederhana untuk "meriset" ulang otak kita supaya kembali segar dan lancar lewat sebuah kegiatan bernama 30-Day Digital Bootcamp Neuro-Husnuzzan.

Pelatihan ini akan diadakan pada 17 Mei sampai 17 Juni 2026. Jangan bayangkan ini seperti sekolah yang membosankan. Kita akan belajar cara merawat otak hanya lewat HP dan pertemuan lewat video di internet (Zoom).

Bagaimana caranya memperbaiki otak yang "lemot" tadi? Ada 3 langkah mudah yang akan kita pelajari:

1. Ganti "Program" Pikiran (Husnuzzan) Sering kali kita merasa sedih karena selalu memikirkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi. Di sini, kita diajarkan untuk berprasangka baik atau Husnuzzan. Secara alami, saat kita berpikir baik dan bersyukur, tubuh akan memompa "obat bahagia" alami ke otak. Hasilnya, suasana hati jadi lebih stabil dan kita jadi lebih semangat bekerja.

2. Tekan Tombol "Reset" (Sholat) Sholat bukan hanya ibadah, tapi cara hebat untuk mengistirahatkan otak yang panas. Saat kita sujud dengan tenang dan lama, saraf-saraf kita akan merasa rileks secara mendalam. Ini seperti mematikan mesin sebentar supaya suhunya dingin lagi. Kita akan diajarkan cara sholat yang benar-benar bikin hati "adem" dan stres hilang seketika.

3. "Latihan Otot" Pikiran (Membaca Al-Quran) Supaya otak makin pintar dan fokus, kita butuh latihan. Membaca Al-Quran dengan pelan dan benar ternyata seperti sedang "senam otak". Ini melatih kita untuk lebih sabar, teliti, dan tidak gampang terganggu oleh suara HP atau gangguan lainnya saat sedang fokus bekerja.

Apa Untungnya Ikut Uji Coba Ini? Selain jadi lebih tenang, Anda akan mendapatkan laporan khusus tentang kondisi otak Anda sendiri. Kami akan membantu Anda melihat bagian mana dari pikiran Anda yang perlu diperbaiki supaya tidak gampang "baper" (terbawa perasaan) atau emosi saat ada masalah di tempat kerja atau di rumah. Anda akan dibimbing supaya bisa mengambil keputusan dengan lebih jernih dan tidak terburu-buru. Acara ini gratis dan dapatkan manfaat yang besar dari kegiatan ini

Kegiatan ini sangat cocok bagi Anda yang sibuk, karena materinya berupa video pendek (3-5 menit saja) yang bisa ditonton kapan saja lewat WA. Ada juga pertemuan mingguan untuk curhat dan diskusi bareng pelatih yang ahli.

Informasi detail dari kegiatan ini dapat dilihat pada link berikut: 30-Day Digital Bootcamp Neuro_Husnuzzan Method_White Paper

Ayo, jangan biarkan pikiran Anda terus-menerus ruwet dan stres. Ambil kendali hidup Anda sekarang supaya masa depan jadi lebih tenang dan bahagia.

Segera Daftarkan Diri Anda! Waktu pendaftaran sangat terbatas. Mari bergabung dan rasakan perubahannya hanya dalam 30 hari.

Hubungi Pusat Studi & Aplikasi Keilmuan (PSAK) atau Bapak A.S.P Tanuarga untuk info lebih lanjut di agussyarifudin79@gmail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deteksi Dini Stres dan Depresi

Stres! Itulah yang sering diungkapkan saat pikiran kita kalut atau banyak permasalahan. Namun jika ditelaah lebih lanjut, stres tidak hanya bersifat psikis saja. Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Oleh karena itu, saat tubuh kita merasakan tekanan dari luar baik fisik, psikis, emosi maupun mental maka tubuh dapat memberikan respon. Secara umum pemicu stres atau stressor dapat didefinsikan sebagai segala tantangan yang muncul dari dalam atau luar yang mengganggu internal tubuh kita. Tubuh kita akan merespon stressor yang terlibat dalam berbagai mekanisme fisiologi yang dirancang untuk mengembalikan homeostasis. Homeostasis adalah suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang di alaminya. Baca juga:  VITAMIN B DAN DEPRESI Saat stres datang kesei...

Macet Jabodetabek atau Beban Kerja? Menguak Akar Lelah Mental Pekerja Urban

  Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda merasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan dua jam dari Bekasi ke Sudirman, lalu sesampainya di meja kantor, Anda hanya menatap layar kosong selama 30 menit? Banyak dari kita menyalahkan kemacetan Jakarta yang legendaris sebagai biang keladi kelelahan ini. Namun, sebagai pemerhati neurosains yang sering menangani kasus kesehatan mental pekerja, saya ingin melemparkan sebuah pernyataan kontroversial: Macet Jabodetabek mungkin hanyalah kambing hitam yang nyaman untuk menyembunyikan kenyataan bahwa lingkungan kerja Anda sebenarnya sedang "merusak" fungsi otak Anda. Kita sering terjebak dalam mitos bahwa jika perjalanan komuter kita lebih singkat, kita akan lebih bahagia. Padahal, kelelahan yang Anda rasakan bukanlah sekadar "capek fisik" biasa, melainkan sinyal dari kondisi klinis yang jauh lebih serius. Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Modern: Tinjauan Neurosains terhadap...

Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Saat ini stres menjadi permasalahan utama di perkotaan. Bahkan stres yang berujung kepada depresi menjadi permasalahan serius. Tingginya rutinitas pekerjaan, beban tugas sekolah dan perkuliahan serta komplesitas masalah di perkotaan mendorong berbagai hal menjadi pemicu stres. Jika tidak ditangani dengan baik, maka stres yang berkepanjangan akan mengarah kepada depresi dan gangguan mood. Namun temuan ilmiah terakhir stres juga berkaitan erat dengan fisiologis tubuh dimana dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh atau immune system. Hal ini tidak tertutup kemungkinan menyebabkan penyakit autoimun. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh. Banyak ditemukan bahwa penyakit autoimun sepert Lupus, sarkoidosis, vitiligo, hipotiroidisme dimana salah satu pemi...