Langsung ke konten utama

Featured post

Cara Mudah Bikin Otak "Plong" dan Hati Tenang dalam 30 Hari

Pernahkah Anda merasa pikiran sangat ruwet, pusing memikirkan masa depan, atau merasa capek padahal tidak sedang kerja berat? Rasanya seperti HP jadul yang mulai "lemot" atau macet saat dipakai. Kalau sudah begini, kita jadi gampang marah, sulit konsentrasi, dan sering merasa tidak berdaya. Tahukah Anda? Ternyata otak kita itu mirip seperti mesin. Kalau mesin terus-menerus dipaksa bekerja tanpa dirawat, lama-lama mesinnya akan panas atau overheat . Begitu juga otak kita. Kabar baiknya, ada cara sederhana untuk "meriset" ulang otak kita supaya kembali segar dan lancar lewat sebuah kegiatan bernama 30-Day Digital Bootcamp Neuro-Husnuzzan . Pelatihan ini akan diadakan pada 17 Mei sampai 17 Juni 2026 . Jangan bayangkan ini seperti sekolah yang membosankan. Kita akan belajar cara merawat otak hanya lewat HP dan pertemuan lewat video di internet (Zoom). Bagaimana caranya memperbaiki otak yang "lemot" tadi? Ada 3 langkah mudah yang akan kita pelajari: 1. Gant...

Deteksi Dini Stres dan Depresi

Stres! Itulah yang sering diungkapkan saat pikiran kita kalut atau banyak permasalahan. Namun jika ditelaah lebih lanjut, stres tidak hanya bersifat psikis saja. Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Oleh karena itu, saat tubuh kita merasakan tekanan dari luar baik fisik, psikis, emosi maupun mental maka tubuh dapat memberikan respon.

Secara umum pemicu stres atau stressor dapat didefinsikan sebagai segala tantangan yang muncul dari dalam atau luar yang mengganggu internal tubuh kita. Tubuh kita akan merespon stressor yang terlibat dalam berbagai mekanisme fisiologi yang dirancang untuk mengembalikan homeostasis. Homeostasis adalah suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang di alaminya.

Saat stres datang keseimbangan tubuh terganggu akibat respon yang diberikan. Rasa marah, kecemasan, dan lain-lain memicu reaksi kimia dalam neurotransmiter dan hormon di dalam tubuh. Karena prinsip homeostasis inilah, tubuh memiliki mekanisme untuk mengembalikan kekacauan yang terjadi hingga kembali menjadi normal. Apabila mekanisme homestasis tubuh secara internal tidak baik atau tidak mampu mengembalikan kepada keadaan sebelum stress, maka perlu adanya mekanisme dari luar dalam bentuk intervensi baik secara psikologi maupun medis. Hal ini ditujukan agar kondisi tubuh menjadi lebih baik dan meminimalisir kerusakan yang terjadi di dalam jaringan,organ ataupun sistem organ yang bekerja.

Stres, Imun Tubuh, dan Penyakit Kronis
Di sisi lain, stres ternyata berdampak kepada berbagai penyakit kronis. Hal ini terkait dengan hubungan antara sistem susunan saraf pusat (SSP) dan sel-sel imun periferal (sel T) dari organ limfoid. Sistem Limfoid adalah sel-sel sistem imun ditemukan dalam jaringan dan organ. Organ Limfoid primer atau sentral diperlukan untuk pematangan, diferensiasi dan proliferasi sel T dan B sehingga menjadi limfosit yang mengenal antigen. Ada dua organ yang terlibat yaitu kelenjar timus dan Bursa Fabricius (sumsum tulang).

Otak sebagai bagian dari susunan saraf pusat, dapat mengintervensi sistem imun atau kekebalan tubuh. Hal ini terjadi saat stres psikis terjadi menghambat banyak fungsi dari sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu jika tubuh mengalami stres dan otak menangkap sinyal tersebut maka akan mempengaruhi produksi sel imun. Penelitian psikoneuroimunologi menemukan bahwa stres dapat menurunkan kekebalan tubuh bahkan dapat menyebabkan penyakit auto imun. Hal ini terjadi karena sinyal dalam sel dan tubuh yang berfungs untuk memerintahkan pengaktifan sel imun terganggu karena produksi hormon stres.

Stres yang berkepanjangan dan mengarah kepada depresi dapat menyebabkan terjadinya peradangan atau inflamasi pada tubuh. Telah ditemukan bahwa pasien yang mengalami depresi berat (Major Depresive Disorder) di dalam tubuhnya memproduksi biomarker inflamasi dan memicu kerja sistem kekebalan tubuh. Di sisi lain, inflamasi atau peradangan periferal, baik yang sifatnya sedang atau akut, jelas mempengaruhi fungsi otak. Melemahnya tubuh dan terjadinya peradangan pada jaringan, khususnya jaringan saraf dapat disebabkan karena pengaruh usia dan juga stres psikis. Pengaruh tersebut dapat terlihat dari gangguan kelelahan yang terjadi, di mana dapat menjadi penyakit yang sifatnya psikiatrik atau kejiwaan. Stres yang terjadi akan merangsang produksi hormon stres atau kortisol sehingga menghambat kerja imun tubuh.

Studi tentang berbagai penyakit menemumkan bahwa stres secara psikologi dapat memnyebabkan penyakit perdangan kronis, kanker, penyakit kardiovaskulas, infeksi akut dan kronis dari virus (misal HIV, Hepatitis) spesis, asma, dan lainnya. Oleh karena itu penting untuk menjaga kesehatan mental agar penyakit-penyakit ini tidak menyerang karena faktor psikis yang tidak tertangani.

Cegah Penyakit Kronis dengan Mengetahui Tingkatan Stres yang Dialami
Oleh karena itu jangan anggap remeh stres. Uraian di atas menjelaskan bagaimana stres berpengaruh kepada tubuh dan menyebabkan berbagai penyakit dan infeksi kronis. Bagi penduduk perkotaan dengan aktivitas dan mobilitas yang tinggi rentan terhadap stres. Berbagai tuntutan fisik dan sosial yang terjadi di perkotaan seringkali tidak dimbangi dengan kemampuan untuk memenuhinya. Hal ini seringkali mengakibatkan frustasi yang berujung kepada stres dan depresi.

Permasalahan gaya hidup di perkotaan juga rawan terhadap pencegahan stres,depresi sistem kekebalan tubuh. Pola makan yang buruk, kurangnya olah raga, dan pola tidur yang tidak cukup adalah faktor yang dapat memperburuk kondisi tubuh jika stres menyerang. Asupan nutrisi yang tidak seimbang serta rutinitas yang mengganggu jam biologis tubuh rentan memicu stres secara fisik yang ditandai oleh kelelahan tubuh.

Deteksi dini stres dan depresi berdasarkan uraian di atas sudah menjadi keharusan. Hal ini perlu dilakukan khususnya bagi penduduk perkotaan dengan tingkat stres yang tinggi. Tingginya aktivitas, rutinitas, dan mobilitas penduduk perkotaan dapat memicu stres baik fisik maupun psikis. Hal ini tidak hanya terjadi pada pekerja atau orang dewasa saja, namun juga dapat terjadi pada anak dan remaja yang bersekolah.

Oleh karena itu deteksi dini stres melalui serangkaian tes psikologi dan neurobiologi dapat mengukur kondisi individu dengan akurat. Tes ini akan melihat bagaimana kondisi internal individu. Tes Psikologi bertujuan melihat faktor kepribadian, keadaan mental, atau kejiwaan seseorang dapat menahan stres yang terjadi. Sejauh mana stres yang dialami telah mempengaruhi kondisi mental, seperti regulasi emosi, pola pikir, dan bagaimana individu melihat dunia sekitarnya. Tes neurobiologi dilakukan dengan pengukuran EEG. Test ini ditujukan untuk melihat kondisi neurotransmiter dan aktivitas dari bagian-bagian otak individu yang terpengaruh karena stres.

Hasil tes yang dilakukan dapat dijadikan acuan intervensi ataupun tindakan lanjut dari permasalahan yang dialami. Berbagai macam intervensi dapat dilakukan untuk individu yang mengalami stres. Intervensi tersebut dapat berupa secara psikologis maupun medis. Terapi CBT, Terapi Mindfulness, Terapi Akupuntur Laser Weber, dan Terapi Obat dapat menjadi pilihan alternatif dari permasalahan ini. Terapi ini penting dilakukan agar permasalahan stres yang terjadi tidak berkembang menjadi masalah kronis seperti penyakit kanker, kardiovaskular (jantung), infeksi virus akut dan lainnya (Ags/Klinik Psikonerologi Hang Lekiu).



Referensi

Straub, R.H. & Cutolo, M. (2018). Psychoneuroimmunology-developments in stress research. Wien Med Wochenschr. 2018 Mar;168(3-4):76-84. doi: 10.1007/s10354-017-0574-2. Epub 2017 Jun 9.

Won, E. & Kim, Y. (2016). Stress, the autonomic nervous system, and the immune-kynurenine pathway in the etiology of depression. Current Neuropharmacology, 2016, 14, 665-673

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Neuroleadership: Mengelola Tim dengan Kecerdasan Otak

  Foto: Pexels Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda merasa bahwa beberapa pemimpin dapat membaca suasana hati tim mereka dengan sangat baik? Atau bahwa mereka mampu menyelesaikan masalah dengan efisien meskipun berada di bawah tekanan tinggi? Kunci dari kemampuan ini mungkin terletak pada bagaimana pemimpin memahami dan memanfaatkan otak mereka. Konsep neuroleadership, yang mengintegrasikan temuan neuroscience ke dalam kepemimpinan, memberi kita wawasan penting tentang bagaimana pemahaman terhadap fungsi otak, khususnya prefrontal cortex dan sistem neuron cermin, dapat meningkatkan kolaborasi, empati, dan kemampuan kepemimpinan dalam lingkungan kerja yang dinamis, termasuk di sektor pendidikan. Salah satu komponen utama dalam neuroleadership adalah pemahaman terhadap prefrontal cortex , bagian otak yang terlibat dalam pengambilan keputusan, pengaturan emosi, dan pemecahan masalah. Di dunia kerja yang penuh dengan tekanan waktu dan tantangan yang terus berkembang, ke...

Overthinking: Kecanduan Otak yang Jarang Disadari!

Ilustrasi overthinking (Pexels.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAKmerasa terjebak dalam pusaran pikiran yang tak berujung? Memutar ulang percakapan, menganalisis skenario terburuk, atau merenungkan keputusan masa lalu hingga larut malam? Jika ya, Rekan PSAK tidak sendirian. Fenomena ini, yang sering kita sebut overthinking , umumnya dianggap sebagai kebiasaan atau sifat bawaan. Padahal, dari kacamata neuropsikologi, overthinking bisa jadi adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks: sebuah bentuk kecanduan otak . Overthinking dan Sirkuit Otak: Sebuah Pola Kompulsif Sebagai seorang neuropsikolog yang telah mendalami pola pikir manusia selama lebih dari satu dekade, saya melihat overthinking bukan sekadar "terlalu banyak berpikir." Ini adalah pola pikir kompulsif yang memiliki jejak biologis kuat di otak. Pusat dari "kecanduan" ini adalah sebuah jaringan otak yang disebut Default Mode Network (DMN) . DMN adalah sirkuit otak yang aktif...