Langsung ke konten utama

Featured post

Cara Mudah Bikin Otak "Plong" dan Hati Tenang dalam 30 Hari

Pernahkah Anda merasa pikiran sangat ruwet, pusing memikirkan masa depan, atau merasa capek padahal tidak sedang kerja berat? Rasanya seperti HP jadul yang mulai "lemot" atau macet saat dipakai. Kalau sudah begini, kita jadi gampang marah, sulit konsentrasi, dan sering merasa tidak berdaya. Tahukah Anda? Ternyata otak kita itu mirip seperti mesin. Kalau mesin terus-menerus dipaksa bekerja tanpa dirawat, lama-lama mesinnya akan panas atau overheat . Begitu juga otak kita. Kabar baiknya, ada cara sederhana untuk "meriset" ulang otak kita supaya kembali segar dan lancar lewat sebuah kegiatan bernama 30-Day Digital Bootcamp Neuro-Husnuzzan . Pelatihan ini akan diadakan pada 17 Mei sampai 17 Juni 2026 . Jangan bayangkan ini seperti sekolah yang membosankan. Kita akan belajar cara merawat otak hanya lewat HP dan pertemuan lewat video di internet (Zoom). Bagaimana caranya memperbaiki otak yang "lemot" tadi? Ada 3 langkah mudah yang akan kita pelajari: 1. Gant...

Kecanduan Gawai (Gadget)


Agus Syarifudin

Kemajuan teknologi dan internet telah mengubah aktivitas dan kegiatan manusia secara drastis.  Komunikasi langsung kini berubah menjadi digital.  Kemajuan ini telah banyak membantu aktivitas manusia dengan berbagai kemudahan yang diciptakan.  Namun teknologi dan internet memiliki dampak negatif yang tidak dapat dielakkan. Khususnya penggunaan gadget pada anak dan remaja perlu diwaspadai oleh orang tua serta guru.  Anak dan remaja memiliki self-regulation yang belum matang sehingga rentan terhadap penyalahgunaan gadget yang dapat berakibat kecanduan dan gangguan psikologis. 
  
Gadget memiliki dampak negatif yang perlu diwasapadai.  Aplikasi sosial media di gadget terbukti telah merubah pola hubungan manusia.  Kontak sosial langsung tergantikan dengan like, chat, tampilan visual dan audio di gadget. Hal ini ternyata berdampak negatif terhadap meningkatnya kecemasan, perasaan sedih dan kesepian. Sementara itu game telah menggantikan permainan tradisional dan olah raga fisik.  Beberapa penelitian menunjukkan bahwa game dengan materi kekerasan dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku pemainnya.  Bahkan setelah game dimatikan perasaan bosan dan perilaku agresif tetap bertahan.  Kecemasan pemain game bermateri kekerasan lebih tinggi dibandingkan yang tidak memainkannya.  Oleh karena itu penggunaan gadget yang tidak terkendali akan mengakibatkan gangguan berpikir, emosional, dan perilaku. 

Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu mengawasi dan mendampingi buah hati serta peserta didik dalam penggunaan gadget.  Perlu strategi dalam mengarahkan anak dan siswa dalam penggunaan gadget yang positif agar diterima dengan baik oleh mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Neuroleadership: Mengelola Tim dengan Kecerdasan Otak

  Foto: Pexels Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda merasa bahwa beberapa pemimpin dapat membaca suasana hati tim mereka dengan sangat baik? Atau bahwa mereka mampu menyelesaikan masalah dengan efisien meskipun berada di bawah tekanan tinggi? Kunci dari kemampuan ini mungkin terletak pada bagaimana pemimpin memahami dan memanfaatkan otak mereka. Konsep neuroleadership, yang mengintegrasikan temuan neuroscience ke dalam kepemimpinan, memberi kita wawasan penting tentang bagaimana pemahaman terhadap fungsi otak, khususnya prefrontal cortex dan sistem neuron cermin, dapat meningkatkan kolaborasi, empati, dan kemampuan kepemimpinan dalam lingkungan kerja yang dinamis, termasuk di sektor pendidikan. Salah satu komponen utama dalam neuroleadership adalah pemahaman terhadap prefrontal cortex , bagian otak yang terlibat dalam pengambilan keputusan, pengaturan emosi, dan pemecahan masalah. Di dunia kerja yang penuh dengan tekanan waktu dan tantangan yang terus berkembang, ke...

Overthinking: Kecanduan Otak yang Jarang Disadari!

Ilustrasi overthinking (Pexels.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAKmerasa terjebak dalam pusaran pikiran yang tak berujung? Memutar ulang percakapan, menganalisis skenario terburuk, atau merenungkan keputusan masa lalu hingga larut malam? Jika ya, Rekan PSAK tidak sendirian. Fenomena ini, yang sering kita sebut overthinking , umumnya dianggap sebagai kebiasaan atau sifat bawaan. Padahal, dari kacamata neuropsikologi, overthinking bisa jadi adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks: sebuah bentuk kecanduan otak . Overthinking dan Sirkuit Otak: Sebuah Pola Kompulsif Sebagai seorang neuropsikolog yang telah mendalami pola pikir manusia selama lebih dari satu dekade, saya melihat overthinking bukan sekadar "terlalu banyak berpikir." Ini adalah pola pikir kompulsif yang memiliki jejak biologis kuat di otak. Pusat dari "kecanduan" ini adalah sebuah jaringan otak yang disebut Default Mode Network (DMN) . DMN adalah sirkuit otak yang aktif...