![]() |
| Ilustrasi anak ADHD (Pexel.com/Ron Lach) |
Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga
Dunia pendidikan dan pengasuhan
sering kali terjebak dalam generalisasi yang berbahaya. Ketika seorang anak
tidak bisa duduk tenang dan terus mengganggu temannya, mereka dengan cepat
dicap sebagai "anak nakal" atau penyandang ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Sebaliknya,
ketika seorang anak tampak melamun, lambat merespons, dan sering kehilangan
fokus, mereka sering kali dilabeli sebagai "anak lambat belajar" (slow learner) atau anak yang tidak memiliki motivasi.
Namun, tahukah Anda bahwa di balik label-label tersebut, sering kali terdapat
gangguan neurobiologis yang nyata dan membutuhkan pendekatan yang sangat
berbeda? Artikel ini akan mengupas tuntas kontroversi perbedaan antara ADD
(sekarang secara klinis dikategorikan sebagai ADHD Predominantly Inattentive
Type) dan ADHD tipe hiperaktif-impulsif, serta bagaimana salah
kaprah dalam mendiagnosis dapat menghancurkan masa depan seorang anak.
Memahami Esensi Perbedaan: ADHD vs. ADD
Secara klinis, istilah ADD (Attention Deficit Disorder) memang sudah tidak
digunakan lagi dalam DSM-5 (Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders, edisi ke-5), namun istilah ini masih
sangat populer di kalangan orang tua dan guru untuk membedakan antara anak yang
hiperaktif dan anak yang "hanya" tidak fokus.
Perbedaan antara anak ADHD dengan ADD secara umum terlihat jelas. Secara umum anak ADHD kurang self-conscious (kesadaran diri), sedangkan anak ADD memiliki self-conscious yang lebih tinggi. Kedua kelompok ini mengalami masalah sosial, namun dengan alasan yang berbeda. Anak ADHD mengalami masalah sosial karena mengganggu anak lainnya, seperti mengambil barang milik orang lain, gagal dalam menunggu giliran, dan secara umum bertindak tanpa memikirkan akibatnya serta perasaan orang lain. Mereka adalah "badai" yang bergerak, impulsif, dan sering kali membuat kekacauan tanpa disengaja.
Di sisi lain, anak dengan ADD memiliki masalah sosial karena terlalu pasif, malu, dan menarik diri. Perilaku diam dan respons yang lambat dari anak ADD cenderung memiliki masalah sosial karena diterjemahkan berbeda oleh orang di sekitarnya. Mereka dianggap berperilaku tidak memiliki minat atau tidak merespons dengan baik. Perilaku ini sering kali membuat orang salah menangkap bahwa anak ADD dianggap sebagai anak lambat belajar (slow learner). Anak ADHD cenderung ekstrovert, sedangkan anak ADD tidak.
Oleh karena perilaku yang mengganggu, anak ADHD sering dihukum, bahkan dikeluarkan dari sekolah. Anak ADHD sering komorbid dengan conduct disorder (gangguan perilaku) dan agresivitas. Sedangkan anak ADD lebih menunjukkan pada gangguan internalisasi seperti kecemasan dan depresi. Bahkan jika tidak menunjukkan gangguan pada internalisasi, anak ADD cenderung menunjukkan lebih terisolasi di lingkungannya. Uraian di atas hanya sepintas dari karakteristik dari ADD. Banyak detail lagi yang membedakan anak ADD dengan ADHD serta kesulitan belajar lainnya.
Observasi Pribadi: "Silent Kids" vs "Loud Kids" di Media Sosial
Melalui pengamatan pada platform
seperti TikTok dan Instagram, tren konten mengenai neurodiversity
meningkat pesat. Namun, terlihat adanya ketimpangan narasi yang tajam. Konten
tentang ADHD tipe hiperaktif didominasi oleh video-video yang memperlihatkan
"kekacauan" yang lucu atau dramatis, seperti lupa menaruh kunci,
melakukan hobi baru setiap minggu, atau berbicara tanpa henti (hyper-talkative).
Sebaliknya, pengamatan pada komunitas daring orang tua menunjukkan bahwa anak-anak dengan ADD (tipe inatentif) sering kali "tidak terlihat". Mereka jarang dibahas karena tidak menimbulkan masalah di kelas. Guru cenderung lebih menyukai anak yang diam meskipun nilainya jeblok, karena mereka tidak mengganggu proses belajar mengajar. Observasi saya menunjukkan bahwa anak-anak ADD ini sering kali mengalami internal bullying—mereka sadar bahwa mereka tidak mengerti pelajaran, mereka sadar mereka tertinggal, namun mereka tidak memiliki energi atau keberanian untuk bertanya. Ini menciptakan efek bola salju: mereka menjadi semakin menarik diri karena merasa "bodoh", padahal kapasitas kognitif mereka normal, hanya saja "filter" perhatian mereka rusak.
Fenomena di Indonesia: Diagnosis yang Terlambat
Di Indonesia, kesadaran mengenai
ADHD dan ADD masih sangat rendah. Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI), prevalensi ADHD pada anak usia sekolah di Indonesia cukup
signifikan, namun banyak kasus yang tidak terdiagnosis hingga anak beranjak
dewasa. Sering kali, diagnosis baru muncul ketika anak sudah gagal di sekolah
atau terlibat masalah perilaku yang serius.
Data dari beberapa rumah sakit rujukan menunjukkan bahwa pasien yang datang dengan keluhan "sulit konsentrasi" sering kali sudah diberikan label "anak malas" oleh guru atau orang tuanya. Fenomena "pelabelan" ini sangat berbahaya. Di banyak sekolah di Indonesia, kurikulum yang kaku dan tuntutan untuk duduk diam selama berjam-jam membuat anak dengan ADD semakin menderita. Mereka dianggap tidak sopan karena tidak menatap mata guru (padahal mereka sedang mencoba memproses suara guru), atau dianggap tidak mendengarkan padahal mereka sedang berjuang melawan distraksi internal mereka sendiri.
Baca juga: BULLYING
Contoh Kasus: Dua Wajah Kesulitan Belajar
Kasus 1: "Si Badai" (Budi, 9 Tahun -
ADHD Tipe Hiperaktif)
Budi adalah anak yang sangat
cerdas tetapi tidak bisa diam. Di kelas, ia sering jatuh dari kursi, tidak
sengaja menyenggol meja teman, dan selalu ingin menjawab sebelum guru selesai
bertanya. Budi sering mendapat hukuman berdiri di depan kelas. Guru menganggap
Budi "sengaja" mengganggu, padahal secara neurologis, Budi tidak bisa
menahan impulsnya. Akibat sering dihukum, Budi mulai merasa dirinya "anak
jahat" dan akhirnya benar-benar menunjukkan perilaku agresif karena merasa
tidak ada tempat yang menerimanya.
Kasus 2: "Si Pemimpi" (Dini, 11 Tahun - ADD Tipe Inatentif)
Dini adalah anak yang manis dan
tidak pernah membuat keributan. Namun, saat ujian, nilainya selalu di bawah
rata-rata. Dini sering terlihat menatap ke luar jendela. Saat dipanggil
namanya, ia terkejut seolah baru terbangun dari tidur. Guru dan orang tua menganggap
Dini "lambat" atau kurang gizi. Dini sebenarnya berusaha keras, namun
pikirannya seperti radio yang tidak bisa mencari frekuensi yang tepat. Dini
merasa sangat sedih dan cemas karena ia tahu ia bisa melakukan lebih baik,
namun ia tidak tahu bagaimana caranya. Dini akhirnya mengalami depresi ringan
karena merasa tidak berdaya.
Baca juga: Deteksi Dini Stres dan Depresi
Analisis Lintas Usia: Mengapa Intervensi Dini adalah Kunci
Perjalanan hidup penyandang ADD
dan ADHD berubah seiring bertambahnya usia. Berikut analisis perkembangannya:
- Usia Prasekolah (3-6
Tahun):
Pada fase ini, anak ADHD mungkin sudah terlihat
sangat aktif dibandingkan teman sebayanya. Anak ADD mungkin tampak
"pendiam" dan kurang eksploratif. Banyak orang tua mengabaikan
tanda-tanda ini dengan dalih "nanti juga tenang kalau sudah besar".
Padahal, ini adalah masa emas untuk intervensi perilaku (Barkley, 2013).
- Usia Sekolah Dasar (7-12
Tahun):
Ini adalah masa tersulit. Tuntutan akademik
meningkat. Anak ADHD mulai mendapat masalah disiplin, sementara anak ADD mulai
tertinggal dalam pelajaran membaca dan matematika. Jika tidak ditangani, anak
ADHD berisiko tinggi mengalami conduct disorder,
sementara anak ADD berisiko mengalami gangguan kecemasan (anxiety disorder) (American Psychiatric Association,
2013).
- Masa Remaja (13-18 Tahun):
Gejala hiperaktif pada anak ADHD mungkin berkurang
secara fisik, namun berubah menjadi kegelisahan mental (internal restlessness). Mereka berisiko tinggi terlibat
dalam perilaku berisiko seperti penyalahgunaan zat untuk
"menenangkan" otak mereka. Remaja dengan ADD sering kali menjadi
penyendiri, memiliki harga diri rendah (low self-esteem),
dan berisiko mengalami depresi berat karena terus-menerus merasa gagal memenuhi
ekspektasi (Hallowell & Ratey, 2021).
- Masa Dewasa:
Banyak orang dewasa yang baru menyadari bahwa mereka memiliki ADD/ADHD setelah mereka berjuang di dunia kerja. Mereka mungkin cerdas, namun selalu kesulitan menyelesaikan proyek, sering berganti pekerjaan, dan memiliki hubungan interpersonal yang kacau karena ketidakmampuan untuk fokus pada percakapan orang lain.
Baca juga: Sekolah Play Group dan Taman Kanak-Kanak untuk Anak Berkebutuhan Khusus.
Kesimpulan: Mengubah Paradigma
Kita harus berhenti melihat ADD
dan ADHD sebagai "kenakalan" atau "kebodohan". Keduanya
adalah kondisi neurobiologis di mana otak bekerja dengan cara yang berbeda.
Anak ADHD membutuhkan bantuan untuk mengelola impuls dan energi, sementara anak
ADD membutuhkan bantuan untuk mengaktifkan fokus dan membangun kepercayaan
diri.
Orang tua dan guru adalah garis
depan. Alih-alih menghukum, kita perlu memberikan struktur, validasi emosional,
dan metode belajar yang sesuai dengan cara kerja otak mereka. Dengan pemahaman
yang tepat, seorang anak dengan ADHD bisa menjadi inovator yang luar biasa, dan
anak dengan ADD bisa menjadi pemikir kreatif yang mendalam.
Daftar Pustaka
American Psychiatric
Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental
disorders (5th ed.). https://doi.org/10.1176/appi.books.9780890425596
Barkley, R. A. (2013). Taking charge of ADHD: The complete, authoritative guide for
parents (3rd ed.). Guilford Press. https://psycnet.apa.org/record/2013-14392-000
Hallowell, E. M., & Ratey,
J. J. (2021). ADHD 2.0: New science and essential strategies for thriving with
distraction—from childhood through adulthood. Ballantine Books. https://www.amazon.com/ADHD-2-0-Essential-Strategies-Distraction/dp/0399178732
Ikatan Dokter Anak Indonesia.
(2022). Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak.
IDAI.
Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia. (2020). Panduan penanganan anak dengan
kesulitan belajar di sekolah inklusi. Kemendikbud. https://repositori.kemendikdasmen.go.id/24970/1/Panduan_Inklusif.pdf
National Institute of Mental
Health. (2023). Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder in
children and teens: What you need to know. NIMH. https://www.researchgate.net/profile/Jie-Huang-59/publication/361173865_Attention-deficitHyperactivity_Disorder_and_Ischemic_Stroke_A_Mendelian_Randomization_Study/links/6450f94497449a0e1a70390e/Attention-deficit-Hyperactivity-Disorder-and-Ischemic-Stroke-A-Mendelian-Randomization-Study.pdf

Komentar
Posting Komentar