Langsung ke konten utama

Featured post

Cara Mudah Bikin Otak "Plong" dan Hati Tenang dalam 30 Hari

Pernahkah Anda merasa pikiran sangat ruwet, pusing memikirkan masa depan, atau merasa capek padahal tidak sedang kerja berat? Rasanya seperti HP jadul yang mulai "lemot" atau macet saat dipakai. Kalau sudah begini, kita jadi gampang marah, sulit konsentrasi, dan sering merasa tidak berdaya. Tahukah Anda? Ternyata otak kita itu mirip seperti mesin. Kalau mesin terus-menerus dipaksa bekerja tanpa dirawat, lama-lama mesinnya akan panas atau overheat . Begitu juga otak kita. Kabar baiknya, ada cara sederhana untuk "meriset" ulang otak kita supaya kembali segar dan lancar lewat sebuah kegiatan bernama 30-Day Digital Bootcamp Neuro-Husnuzzan . Pelatihan ini akan diadakan pada 17 Mei sampai 17 Juni 2026 . Jangan bayangkan ini seperti sekolah yang membosankan. Kita akan belajar cara merawat otak hanya lewat HP dan pertemuan lewat video di internet (Zoom). Bagaimana caranya memperbaiki otak yang "lemot" tadi? Ada 3 langkah mudah yang akan kita pelajari: 1. Gant...

ADD VS ADHD


Agus Syarifudin 


Gangguan Pemusatan Perhatian atau Attention Deficit Disorder (ADD).  Fenomena ADD sebagai salah satu kelompok kesulitan belajar di sekolah atau kelas sering oleh guru atau pun orang tua mengarah kepada ADHD atau anak hiperaktif.  Atau jika ada anak dengan gangguan ADD dianggap sebagai anak yang lambat atau slow learner.  Berikut ini sekilas pembedaan karakteristik anak ADD dengan kesulitan belajar lainnya. 
.
Perbedaan antara anak ADHD dengan ADD secara umum terlihat jelas.  Secara umum anak ADHD kurang self-conscious sedangkan anak ADD memiliki self-conscious yang lebih.  Kedua kelompok ini mengalami masalah sosial, namun dengan alasan yang berbeda.  Anak ADHD mengalami masalah sosial karena mengganggu anak lainnya seperti mengambil barang milik orang lain, gagal dalam menunggu giliran, dan secara umum bertindak tanpa memikirkan akibatnya serta perasaan orang lain.  

Di sisi lain, anak dengan ADD memiliki masalah sosial karena terlalu pasif, malu, dan menarik diri.  Perilaku diam dan respon yang lambat dari anak ADD cenderung memilki masalah sosial karena diterjemahkan berbeda oleh orang disekitarnya.  Mereka dianggap berperilaku tidak memiliki minat atau tidak merespon dengan baik. Perilaku ini sering kali orang salah menangkap bahwa anak ADD diangap sebagai anak lambat belajar (slow learner). Anak ADHD cenderung ekstrovert sedangkan anak ADD tidak.  

Oleh karena perilaku yang mengganggu, anak ADHD sering dihukum bahkan dikeluarkan dari sekolah.  Anak ADHD sering komorbid dengan conduct disorder dan agresivitas.  Sedangkan anak ADD lebih menunjukkan pada gangguan internalisasi seperti kecemasan dan depresi.  Bahkan jika tidak menunjukkan gangguan pada internalisasi, anak ADD cenderung menunjukkan lebih terisolasi di lingkungannya. Uraian di atas hanya sepintas dari karakteristik dari ADD.  Banyak detail lagi yang membedakan anak ADD dengan ADHD serta kesulitan belajar lainnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Neuroleadership: Mengelola Tim dengan Kecerdasan Otak

  Foto: Pexels Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda merasa bahwa beberapa pemimpin dapat membaca suasana hati tim mereka dengan sangat baik? Atau bahwa mereka mampu menyelesaikan masalah dengan efisien meskipun berada di bawah tekanan tinggi? Kunci dari kemampuan ini mungkin terletak pada bagaimana pemimpin memahami dan memanfaatkan otak mereka. Konsep neuroleadership, yang mengintegrasikan temuan neuroscience ke dalam kepemimpinan, memberi kita wawasan penting tentang bagaimana pemahaman terhadap fungsi otak, khususnya prefrontal cortex dan sistem neuron cermin, dapat meningkatkan kolaborasi, empati, dan kemampuan kepemimpinan dalam lingkungan kerja yang dinamis, termasuk di sektor pendidikan. Salah satu komponen utama dalam neuroleadership adalah pemahaman terhadap prefrontal cortex , bagian otak yang terlibat dalam pengambilan keputusan, pengaturan emosi, dan pemecahan masalah. Di dunia kerja yang penuh dengan tekanan waktu dan tantangan yang terus berkembang, ke...

Overthinking: Kecanduan Otak yang Jarang Disadari!

Ilustrasi overthinking (Pexels.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAKmerasa terjebak dalam pusaran pikiran yang tak berujung? Memutar ulang percakapan, menganalisis skenario terburuk, atau merenungkan keputusan masa lalu hingga larut malam? Jika ya, Rekan PSAK tidak sendirian. Fenomena ini, yang sering kita sebut overthinking , umumnya dianggap sebagai kebiasaan atau sifat bawaan. Padahal, dari kacamata neuropsikologi, overthinking bisa jadi adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks: sebuah bentuk kecanduan otak . Overthinking dan Sirkuit Otak: Sebuah Pola Kompulsif Sebagai seorang neuropsikolog yang telah mendalami pola pikir manusia selama lebih dari satu dekade, saya melihat overthinking bukan sekadar "terlalu banyak berpikir." Ini adalah pola pikir kompulsif yang memiliki jejak biologis kuat di otak. Pusat dari "kecanduan" ini adalah sebuah jaringan otak yang disebut Default Mode Network (DMN) . DMN adalah sirkuit otak yang aktif...