“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...
Agus Syarifudin
Perundungan (bullying) adalah penggunaan kekerasan, ancaman,
atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Hal ini
dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau
paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu.
.
Tindakan penindasan ini dapat berupa secara emosional, fisik,
verbal, dan cyber (digital). Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja
selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja,
rumah tangga, dan lingkungan. Menurut Coloroso (2006), terdapat empat unsur
dalam perilaku bullying kepada seseorang, yaitu 1) Ketidakseimbangan
kekuatan, 2) Niat untuk mencederai, 3) Ancaman agresi lebih lanjut, 4) Teror.
.
Bullying memiliki pengaruh secara jangka panjang dan jangka
pendek terhadap korban bullying. Pengaruh jangka pendek adalah depresi, sedangkan
jangka panjang adalah mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan baik terhadap
lawan jenis, selalu memiliki kecemasan akan mendapatkan perlakuan yang tidak
menyenangkan dari teman-teman sebayanya. Masalah psikologis ini jika tidak
ditangani akan mempengaruhi fungsi kerja otak dan fisiologis tubuh anak yang
berakibat ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
.
Fenomena
perundungan (bullying) perlu dicermati bahwa adanya pelaku dan korban. Bahkan sering pelaku bullying dulunya adalah
korban. Sehingga fenomena ini seperti lingkaran iblis yang
terus berkelanjutan. Sudah selayaknya
orang tua dan guru jika mengetahui anak mengalami perilaku bullying, baik itu korban
atau pelaku, dapat mengajarkan mereka
untuk mengatasinya. Hal ini penting agar
mereka dapat memutus lingkaran ini dan tidak jatuh korban lebih banyak. Oleh karena itu, orangtua dan guru perlu
mengetahui tips dan trik yang dapat diajarkan kepada anak saat mengalami
ataupun melihat fenomena bullying di sekitarnya.
Terkait
hal ini dalam keilmuan psikologi adalah bagaimana guru membantu siswa sebagai
pelaku dan korban dalam olah pikir, perasaan dan perilaku. Khususnya hal ini
dilakukan oleh guru bimbingan konseling.
Bagaimana guru mampu membimbing pola pikir siswa yang negatif terkait
konsep diri sehingga mereka menjadi korban dan pelaku dan berdamai dengan masa
lalu yang kelam. Setelah itu bagaimana
mengelola perasaan negatif menjadi postif sehingga mereka bisa menatap masa
depan yang lebih ceria dan membahagiakan.
Terakhir, hal ini adalah berwujud dengan perilaku atau pengendalian diri
yang normatif dan produktif. Bagaimana siswa umumnya semua siswa di kelas dan
sekolah mampu menampilkan perilaku yang menolak dan tidak mendukung baik secara
aktif dan pasif dari segala tindakan perundungan di sekolah!.
Komentar
Posting Komentar