Langsung ke konten utama

Featured post

Cara Mudah Bikin Otak "Plong" dan Hati Tenang dalam 30 Hari

Pernahkah Anda merasa pikiran sangat ruwet, pusing memikirkan masa depan, atau merasa capek padahal tidak sedang kerja berat? Rasanya seperti HP jadul yang mulai "lemot" atau macet saat dipakai. Kalau sudah begini, kita jadi gampang marah, sulit konsentrasi, dan sering merasa tidak berdaya. Tahukah Anda? Ternyata otak kita itu mirip seperti mesin. Kalau mesin terus-menerus dipaksa bekerja tanpa dirawat, lama-lama mesinnya akan panas atau overheat . Begitu juga otak kita. Kabar baiknya, ada cara sederhana untuk "meriset" ulang otak kita supaya kembali segar dan lancar lewat sebuah kegiatan bernama 30-Day Digital Bootcamp Neuro-Husnuzzan . Pelatihan ini akan diadakan pada 17 Mei sampai 17 Juni 2026 . Jangan bayangkan ini seperti sekolah yang membosankan. Kita akan belajar cara merawat otak hanya lewat HP dan pertemuan lewat video di internet (Zoom). Bagaimana caranya memperbaiki otak yang "lemot" tadi? Ada 3 langkah mudah yang akan kita pelajari: 1. Gant...

BULLYING


Agus Syarifudin 

Perundungan (bullying) adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu. 
.
Tindakan penindasan ini dapat berupa secara emosional, fisik, verbal, dan cyber (digital). Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan. Menurut Coloroso (2006), terdapat empat unsur dalam perilaku bullying kepada seseorang, yaitu 1) Ketidakseimbangan kekuatan, 2) Niat untuk mencederai, 3) Ancaman agresi lebih lanjut, 4) Teror.
.
Bullying memiliki pengaruh secara jangka panjang dan jangka pendek terhadap korban bullying. Pengaruh jangka pendek adalah depresi, sedangkan jangka panjang adalah mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan baik terhadap lawan jenis, selalu memiliki kecemasan akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-teman sebayanya. Masalah psikologis ini jika tidak ditangani akan mempengaruhi fungsi kerja otak dan fisiologis tubuh anak yang berakibat ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
.
Fenomena perundungan (bullying) perlu dicermati bahwa adanya pelaku dan korban.  Bahkan sering pelaku bullying dulunya adalah korban.  Sehingga  fenomena ini seperti lingkaran iblis yang terus berkelanjutan.  Sudah selayaknya orang tua dan guru jika mengetahui anak mengalami perilaku bullying, baik itu korban atau pelaku,  dapat mengajarkan mereka untuk mengatasinya.  Hal ini penting agar mereka dapat memutus lingkaran ini dan tidak jatuh korban lebih banyak.  Oleh karena itu, orangtua dan guru perlu mengetahui tips dan trik yang dapat diajarkan kepada anak saat mengalami ataupun melihat fenomena bullying  di sekitarnya. 

Terkait hal ini dalam keilmuan psikologi adalah bagaimana guru membantu siswa sebagai pelaku dan korban dalam olah pikir, perasaan dan perilaku. Khususnya hal ini dilakukan oleh guru bimbingan konseling.  Bagaimana guru mampu membimbing pola pikir siswa yang negatif terkait konsep diri sehingga mereka menjadi korban dan pelaku dan berdamai dengan masa lalu yang kelam.  Setelah itu bagaimana mengelola perasaan negatif menjadi postif sehingga mereka bisa menatap masa depan yang lebih ceria dan membahagiakan.  Terakhir, hal ini adalah berwujud dengan perilaku atau pengendalian diri yang normatif dan produktif. Bagaimana siswa umumnya semua siswa di kelas dan sekolah mampu menampilkan perilaku yang menolak dan tidak mendukung baik secara aktif dan pasif dari segala tindakan perundungan di sekolah!.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Neuroleadership: Mengelola Tim dengan Kecerdasan Otak

  Foto: Pexels Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda merasa bahwa beberapa pemimpin dapat membaca suasana hati tim mereka dengan sangat baik? Atau bahwa mereka mampu menyelesaikan masalah dengan efisien meskipun berada di bawah tekanan tinggi? Kunci dari kemampuan ini mungkin terletak pada bagaimana pemimpin memahami dan memanfaatkan otak mereka. Konsep neuroleadership, yang mengintegrasikan temuan neuroscience ke dalam kepemimpinan, memberi kita wawasan penting tentang bagaimana pemahaman terhadap fungsi otak, khususnya prefrontal cortex dan sistem neuron cermin, dapat meningkatkan kolaborasi, empati, dan kemampuan kepemimpinan dalam lingkungan kerja yang dinamis, termasuk di sektor pendidikan. Salah satu komponen utama dalam neuroleadership adalah pemahaman terhadap prefrontal cortex , bagian otak yang terlibat dalam pengambilan keputusan, pengaturan emosi, dan pemecahan masalah. Di dunia kerja yang penuh dengan tekanan waktu dan tantangan yang terus berkembang, ke...

Overthinking: Kecanduan Otak yang Jarang Disadari!

Ilustrasi overthinking (Pexels.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAKmerasa terjebak dalam pusaran pikiran yang tak berujung? Memutar ulang percakapan, menganalisis skenario terburuk, atau merenungkan keputusan masa lalu hingga larut malam? Jika ya, Rekan PSAK tidak sendirian. Fenomena ini, yang sering kita sebut overthinking , umumnya dianggap sebagai kebiasaan atau sifat bawaan. Padahal, dari kacamata neuropsikologi, overthinking bisa jadi adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks: sebuah bentuk kecanduan otak . Overthinking dan Sirkuit Otak: Sebuah Pola Kompulsif Sebagai seorang neuropsikolog yang telah mendalami pola pikir manusia selama lebih dari satu dekade, saya melihat overthinking bukan sekadar "terlalu banyak berpikir." Ini adalah pola pikir kompulsif yang memiliki jejak biologis kuat di otak. Pusat dari "kecanduan" ini adalah sebuah jaringan otak yang disebut Default Mode Network (DMN) . DMN adalah sirkuit otak yang aktif...