Langsung ke konten utama

Featured post

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...

TERAPI DEPRESI DENGAN AKUPUNTUR WEBER

Agus Syarifudin

Pengaruh Cahaya Terhadap Sindrom Depresi
Gangguan mood telah lama dikaitkan dengan cahaya (khususnya cahaya matahari) dan ritme sirkadian (proses biologis yang menunjukkan perputaran endogen dan berulang setiap sekitar 24 jam). Salah satu contohnya adalah gangguan afektif musiman di mana suasana hati berosilasi antara dysthymia (gangguan depresi) selama hari pendek di musim dingin panjang dan euthymia selama hari-hari musim panas yang panjang (Bedrosian & Nelson, 2017).

Sebagian dari hipotalamus mengontrol ritme sirkadian. Faktor cahaya seperti terang dan gelap juga bisa berdampak pada hal ini. Ketika gelap di malam hari, mata mengirim sinyal ke hipotalamus bahwa sudah waktunya untuk merasa lelah. Otak pada gilirannya, mengirimkan sinyal ke tubuh untuk melepaskan melatonin, yang membuat tubuh Anda lelah. Itulah mengapa ritme sirkadian cenderung bertepatan dengan siklus siang dan malam. Hal ini menjelaskan mengapa sangat sulit bagi pekerja shift untuk tidur di siang hari dan tetap terjaga di malam hari.

Glukokortikoid penting dalam respon stres melalui peran mereka dalam aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal, di mana mereka terlibat dalam loop umpan balik negatif untuk mempertahankan konsentrasi homeostatik hormon stres. Disregulasi glukokortikoid telah dikaitkan dengan sejumlah gangguan mood; khususnya, hypercortisolemia terdeteksi pada subset pasien depresi mayor. Cahaya secara langsung mempengaruhi sekresi glukokortikoid pada manusia, menunjukkan paparan cahaya yang salah berinteraksi dengan aksis hipotalamus-pituitari-adrenal dan respon stres (Bedrosian & Nelson, 2017). Sirkadian menyebar sebagian besar sistem yang diyakini mengendalikan suasana hati, termasuk daerah otak limbik, neurotransmitter monoamina dan hipotalamus-hipofisis - sumbu adrenal (Bedrosian & Nelson, 2017).

Fenomena ini menjadi dasar dalam terapi cahaya (phototherapy). Dimana cahaya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sel mahluk hidup dan pada akhirnya berdampak pula kepada jaringan, ogran, dan sistem organ. Oleh karena itu cahaya memiliki efek terhadap depresi, maka hal ini pun dijadikan landasan dalam terapi depresi dengan menggunakan cahaya atau phototherapy.

Phototherapy
Aplikasi baru dan menarik dari phototherapy adalah di psikiatri, di mana hasil yang menggembirakan telah dicapai dalam pengobatan gangguan afektif musiman, yang relatif umum di negara-negara Nordik karena musim dingin yang gelap (Lingjærde, 1993). Depresi yang dihasilkan dari gangguan ini dikaitkan dengan rendah tingkat serotonin neurotransmitter di otak. Paparan cahaya meningkatkan tingkat ini, sehingga mengarah pada pengentasan gejala (Deguchi, 1979). Salah satu metode terapi phototherapy adalah dengan pemberian intravenous laser dengan sinar kuning. Hal ini memberikan efek terhadap depresi, yaitu meningkatkan serotonin dan memperbaiki sistem hormon tubuh (Weber, 2017).

Mekanisme biokimia dari terapi laser ini adalah dengan merangsang sel. Secara umum, ada struktur seluler spesifik yang mampu menyerap panjang gelombang tertentu (warna) cahaya (dikenal sebagai fotoreseptor). Pemberian sinar laser atau cahaya merangsang fotoreseptor Stimulus cahaya memberikan sinyal seluler yang mempengaruhi perilaku kimia, metabolisme, gerakan dan ekspresi gen. Semua enzim dan atau protein yang terkait dengan pemberian cahaya menjadi terpengaruh. Alur biokimia ke bawah ini dapat melintasi seluruh sel (Weber, 2017).

Pemberian laser dapat meningkatkan serotonin pada tubuh. Serotonin memainkan peran dalam patofisiologi depresi berasal dari studi tentang "rendahnya kadar tryptophan", di mana manipulasi diet ekstrim digunakan untuk menghasilkan penurunan zat tersebut. Sementara aktivitas serotonin otak diamati melalui berkurangnya ketersediaan asam amino prekursor yaitu tryptophan. Pada peserta sehat tanpa faktor risiko depresi, penipisan tryptophan tidak menghasilkan perubahan suasana hati yang signifikan secara klinis. Namun, pasien depresi yang sembuh bebas pengobatan dapat menunjukkan gejala singkat depresi karena kekurangan zat tersebut yang relevan secara klinis (Cowen & Browning, 2015). 

 Lebih lanjut Cowen dan Bowning (2015) menjelaskan bahwa turunnya kadar tryptophan diharapkan akan merusak efek serotonin, yang mengarah ke akses lebih besar ke pola berpikir negatif. Pada individu di mana pola pemikiran negatif yang sangat suram telah terbentuk selama episode depresif sebelumnya, penurunan kadar tryptophan dapat menyebabkan pengalaman tersebut mudah terjadi kembali. Hal ini pun akan mengarah pada kembalinya gejala depresi yang signifikan secara klinis.

Pemberian laser juga dapat memperbaiki hormon tubuh. Produksi hormon ini berkaitan dengan tingkat depresi. Telah diketahui bahwa perubahan hormonal dapat menyebabkan perubahan emosional yang signifikan dan sebaliknya, karena perubahan dalam sistem saraf pusat, tindakan hormon pada reseptor spesifik atau oleh perubahan metabolik. Oleh karena itu, gangguan endokrin sebagai penghasil homon di tubuh menjadi salah satu kemungkinan penyebab depresi. Hormon corticotrophin, kortisol, estrogen, progesteron dan hormon tiroid diidentifikasi sebagai hormon utama yang berhubungan dengan depresi. Hormon-hormon ini sangat penting untuk fungsi metabolisme yang tepat, oleh karena itu, diamati bahwa perubahan hormonal dapat berkontribusi pada perkembangan depresi serta memperburuk atau bahkan menghambat perawatan pasien yang sudah memiliki gangguan (de Souza Duarte, 2017).

Referensi
Cowen, P.J. & Browning, M. (2015). What has serotonin to do with depression? World Psychiatry 14:2 - June 2015.

de Souza Duarte, N., de Almeida Corrêa, L. M., Assunção, L. R., de Menezes, A. A., de Castro, O. B., & Teixeira, L. F. (2017). Relation between Depression and Hormonal Dysregulation. Open Journal of Depression, 6, 69-78. https://doi.org/10.4236/ojd.2017.63005

Weber, M. (2017). WeberSystemic (Intravenous) Laser Therapy with the Weberneedle® Endolaser Technology. Diakses dari http://www.ec3health.com/wp-content/uploads/2017/06/IV-Laser-Presentation.pdf





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Salahkan 'Lupa' atau 'Gak Fokus'! Otak Anda Cuma Keracunan Hormon Stres!

  Ilustrasi stres (Pexels.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernah merasa otak macet di tengah deadline ? Atau tiba-tiba lupa nama rekan kerja padahal baru ngobrol semenit yang lalu? Jangan langsung vonis diri Rekan PSAK pikun dini atau kurang minum kopi. Bisa jadi, ini adalah ulah kortisol , hormon stres utama yang, kalau kadarnya ketinggian, bisa bikin fungsi otak Rekan PSAK amburadul! Kita sering menganggap stres hanya sebatas "perasaan," tapi sebenarnya stres itu punya jejak kimiawi di tubuh kita. Dan salah satu pemain utamanya adalah kortisol. Hormon ini sering dijuluki "hormon stres," tapi sebenarnya dia punya banyak peran penting lain, seperti mengatur metabolisme, tekanan darah, bahkan sistem kekebalan tubuh. Masalahnya muncul ketika kortisol dilepaskan secara berlebihan dan terus-menerus. Kortisol: Pahlawan atau Pengkhianat? Bayangkan kortisol sebagai alarm darurat tubuh Rekan PSAK. Ketika Rekan PSAK menghadapi situasi yang dianggap berbahaya...

Stres Bikin Kamu Jadi Psikopat? Kenapa Otakmu Membenci Kolaborasi Saat Tertekan!

Ilustrasi kolaborasi (Pexels.com)   Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAK merasa lebih cepat marah, susah memahami perasaan orang lain, atau bahkan malas berinteraksi saat deadline menumpuk atau hidup lagi ribet-ribetnya? Jangan khawatir, Rekan PSAK tidak sendiri. Fenomena ini bukan karena Rekan PSAK tiba-tiba jadi jahat, melainkan ada drama besar yang sedang dimainkan di dalam otak Rekan PSAK. Ya, kita akan bedah dari kacamata neurosains bagaimana stres bisa bikin empati dan kemampuan kolaborasi kita terjun bebas, serta kenapa membangun koneksi sosial itu justru jadi "tameng" paling ampuh. Artikel ini sangat relevan untuk dinamika tim di tempat kerja Rekan PSAK! Saat Stres Menyerang: Kenapa Kita Jadi "Egois"? Bayangkan ini: Rekan PSAK sedang dikejar deadline pekerjaan atau menghadapi masalah pribadi yang berat. Tiba-tiba, rekan kerja Rekan PSAK datang dengan cerita masalahnya. Respon pertama Rekan PSAK? Mungkin bukan simpati mendalam, me...

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...