Langsung ke konten utama

VITAMIN B DAN DEPRESI

Agus Syarifudin  Partadiredja Tanuarga

Solusi masalah depresi dengan pemberian anti depresan, saat ini efektivitasnya mulai diragukan. Anti depresan baru memiliki efek terhadap gejala depresi setelah tiga hingga empat minggu penggunaan. Di sisi lain, pemberian anti-depresan juga memiliki efek samping seperti obesitas, mual, dan lainnya. Sedangkan pemberian vitamin tidak memiliki efek samping.

Penelitian tentang nutrisi menemukan bahwa vitamin dapat digunakan sebagai treatment pendamping bagi penderita depresi. Salah satu vitamin yang memiliki efek positif terhadap penanganan gejala depresi adalah Vitamin B. Vitamin B dibutuhkan untuk memfungsikan silkus metilasi, produksi monoamine oxidase, pembentukan DNA, dan memperbaiki serta mempertahankan fosfolipid.

Baca juga: Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Vitamin B dan Mood.
Dalam ilmu kimia, metilasi menunjukkan penambahan (adisi) suatu gugus metil pada suatu substrat, atau penggantian (substitusi) suatu atom (atau gugus) oleh gugus metil. Metilasi adalah bentuk dari alkilasi, dengan suatu gugus metil, dan bukan rantai karbon panjang, menggantikan sebuah atom hidrogen. Dalam tubuh mahluk hidup, metilasi dicapai oleh enzim; metilasi dapat memodifikasi logam berat, mengatur ekspresi gen, pemrosesan RNA dan fungsi protein. Monoamine Oxidase, suatu enzim yang bertanggung jawab memetabolisme neurotransmiter seperti serotonin, dopamin, epinefrin dan norepinefrin (NE). Oleh karena itu Vitamin B penting dalam penanganan depresi karena terkait dengan metabolisme dan proses produksi neurotransmitter seperti serotonin, dopamine, epinefrin, dan norepinefrin yang berkaitan dengan mood.

Baca juga: MEMAHAMI STRES DI SAAT PANDEMI CORONA 

Kekurangan vitamin B dapat mempengaruhi fungsi memori, gangguan kognitif atau berpikir, dan demensia. Gangguan memori dapat terjadi karena kekurangan thiamine (Vitamin B). Pemberian suplemen thiamine selama 6-8 minggu dapat megurangi rasa lelah (fatigue), memperbaiki pola tidur, dan menurunkan gejala depresi. Pemberian Vitamin B6 (pyridoxine, pyridoxal and pyridoxamine) dapat terkait dengan regulasi dari fungsi mental dan suasana hati (mood). Hal tersebut mempengaruhi neurotransmiter dengan mengendalikan depresi, persepsi rasa sakit, dan kecemasan. Di sisi lain, rendahnya kadar Vitamin B12 akan meningkatkan resiko penurunan fungsi berpikir, demensia, Alzheimer dan berhubungan penyusutan otak.

Baca juga: Deteksi Dini Stres dan Depresi

Vitamin B dan Depresi
Secara khusus Vitamin B1, B3, B9, B12 adalah penting untuk fungsi saraf dan kekurangan vitamin tersebut maka akan berhubungan dengan depresi. Oleh karena itu pemberian nutrisi Vitamin B penting dalam memperbaiki masalah depresi.

Pemberian vitamin ini dilakukan secara intravenous atau melalui infus. Nutrisi yang penting bagi tubuh dimasukkan ke dalam pembuluh darah dan diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Pemberian nutrisi atau vitamin melalui pembuluh darah lebih efektif dibandingkan dengan pemberian secara oral atau diminum. Tingkat penyerapan nutrisi atau vitamin lebih baik. Di sisi lain, efektivitas pemberian secara intravenous menjadi lebih baik karena langsung diserap oeh organ atau jaringan melalui pembuluh darah. Hal ini tidak melewati sistem pencernaan sebagaimana jika dilakukan dengan oral atau diminum.

Baca juga: Stres dari Perspektif Psychoneuroimmunology

Referensi
Tao, Y., Wu, M., Su, B., Lin, H., Li, Q., Zhong, T., ... & Yu, X. (2025). Impact of Vitamin B1 and Vitamin B2 Supplementation on Anxiety, Stress, and Sleep Quality: A Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Trial. Nutrients, 17(11), 1821.  https://www.mdpi.com/2072-6643/17/11/1821

Lewis, J. E., Tiozzo, E., Melillo, A. B., Leonard, S., Chen, L., Mendez, A., ... & Konefal, J. (2013). The effect of methylated vitamin B complex on depressive and anxiety symptoms and quality of life in adults with depression. International Scholarly Research Notices, 2013(1), 621453.  https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1155/2013/621453

Young, L. M., Pipingas, A., White, D. J., Gauci, S., & Scholey, A. (2019). A systematic review and meta-analysis of B vitamin supplementation on depressive symptoms, anxiety, and stress: Effects on healthy and ‘at-risk’individuals. Nutrients, 11(9), 2232.  https://www.mdpi.com/2072-6643/11/9/2232

Durrani, D., Idrees, R., Idrees, H., & Ellahi, A. (2022). Vitamin B6: A new approach to lowering anxiety, and depression?. Annals of medicine and surgery, 82, 104663. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2049080122014236

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Burnout: Penyebab, Gejala, Dampak, Tes, dan Cara Pulih Berdasarkan Neurosains

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Burnout bukan terjadi karena Anda "lemah". Bisa jadi justru karena Anda terlalu kuat bertahan. Di media sosial, kita sering melihat budaya hustle : lembur dianggap dedikasi, selalu online dianggap profesional, dan membalas pesan kantor tengah malam dianggap loyalitas. Akibatnya, banyak pekerja merasa bersalah ketika beristirahat, padahal otaknya sudah memberi sinyal bahaya. Yang ironis, sebagian orang baru menyadari dirinya mengalami burnout ketika tubuh mulai "protes": sulit tidur, mudah marah, kehilangan motivasi, sering lupa, atau merasa lelah meski baru bangun tidur. Padahal, burnout bukan sekadar capek biasa. Menurut World Health Organization, burnout merupakan sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola, bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja. Ilustrasi pekerja yang alami burnout Baca artikel lainnya:  Apa itu Burnout? Pendahuluan Bayangkan seorang karyawan di Jakarta yang setiap hari menghab...

Deteksi Dini Stres dan Depresi

Stres! Itulah yang sering diungkapkan saat pikiran kita kalut atau banyak permasalahan. Namun jika ditelaah lebih lanjut, stres tidak hanya bersifat psikis saja. Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Oleh karena itu, saat tubuh kita merasakan tekanan dari luar baik fisik, psikis, emosi maupun mental maka tubuh dapat memberikan respon. Secara umum pemicu stres atau stressor dapat didefinsikan sebagai segala tantangan yang muncul dari dalam atau luar yang mengganggu internal tubuh kita. Tubuh kita akan merespon stressor yang terlibat dalam berbagai mekanisme fisiologi yang dirancang untuk mengembalikan homeostasis. Homeostasis adalah suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang di alaminya. Baca juga:  VITAMIN B DAN DEPRESI Saat stres datang kesei...

Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Saat ini stres menjadi permasalahan utama di perkotaan. Bahkan stres yang berujung kepada depresi menjadi permasalahan serius. Tingginya rutinitas pekerjaan, beban tugas sekolah dan perkuliahan serta komplesitas masalah di perkotaan mendorong berbagai hal menjadi pemicu stres. Jika tidak ditangani dengan baik, maka stres yang berkepanjangan akan mengarah kepada depresi dan gangguan mood. Namun temuan ilmiah terakhir stres juga berkaitan erat dengan fisiologis tubuh dimana dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh atau immune system. Hal ini tidak tertutup kemungkinan menyebabkan penyakit autoimun. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh. Banyak ditemukan bahwa penyakit autoimun sepert Lupus, sarkoidosis, vitiligo, hipotiroidisme dimana salah satu pemi...