Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2019

Featured post

Work From Home Bisa Merusak Kesehatan Mental? Ini Penjelasan Neurosainsnya

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Banyak orang mengira bekerja dari rumah ( work from home ) atau sistem hybrid adalah anugerah terbesar bagi pekerja di Jabodetabek. Tidak ada lagi drama macet di Sudirman, tidak perlu berdesakan di KRL Commuter Line pagi hari, dan bisa bekerja sambil mengenakan celana piyama. Namun, sebagai seorang pemerhati neurosains dan psikologi, saya ingin melemparkan sebuah kenyataan pahit yang mungkin tidak ingin Anda dengar: Bekerja dari kamar tamu atau meja makan Anda sebenarnya sedang menciptakan "kebakaran" di dalam sirkuit otak Anda yang jauh lebih berbahaya daripada polusi Jakarta. Kebebasan yang Anda rasakan itu semu. Tanpa disadari, dinding rumah Anda kini telah berubah menjadi dinding kantor yang tidak pernah tutup. Inilah yang disebut dengan jebakan boundary blurring atau pengikisan batas antara kehidupan profesional dan personal yang diperparah oleh technostress . Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Mod...

VITAMIN B DAN DEPRESI

Agus Syarifudin  Partadiredja Tanuarga Solusi masalah depresi dengan pemberian anti depresan, saat ini efektivitasnya mulai diragukan. Anti depresan baru memiliki efek terhadap gejala depresi setelah tiga hingga empat minggu penggunaan. Di sisi lain, pemberian anti-depresan juga memiliki efek samping seperti obesitas, mual, dan lainnya. Sedangkan pemberian vitamin tidak memiliki efek samping. Penelitian tentang nutrisi menemukan bahwa vitamin dapat digunakan sebagai treatment pendamping bagi penderita depresi. Salah satu vitamin yang memiliki efek positif terhadap penanganan gejala depresi adalah Vitamin B. Vitamin B dibutuhkan untuk memfungsikan silkus metilasi, produksi monoamine oxidase, pembentukan DNA, dan memperbaiki serta mempertahankan fosfolipid. Baca juga:  Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh Vitamin B dan Mood. Dalam ilmu kimia, metilasi menunjukkan penambahan (adisi) suatu gugus metil pada suatu substrat, atau penggantian (substitusi) suatu atom (atau gu...

Deteksi Dini Stres dan Depresi

Stres! Itulah yang sering diungkapkan saat pikiran kita kalut atau banyak permasalahan. Namun jika ditelaah lebih lanjut, stres tidak hanya bersifat psikis saja. Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Oleh karena itu, saat tubuh kita merasakan tekanan dari luar baik fisik, psikis, emosi maupun mental maka tubuh dapat memberikan respon. Secara umum pemicu stres atau stressor dapat didefinsikan sebagai segala tantangan yang muncul dari dalam atau luar yang mengganggu internal tubuh kita. Tubuh kita akan merespon stressor yang terlibat dalam berbagai mekanisme fisiologi yang dirancang untuk mengembalikan homeostasis. Homeostasis adalah suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang di alaminya. Baca juga:  VITAMIN B DAN DEPRESI Saat stres datang kesei...

Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Saat ini stres menjadi permasalahan utama di perkotaan. Bahkan stres yang berujung kepada depresi menjadi permasalahan serius. Tingginya rutinitas pekerjaan, beban tugas sekolah dan perkuliahan serta komplesitas masalah di perkotaan mendorong berbagai hal menjadi pemicu stres. Jika tidak ditangani dengan baik, maka stres yang berkepanjangan akan mengarah kepada depresi dan gangguan mood. Namun temuan ilmiah terakhir stres juga berkaitan erat dengan fisiologis tubuh dimana dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh atau immune system. Hal ini tidak tertutup kemungkinan menyebabkan penyakit autoimun. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh. Banyak ditemukan bahwa penyakit autoimun sepert Lupus, sarkoidosis, vitiligo, hipotiroidisme dimana salah satu pemi...

Sekolah Play Group dan Taman Kanak-Kanak untuk Anak Berkebutuhan Khusus.

Dunia parenting dan pendidikan anak usia dini terus mengalami pergeseran paradigma yang masif. Memahami bahwa setiap anak tumbuh dengan kecepatan yang berbeda adalah satu hal, tetapi mengenali kapan perbedaan tersebut bertransformasi menjadi sebuah kebutuhan khusus adalah tanggung jawab krusial yang menuntut kepekaan tinggi. Anak berkebutuhan khusus ( special needs children ) sering kali menghadapi stigma dan miskonsepsi di tengah masyarakat. Artikel ini akan membedah anatomi hambatan tumbuh kembang anak usia dini, mendalami pentingnya deteksi dini di masa golden age , serta merumuskan strategi penanganan holistik melalui integrasi sistem pendidikan dan terapi. 1. Mendefinisikan Ulang Konsep Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Anak dengan kebutuhan khusus ( special needs children ) dapat diartikan secara simpel sebagai anak yang lambat ( slow ) atau mengalami gangguan ( retarded ) yang tidak akan pernah berhasil di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya jika mereka dipaksa menggunakan s...

Memutus Mata Rantai Perundungan: Panduan Holistik Melawan "Lingkaran Setan" Bullying di Era Digital

Perundungan atau bullying telah lama menjadi momok menakutkan yang mengintai ruang-ruang sosial kita. Sayangnya, seiring berkembangnya teknologi, ancaman ini tidak lagi terbatas pada sudut-sudut sepi di halaman sekolah atau koridor kantor, melainkan telah menyusup ke dalam genggaman tangan melalui layar gawai. Artikel ini akan membedah secara mendalam apa itu perundungan, bagaimana dampaknya terhadap psikologis manusia, realitas yang terjadi di Indonesia, serta langkah konkret yang dapat diambil oleh orang tua dan guru untuk mengakhiri siklus destruktif ini. 1. Memahami Anatomi Perundungan ( Bullying ) Perundungan ( bullying ) adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan, dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu. Tindakan penindasan ini tidak bersifat tunggal; ia bermanifestasi dalam berbagai bentuk yang da...

TRANSCRANIAL LLLT

Telah diketahui bahwa gangguan depresi terjadi karena adanya permasalahan pada tingkat seluler.   Metabolisme di tingkat seluler, khususnya mitokondria mengalami disfungsi sehingga terjadi produksi yang menggangu metabolisme sel saraf.   Hal ini dikarenakan adanya inflamasi atau pembengkakan pada jaringan saraf.   Proses inflamasi ini menghasilkan protein yang memberikan sinyal kepada sistem kekebalan tubuh.   Proses yang terjadi pada tingkatan seluler ini mempengaruhi kerja pada tingkatan jaringan dan organ.   Baca juga:  VITAMIN B DAN DEPRESI Oleh karena itu permasalahan depresi harus ditangani dengan intervensi yang mampu menjangkau tingkat seluler.   Bagaimana mekanisme metabolisme di tingkat sel diperbaiki sehingga akan berdampak positif di tingkatan jaringan dan organ.   Bahkan pada tingkatan yang komplek, perbaikan di tingkat seluler ini diharapkan dapat memperbaiki sistem kerja organ dan tubuh secara keseluruhan. Salah satu interve...

Dampak Psikologis dan Perilaku akibat Penggunaan Gadget pada Anak dan Remaja: Tantangan Kontemporer dan Strategi Intervensi Orang Tua serta Guru

Ilustrasi kecanduan gadget (Pexels.com/Kampus Production) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pendahuluan Kemajuan teknologi dan internet telah mengubah aktivitas dan kegiatan manusia secara drastis. Komunikasi langsung kini berubah menjadi digital. Kemajuan ini telah banyak membantu aktivitas manusia dengan berbagai kemudahan yang diciptakan. Namun, teknologi dan internet memiliki dampak negatif yang tidak dapat dielakkan. Khususnya penggunaan gadget pada anak dan remaja perlu diwaspadai oleh orang tua serta guru. Anak dan remaja memiliki self-regulation (regulasi diri) yang belum matang sehingga rentan terhadap penyalahgunaan gadget yang dapat berakibat kecanduan dan gangguan psikologis. Secara biologis, area otak yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif, pengendalian impuls, dan pembuatan keputusan—yaitu prefrontal cortex—baru berkembang sempurna saat manusia menginjak usia pertengahan dua puluhan (Twenge, 2017). Akibatnya, kelompok usia anak dan remaja cenderung mencari k...