Apakah Anda pernah merasa ingin meledak di tengah rapat karena kritik atasan yang menohok? Atau pernahkah Anda terbangun di tengah malam dengan jantung berdebar, membayangkan tumpukan deadline dan revisi mendadak yang seolah tidak pernah ada habisnya? Jika ya, Anda tidak sendirian. Di era kerja yang serba cepat dan menuntut ini, tekanan terus-menerus datang tanpa henti. Tanpa kita sadari, emosi yang reaktif sering kali mengambil alih, menyebabkan keputusan terburu-buru, komunikasi yang tegang dengan tim, hingga perasaan terkuras ( burnout ) yang menggerogoti produktivitas harian Anda. Namun, bagaimana jika ada sebuah cara teruji untuk menguasai diri, sehingga dalam situasi paling menekan pun Anda tetap bisa tampil tenang, fokus, dan memegang kendali penuh? Pusat Studi & Aplikasi Keilmuan (PSAK) menghadirkan Neuro-Resilience at Work : Pelatihan Regulasi Diri, Reappraisal Kognitif, dan Respons Adaptif di Tempat Kerja. Dan untuk pertama kalinya, pelatihan eksklusif ini ditawa...
Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga "Kalau burnout hanya ada di pikiran, mengapa hasil MRI menunjukkan perubahan pada otak pekerja yang mengalaminya?" Selama bertahun-tahun, burnout sering dianggap sebagai masalah mental yang "dibesar-besarkan". Masih banyak yang beranggapan bahwa seseorang mengalami burnout karena kurang tangguh, terlalu banyak mengeluh, atau tidak mampu menghadapi tekanan kerja. Padahal, temuan neuroscience modern justru menunjukkan hal yang berbeda. Ilustrasi burnout dan gangguan pada otak Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja seharian. Burnout merupakan respons biologis terhadap stres kerja kronis yang berlangsung dalam waktu lama. Penelitian selama dua dekade terakhir menemukan bahwa burnout berkaitan dengan perubahan pada sistem hormon stres, fungsi jaringan otak, kemampuan berpikir, hingga proses pengambilan keputusan. Bahkan beberapa penelitian pencitraan otak (MRI) menunjukkan adanya perubahan pada prefrontal cortex, am...