Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Banyak orang mengira bekerja dari rumah ( work from home ) atau sistem hybrid adalah anugerah terbesar bagi pekerja di Jabodetabek. Tidak ada lagi drama macet di Sudirman, tidak perlu berdesakan di KRL Commuter Line pagi hari, dan bisa bekerja sambil mengenakan celana piyama. Namun, sebagai seorang pemerhati neurosains dan psikologi, saya ingin melemparkan sebuah kenyataan pahit yang mungkin tidak ingin Anda dengar: Bekerja dari kamar tamu atau meja makan Anda sebenarnya sedang menciptakan "kebakaran" di dalam sirkuit otak Anda yang jauh lebih berbahaya daripada polusi Jakarta. Kebebasan yang Anda rasakan itu semu. Tanpa disadari, dinding rumah Anda kini telah berubah menjadi dinding kantor yang tidak pernah tutup. Inilah yang disebut dengan jebakan boundary blurring atau pengikisan batas antara kehidupan profesional dan personal yang diperparah oleh technostress . Baca artikel lainnya: Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Mod...
Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda duduk di depan laptop selama satu jam, menatap kursor yang berkedip, namun merasa otak Anda seperti "macet"? Anda tahu apa yang harus dikerjakan, tetapi memproses satu kalimat saja rasanya seperti mendaki gunung. Anda mulai sering lupa nama rekan kerja, kehilangan jejak di tengah rapat, atau merasa pikiran Anda "kosong" secara tiba-tiba. Banyak orang—mungkin termasuk atasan Anda—akan menyebut kondisi ini sebagai tanda Anda kurang kopi, kurang gigih, atau sekadar "kurang fokus". Namun, sebagai praktisi psikologi, saya ingin melemparkan pernyataan yang mungkin menyinggung banyak pihak: "Brain fog" atau kabut otak yang Anda alami bukanlah bukti bahwa Anda malas, melainkan bukti biologis bahwa lingkungan kerja Anda telah merusak arsitektur otak Anda. Kita sering meremehkan lupa sebagai hal sepele. Namun dalam artikel ini, kita akan membedah mengapa "lemot" yang Anda rasakan adalah...