“Semakin lari dari stres, kenapa justru makin lelah?” Pertanyaan ini sering muncul tanpa jawaban yang jelas. Banyak dari kita sudah mencoba berbagai cara untuk “kabur” dari stres: liburan singkat, hiburan tanpa henti, menyibukkan diri dengan pekerjaan, bahkan menumpuk aktivitas agar tidak sempat berpikir. Namun anehnya, rasa lelah itu tidak benar-benar hilang. Justru semakin dikejar, stres terasa semakin melekat. Inilah ciri stres kronis—bukan sekadar kelelahan biasa, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang bertahan lama. Stres kronis terjadi ketika tubuh dan otak terus berada dalam mode waspada. Secara psikologis, ia memengaruhi pikiran dengan munculnya overthinking, rasa khawatir berlebihan, dan sulit fokus. Perasaan menjadi lebih sensitif: mudah cemas, cepat marah, atau merasa hampa tanpa sebab yang jelas. Dari sisi perilaku, stres kronis sering tampak dalam bentuk menarik diri, menunda pekerjaan, sulit tidur, atau sebaliknya menjadi terlalu sibuk tanpa arah. Semua ini bu...
“Bagaimana jika ibadah yang kamu lakukan selama ini ternyata sedang melatih otakmu?” Pertanyaan ini mungkin terdengar mengejutkan. Selama ini, tadarus Al-Qur’an sering kita pahami sebagai aktivitas ibadah murni—membaca, melafalkan, dan mengejar pahala. Namun di tengah meningkatnya isu kesehatan mental, muncul kesadaran baru: praktik spiritual ternyata memiliki dampak nyata terhadap cara kerja otak dan kestabilan emosi. Artinya, tadarus bukan hanya menenangkan hati secara spiritual, tetapi juga bekerja secara biologis pada sistem saraf manusia. Generasi modern hidup dalam tekanan yang kompleks. Informasi datang tanpa henti, tuntutan produktivitas terus meningkat, dan ruang jeda semakin sempit. Tidak heran jika fokus mudah buyar, emosi sulit dikendalikan, dan pikiran kerap dipenuhi overthinking. Banyak orang mencari terapi melalui berbagai metode, namun sering kali melupakan satu praktik yang sudah lama ada dan dekat dengan keseharian umat Muslim: membaca Al-Qur’an dengan kesadaran pen...