Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Ilustrasi Burnout "Burnout bukan terjadi karena kamu tidak kuat bekerja. Justru, sering kali penyebabnya adalah budaya kerja yang menganggap kelelahan sebagai prestasi." Pernah merasa tetap lelah meski sudah tidur delapan jam? Senin terasa seperti Jumat malam. Notifikasi WhatsApp kantor membuat dada berdebar. Laptop baru ditutup, tetapi pikiran masih sibuk memikirkan target besok. Banyak orang menganggap kondisi itu sebagai tanda kurang bersyukur, kurang disiplin, atau tidak memiliki mental yang kuat. Padahal, ilmu psikologi kerja dan neuroscience menunjukkan sesuatu yang berbeda. Burnout bukan sekadar capek. Burnout adalah respons biologis otak terhadap stres kerja yang berlangsung terus-menerus tanpa kesempatan untuk benar-benar pulih. Ironisnya, di kota-kota seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), kondisi ini perlahan dianggap normal. Lembur menjadi kebanggaan. Balas chat kantor pukul 23.00 diangga...
Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Ilustrasi pekerja yang alami burnout Pernah Bangun Tidur Tapi Tetap Lelah? Bisa Jadi Bukan Kurang Tidur "Masih muda kok sudah gampang capek." Kalimat seperti ini mungkin pernah Anda dengar dari rekan kerja, keluarga, bahkan atasan. Di banyak lingkungan kerja, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), rasa lelah sering dianggap sebagai harga yang harus dibayar demi karier. Semakin sibuk seseorang, semakin dianggap produktif. Padahal, tidak semua rasa lelah adalah hal yang normal. Ada kondisi ketika tubuh sebenarnya sedang "berteriak", tetapi kita justru memaksanya untuk terus bekerja. Bangun pagi terasa berat, otot pegal setiap hari, kepala sering nyut-nyutan, dan malam hari sulit tidur meskipun badan sudah sangat lelah. Banyak orang menganggap itu hanya efek lembur atau kurang olahraga. Padahal, bisa jadi tubuh sedang mengalami gejala burnout fisik. Menurut Wo...