Langsung ke konten utama

Featured post

Work From Home Bisa Merusak Kesehatan Mental? Ini Penjelasan Neurosainsnya

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Banyak orang mengira bekerja dari rumah ( work from home ) atau sistem hybrid adalah anugerah terbesar bagi pekerja di Jabodetabek. Tidak ada lagi drama macet di Sudirman, tidak perlu berdesakan di KRL Commuter Line pagi hari, dan bisa bekerja sambil mengenakan celana piyama. Namun, sebagai seorang pemerhati neurosains dan psikologi, saya ingin melemparkan sebuah kenyataan pahit yang mungkin tidak ingin Anda dengar: Bekerja dari kamar tamu atau meja makan Anda sebenarnya sedang menciptakan "kebakaran" di dalam sirkuit otak Anda yang jauh lebih berbahaya daripada polusi Jakarta. Kebebasan yang Anda rasakan itu semu. Tanpa disadari, dinding rumah Anda kini telah berubah menjadi dinding kantor yang tidak pernah tutup. Inilah yang disebut dengan jebakan boundary blurring atau pengikisan batas antara kehidupan profesional dan personal yang diperparah oleh technostress . Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Mod...

PROFIL USAHA




LATAR BELAKANG

Sulitnya untuk melakukan kolaborasi antar Rumpun Keilmuan Sains, Humaniora, dan Kesehatan.

Ego sektoral dan bidang keilmuan terlebih rumpun keilmuan, sulit untuk mengembangkan riset dan aplikasi riset dalam bentuk pengabdian masyarakat dengan melakukan elaborasi dari tiga rumpun keilmuan.

Butuh tindakan afirmatif dalam pembentukan organisasi yang mampu melakukan riset dan aplikasi dari riset dengan berbasiskan komunitas. Hal ini diharapkan dari riset dan pengabdian masyarakat yang dilakukan langsung dapat dirasakan dampaknya bagi masyarakat.

Hal ini akan berdampak hebat, jika terlebih nilai riset jika memiliki nilai keekonomian yang dapat mensejahterakan masyarakat.

Oleh karena itu perlu didirikan sebuah lembaga independen sebagai pusat riset dan pengabdian masyarakat, sekaligus pengembangan produk dan jasa dari riset yang dilakukan agar riset yang dilakukan memiliki nilai keberlanjutan jangka panjang. Ini karena dilakukan pada sebuah komunitas yang hidup dan terus berkembang, yaitu berbasisikan masyarakat urban, di Jakarta.

Oleh karena itu didirikanlah sebuah lembaga riset, pengabdian masyarkat, serta pengembangan produk yang bernama Pusat Studi dan Aplikasi Keilmuan.


TUJUAN

Melakukan riset yang berkelanjutan di rumpun keilmuan sains, humaniora, dan kesehatan  

Melakukan pengabdian masyarakat yang berkelanjutan rumpun keilmuan sains, humaniora, dan kesehatan

Melakukan publikasi riset dan pengabdian masyarakat yang berkelanjutan rumpun keilmuan sains, humaniora, dan kesehatan

Melakukan pengembangan produk barang dan jasa yang berkelanjutan hasil dari riset internal maupun kolaborasi 


VISI

Melakukan riset yang bersifat multi rumpun keilmuan, yaitu berbasiskan lintas rumpun sains dan pengetahuan alam, humaniora, dan kesehatan dengan berbasiskan komunitas.

Melakukan pengembangan produk berupa barang dan jasa yang memiliki nilai keekonomian serta memiliki nilai kebermanfaatan bagi masyarrakat dan berbasiskan multi rumpun keilmuan, yaitu berbasiskan lintas rumpun keilmuan sains dan pengetahuan alam, humaniora, dan kesehatan.

MOTO
Research, Publication, and Community Development for Better Wellbeing and Quality of Life

MISI

Melakukan riset, pengabdian mesyarakat, publikasi, dan pengembangan produk barang dan jasa dengan memiliki nilai keekonomian dan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Melakukan kolaborasi riset, pengabdian masyarakat, publikasi dan pengembangan produk barang dan jasa dengan memiliki nilai keekonomian dan kebermanfaatan bagi masyarakat

PROFIL PUSAT STUDI DAN APLIKASI KEILMUAN

Pusat Studi dan Aplikasi Keilumuan terdaftar di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan nomor usaha 19/P.1/31.75.05.1001.01.034.R.9/4/-1.828.2/e/2019. 

Staff Pusat Studi dan Aplikasi Keilmuan adalah ahli di bidangnya.  Selain melakukan riset, staf kami juga merupakan mempraktekkan hasil riset dari keilmuan sains, humaniora, dan kesehatan.  Hal ini dilakukan dengan bingkai keilmuan multi rumpun.

Staf kami berpengalaman sebagai asisten doktoral dan penelitian doktoral yang telah dipublikasikan secara ilmiah.  Staf kami juga terdiri atas lintas latar belakang praktisi yang bekerja di sektor formal dan non formal.  Hal ini adalah kekayaan dan keanekaragaman potensi yang harmonis untuk memajukan bangsa Indonesia.

Pendekatan lintas rumpun keilmuan sains, humaniora, dan kesehatan kami berfokus kepada pelayanan yang diberikan.  Fokus bahwa manusia adalah sebagai entitas biologis secara individu, yang memiliki faktor psikologis secara sadar dan tidak sadar, serta sebagai mahluk sosial yang bermasyarakat.  Pendekatan yang mengutamakan kesejahteraan dan kualitas hidup dari manusia!

LOKASI & KONTAK

Jl. Dana Karya No. 13, RT 004/RW 08, Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur, DKI Jakarta, 13760

Telepon : 0858-1192-2097
Email    : pusatstudiaplikasikeilmuan@gmail.com

Postingan populer dari blog ini

Macet Jabodetabek atau Beban Kerja? Menguak Akar Lelah Mental Pekerja Urban

  Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda merasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan dua jam dari Bekasi ke Sudirman, lalu sesampainya di meja kantor, Anda hanya menatap layar kosong selama 30 menit? Banyak dari kita menyalahkan kemacetan Jakarta yang legendaris sebagai biang keladi kelelahan ini. Namun, sebagai pemerhati neurosains yang sering menangani kasus kesehatan mental pekerja, saya ingin melemparkan sebuah pernyataan kontroversial: Macet Jabodetabek mungkin hanyalah kambing hitam yang nyaman untuk menyembunyikan kenyataan bahwa lingkungan kerja Anda sebenarnya sedang "merusak" fungsi otak Anda. Kita sering terjebak dalam mitos bahwa jika perjalanan komuter kita lebih singkat, kita akan lebih bahagia. Padahal, kelelahan yang Anda rasakan bukanlah sekadar "capek fisik" biasa, melainkan sinyal dari kondisi klinis yang jauh lebih serius. Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Modern: Tinjauan Neurosains terhadap...

Work From Home Bisa Merusak Kesehatan Mental? Ini Penjelasan Neurosainsnya

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Banyak orang mengira bekerja dari rumah ( work from home ) atau sistem hybrid adalah anugerah terbesar bagi pekerja di Jabodetabek. Tidak ada lagi drama macet di Sudirman, tidak perlu berdesakan di KRL Commuter Line pagi hari, dan bisa bekerja sambil mengenakan celana piyama. Namun, sebagai seorang pemerhati neurosains dan psikologi, saya ingin melemparkan sebuah kenyataan pahit yang mungkin tidak ingin Anda dengar: Bekerja dari kamar tamu atau meja makan Anda sebenarnya sedang menciptakan "kebakaran" di dalam sirkuit otak Anda yang jauh lebih berbahaya daripada polusi Jakarta. Kebebasan yang Anda rasakan itu semu. Tanpa disadari, dinding rumah Anda kini telah berubah menjadi dinding kantor yang tidak pernah tutup. Inilah yang disebut dengan jebakan boundary blurring atau pengikisan batas antara kehidupan profesional dan personal yang diperparah oleh technostress . Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Mod...

Cognitive Distortion dan Neuroscience of Burnout: Studi Literatur tentang Brain Fog, Emotional Exhaustion, dan Toxic Productivity pada Generasi Produktif

  Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Abstrak Burnout dalam ekosistem kerja kontemporer telah bertransformasi dari sekadar fenomena kelelahan okupasional menjadi krisis neurokognitif yang sistemik. Artikel ini mengeksplorasi hubungan kausalitas antara pola pikir maladaptif (distorsi kognitif) dengan mekanisme neurobiologis yang mendasari burnout pada generasi produktif, khususnya Milenial dan Generasi Z. Melalui tinjauan literatur kualitatif, ditemukan bahwa distorsi kognitif bertindak sebagai katalisator bagi disregulasi aksis hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) dan hiperaktivitas amigdala. Secara struktural, kondisi ini berkorelasi dengan penipisan materi abu-abu pada prefrontal cortex (PFC) dan penyusutan striatum, yang bermanifestasi secara klinis melalui emotional exhaustion, brain fog, dan fenomena dopamine depletion. Studi ini juga menyoroti bagaimana budaya hustle culture memperparah kondisi ini dengan menciptakan lingkaran setan toxic productivity. Implikasi dari temu...