Langsung ke konten utama

Burnout Bukan Cuma Bikin Capek. Penelitian Terbaru Menunjukkan Otak Anda Ikut Berubah


Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga


"Kalau burnout hanya ada di pikiran, mengapa hasil MRI menunjukkan perubahan pada otak pekerja yang mengalaminya?"

Selama bertahun-tahun, burnout sering dianggap sebagai masalah mental yang "dibesar-besarkan". Masih banyak yang beranggapan bahwa seseorang mengalami burnout karena kurang tangguh, terlalu banyak mengeluh, atau tidak mampu menghadapi tekanan kerja.

Padahal, temuan neuroscience modern justru menunjukkan hal yang berbeda.

Ilustrasi burnout dan gangguan pada otak


Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja seharian. Burnout merupakan respons biologis terhadap stres kerja kronis yang berlangsung dalam waktu lama. Penelitian selama dua dekade terakhir menemukan bahwa burnout berkaitan dengan perubahan pada sistem hormon stres, fungsi jaringan otak, kemampuan berpikir, hingga proses pengambilan keputusan. Bahkan beberapa penelitian pencitraan otak (MRI) menunjukkan adanya perubahan pada prefrontal cortex, amigdala, dan konektivitas antarjaringan otak pada individu yang mengalami burnout.

Artinya, ketika seseorang berkata,

"Saya sudah tidur delapan jam, tapi tetap capek."

atau

"Saya membaca email yang sama berkali-kali tetapi tidak paham isinya."

Masalahnya belum tentu karena malas.

Bisa jadi otaknya memang sedang bekerja dalam kondisi yang berbeda akibat paparan stres berkepanjangan.

Sebagai pemerhati neuroscience yang cukup lama mengikuti perkembangan penelitian tentang burnout sekaligus mengamati kehidupan pekerja profesional di Indonesia, saya melihat bahwa masyarakat mulai menerima burnout sebagai isu kesehatan mental. Namun, pemahamannya masih sering berhenti pada aspek psikologis.

Padahal, justru di sinilah neuroscience memberikan perspektif yang menarik.

Burnout bukan hanya mengubah cara seseorang merasa, tetapi juga cara otaknya bekerja.

Baca juga artikel: Burnout: Penyebab, Gejala, Dampak, Tes, dan Cara Pulih Berdasarkan Neurosains

Mitos: "Burnout Cuma Ada di Pikiran"

Kalimat ini mungkin pernah Anda dengar.

"Kurang bersyukur saja."

"Liburan juga nanti sembuh."

"Jangan lebay, semua orang juga capek."

Sekilas terdengar masuk akal.

Namun, jika burnout hanya persoalan pola pikir, mengapa semakin banyak penelitian menemukan perubahan biologis pada tubuh dan otak pekerja yang mengalami burnout?

Review yang diterbitkan oleh Bayes, Tavella, dan Parker (2021) menjelaskan bahwa burnout berkaitan dengan aktivasi berkepanjangan sistem saraf simpatis, perubahan regulasi Hypothalamic–Pituitary–Adrenal (HPA) axis, gangguan hormon kortisol, peningkatan allostatic load, perubahan struktur dan fungsi otak, inflamasi sistemik, hingga meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular.

Sementara itu, tinjauan MRI terbaru pada tahun 2025 menemukan pola yang cukup konsisten, yaitu:

  • amigdala menjadi lebih reaktif,
  • terjadi penurunan materi abu-abu pada beberapa bagian prefrontal cortex,
  • konektivitas jaringan otak menjadi kurang efisien,
  • namun sebagian perubahan tersebut dapat membaik melalui olahraga, mindfulness, terapi perilaku kognitif (CBT), dan intervensi lain yang tepat.

Dengan kata lain, burnout bukan sekadar "perasaan". Burnout memiliki dasar biologis yang dapat diamati melalui penelitian neurofisiologi dan neuroimaging.

Baca juga artikel: Apa itu Burnout?

Burnout Menjadi Bagian dari Kehidupan Pekerja Jabodetabek

Bagi banyak pekerja di Jabodetabek, tekanan kerja tidak dimulai ketika tiba di kantor.

Ia dimulai sejak membuka mata.

Bangun pukul lima pagi.

Mengejar KRL atau TransJakarta.

Menghadapi kemacetan selama satu hingga dua jam.

Bekerja dengan target yang terus bertambah.

Lalu masih harus membalas pesan kantor ketika sudah berada di rumah.

Dalam pengalaman saya mengamati berbagai sektor—rumah sakit, pemerintahan, pendidikan, perusahaan manufaktur, hingga startup digital—pola burnout hampir selalu sama.

Yang berbeda hanyalah sumber tekanannya.

Di rumah sakit, tekanan emosional datang dari tanggung jawab terhadap pasien.

Di instansi pemerintah, tekanan administratif dan target kinerja menjadi keluhan utama.

Di startup, perubahan yang sangat cepat dan budaya always available membuat banyak pekerja merasa tidak pernah benar-benar selesai bekerja.

Akibatnya, banyak pekerja mulai mengalami gejala yang sama:

  • sulit berkonsentrasi,
  • mudah lupa,
  • kehilangan motivasi,
  • mudah tersinggung,
  • tetap merasa lelah meskipun sudah beristirahat.

Keluhan-keluhan tersebut ternyata sejalan dengan berbagai penelitian neuroscience mengenai burnout dan gangguan fungsi kognitif.

Baca juga artikel: Burnout vs Stres: Apa Bedanya?

Gen Z Indonesia Mulai Mengubah Cara Pandang terhadap Burnout

Generasi Z sering mendapat stereotip sebagai generasi yang "mudah menyerah" atau "sedikit-sedikit resign".

Namun, data menunjukkan cerita yang lebih kompleks.

Berbagai penelitian terbaru di Indonesia menunjukkan bahwa pekerja Gen Z semakin menempatkan work-life balance, fleksibilitas kerja, dan kesehatan mental sebagai faktor penting dalam memilih pekerjaan. Rendahnya keseimbangan kehidupan-kerja berkaitan dengan meningkatnya stres, burnout, dan niat untuk berpindah kerja.

Fenomena ini menunjukkan perubahan budaya kerja.

Jika generasi sebelumnya sering menganggap lembur sebagai simbol dedikasi, banyak pekerja muda kini mulai mempertanyakan apakah produktivitas harus selalu dibayar dengan kesehatan mental.

Perubahan cara pandang ini sebenarnya sejalan dengan temuan neuroscience. Otak manusia memiliki batas adaptasi terhadap stres kronis. Ketika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa kesempatan untuk pulih, yang terganggu bukan hanya suasana hati, tetapi juga sistem biologis yang mengatur perhatian, emosi, dan pengambilan keputusan.

Baca juga artikel: Burnout vs Depresi

Apa yang Saya Amati di Media Sosial?

Selama beberapa tahun terakhir saya cukup sering mengikuti diskusi pekerja Indonesia di LinkedIn, Threads, X, hingga TikTok.

Menariknya, kata "burnout" sebenarnya tidak terlalu sering digunakan.

Sebaliknya, yang lebih sering muncul adalah kalimat seperti:

"Weekend cuma buat tidur."

"Otak rasanya penuh terus."

"Meeting seharian, kerja sebenarnya baru dimulai malam."

"Udah baca dokumen lima kali, tetap nggak masuk."

Sebagai pemerhati neuroscience, saya melihat pola ini sangat menarik.

Keluhan tersebut bukan hanya berkaitan dengan rasa lelah.

Keluhan itu sangat mirip dengan gangguan executive function, yaitu kemampuan otak untuk mengatur perhatian, merencanakan pekerjaan, mengingat informasi, dan mengambil keputusan.

Sayangnya, banyak orang baru menyadari masalahnya ketika produktivitas mulai turun atau muncul keinginan untuk resign.

Baca juga artikel: Capek Terus Bukan Berarti Rajin! Ini 4 Gejala Burnout Fisik yang Sering Dianggap Sepele

Neuroscience Burnout: Mengapa Otak Ikut Berubah?

Tubuh manusia dirancang untuk menghadapi stres.

Masalah muncul ketika stres tidak pernah benar-benar berhenti.

Saat tekanan kerja berlangsung terus-menerus, HPA axis tetap aktif sehingga pelepasan hormon stres berlangsung lebih lama dari yang seharusnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi sistem limbik, mengubah kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) yang penting bagi plastisitas otak, serta mengganggu komunikasi antara prefrontal cortex dan amigdala.

Penelitian EEG bahkan menunjukkan bahwa pekerja dengan burnout tetap dapat menyelesaikan tugas kognitif, tetapi otaknya harus mengeluarkan usaha yang lebih besar dibandingkan individu tanpa burnout. Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang berkata, "Saya masih bisa bekerja, tetapi rasanya jauh lebih melelahkan."

Inilah alasan mengapa memahami burnout dari perspektif neuroscience menjadi penting. Burnout bukan hanya persoalan motivasi atau kemauan bekerja, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana otak merespons stres kronis. Pada bagian berikutnya, kita akan membahas lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi pada HPA axis, kortisol, amigdala, prefrontal cortex, dan BDNF, serta mengapa semua perubahan tersebut dapat memengaruhi cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Baca juga artikel: Bukan Karena Kamu Lemah! Ini Penyebab Burnout yang Diam-Diam Sedang Menggerogoti Otak Pekerja Muda

Apa yang Terjadi pada Otak Saat Burnout?

Bayangkan otak Anda seperti pusat kendali sebuah kota.

Saat ada ancaman, pusat kendali akan menyalakan alarm, mengirim petugas, dan mengatur lalu lintas agar keadaan kembali aman.

Masalahnya, pada burnout, alarm itu tidak pernah benar-benar dimatikan.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan berbulan-bulan, otak terus menerima sinyal bahwa "ada ancaman". Ancaman tersebut bukan harimau atau bencana alam, melainkan target pekerjaan yang tidak ada habisnya, notifikasi WhatsApp kantor setiap malam, rapat yang bertumpuk, dan tekanan untuk selalu produktif.

Akibatnya, sistem biologis yang awalnya dirancang untuk melindungi tubuh justru mulai mengganggu cara otak bekerja.

Berbagai penelitian MRI, EEG, dan neuroendokrin menunjukkan bahwa burnout berkaitan dengan perubahan pada jaringan otak, fungsi kognitif, dan sistem hormon stres. Yang menarik, sebagian perubahan tersebut bersifat reversibel, sehingga dapat membaik apabila stres kronis berhasil diatasi dan pemulihan dilakukan secara konsisten.

Baca juga artikel: Kerja Keras Saja Tidak Cukup! Ini Cara Mengatasi Burnout yang Benar Menurut Neurosains

HPA Axis dan Kortisol: Alarm Darurat yang Tidak Pernah Berhenti

Saat Anda menghadapi deadline atau konflik dengan atasan, tubuh mengaktifkan Hypothalamic–Pituitary–Adrenal (HPA) axis.

Sederhananya, prosesnya seperti ini.

Hipotalamus memberi sinyal kepada kelenjar pituitari.

Pituitari kemudian mengaktifkan kelenjar adrenal.

Selanjutnya, tubuh melepaskan kortisol, yaitu hormon utama yang membantu kita menghadapi stres.

Dalam jangka pendek, kortisol sangat bermanfaat.

Kita menjadi lebih waspada, fokus meningkat, dan tubuh siap menghadapi tantangan.

Namun, ketika tekanan kerja berlangsung terus-menerus, HPA axis dapat mengalami gangguan regulasi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa burnout berkaitan dengan disregulasi HPA axis, peningkatan allostatic load, gangguan tidur, perubahan sistem imun, dan penurunan kemampuan tubuh untuk kembali ke kondisi normal setelah stres.

Penelitian terbaru mengenai mekanisme stres juga menjelaskan bahwa paparan kortisol berkepanjangan dapat mengganggu keseimbangan neurotransmiter, meningkatkan inflamasi, dan mengurangi kemampuan otak beradaptasi terhadap tekanan baru.

Baca juga artikel: Sering Bilang 'Capek Kerja'? Jangan-Jangan Itu Burnout. Coba Tes Ini Sebelum Terlambat!

Amigdala Menjadi Lebih Reaktif

Salah satu bagian otak yang paling dipengaruhi burnout adalah amigdala.

Amigdala dapat diibaratkan sebagai "alarm bahaya" di dalam otak.

Tugasnya mendeteksi ancaman dan memicu respons emosional.

Pada kondisi burnout, berbagai studi MRI menemukan bahwa amigdala menjadi lebih reaktif terhadap rangsangan negatif. Artinya, masalah kecil dapat terasa jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Seseorang menjadi lebih mudah tersinggung, lebih cepat cemas, dan lebih sulit merasa tenang meskipun ancaman sebenarnya tidak terlalu besar.

Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ini sering terlihat ketika seseorang:

  • mudah marah karena email sederhana,
  • merasa panik saat menerima notifikasi pekerjaan,
  • sulit berhenti memikirkan pekerjaan meskipun sudah berada di rumah.

Banyak orang menganggap perubahan ini sebagai masalah kepribadian. Padahal, neuroscience menunjukkan bahwa respons emosional tersebut juga dipengaruhi oleh perubahan cara kerja jaringan otak.

Prefrontal Cortex Mulai "Melemah"

Jika amigdala adalah alarm, maka prefrontal cortex adalah direktur utama.

Bagian otak ini bertugas untuk:

  • mengambil keputusan,
  • merencanakan pekerjaan,
  • mengendalikan emosi,
  • mempertahankan perhatian,
  • mengontrol impuls.

Saat stres kronis berlangsung lama, kemampuan prefrontal cortex mulai menurun.

Akibatnya muncul berbagai keluhan yang sering saya temui ketika berbicara dengan pekerja profesional:

"Saya baca dokumen yang sama lima kali, tetap tidak paham."

"Saya lupa hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah lupa."

"Saya sulit mengambil keputusan sederhana."

Penelitian MRI terbaru menunjukkan adanya penurunan materi abu-abu pada beberapa area dorsolateral dan ventromedial prefrontal cortex, disertai perubahan konektivitas jaringan yang berhubungan dengan kontrol emosi dan fungsi eksekutif. Menariknya, sebagian perubahan ini dapat membaik setelah intervensi seperti olahraga, mindfulness, terapi perilaku kognitif (CBT), dan pengurangan stres kronis.

BDNF dan Neuroplastisitas: Mengapa Otak Sulit Beradaptasi?

Otak memiliki kemampuan luar biasa yang disebut neuroplastisitas, yaitu kemampuan membentuk koneksi baru dan memperbaiki jaringan saraf.

Salah satu protein yang berperan besar dalam proses ini adalah Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF).

BDNF sering disebut sebagai "pupuk" bagi sel-sel otak karena membantu pertumbuhan, kelangsungan hidup neuron, dan pembentukan hubungan antarsel saraf.

Penelitian Sertoz dan kolega menemukan bahwa individu dengan burnout memiliki kadar BDNF yang lebih rendah dibanding kelompok sehat. Penurunan BDNF berkorelasi dengan meningkatnya kelelahan emosional dan depersonalisasi, sehingga diduga berkontribusi terhadap gangguan suasana hati dan fungsi kognitif pada burnout.

Kabar baiknya, neuroplastisitas berarti otak tidak bersifat statis. Aktivitas fisik, tidur yang cukup, pembelajaran, mindfulness, dan penurunan stres kronis dapat mendukung pemulihan fungsi otak.

Brain Fog dan Executive Function

Salah satu keluhan yang paling sering muncul pada burnout adalah brain fog.

Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa pikirannya "berkabut".

Gejalanya antara lain:

  • sulit berkonsentrasi,
  • mudah lupa,
  • lambat berpikir,
  • sulit menentukan prioritas,
  • merasa otak "blank".

Dalam neuroscience, kondisi tersebut berkaitan dengan gangguan executive function, yaitu kemampuan otak mengatur perhatian, memori kerja, perencanaan, dan pengambilan keputusan.

Penelitian EEG menunjukkan hal yang menarik.

Pekerja dengan burnout sering kali masih mampu menyelesaikan tugas dengan hasil yang sama seperti kelompok sehat, tetapi otaknya harus mengalokasikan sumber daya saraf yang lebih besar untuk mencapai hasil tersebut. Dengan kata lain, mereka tetap produktif, tetapi "biaya biologis" yang harus dibayar otaknya jauh lebih tinggi.

Hal ini menjelaskan mengapa seseorang masih dapat menyelesaikan pekerjaannya, tetapi merasa sangat lelah setelah tugas yang sebelumnya terasa mudah.

Contoh Kasus: "N", Project Manager di Perusahaan Teknologi

Sebut saja N, seorang project manager berusia 33 tahun di Jakarta.

Dalam enam bulan terakhir ia memimpin tiga proyek besar secara bersamaan.

Awalnya ia merasa mampu mengatasinya.

Namun perlahan ia mulai:

  • lupa jadwal rapat,
  • salah mengirim dokumen,
  • membutuhkan waktu lebih lama untuk membuat keputusan,
  • mudah marah kepada anggota tim.

Ia mengira penyebabnya hanyalah kurang tidur.

Setelah berkonsultasi dengan psikolog, diketahui bahwa ia mengalami burnout akibat stres kerja kronis. Dengan memperbaiki pola tidur, mengurangi pekerjaan di luar jam kantor, rutin berolahraga, dan menjalani terapi psikologis, keluhannya berangsur membaik dalam beberapa bulan. Contoh ini bersifat ilustratif, tetapi mencerminkan pola yang sering dijumpai dalam praktik kesehatan kerja.

Analisis Berdasarkan Pengalaman Lintas Industri

Selama mengamati berbagai sektor—rumah sakit, instansi pemerintah, pendidikan, manufaktur, hingga startup digital—saya menemukan satu pola yang konsisten.

Burnout tidak memilih profesi.

Yang membedakan hanyalah bentuk tekanannya.

Namun dari sudut pandang neuroscience, mekanismenya hampir sama.

Tekanan yang berlangsung terus-menerus membuat sistem stres tetap aktif, sehingga kemampuan otak untuk mengatur emosi, berkonsentrasi, dan mengambil keputusan perlahan menurun.

Itulah sebabnya solusi burnout tidak cukup hanya berupa liburan singkat atau seminar motivasi. Pemulihan membutuhkan perubahan pada kebiasaan individu sekaligus lingkungan kerja. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa sebagian perubahan fungsi dan struktur otak pada burnout dapat membaik setelah intervensi yang tepat, sehingga burnout bukanlah kondisi yang harus diterima sebagai "nasib" pekerja modern.

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Apakah burnout benar-benar dapat mengubah otak?

Ya, tetapi perlu dipahami bahwa yang berubah adalah struktur, fungsi, dan cara kerja beberapa jaringan otak, bukan berarti otak mengalami kerusakan permanen.

Penelitian menggunakan MRI, EEG, dan PET scan menunjukkan bahwa burnout berkaitan dengan perubahan pada prefrontal cortex, amigdala, hipokampus, serta konektivitas antarjaringan otak yang berperan dalam perhatian, regulasi emosi, dan pengambilan keputusan. Kabar baiknya, banyak penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian perubahan tersebut dapat membaik melalui penanganan yang tepat dan pengurangan stres kronis.

2. Mengapa saya menjadi pelupa saat mengalami burnout?

Banyak pekerja menganggap dirinya mulai "bodoh" ketika mengalami burnout.

Padahal, yang terganggu bukan kecerdasannya.

Burnout berkaitan dengan penurunan efisiensi executive function, yaitu kemampuan otak untuk:

  • mempertahankan perhatian,
  • menyimpan informasi sementara (working memory),
  • mengatur prioritas,
  • mengambil keputusan,
  • mengendalikan impuls.

Penelitian menunjukkan bahwa penderita burnout sering mengalami gangguan memori kerja, konsentrasi, dan fungsi eksekutif, terutama jika disertai gangguan tidur yang berkepanjangan.

3. Apakah burnout sama dengan depresi?

Tidak.

Burnout dan depresi memiliki beberapa gejala yang mirip, seperti kelelahan, hilangnya motivasi, dan gangguan konsentrasi.

Namun, menurut WHO, burnout merupakan fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Sebaliknya, depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang dapat memengaruhi seluruh aspek kehidupan dan tidak terbatas pada konteks pekerjaan. Karena gejalanya dapat tumpang tindih, evaluasi oleh tenaga profesional diperlukan apabila keluhan berlangsung lama atau semakin berat.

4. Apakah perubahan pada otak akibat burnout bisa pulih?

Dalam banyak kasus, ya.

Otak memiliki kemampuan yang disebut neuroplastisitas, yaitu kemampuan untuk membentuk kembali koneksi antarsel saraf dan beradaptasi terhadap perubahan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas tidur yang baik, olahraga teratur, mindfulness, terapi perilaku kognitif (CBT), pengurangan stres kronis, dan lingkungan kerja yang lebih sehat dapat membantu memperbaiki fungsi otak yang terganggu akibat burnout.

5. Kapan saya perlu mencari bantuan profesional?

Segera pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater apabila Anda mengalami:

  • kelelahan yang tidak membaik selama beberapa minggu;
  • kesulitan berkonsentrasi hingga mengganggu pekerjaan;
  • gangguan tidur yang menetap;
  • kehilangan motivasi yang berat;
  • gejala kecemasan atau depresi yang semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.

Burnout yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental maupun fisik, sehingga deteksi dan intervensi dini sangat dianjurkan.

Key Takeaways

Burnout bukan sekadar rasa lelah, tetapi respons biologis terhadap stres kerja kronis.

Neuroscience menunjukkan bahwa burnout berkaitan dengan perubahan pada HPA axis, kortisol, amigdala, prefrontal cortex, BDNF, serta jaringan otak yang mengatur emosi dan fungsi kognitif.

Gejala seperti brain fog, mudah lupa, sulit fokus, dan lambat mengambil keputusan memiliki dasar neurobiologis, bukan sekadar kurang motivasi.

Burnout tidak berarti seseorang lemah. WHO mendefinisikannya sebagai sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola dan membatasinya pada konteks pekerjaan.

Semakin cepat burnout dikenali, semakin besar peluang pemulihan karena otak memiliki kemampuan untuk beradaptasi melalui neuroplastisitas.

Call to Action

Apakah akhir-akhir ini Anda merasa:

  •         membaca dokumen yang sama berulang kali tetapi sulit memahami isinya?
  •         mudah lupa terhadap hal-hal sederhana?
  •         sulit mengambil keputusan yang dulu terasa mudah?
  •        cepat marah karena masalah kecil di tempat kerja?

Jangan langsung menyalahkan diri sendiri.

Mungkin yang sedang "kelelahan" bukan semangat Anda, melainkan sistem biologis yang mengatur cara kerja otak.

Bagikan artikel ini kepada rekan kerja, pasangan, atau teman yang sedang merasa kehilangan fokus dan motivasi. Semakin banyak orang memahami burnout dari sudut pandang neuroscience, semakin mudah kita menghentikan stigma bahwa burnout hanyalah "kurang kuat mental".

Pada artikel berikutnya, kita akan membahas bagaimana cara memulihkan otak setelah burnout berdasarkan neuroscience, termasuk peran tidur, olahraga, mindfulness, CBT, nutrisi, dan neuroplastisitas.

Daftar Pustaka

Bayes, A., Tavella, G., & Parker, G. (2021). The biology of burnout: Causes and consequences. The World Journal of Biological Psychiatry, 22(9), 686-698. https://doi.org/10.1080/15622975.2021.1907713

Chmiel, J., & Kurpas, D. (2025). Burnout and the Brain—A Mechanistic Review of Magnetic Resonance Imaging (MRI) Studies. International Journal of Molecular Sciences, 26(17), 8379.https://doi.org/10.3390/ijms26178379

Chow, Y. K., Masiak, J., MikoÅ‚ajewska, E., MikoÅ‚ajewski, D., Wójcik, G. M., Wallace, B., Eugene, A., & Olajossy, M. (2018). Limbic brain structures and burnout: A systematic review. Advances in Medical Sciences, 63(1), 192-198. https://www.academia.edu/download/55943068/1-s2.0-S1896112617300755-main.pdf

Grossi, G., Perski, A., Osika, W., & Savic, I. (2015). Stress-related exhaustion disorder: Clinical manifestation of burnout? A review of assessment methods, sleep impairments, cognitive disturbances, and neuro-biological and physiological changes in clinical burnout. Scandinavian Journal of Psychology, 56(6), 626–636. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/sjop.12251

Jiao, W., Wu, A., & Wang, L. (2018). Correlation between emotion and job burnout decision-making quality based on cognitive neuroscience. NeuroQuantology, 16(5), 588–593. https://scholar.archive.org/work/lvqmum25wjbfplrotdc75kwvwm/access/wayback/http://pdfs.semanticscholar.org/e339/0a06fd3e699cc6380c742c47bbd803eff99b.pdf

MikoÅ‚ajewski, D., Masiak, J., & MikoÅ‚ajewska, E. (2023). Neurophysiological determinants of occupational stress and burnout. Journal of Education, Health and Sport, 21(1), 33–46. https://apcz.umk.pl/JEHS/article/download/43534/35443

Pihlaja, M., Peräkylä, J., Erkkilä, E.-H., Tapio, E., Vertanen, M., & Hartikainen, K. M. (2023). Altered neural processes underlying executive function in occupational burnout—Basis for a novel EEG biomarker. Frontiers in Human Neuroscience, 17, 1194714. https://www.frontiersin.org/journals/human-neuroscience/articles/10.3389/fnhum.2023.1194714/pdf

Sertoz, O. O., Binbay, I. T., Koylu, E., Noyan, A., Yıldırım, E., & Mete, H. E. (2008). The role of BDNF and HPA axis in the neurobiology of burnout syndrome. Progress in Neuro-Psychopharmacology & Biological Psychiatry, 32(6), 1459–1465. https://www.academia.edu/download/89453239/j.pnpbp.2008.05.00120220810-1-5d4m0u.pdf

Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Understanding the burnout experience: Recent research and its implications for psychiatry. World Psychiatry, 15(2), 103–111. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdfdirect/10.1002/wps.20311

World Health Organization. (2019). Burn-out an occupational phenomenon. WHO. https://www.who.int/news/item/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon-international-classification-of-diseases

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Burnout: Penyebab, Gejala, Dampak, Tes, dan Cara Pulih Berdasarkan Neurosains

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Burnout bukan terjadi karena Anda "lemah". Bisa jadi justru karena Anda terlalu kuat bertahan. Di media sosial, kita sering melihat budaya hustle : lembur dianggap dedikasi, selalu online dianggap profesional, dan membalas pesan kantor tengah malam dianggap loyalitas. Akibatnya, banyak pekerja merasa bersalah ketika beristirahat, padahal otaknya sudah memberi sinyal bahaya. Yang ironis, sebagian orang baru menyadari dirinya mengalami burnout ketika tubuh mulai "protes": sulit tidur, mudah marah, kehilangan motivasi, sering lupa, atau merasa lelah meski baru bangun tidur. Padahal, burnout bukan sekadar capek biasa. Menurut World Health Organization, burnout merupakan sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola, bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja. Ilustrasi pekerja yang alami burnout Baca artikel lainnya:  Apa itu Burnout? Pendahuluan Bayangkan seorang karyawan di Jakarta yang setiap hari menghab...

Deteksi Dini Stres dan Depresi

Stres! Itulah yang sering diungkapkan saat pikiran kita kalut atau banyak permasalahan. Namun jika ditelaah lebih lanjut, stres tidak hanya bersifat psikis saja. Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Oleh karena itu, saat tubuh kita merasakan tekanan dari luar baik fisik, psikis, emosi maupun mental maka tubuh dapat memberikan respon. Secara umum pemicu stres atau stressor dapat didefinsikan sebagai segala tantangan yang muncul dari dalam atau luar yang mengganggu internal tubuh kita. Tubuh kita akan merespon stressor yang terlibat dalam berbagai mekanisme fisiologi yang dirancang untuk mengembalikan homeostasis. Homeostasis adalah suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang di alaminya. Baca juga:  VITAMIN B DAN DEPRESI Saat stres datang kesei...

Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Saat ini stres menjadi permasalahan utama di perkotaan. Bahkan stres yang berujung kepada depresi menjadi permasalahan serius. Tingginya rutinitas pekerjaan, beban tugas sekolah dan perkuliahan serta komplesitas masalah di perkotaan mendorong berbagai hal menjadi pemicu stres. Jika tidak ditangani dengan baik, maka stres yang berkepanjangan akan mengarah kepada depresi dan gangguan mood. Namun temuan ilmiah terakhir stres juga berkaitan erat dengan fisiologis tubuh dimana dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh atau immune system. Hal ini tidak tertutup kemungkinan menyebabkan penyakit autoimun. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh. Banyak ditemukan bahwa penyakit autoimun sepert Lupus, sarkoidosis, vitiligo, hipotiroidisme dimana salah satu pemi...