Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga
![]() |
| Ilustrasi Burnout |
"Burnout bukan terjadi karena kamu tidak kuat bekerja. Justru, sering kali penyebabnya adalah budaya kerja yang menganggap kelelahan sebagai prestasi."
Pernah merasa tetap lelah
meski sudah tidur delapan jam? Senin terasa seperti Jumat malam. Notifikasi
WhatsApp kantor membuat dada berdebar. Laptop baru ditutup, tetapi pikiran
masih sibuk memikirkan target besok.
Banyak orang menganggap
kondisi itu sebagai tanda kurang bersyukur, kurang disiplin, atau tidak
memiliki mental yang kuat. Padahal, ilmu psikologi kerja dan neuroscience
menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Burnout bukan sekadar
capek.
Burnout adalah respons
biologis otak terhadap stres kerja yang berlangsung terus-menerus tanpa
kesempatan untuk benar-benar pulih.
Ironisnya, di kota-kota
seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), kondisi ini
perlahan dianggap normal. Lembur menjadi kebanggaan. Balas chat kantor pukul
23.00 dianggap loyalitas. Bahkan ada istilah "kalau belum burnout berarti
belum kerja keras."
Sebagai seseorang yang
sering mengamati dinamika pekerja profesional dari berbagai sektor—mulai dari
pemerintahan, rumah sakit, pendidikan, startup teknologi, hingga perusahaan
swasta—saya melihat pola yang hampir sama. Burnout jarang muncul karena satu hari
yang berat. Ia muncul karena ratusan hari yang "lumayan berat",
tetapi tidak pernah benar-benar selesai.
Itulah yang membuat burnout
sering datang tanpa disadari.
Baca juga artikel:Burnout: Penyebab, Gejala, Dampak, Tes, dan Cara Pulih Berdasarkan Neurosains
Fenomena
Burnout pada Pekerja Jabodetabek
Jabodetabek merupakan salah
satu kawasan dengan ritme kerja tercepat di Indonesia. Perjalanan pulang-pergi
yang dapat menghabiskan 2–4 jam setiap hari, kemacetan, target pekerjaan yang
tinggi, serta budaya "selalu online" membuat batas antara pekerjaan
dan kehidupan pribadi semakin kabur.
Akibatnya, banyak pekerja
sebenarnya tidak pernah benar-benar beristirahat.
Jam kerja selesai, tetapi
pekerjaan belum selesai.
Tubuh berada di rumah,
tetapi otak masih berada di kantor.
Dalam beberapa tahun
terakhir, burnout tidak lagi hanya dialami tenaga kesehatan atau pekerja
pelayanan publik. Fenomena ini mulai banyak ditemukan pada karyawan startup,
pekerja kreatif, ASN, pegawai perbankan, konsultan, hingga pekerja remote yang
justru kesulitan memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi.
Menurut klasifikasi ICD-11
dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), burnout merupakan sindrom akibat stres
kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola, ditandai oleh kelelahan
emosional, meningkatnya sikap sinis terhadap pekerjaan, dan menurunnya efektivitas
kerja. Burnout bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan konsekuensi dari
paparan stres kerja yang berlangsung lama.
Yang menarik, berbagai
penelitian neuroscience menemukan bahwa burnout tidak hanya memengaruhi
perasaan seseorang, tetapi juga berkaitan dengan perubahan fungsi sistem saraf
otonom, hormon stres, sistem imun, bahkan struktur dan fungsi otak.
Baca juga artikel lainnya: Apa itu Burnout?
Gen Z
Indonesia: Generasi Ambisius, tetapi Rentan Burnout
Jika diperhatikan, Gen Z
sering mendapat stereotip sebagai generasi yang "gampang menyerah"
atau "sedikit-sedikit resign". Namun, data menunjukkan gambaran yang
jauh lebih kompleks.
Laporan Indonesia
Millennial & Gen Z Report 2025 menunjukkan bahwa kesehatan mental,
keseimbangan hidup, serta lingkungan kerja yang sehat menjadi prioritas utama
bagi banyak pekerja muda Indonesia. Mereka tidak hanya mencari gaji tinggi,
tetapi juga pekerjaan yang memungkinkan mereka tetap sehat secara psikologis.
Sementara itu, survei
global Deloitte terhadap Gen Z dan Milenial secara konsisten menemukan bahwa work-life
balance, kesempatan berkembang, fleksibilitas kerja, dan kesehatan mental
menjadi faktor yang lebih penting dibanding sekadar kenaikan gaji bagi banyak
responden muda. Tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, dan tuntutan
karier juga menjadi sumber stres utama.
Fenomena ini cukup masuk
akal.
Generasi yang lahir setelah
tahun 1997 tumbuh bersama internet, media sosial, dan budaya "always
connected". Mereka dapat menerima informasi pekerjaan kapan saja melalui
WhatsApp, Slack, Teams, Telegram, maupun email.
Artinya, otak mereka hampir
tidak pernah benar-benar "offline".
Padahal, dari sudut pandang
neuroscience, otak membutuhkan periode pemulihan agar sistem pengendalian stres
dapat kembali ke kondisi normal. Tanpa pemulihan yang cukup, tubuh terus
memproduksi respons stres yang akhirnya meningkatkan risiko burnout.
Apa yang Saya Amati dari
Media Sosial?
Selama beberapa tahun
terakhir, saya cukup sering mengamati percakapan pekerja Indonesia di LinkedIn,
X (Twitter), Threads, TikTok, maupun Instagram.
Ada pola yang terus
berulang.
Unggahan seperti berikut
semakin sering muncul:
"Capek kerja, tapi
takut resign."
"Weekend cuma dipakai
buat tidur."
"Baru buka laptop saja
sudah sesak napas."
"Rasanya kerja terus,
tapi hidup tidak ke mana-mana."
"Meeting seharian,
kerja sebenarnya malah malam."
Yang menarik, sebagian
besar unggahan tersebut tidak menggunakan kata burnout.
Mereka hanya mengatakan:
"Aku capek."
Padahal, jika dilihat dari
gejalanya, banyak di antaranya sudah menggambarkan tanda-tanda awal burnout,
seperti kelelahan berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi,
hingga mulai bersikap sinis terhadap pekerjaan.
Fenomena lain yang cukup
sering terlihat adalah budaya toxic productivity.
Istilah seperti rise and
grind, sleep is for the weak, atau kerja keras sekarang, istirahat nanti sering
dikemas sebagai motivasi. Padahal, jika dilakukan terus-menerus tanpa jeda
pemulihan, budaya tersebut justru dapat mempercepat kelelahan biologis.
Sebagai penulis yang juga
berinteraksi dengan pekerja profesional dari berbagai bidang, saya melihat
bahwa burnout sering kali bukan disebabkan oleh beban kerja yang paling berat,
melainkan oleh kombinasi berbagai tekanan kecil yang terjadi setiap hari: rapat
tanpa henti, target yang terus berubah, notifikasi di luar jam kerja,
perjalanan panjang, serta minimnya penghargaan atas usaha yang telah dilakukan.
Akumulasi tekanan inilah
yang perlahan menguras energi mental seseorang.
Baca artikel lainnya: Burnout vs Stres: Apa Bedanya?
Burnout
Ternyata Berasal dari Otak, Bukan Sekadar Perasaan
Selama bertahun-tahun,
burnout dianggap hanya sebagai masalah psikologis.
Kini, neuroscience
menunjukkan bahwa burnout juga merupakan fenomena biologis.
Ketika seseorang mengalami
stres kerja kronis, tubuh akan mengaktifkan Hypothalamic–Pituitary–Adrenal
(HPA) axis, yaitu sistem pengatur respons stres.
Pada awalnya, sistem ini
membantu tubuh bertahan menghadapi tekanan.
Namun, ketika stres
berlangsung berbulan-bulan tanpa pemulihan, aktivasi tersebut dapat menjadi
tidak adaptif. Penelitian menunjukkan burnout berkaitan dengan gangguan
regulasi hormon stres, perubahan aktivitas sistem saraf simpatis, peningkatan
beban fisiologis (allostatic load), hingga perubahan pada area otak yang
berperan dalam pengambilan keputusan, regulasi emosi, perhatian, dan fungsi
eksekutif.
Studi neuroimaging terbaru
juga menemukan adanya pola perubahan pada jaringan otak, termasuk area prefrontal
cortex dan amigdala, yang berhubungan dengan kemampuan mengendalikan emosi,
fokus, serta respons terhadap stres. Kabar baiknya, beberapa penelitian
menunjukkan bahwa sebagian perubahan tersebut dapat membaik setelah intervensi
seperti terapi psikologis, olahraga, mindfulness, dan pemulihan yang memadai.
Dengan kata lain, burnout
bukan berarti seseorang "kurang kuat". Burnout adalah sinyal bahwa
sistem biologis tubuh telah bekerja terlalu lama tanpa kesempatan untuk
benar-benar pulih.
Pada bagian berikutnya,
kita akan membahas lebih dalam penyebab burnout menurut psikologi kerja dan
neuroscience, termasuk mengapa dua orang yang bekerja di tempat yang sama bisa
memiliki risiko burnout yang berbeda.
Baca artikel lainnya: Burnout vs Depresi
Penyebab Burnout Menurut Psikologi Kerja:
Bukan Sekadar Beban Kerja
Selama ini banyak orang mengira penyebab burnout
hanyalah pekerjaan yang terlalu banyak. Padahal, penelitian psikologi kerja
menunjukkan bahwa beban kerja hanyalah salah satu bagian dari masalah.
Bayangkan dua orang bekerja dengan target yang sama.
Keduanya pulang malam, menghadapi klien yang sulit, dan dikejar tenggat waktu.
Anehnya, satu orang tetap bersemangat, sedangkan yang lain mulai kehilangan
motivasi, mudah marah, bahkan ingin resign.
Mengapa bisa berbeda?
Jawabannya terletak pada keseimbangan antara tuntutan
pekerjaan (job demands) dan sumber daya yang dimiliki (job resources).
Menurut Job Demands–Resources (JD-R) Model yang
dikembangkan oleh Demerouti, Bakker, dan Schaufeli, setiap pekerjaan memiliki
dua komponen utama. Pertama, job demands, yaitu segala tuntutan fisik, mental,
maupun emosional yang menguras energi, seperti target tinggi, jam kerja
panjang, konflik dengan atasan, pekerjaan yang kompleks, hingga tuntutan untuk
selalu tersedia melalui ponsel. Kedua, job resources, yaitu segala hal yang
membantu pekerja mencapai target dan menjaga kesejahteraan, misalnya dukungan
atasan, rekan kerja yang kooperatif, otonomi dalam bekerja, kejelasan peran,
kesempatan berkembang, dan penghargaan atas hasil kerja. Burnout muncul ketika
tuntutan kerja terus meningkat, sementara sumber daya yang dimiliki tidak mampu
mengimbanginya.
Model JD-R juga menjelaskan bahwa kelelahan emosional
terutama dipicu oleh tuntutan kerja yang tinggi, sedangkan sikap sinis terhadap
pekerjaan lebih sering muncul ketika pekerja merasa kekurangan dukungan,
penghargaan, atau kontrol terhadap pekerjaannya. Dengan kata lain, bukan hanya
"kerja terlalu keras" yang membuat seseorang burnout, tetapi juga
"bekerja sendirian" tanpa dukungan yang memadai.
Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Christina
Maslach, yang menjelaskan burnout melalui tiga dimensi utama, yaitu kelelahan
emosional (emotional exhaustion), sikap sinis atau depersonalisasi
(cynicism/depersonalization), dan menurunnya rasa pencapaian profesional
(reduced professional efficacy). Ketiga kondisi ini tidak muncul secara
tiba-tiba, melainkan berkembang perlahan akibat stres kerja kronis yang tidak
berhasil dikelola.
Baca artikel lainnya: Capek Terus Bukan Berarti Rajin! Ini 4 Gejala Burnout Fisik yang Sering Dianggap Sepele
Penyebab Burnout Menurut Neuroscience:
Ketika Otak Terlalu Lama Bertahan
Jika psikologi kerja menjelaskan mengapa burnout
dimulai, maka neuroscience menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di dalam
otak.
Bayangkan tubuh memiliki alarm darurat.
Ketika Anda menghadapi deadline, konflik dengan
atasan, atau tekanan pekerjaan, alarm tersebut aktif melalui sistem yang
disebut Hypothalamic–Pituitary–Adrenal (HPA) axis.
Hipotalamus mengirim sinyal ke kelenjar pituitari,
kemudian pituitari merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan kortisol, yaitu
hormon stres utama.
Dalam jangka pendek, kortisol sangat bermanfaat. Detak
jantung meningkat, perhatian menjadi lebih fokus, dan tubuh siap menghadapi
tantangan.
Masalah muncul ketika alarm itu tidak pernah dimatikan.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan stres kerja
kronis menyebabkan aktivasi sistem saraf simpatis dan gangguan regulasi HPA
axis. Akibatnya, tubuh mengalami peningkatan allostatic load, yaitu akumulasi
beban biologis akibat stres berkepanjangan. Kondisi ini berkaitan dengan
gangguan tidur, kelelahan kronis, penurunan sistem imun, gangguan metabolik,
hingga meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular.
Burnout juga berhubungan dengan perubahan pada
beberapa bagian penting otak.
Amigdala, pusat deteksi ancaman, menjadi lebih reaktif
sehingga seseorang lebih mudah merasa cemas, tegang, atau emosional terhadap
masalah kecil. Sebaliknya, prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang berperan
dalam perencanaan, pengambilan keputusan, pengendalian emosi, dan konsentrasi,
justru mengalami penurunan efisiensi. Inilah sebabnya banyak pekerja burnout
mengeluhkan sulit fokus, mudah lupa, dan merasa "otaknya nge-blank",
meskipun sebenarnya masih memiliki kemampuan intelektual yang baik. Studi MRI
juga menunjukkan adanya perubahan pada jaringan otak yang berkaitan dengan
fungsi-fungsi tersebut, meski sebagian bersifat reversibel setelah pemulihan.
Selain itu, beberapa penelitian menemukan kadar Brain-Derived
Neurotrophic Factor (BDNF) yang lebih rendah pada individu dengan burnout. BDNF
merupakan protein yang berperan penting dalam menjaga plastisitas otak,
pembentukan koneksi antarsel saraf, serta proses belajar dan memori. Penurunan
BDNF diduga berkontribusi terhadap gangguan suasana hati dan fungsi kognitif
pada burnout.
Penelitian menggunakan EEG juga menemukan bahwa
pekerja dengan burnout harus mengalokasikan sumber daya otak yang lebih besar
untuk menyelesaikan tugas yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan mudah oleh
kelompok sehat. Artinya, hasil pekerjaan mungkin masih terlihat baik, tetapi
"biaya biologis" yang harus dibayar otak jauh lebih tinggi. Kondisi
ini menjelaskan mengapa seseorang tetap mampu bekerja, namun merasa sangat
lelah setelahnya.
Contoh Kasus: "R" yang Selalu
Online
Sebut saja R, seorang analis data berusia 28 tahun
yang bekerja di perusahaan teknologi di Jakarta.
Secara objektif, pekerjaannya tidak terlalu berat. Ia
bekerja dari rumah tiga hari dalam seminggu dan memperoleh gaji yang cukup
baik.
Namun, hampir setiap malam ia masih menerima pesan
dari atasan hingga pukul 22.00. Target proyek berubah setiap minggu, rapat
berlangsung hampir sepanjang hari, sementara pekerjaan inti baru bisa
diselesaikan pada malam hari.
Awalnya R merasa bangga karena dipercaya memegang
banyak proyek.
Enam bulan kemudian, ia mulai sulit tidur, kehilangan
motivasi, mudah tersinggung, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk
menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya dapat dilakukan dengan cepat. Ia bahkan
mulai berpikir bahwa dirinya tidak lagi kompeten.
Dari sudut pandang psikologi kerja, kondisi R
mencerminkan ketidakseimbangan antara job demands dan job resources. Dari sudut
pandang neuroscience, otaknya kemungkinan telah berada dalam kondisi stres
kronis yang memengaruhi fungsi eksekutif, regulasi emosi, dan kemampuan
pemulihan biologis. Meskipun contoh ini bersifat ilustratif dan identitas
disamarkan, pola serupa sering ditemukan dalam praktik kesehatan kerja dan
penelitian burnout.
Analisis Berdasarkan Pengalaman Lintas
Industri
Selama mengamati berbagai organisasi—mulai dari rumah
sakit, instansi pemerintah, perusahaan manufaktur, lembaga pendidikan, hingga
startup digital—saya menemukan bahwa pemicu burnout berbeda-beda, tetapi
mekanismenya hampir sama.
Di rumah sakit, burnout sering dipicu oleh kelelahan
emosional akibat terus-menerus berhadapan dengan pasien dan keluarga pasien.
Di instansi pemerintah, burnout lebih sering muncul
karena beban administrasi, target kinerja, dan perubahan regulasi yang terus
berlangsung.
Di startup, penyebab utamanya sering berupa perubahan
prioritas yang sangat cepat, budaya "always available", serta tekanan
untuk terus berinovasi.
Sementara itu, pada perusahaan swasta, burnout sering
berkaitan dengan target penjualan, evaluasi kinerja, dan persaingan internal.
Meski berbeda konteks, semuanya memiliki pola yang
sama: tuntutan pekerjaan meningkat lebih cepat daripada kapasitas pemulihan
manusia.
Inilah alasan mengapa solusi burnout tidak cukup hanya
berupa liburan singkat atau motivasi untuk "lebih semangat". Selama
penyebab utamanya—ketidakseimbangan antara tuntutan kerja, sumber daya, dan
kesempatan pemulihan—tidak diperbaiki, burnout berpotensi muncul kembali. Baik
psikologi kerja maupun neuroscience sama-sama menunjukkan bahwa burnout bukan
sekadar persoalan individu, melainkan hasil interaksi antara lingkungan kerja
dan respons biologis tubuh terhadap stres yang berlangsung terlalu lama.
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Apakah burnout sama dengan stres biasa?
Tidak.
Stres umumnya bersifat sementara dan dapat membaik
setelah seseorang beristirahat atau masalah yang dihadapi selesai. Sebaliknya,
burnout merupakan kondisi akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil
dikelola. Menurut ICD-11, burnout ditandai oleh tiga karakteristik utama, yaitu
kelelahan yang berkepanjangan, meningkatnya sikap sinis terhadap pekerjaan,
serta menurunnya efektivitas kerja. Burnout juga secara khusus berkaitan dengan
konteks pekerjaan, bukan seluruh aspek kehidupan.
2. Apakah burnout berarti seseorang malas
bekerja?
Tidak.
Justru banyak penelitian menunjukkan bahwa burnout
sering dialami oleh pekerja yang sebelumnya sangat berdedikasi, perfeksionis,
dan memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaannya. Masalahnya bukan pada
kemauan bekerja, melainkan karena energi psikologis dan biologis telah terkuras
akibat tekanan yang berlangsung terlalu lama.
3. Apakah burnout bisa mengubah otak?
Berbagai penelitian neuroscience menunjukkan bahwa
burnout berkaitan dengan perubahan fungsi dan struktur beberapa area otak,
terutama prefrontal cortex, amigdala, serta jaringan yang mengatur perhatian,
regulasi emosi, dan pengambilan keputusan. Kabar baiknya, sebagian perubahan
tersebut dapat membaik melalui pemulihan yang memadai, olahraga, mindfulness,
psikoterapi, dan perbaikan lingkungan kerja.
4. Siapa yang paling berisiko mengalami
burnout?
Siapa pun dapat mengalami burnout. Namun, risikonya
lebih tinggi pada pekerja yang:
memiliki beban kerja tinggi;
sering lembur;
minim dukungan dari atasan atau rekan kerja;
tidak memiliki kontrol terhadap pekerjaannya;
sulit memisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadi;
bekerja pada profesi dengan tuntutan emosional tinggi,
seperti tenaga kesehatan, guru, pelayanan publik, konsultan, maupun pekerja
startup.
5. Apakah cuti satu minggu cukup mengatasi
burnout?
Belum tentu.
Liburan dapat membantu mengurangi kelelahan sementara,
tetapi jika penyebab utama burnout—misalnya beban kerja yang tidak realistis,
budaya kerja yang tidak sehat, atau kurangnya dukungan organisasi—tidak
berubah, gejala burnout sering muncul kembali setelah kembali bekerja. Karena
itu, penanganan burnout perlu dilakukan pada tingkat individu sekaligus
organisasi.
Key Takeaways
Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja,
melainkan respons tubuh dan otak terhadap stres kerja kronis yang berlangsung
terlalu lama.
Dari perspektif psikologi kerja, burnout muncul ketika
tuntutan pekerjaan terus meningkat sementara sumber daya, dukungan, dan
kesempatan untuk pulih semakin berkurang.
Dari perspektif neuroscience, burnout berkaitan dengan
aktivasi berkepanjangan HPA axis, gangguan regulasi hormon kortisol, perubahan
fungsi amigdala dan prefrontal cortex, penurunan BDNF, serta terganggunya executive
function, sehingga memengaruhi kemampuan berpikir, mengendalikan emosi, dan
mengambil keputusan.
Yang terpenting, burnout bukan tanda kelemahan
karakter. Burnout merupakan sinyal bahwa sistem biologis dan psikologis
seseorang telah bekerja melampaui kapasitas pemulihannya.
Semakin dini burnout dikenali, semakin besar peluang
untuk mencegah dampaknya terhadap kesehatan fisik, kesehatan mental, hubungan
sosial, maupun produktivitas kerja.
Call to Action
Apakah Anda mulai merasa:
tetap lelah meski sudah beristirahat?
sulit fokus saat bekerja?
mudah marah karena hal-hal kecil?
kehilangan semangat terhadap pekerjaan yang dulu Anda
sukai?
Jangan menunggu sampai burnout mengganggu kesehatan
dan karier Anda.
Bagikan artikel ini kepada rekan kerja, pasangan, atau
teman yang mungkin sedang mengalami kondisi serupa. Semakin banyak orang
memahami penyebab burnout berdasarkan ilmu psikologi kerja dan neuroscience,
semakin besar peluang kita membangun budaya kerja yang sehat, produktif, dan
manusiawi.
Ikuti juga artikel-artikel berikutnya yang akan
membahas:
perbedaan burnout, stres, dan depresi;
cara mengenali burnout sejak dini;
strategi pemulihan burnout berdasarkan neuroscience
dan psikologi.
(149 karakter)
Daftar Pustaka
Bayes, A., Tavella, G.,
& Parker, G. (2021). The biology of burnout: Causes and consequences. The World Journal of Biological Psychiatry, 22(9), 686-698. https://doi.org/10.1080/15622975.2021.1907713
Chmiel, J., &
Kurpas, D. (2025). Burnout and the Brain—A Mechanistic Review of Magnetic
Resonance Imaging (MRI) Studies. International Journal of Molecular Sciences, 26(17), 8379.https://doi.org/10.3390/ijms26178379
Chow, Y., Masiak, J.,
Mikołajewska, E., Mikołajewski, D., Wójcik, G. M., Wallace, B., ... &
Olajossy, M. (2018). Limbic brain structures and burnout—A systematic review. Advances in medical sciences, 63(1), 192-198. https://www.academia.edu/download/55943068/1-s2.0-S1896112617300755-main.pdf
Demerouti, E., Bakker,
A. B., Nachreiner, F., & Schaufeli, W. B. (2001). The job demands-resources
model of burnout. Journal of Applied psychology, 86(3), 499. https://www.academia.edu/download/5210554/demerouti_burnout.pdf
Grossi, G., Perski, A.,
Osika, W., & Savic, I. (2015). Stress‐related exhaustion disorder–clinical
manifestation of burnout? A review of assessment methods, sleep impairments,
cognitive disturbances, and neuro‐biological and physiological changes in clinical
burnout. Scandinavian journal of psychology, 56(6), 626-636. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/sjop.12251
Jiao, W., Wu, A., &
Wang, L. (2018). Correlation between Emotion and Job Burnout Decision-making
Quality Based on Cognitive Neuroscience. NeuroQuantology, 16(5), 588-593. https://scholar.archive.org/work/lvqmum25wjbfplrotdc75kwvwm/access/wayback/http://pdfs.semanticscholar.org/e339/0a06fd3e699cc6380c742c47bbd803eff99b.pdf
Maslach, C., &
Leiter, M. P. (2016). Understanding the burnout experience: recent research and
its implications for psychiatry. World psychiatry, 15(2), 103-111. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdfdirect/10.1002/wps.20311
Mikołajewski, D.,
Masiak, J., & Mikołajewska, E. (2023). Neurophysiological determinants of
occupational stress and burnout. Journal of Education, Health and Sport, 21(1), 33-46. https://apcz.umk.pl/JEHS/article/download/43534/35443
Pihlaja, M., Peräkylä,
J., Erkkilä, E. H., Tapio, E., Vertanen, M., & Hartikainen, K. M. (2023).
Altered neural processes underlying executive function in occupational
burnout—Basis for a novel EEG biomarker. Frontiers in human neuroscience, 17, 1194714. https://www.frontiersin.org/journals/human-neuroscience/articles/10.3389/fnhum.2023.1194714/pdf
Sertoz, O. O., Binbay, I. T., Koylu, E., Noyan, A.,
Yıldırım, E., & Mete, H. E. (2008). The role of BDNF and HPA axis in the
neurobiology of burnout syndrome. Progress in Neuro-Psychopharmacology &
Biological Psychiatry, 32(6), 1459–1465. https://www.academia.edu/download/89453239/j.pnpbp.2008.05.00120220810-1-5d4m0u.pdf
World Health Organization. (2019). Burn-out an
occupational phenomenon: International Classification of Diseases (ICD-11). https://www.who.int/news/item/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon-international-classification-of-diseases

Komentar
Posting Komentar