Langsung ke konten utama

Bukan Karena Kamu Lemah! Ini Penyebab Burnout yang Diam-Diam Sedang Menggerogoti Otak Pekerja Muda


Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga


Ilustrasi Burnout


"Burnout bukan terjadi karena kamu tidak kuat bekerja. Justru, sering kali penyebabnya adalah budaya kerja yang menganggap kelelahan sebagai prestasi."

Pernah merasa tetap lelah meski sudah tidur delapan jam? Senin terasa seperti Jumat malam. Notifikasi WhatsApp kantor membuat dada berdebar. Laptop baru ditutup, tetapi pikiran masih sibuk memikirkan target besok.

Banyak orang menganggap kondisi itu sebagai tanda kurang bersyukur, kurang disiplin, atau tidak memiliki mental yang kuat. Padahal, ilmu psikologi kerja dan neuroscience menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Burnout bukan sekadar capek.

Burnout adalah respons biologis otak terhadap stres kerja yang berlangsung terus-menerus tanpa kesempatan untuk benar-benar pulih.

Ironisnya, di kota-kota seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), kondisi ini perlahan dianggap normal. Lembur menjadi kebanggaan. Balas chat kantor pukul 23.00 dianggap loyalitas. Bahkan ada istilah "kalau belum burnout berarti belum kerja keras."

Sebagai seseorang yang sering mengamati dinamika pekerja profesional dari berbagai sektor—mulai dari pemerintahan, rumah sakit, pendidikan, startup teknologi, hingga perusahaan swasta—saya melihat pola yang hampir sama. Burnout jarang muncul karena satu hari yang berat. Ia muncul karena ratusan hari yang "lumayan berat", tetapi tidak pernah benar-benar selesai.

Itulah yang membuat burnout sering datang tanpa disadari.

Baca juga artikel:Burnout: Penyebab, Gejala, Dampak, Tes, dan Cara Pulih Berdasarkan Neurosains

Fenomena Burnout pada Pekerja Jabodetabek

Jabodetabek merupakan salah satu kawasan dengan ritme kerja tercepat di Indonesia. Perjalanan pulang-pergi yang dapat menghabiskan 2–4 jam setiap hari, kemacetan, target pekerjaan yang tinggi, serta budaya "selalu online" membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur.

Akibatnya, banyak pekerja sebenarnya tidak pernah benar-benar beristirahat.

Jam kerja selesai, tetapi pekerjaan belum selesai.

Tubuh berada di rumah, tetapi otak masih berada di kantor.

Dalam beberapa tahun terakhir, burnout tidak lagi hanya dialami tenaga kesehatan atau pekerja pelayanan publik. Fenomena ini mulai banyak ditemukan pada karyawan startup, pekerja kreatif, ASN, pegawai perbankan, konsultan, hingga pekerja remote yang justru kesulitan memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi.

Menurut klasifikasi ICD-11 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), burnout merupakan sindrom akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola, ditandai oleh kelelahan emosional, meningkatnya sikap sinis terhadap pekerjaan, dan menurunnya efektivitas kerja. Burnout bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan konsekuensi dari paparan stres kerja yang berlangsung lama.

Yang menarik, berbagai penelitian neuroscience menemukan bahwa burnout tidak hanya memengaruhi perasaan seseorang, tetapi juga berkaitan dengan perubahan fungsi sistem saraf otonom, hormon stres, sistem imun, bahkan struktur dan fungsi otak.

Baca juga artikel lainnya: Apa itu Burnout?

Gen Z Indonesia: Generasi Ambisius, tetapi Rentan Burnout

Jika diperhatikan, Gen Z sering mendapat stereotip sebagai generasi yang "gampang menyerah" atau "sedikit-sedikit resign". Namun, data menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks.

Laporan Indonesia Millennial & Gen Z Report 2025 menunjukkan bahwa kesehatan mental, keseimbangan hidup, serta lingkungan kerja yang sehat menjadi prioritas utama bagi banyak pekerja muda Indonesia. Mereka tidak hanya mencari gaji tinggi, tetapi juga pekerjaan yang memungkinkan mereka tetap sehat secara psikologis.

Sementara itu, survei global Deloitte terhadap Gen Z dan Milenial secara konsisten menemukan bahwa work-life balance, kesempatan berkembang, fleksibilitas kerja, dan kesehatan mental menjadi faktor yang lebih penting dibanding sekadar kenaikan gaji bagi banyak responden muda. Tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, dan tuntutan karier juga menjadi sumber stres utama.

Fenomena ini cukup masuk akal.

Generasi yang lahir setelah tahun 1997 tumbuh bersama internet, media sosial, dan budaya "always connected". Mereka dapat menerima informasi pekerjaan kapan saja melalui WhatsApp, Slack, Teams, Telegram, maupun email.

Artinya, otak mereka hampir tidak pernah benar-benar "offline".

Padahal, dari sudut pandang neuroscience, otak membutuhkan periode pemulihan agar sistem pengendalian stres dapat kembali ke kondisi normal. Tanpa pemulihan yang cukup, tubuh terus memproduksi respons stres yang akhirnya meningkatkan risiko burnout.

Apa yang Saya Amati dari Media Sosial?

Selama beberapa tahun terakhir, saya cukup sering mengamati percakapan pekerja Indonesia di LinkedIn, X (Twitter), Threads, TikTok, maupun Instagram.

Ada pola yang terus berulang.

Unggahan seperti berikut semakin sering muncul:

"Capek kerja, tapi takut resign."

"Weekend cuma dipakai buat tidur."

"Baru buka laptop saja sudah sesak napas."

"Rasanya kerja terus, tapi hidup tidak ke mana-mana."

"Meeting seharian, kerja sebenarnya malah malam."

Yang menarik, sebagian besar unggahan tersebut tidak menggunakan kata burnout.

Mereka hanya mengatakan:

"Aku capek."

Padahal, jika dilihat dari gejalanya, banyak di antaranya sudah menggambarkan tanda-tanda awal burnout, seperti kelelahan berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, hingga mulai bersikap sinis terhadap pekerjaan.

Fenomena lain yang cukup sering terlihat adalah budaya toxic productivity.

Istilah seperti rise and grind, sleep is for the weak, atau kerja keras sekarang, istirahat nanti sering dikemas sebagai motivasi. Padahal, jika dilakukan terus-menerus tanpa jeda pemulihan, budaya tersebut justru dapat mempercepat kelelahan biologis.

Sebagai penulis yang juga berinteraksi dengan pekerja profesional dari berbagai bidang, saya melihat bahwa burnout sering kali bukan disebabkan oleh beban kerja yang paling berat, melainkan oleh kombinasi berbagai tekanan kecil yang terjadi setiap hari: rapat tanpa henti, target yang terus berubah, notifikasi di luar jam kerja, perjalanan panjang, serta minimnya penghargaan atas usaha yang telah dilakukan.

Akumulasi tekanan inilah yang perlahan menguras energi mental seseorang.

Baca artikel lainnya: Burnout vs Stres: Apa Bedanya?

Burnout Ternyata Berasal dari Otak, Bukan Sekadar Perasaan

Selama bertahun-tahun, burnout dianggap hanya sebagai masalah psikologis.

Kini, neuroscience menunjukkan bahwa burnout juga merupakan fenomena biologis.

Ketika seseorang mengalami stres kerja kronis, tubuh akan mengaktifkan Hypothalamic–Pituitary–Adrenal (HPA) axis, yaitu sistem pengatur respons stres.

Pada awalnya, sistem ini membantu tubuh bertahan menghadapi tekanan.

Namun, ketika stres berlangsung berbulan-bulan tanpa pemulihan, aktivasi tersebut dapat menjadi tidak adaptif. Penelitian menunjukkan burnout berkaitan dengan gangguan regulasi hormon stres, perubahan aktivitas sistem saraf simpatis, peningkatan beban fisiologis (allostatic load), hingga perubahan pada area otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, regulasi emosi, perhatian, dan fungsi eksekutif.

Studi neuroimaging terbaru juga menemukan adanya pola perubahan pada jaringan otak, termasuk area prefrontal cortex dan amigdala, yang berhubungan dengan kemampuan mengendalikan emosi, fokus, serta respons terhadap stres. Kabar baiknya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sebagian perubahan tersebut dapat membaik setelah intervensi seperti terapi psikologis, olahraga, mindfulness, dan pemulihan yang memadai.

Dengan kata lain, burnout bukan berarti seseorang "kurang kuat". Burnout adalah sinyal bahwa sistem biologis tubuh telah bekerja terlalu lama tanpa kesempatan untuk benar-benar pulih.

Pada bagian berikutnya, kita akan membahas lebih dalam penyebab burnout menurut psikologi kerja dan neuroscience, termasuk mengapa dua orang yang bekerja di tempat yang sama bisa memiliki risiko burnout yang berbeda.

Baca artikel lainnya: Burnout vs Depresi

Penyebab Burnout Menurut Psikologi Kerja: Bukan Sekadar Beban Kerja

Selama ini banyak orang mengira penyebab burnout hanyalah pekerjaan yang terlalu banyak. Padahal, penelitian psikologi kerja menunjukkan bahwa beban kerja hanyalah salah satu bagian dari masalah.

Bayangkan dua orang bekerja dengan target yang sama. Keduanya pulang malam, menghadapi klien yang sulit, dan dikejar tenggat waktu. Anehnya, satu orang tetap bersemangat, sedangkan yang lain mulai kehilangan motivasi, mudah marah, bahkan ingin resign.

Mengapa bisa berbeda?

Jawabannya terletak pada keseimbangan antara tuntutan pekerjaan (job demands) dan sumber daya yang dimiliki (job resources).

Menurut Job Demands–Resources (JD-R) Model yang dikembangkan oleh Demerouti, Bakker, dan Schaufeli, setiap pekerjaan memiliki dua komponen utama. Pertama, job demands, yaitu segala tuntutan fisik, mental, maupun emosional yang menguras energi, seperti target tinggi, jam kerja panjang, konflik dengan atasan, pekerjaan yang kompleks, hingga tuntutan untuk selalu tersedia melalui ponsel. Kedua, job resources, yaitu segala hal yang membantu pekerja mencapai target dan menjaga kesejahteraan, misalnya dukungan atasan, rekan kerja yang kooperatif, otonomi dalam bekerja, kejelasan peran, kesempatan berkembang, dan penghargaan atas hasil kerja. Burnout muncul ketika tuntutan kerja terus meningkat, sementara sumber daya yang dimiliki tidak mampu mengimbanginya.

Model JD-R juga menjelaskan bahwa kelelahan emosional terutama dipicu oleh tuntutan kerja yang tinggi, sedangkan sikap sinis terhadap pekerjaan lebih sering muncul ketika pekerja merasa kekurangan dukungan, penghargaan, atau kontrol terhadap pekerjaannya. Dengan kata lain, bukan hanya "kerja terlalu keras" yang membuat seseorang burnout, tetapi juga "bekerja sendirian" tanpa dukungan yang memadai.

Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Christina Maslach, yang menjelaskan burnout melalui tiga dimensi utama, yaitu kelelahan emosional (emotional exhaustion), sikap sinis atau depersonalisasi (cynicism/depersonalization), dan menurunnya rasa pencapaian profesional (reduced professional efficacy). Ketiga kondisi ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang perlahan akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola.

Baca artikel lainnya: Capek Terus Bukan Berarti Rajin! Ini 4 Gejala Burnout Fisik yang Sering Dianggap Sepele

Penyebab Burnout Menurut Neuroscience: Ketika Otak Terlalu Lama Bertahan

Jika psikologi kerja menjelaskan mengapa burnout dimulai, maka neuroscience menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak.

Bayangkan tubuh memiliki alarm darurat.

Ketika Anda menghadapi deadline, konflik dengan atasan, atau tekanan pekerjaan, alarm tersebut aktif melalui sistem yang disebut Hypothalamic–Pituitary–Adrenal (HPA) axis.

Hipotalamus mengirim sinyal ke kelenjar pituitari, kemudian pituitari merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan kortisol, yaitu hormon stres utama.

Dalam jangka pendek, kortisol sangat bermanfaat. Detak jantung meningkat, perhatian menjadi lebih fokus, dan tubuh siap menghadapi tantangan.

Masalah muncul ketika alarm itu tidak pernah dimatikan.

Penelitian menunjukkan bahwa paparan stres kerja kronis menyebabkan aktivasi sistem saraf simpatis dan gangguan regulasi HPA axis. Akibatnya, tubuh mengalami peningkatan allostatic load, yaitu akumulasi beban biologis akibat stres berkepanjangan. Kondisi ini berkaitan dengan gangguan tidur, kelelahan kronis, penurunan sistem imun, gangguan metabolik, hingga meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular.

Burnout juga berhubungan dengan perubahan pada beberapa bagian penting otak.

Amigdala, pusat deteksi ancaman, menjadi lebih reaktif sehingga seseorang lebih mudah merasa cemas, tegang, atau emosional terhadap masalah kecil. Sebaliknya, prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang berperan dalam perencanaan, pengambilan keputusan, pengendalian emosi, dan konsentrasi, justru mengalami penurunan efisiensi. Inilah sebabnya banyak pekerja burnout mengeluhkan sulit fokus, mudah lupa, dan merasa "otaknya nge-blank", meskipun sebenarnya masih memiliki kemampuan intelektual yang baik. Studi MRI juga menunjukkan adanya perubahan pada jaringan otak yang berkaitan dengan fungsi-fungsi tersebut, meski sebagian bersifat reversibel setelah pemulihan.

Selain itu, beberapa penelitian menemukan kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) yang lebih rendah pada individu dengan burnout. BDNF merupakan protein yang berperan penting dalam menjaga plastisitas otak, pembentukan koneksi antarsel saraf, serta proses belajar dan memori. Penurunan BDNF diduga berkontribusi terhadap gangguan suasana hati dan fungsi kognitif pada burnout.

Penelitian menggunakan EEG juga menemukan bahwa pekerja dengan burnout harus mengalokasikan sumber daya otak yang lebih besar untuk menyelesaikan tugas yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan mudah oleh kelompok sehat. Artinya, hasil pekerjaan mungkin masih terlihat baik, tetapi "biaya biologis" yang harus dibayar otak jauh lebih tinggi. Kondisi ini menjelaskan mengapa seseorang tetap mampu bekerja, namun merasa sangat lelah setelahnya.

Contoh Kasus: "R" yang Selalu Online

Sebut saja R, seorang analis data berusia 28 tahun yang bekerja di perusahaan teknologi di Jakarta.

Secara objektif, pekerjaannya tidak terlalu berat. Ia bekerja dari rumah tiga hari dalam seminggu dan memperoleh gaji yang cukup baik.

Namun, hampir setiap malam ia masih menerima pesan dari atasan hingga pukul 22.00. Target proyek berubah setiap minggu, rapat berlangsung hampir sepanjang hari, sementara pekerjaan inti baru bisa diselesaikan pada malam hari.

Awalnya R merasa bangga karena dipercaya memegang banyak proyek.

Enam bulan kemudian, ia mulai sulit tidur, kehilangan motivasi, mudah tersinggung, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya dapat dilakukan dengan cepat. Ia bahkan mulai berpikir bahwa dirinya tidak lagi kompeten.

Dari sudut pandang psikologi kerja, kondisi R mencerminkan ketidakseimbangan antara job demands dan job resources. Dari sudut pandang neuroscience, otaknya kemungkinan telah berada dalam kondisi stres kronis yang memengaruhi fungsi eksekutif, regulasi emosi, dan kemampuan pemulihan biologis. Meskipun contoh ini bersifat ilustratif dan identitas disamarkan, pola serupa sering ditemukan dalam praktik kesehatan kerja dan penelitian burnout.

Analisis Berdasarkan Pengalaman Lintas Industri

Selama mengamati berbagai organisasi—mulai dari rumah sakit, instansi pemerintah, perusahaan manufaktur, lembaga pendidikan, hingga startup digital—saya menemukan bahwa pemicu burnout berbeda-beda, tetapi mekanismenya hampir sama.

Di rumah sakit, burnout sering dipicu oleh kelelahan emosional akibat terus-menerus berhadapan dengan pasien dan keluarga pasien.

Di instansi pemerintah, burnout lebih sering muncul karena beban administrasi, target kinerja, dan perubahan regulasi yang terus berlangsung.

Di startup, penyebab utamanya sering berupa perubahan prioritas yang sangat cepat, budaya "always available", serta tekanan untuk terus berinovasi.

Sementara itu, pada perusahaan swasta, burnout sering berkaitan dengan target penjualan, evaluasi kinerja, dan persaingan internal.

Meski berbeda konteks, semuanya memiliki pola yang sama: tuntutan pekerjaan meningkat lebih cepat daripada kapasitas pemulihan manusia.

Inilah alasan mengapa solusi burnout tidak cukup hanya berupa liburan singkat atau motivasi untuk "lebih semangat". Selama penyebab utamanya—ketidakseimbangan antara tuntutan kerja, sumber daya, dan kesempatan pemulihan—tidak diperbaiki, burnout berpotensi muncul kembali. Baik psikologi kerja maupun neuroscience sama-sama menunjukkan bahwa burnout bukan sekadar persoalan individu, melainkan hasil interaksi antara lingkungan kerja dan respons biologis tubuh terhadap stres yang berlangsung terlalu lama.

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Apakah burnout sama dengan stres biasa?

Tidak.

Stres umumnya bersifat sementara dan dapat membaik setelah seseorang beristirahat atau masalah yang dihadapi selesai. Sebaliknya, burnout merupakan kondisi akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Menurut ICD-11, burnout ditandai oleh tiga karakteristik utama, yaitu kelelahan yang berkepanjangan, meningkatnya sikap sinis terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas kerja. Burnout juga secara khusus berkaitan dengan konteks pekerjaan, bukan seluruh aspek kehidupan.

2. Apakah burnout berarti seseorang malas bekerja?

Tidak.

Justru banyak penelitian menunjukkan bahwa burnout sering dialami oleh pekerja yang sebelumnya sangat berdedikasi, perfeksionis, dan memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaannya. Masalahnya bukan pada kemauan bekerja, melainkan karena energi psikologis dan biologis telah terkuras akibat tekanan yang berlangsung terlalu lama.

3. Apakah burnout bisa mengubah otak?

Berbagai penelitian neuroscience menunjukkan bahwa burnout berkaitan dengan perubahan fungsi dan struktur beberapa area otak, terutama prefrontal cortex, amigdala, serta jaringan yang mengatur perhatian, regulasi emosi, dan pengambilan keputusan. Kabar baiknya, sebagian perubahan tersebut dapat membaik melalui pemulihan yang memadai, olahraga, mindfulness, psikoterapi, dan perbaikan lingkungan kerja.

4. Siapa yang paling berisiko mengalami burnout?

Siapa pun dapat mengalami burnout. Namun, risikonya lebih tinggi pada pekerja yang:

memiliki beban kerja tinggi;

sering lembur;

minim dukungan dari atasan atau rekan kerja;

tidak memiliki kontrol terhadap pekerjaannya;

sulit memisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadi;

bekerja pada profesi dengan tuntutan emosional tinggi, seperti tenaga kesehatan, guru, pelayanan publik, konsultan, maupun pekerja startup.

5. Apakah cuti satu minggu cukup mengatasi burnout?

Belum tentu.

Liburan dapat membantu mengurangi kelelahan sementara, tetapi jika penyebab utama burnout—misalnya beban kerja yang tidak realistis, budaya kerja yang tidak sehat, atau kurangnya dukungan organisasi—tidak berubah, gejala burnout sering muncul kembali setelah kembali bekerja. Karena itu, penanganan burnout perlu dilakukan pada tingkat individu sekaligus organisasi.

Key Takeaways

Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja, melainkan respons tubuh dan otak terhadap stres kerja kronis yang berlangsung terlalu lama.

Dari perspektif psikologi kerja, burnout muncul ketika tuntutan pekerjaan terus meningkat sementara sumber daya, dukungan, dan kesempatan untuk pulih semakin berkurang.

Dari perspektif neuroscience, burnout berkaitan dengan aktivasi berkepanjangan HPA axis, gangguan regulasi hormon kortisol, perubahan fungsi amigdala dan prefrontal cortex, penurunan BDNF, serta terganggunya executive function, sehingga memengaruhi kemampuan berpikir, mengendalikan emosi, dan mengambil keputusan.

Yang terpenting, burnout bukan tanda kelemahan karakter. Burnout merupakan sinyal bahwa sistem biologis dan psikologis seseorang telah bekerja melampaui kapasitas pemulihannya.

Semakin dini burnout dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah dampaknya terhadap kesehatan fisik, kesehatan mental, hubungan sosial, maupun produktivitas kerja.

Call to Action

Apakah Anda mulai merasa:

tetap lelah meski sudah beristirahat?

sulit fokus saat bekerja?

mudah marah karena hal-hal kecil?

kehilangan semangat terhadap pekerjaan yang dulu Anda sukai?

Jangan menunggu sampai burnout mengganggu kesehatan dan karier Anda.

Bagikan artikel ini kepada rekan kerja, pasangan, atau teman yang mungkin sedang mengalami kondisi serupa. Semakin banyak orang memahami penyebab burnout berdasarkan ilmu psikologi kerja dan neuroscience, semakin besar peluang kita membangun budaya kerja yang sehat, produktif, dan manusiawi.

Ikuti juga artikel-artikel berikutnya yang akan membahas:

perbedaan burnout, stres, dan depresi;

cara mengenali burnout sejak dini;

strategi pemulihan burnout berdasarkan neuroscience dan psikologi.


(149 karakter)

 

Daftar Pustaka

Bayes, A., Tavella, G., & Parker, G. (2021). The biology of burnout: Causes and consequences. The World Journal of Biological Psychiatry22(9), 686-698. https://doi.org/10.1080/15622975.2021.1907713

Chmiel, J., & Kurpas, D. (2025). Burnout and the Brain—A Mechanistic Review of Magnetic Resonance Imaging (MRI) Studies. International Journal of Molecular Sciences26(17), 8379.https://doi.org/10.3390/ijms26178379

Chow, Y., Masiak, J., MikoÅ‚ajewska, E., MikoÅ‚ajewski, D., Wójcik, G. M., Wallace, B., ... & Olajossy, M. (2018). Limbic brain structures and burnout—A systematic review. Advances in medical sciences63(1), 192-198. https://www.academia.edu/download/55943068/1-s2.0-S1896112617300755-main.pdf

Demerouti, E., Bakker, A. B., Nachreiner, F., & Schaufeli, W. B. (2001). The job demands-resources model of burnout. Journal of Applied psychology86(3), 499. https://www.academia.edu/download/5210554/demerouti_burnout.pdf

Grossi, G., Perski, A., Osika, W., & Savic, I. (2015). Stress‐related exhaustion disorder–clinical manifestation of burnout? A review of assessment methods, sleep impairments, cognitive disturbances, and neuro‐biological and physiological changes in clinical burnout. Scandinavian journal of psychology56(6), 626-636. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/sjop.12251

Jiao, W., Wu, A., & Wang, L. (2018). Correlation between Emotion and Job Burnout Decision-making Quality Based on Cognitive Neuroscience. NeuroQuantology16(5), 588-593. https://scholar.archive.org/work/lvqmum25wjbfplrotdc75kwvwm/access/wayback/http://pdfs.semanticscholar.org/e339/0a06fd3e699cc6380c742c47bbd803eff99b.pdf

Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Understanding the burnout experience: recent research and its implications for psychiatry. World psychiatry15(2), 103-111. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdfdirect/10.1002/wps.20311

MikoÅ‚ajewski, D., Masiak, J., & MikoÅ‚ajewska, E. (2023). Neurophysiological determinants of occupational stress and burnout. Journal of Education, Health and Sport21(1), 33-46. https://apcz.umk.pl/JEHS/article/download/43534/35443

Pihlaja, M., Peräkylä, J., Erkkilä, E. H., Tapio, E., Vertanen, M., & Hartikainen, K. M. (2023). Altered neural processes underlying executive function in occupational burnout—Basis for a novel EEG biomarker. Frontiers in human neuroscience17, 1194714. https://www.frontiersin.org/journals/human-neuroscience/articles/10.3389/fnhum.2023.1194714/pdf

Sertoz, O. O., Binbay, I. T., Koylu, E., Noyan, A., Yıldırım, E., & Mete, H. E. (2008). The role of BDNF and HPA axis in the neurobiology of burnout syndrome. Progress in Neuro-Psychopharmacology & Biological Psychiatry, 32(6), 1459–1465. https://www.academia.edu/download/89453239/j.pnpbp.2008.05.00120220810-1-5d4m0u.pdf

World Health Organization. (2019). Burn-out an occupational phenomenon: International Classification of Diseases (ICD-11). https://www.who.int/news/item/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon-international-classification-of-diseases

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah Tidur yang Cukup Justru Membuat Stres Anda Semakin Parah?

  Ilustrasi stress (Pexels.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAK merasa semakin pusing dan pikiran kalut setelah semalaman suntuk tidak bisa tidur? Atau sebaliknya, saat stres melRekan PSAK, tidur pun jadi barang mahal? Jika ya, Rekan PSAK tidak sendiri. Hubungan antara stres dan kualitas tidur ibarat lingkaran setan yang tak ada habisnya, dan efeknya pada otak kita bisa jauh lebih merusak dari yang kita bayangkan. Kita semua tahu kalau stres itu tidak enak. Jantung berdebar, pikiran berkecamuk, dan rasanya ingin lari dari kenyataan. Di sisi lain, tidur adalah kebutuhan dasar, seperti makan dan minum. Tapi, apa jadinya jika dua hal ini saling memengaruhi dengan cara yang merugikan? Stres Merampas Tidur Rekan PSAK Saat kita stres, tubuh melepaskan hormon-hormon seperti kortisol dan adrenalin. Ini adalah respons alami "lawan atau lari" yang dirancang untuk membantu kita menghadapi ancaman. Namun, jika stres berkepanjangan, kadar hormon ini tetap ...

Stop Bilang Stres Itu Penyakit Mental! Otak Primitif Anda Cuma Panik!

Ilustrasi stres (Pexel.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernah merasa jantung berdebar kencang, tangan dingin, atau napas tersengal-sengal padahal Rekan PSAK cuma dikejar deadline atau berhadapan dengan atasan yang lagi bad mood ? Selamat, Rekan PSAK baru saja merasakan respons fight-or-flight klasik. Tapi jangan langsung cap diri Rekan PSAK punya masalah kecemasan atau "penyakit mental" lainnya. Seringkali, ini bukan tentang kesehatan mental yang rapuh, melainkan karena otak primitif Rekan PSAK sedang dalam mode siaga. Kita sering menganggap stres sebagai momok modern yang identik dengan gaya hidup serba cepat. Tapi sebenarnya, respons stres adalah fitur bawaan yang sudah ada sejak nenek moyang kita harus berhadapan dengan predator ganas di sabana. Ini bukan kelemahan, melainkan sebuah mekanisme bertahan hidup yang luar biasa canggih. Otak Primitif: Alarm Anti-Punah Rekan PSAK Di dalam kepala kita, ada dua bagian otak yang punya peran sangat besar dalam u...

Otak Rekan PSAK Lelah? Jangan Cuma Istirahat, Coba Reset dengan Tiga Kata Kunci Ajaib Ini!

Ilustrasi sholat yang dapat meredakan stres dan overthinking (Pexels.com)   Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah rekan PSAK merasa lelah secara mental, bukan karena kurang tidur, melainkan karena pikiran yang tak henti-hentinya dipenuhi kecemasan, prasangka buruk, dan keraguan? Rasanya seperti otak rekan PSAK adalah browser yang membuka terlalu banyak tab, dan sekarang ia hang . Sebagai seorang neuropsikolog yang telah mendampingi banyak orang selama lebih dari satu dekade, saya tahu persis bagaimana rasanya. Sering kali, kita mencoba menenangkan diri dengan hiburan, namun otak tetap terasa berat. Solusi yang saya temukan, yang menggabungkan panduan ilmiah dan spiritual, mungkin terdengar kontroversial: Husnuzzan, Sholat, dan Tadarus. Tiga kata kunci ini bukan sekadar ajaran agama, melainkan kunci untuk "me-reset" otak yang lelah. Husnuzzan: Melatih Otak Mengubah Pola Pikir Otak kita memiliki kecenderungan alami untuk negativity bias , yaitu lebih mudah men...