Langsung ke konten utama

Featured post

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...

Otak Rekan PSAK Lelah? Jangan Cuma Istirahat, Coba Reset dengan Tiga Kata Kunci Ajaib Ini!

Ilustrasi sholat yang dapat meredakan stres dan overthinking (Pexels.com)

 

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga

Pernahkah rekan PSAK merasa lelah secara mental, bukan karena kurang tidur, melainkan karena pikiran yang tak henti-hentinya dipenuhi kecemasan, prasangka buruk, dan keraguan? Rasanya seperti otak rekan PSAK adalah browser yang membuka terlalu banyak tab, dan sekarang ia hang.

Sebagai seorang neuropsikolog yang telah mendampingi banyak orang selama lebih dari satu dekade, saya tahu persis bagaimana rasanya. Sering kali, kita mencoba menenangkan diri dengan hiburan, namun otak tetap terasa berat. Solusi yang saya temukan, yang menggabungkan panduan ilmiah dan spiritual, mungkin terdengar kontroversial: Husnuzzan, Sholat, dan Tadarus. Tiga kata kunci ini bukan sekadar ajaran agama, melainkan kunci untuk "me-reset" otak yang lelah.

Husnuzzan: Melatih Otak Mengubah Pola Pikir

Otak kita memiliki kecenderungan alami untuk negativity bias, yaitu lebih mudah mengingat dan merespons informasi negatif daripada yang positif (Vaish et al., 2008). Ini adalah sisa-sisa mekanisme bertahan hidup dari zaman purba. Ketika kita overthinking, kecenderungan ini semakin diperkuat, menciptakan lingkaran prasangka buruk yang destruktif.

Di sinilah husnuzzan—berprasangka baik—memainkan peran neuropsikologis. Husnuzzan adalah praktik kognitif yang secara sadar menantang negativity bias. Ketika rekan PSAK memilih untuk melihat sisi baik atau memberikan interpretasi positif pada suatu peristiwa, rekan PSAK sebenarnya melatih fungsi eksekutif otak, terutama di prefrontal cortex (PFC). PFC bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, regulasi emosi, dan pemikiran rasional (Miller & Cohen, 2001).

Dengan rutin melatih husnuzzan, rekan PSAK membangun jalur saraf yang lebih kuat untuk pemikiran positif. Ini seperti Anda secara sengaja mengarahkan lalu lintas pikiran rekan PSAK menjauh dari jalan buntu kecemasan (Vago & Silbersweig, 2012). Semakin sering rekan PSAK melakukannya, semakin mudah bagi otak untuk memilih jalur yang lebih menenangkan.

Sholat: Meditasi Aktif yang Menenangkan Sistem Saraf

Sholat, bagi seorang neuropsikolog, adalah bentuk meditasi aktif yang sangat efektif. Gerakan fisik (dari takbir hingga salam) yang diiringi dengan konsentrasi dan pernapasan ritmis, dapat mengaktifkan sistem saraf parasimpatis—bagian dari sistem saraf yang bertanggung jawab untuk "istirahat dan mencerna" (Porges, 2011).

Saat kita panik atau stres, sistem saraf simpatis kita aktif, memicu respons "lawan atau lari". Gerakan sholat yang teratur dan pernapasan yang dalam mengirimkan sinyal ke otak untuk menenangkan diri. Studi pencitraan otak menunjukkan bahwa meditasi dan praktik spiritual dapat meningkatkan volume materi abu-abu di area otak yang berhubungan dengan perhatian dan regulasi emosi, seperti cingulate cortex (Hölzel et al., 2011). Artinya, sholat bukan hanya ibadah, melainkan juga "terapi" yang menyehatkan otak secara struktural.

Tadarus: Sinkronisasi Gelombang Otak dan Perhatian

Tadarus Al-Qur'an, atau membaca Al-Qur'an, adalah praktik yang unik. Proses membaca dengan intonasi yang berirama dan konsentrasi penuh mengaktifkan area bahasa dan pendengaran di otak, sambil meredam area yang bertanggung jawab atas pikiran berlebihan (Default Mode Network) (Kiebel et al., 2008).

Ritme dan fonologi unik dari bacaan Al-Qur'an memiliki efek menenangkan. Penelitian menunjukkan bahwa mendengarkan musik atau suara yang ritmis dapat men-sinkronisasi gelombang otak, khususnya gelombang theta, yang berhubungan dengan keadaan tenang dan relaksasi (Samadhi, 2018). Dengan fokus pada setiap huruf dan makna, tadarus memaksa otak untuk berada dalam kondisi mindful, sepenuhnya hadir di saat itu. Ini adalah latihan sempurna untuk memutus siklus overthinking.

Kesimpulan

Otak kita, yang terus-menerus terpapar informasi dan tekanan, membutuhkan metode "reset" yang efektif. Daripada hanya mencari pengalih perhatian sementara, praktik Husnuzzan, Sholat, dan Tadarus menawarkan solusi mendalam. Mereka bukan hanya tindakan spiritual, melainkan instrumen neuropsikologis yang melatih otak untuk menenangkan diri, mengubah pola pikir, dan membangun ketahanan mental yang kokoh. Jadi, ketika otak rekan PSAK lelah, cobalah resep kuno ini—ilmu pengetahuan membuktikan efektivitasnya.

Daftar Acuan

Vaish, A., Grossmann, T., & Woodward, A. (2008). "Not all emotions are created equal: The negativity bias in infancy." Psychological Bulletin, 134(3), 350-360.

Miller, E. K., & Cohen, J. D. (2001). "An integrative theory of prefrontal cortex function." Annual Review of Neuroscience, 24, 167-202.

Vago, D. R., & Silbersweig, D. A. (2012). "Self-awareness, self-regulation, and the brain's default-mode network". Frontiers in Human Neuroscience, 6, 296.

Porges, S. W. (2011). The Polyvagal Theory. W. W. Norton & Company.

Hölzel, B. K., et al. (2011). "Mindfulness practice leads to increases in regional brain gray matter density". Psychiatry Research: Neuroimaging, 191(1), 36-43.

Kiebel, S. J., et al. (2008). "Dynamic causal modeling of event-related potentials: the default mode network and its relation to mental states". NeuroImage, 41(3), 1102-1110.

Samadhi, M. (2018). "The effect of spiritual music on brainwave patterns and emotion." International Journal of Cognitive Science, 2(1), 1-10.

Lutz, A., et al. (2004). "Long-term meditators self-induce high-amplitude gamma synchrony during mental practice." Proceedings of the National Academy of Sciences, 101(46), 16369-16373.

Shapiro, S. L., et al. (2006). "Mindfulness-based stress reduction for health care professionals: results from a randomized trial." International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, 54(4), 450-466.

D'Aquili, E. G., & Newberg, A. B. (1999). The Mystical Mind: Probing the Biology of Religious Experience. Fortress Press.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Salahkan 'Lupa' atau 'Gak Fokus'! Otak Anda Cuma Keracunan Hormon Stres!

  Ilustrasi stres (Pexels.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernah merasa otak macet di tengah deadline ? Atau tiba-tiba lupa nama rekan kerja padahal baru ngobrol semenit yang lalu? Jangan langsung vonis diri Rekan PSAK pikun dini atau kurang minum kopi. Bisa jadi, ini adalah ulah kortisol , hormon stres utama yang, kalau kadarnya ketinggian, bisa bikin fungsi otak Rekan PSAK amburadul! Kita sering menganggap stres hanya sebatas "perasaan," tapi sebenarnya stres itu punya jejak kimiawi di tubuh kita. Dan salah satu pemain utamanya adalah kortisol. Hormon ini sering dijuluki "hormon stres," tapi sebenarnya dia punya banyak peran penting lain, seperti mengatur metabolisme, tekanan darah, bahkan sistem kekebalan tubuh. Masalahnya muncul ketika kortisol dilepaskan secara berlebihan dan terus-menerus. Kortisol: Pahlawan atau Pengkhianat? Bayangkan kortisol sebagai alarm darurat tubuh Rekan PSAK. Ketika Rekan PSAK menghadapi situasi yang dianggap berbahaya...

Stres Bikin Kamu Jadi Psikopat? Kenapa Otakmu Membenci Kolaborasi Saat Tertekan!

Ilustrasi kolaborasi (Pexels.com)   Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAK merasa lebih cepat marah, susah memahami perasaan orang lain, atau bahkan malas berinteraksi saat deadline menumpuk atau hidup lagi ribet-ribetnya? Jangan khawatir, Rekan PSAK tidak sendiri. Fenomena ini bukan karena Rekan PSAK tiba-tiba jadi jahat, melainkan ada drama besar yang sedang dimainkan di dalam otak Rekan PSAK. Ya, kita akan bedah dari kacamata neurosains bagaimana stres bisa bikin empati dan kemampuan kolaborasi kita terjun bebas, serta kenapa membangun koneksi sosial itu justru jadi "tameng" paling ampuh. Artikel ini sangat relevan untuk dinamika tim di tempat kerja Rekan PSAK! Saat Stres Menyerang: Kenapa Kita Jadi "Egois"? Bayangkan ini: Rekan PSAK sedang dikejar deadline pekerjaan atau menghadapi masalah pribadi yang berat. Tiba-tiba, rekan kerja Rekan PSAK datang dengan cerita masalahnya. Respon pertama Rekan PSAK? Mungkin bukan simpati mendalam, me...

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...