Langsung ke konten utama

Featured post

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...

Otak Anda Punya Tombol "Ngerem"! Kenapa Malah Sering Bablas Saat Stres?

Ilustrasi stress (Pexels.com)

 

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga

Pernahkah Rekan PSAK merasa ingin melempar keyboard saat deadline menumpuk, atau berteriak pada rekan kerja yang bikin emosi? Lalu setelah itu, Rekan PSAK menyesal dan berpikir, "Kenapa sih aku barusan kayak gitu?!" Jangan khawatir, Rekan PSAK tidak sendirian. Kita semua pernah menghadapi momen di mana respons kita terhadap stres terasa jauh lebih besar dari seharusnya. Tapi tahu tidak, otak Rekan PSAK sebenarnya punya sistem "rem" yang super canggih untuk mencegah Rekan PSAK lepas kendali? Rem ini bernama Prefrontal Cortex (PFC).

Seringkali, di tengah badai stres, kita merasa seperti dikendalikan oleh emosi. Respons kita jadi impulsif, bukannya rasional. Ini bukan karena kita tidak punya kontrol diri, tapi karena stres, terutama stres kerja yang intens, bisa memengaruhi kemampuan PFC Rekan PSAK untuk bekerja optimal. Ibaratnya, PFC Rekan PSAK itu supir yang lagi mabuk, jadi remnya blong!

Kenalan dengan Sang "Supir" Otak: Prefrontal Cortex

Di bagian depan otak Rekan PSAK, tepat di belakang dahi, ada area yang disebut Prefrontal Cortex (PFC). Anggap saja ini adalah kantor pusat eksekutif otak Rekan PSAK. PFC bertanggung jawab atas semua fungsi "tingkat tinggi" yang membedakan kita dari hewan lain:

  • Perencanaan dan Pengambilan Keputusan: PFC membantu Rekan PSAK membuat strategi, memecahkan masalah, dan menimbang pilihan.
  • Kontrol Diri dan Penundaan Kepuasan: Ini area yang memungkinkan Rekan PSAK menahan diri dari tindakan impulsif dan fokus pada tujuan jangka panjang.
  • Regulasi Emosi: Ini poin pentingnya. PFC bekerja sama dengan bagian otak lain seperti amigdala (pusat emosi dan rasa takut) untuk memastikan respons emosional Rekan PSAK proporsional dengan situasi (Ochsner & Gross, 2004).

Ketika Rekan PSAK sedang tenang dan fokus, PFC Rekan PSAK bekerja optimal, menjaga emosi tetap terkendali dan respons Rekan PSAK tetap rasional.

Ketika Stres "Menyerang": PFC Terkapar, Amigdala Berpesta!

Masalahnya muncul saat stres datang. Terutama stres kronis atau stres akut yang intens. Dalam kondisi ini, keseimbangan kekuatan di otak Rekan PSAK bisa berubah:

  1. PFC Melemah, Amigdala Menguat: Stres menyebabkan peningkatan pelepasan kortisol dan norepinefrin. Kadar yang terlalu tinggi dari zat kimia ini, bukannya membantu, justru bisa melemahkan fungsi PFC (Arnsten, 2009; Goldman-Rakic, 1996). Ketika PFC melemah, kendalinya atas amigdala (pusat emosi kita) juga ikut berkurang. Akibatnya, amigdala jadi lebih aktif dan respons emosional Rekan PSAK jadi lebih dominan. Ini seperti supir yang pingsan, dan pedal gas tiba-tiba diinjak penuh oleh penumpang panik (amigdala)!
  2. Gangguan Konektivitas: Bukan hanya melemah, stres kronis juga bisa mengubah konektivitas antara PFC dan area otak lainnya. Misalnya, koneksi antara PFC dan amigdala bisa jadi kurang efektif, membuat PFC sulit "menurunkan volume" respons emosional yang berlebihan dari amigdala (Kim & Ressler, 2011; Shin et al., 2004). Ini menjelaskan mengapa di bawah stres, kita sering merasa pikiran jadi kacau dan sulit berpikir jernih.
  3. Memori Kerja Terganggu: PFC juga krusial untuk memori kerja, yaitu kemampuan untuk menahan dan memanipulasi informasi dalam pikiran Rekan PSAK untuk tugas yang sedang dikerjakan. Stres kerja yang tinggi telah terbukti mengganggu memori kerja, membuat Rekan PSAK sulit multitasking, sering lupa detail, dan melakukan kesalahan (Arnsten, 2015; Diamond et al., 2007). Ketika memori kerja terganggu, kemampuan Rekan PSAK untuk berpikir rasional di bawah tekanan juga otomatis menurun.
  4. Pengambilan Keputusan Impulsif: Dengan PFC yang terganggu, pengambilan keputusan kita cenderung menjadi lebih impulsif dan kurang strategis (Starcke & Brand, 2012). Kita mungkin membuat keputusan cepat tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang, hanya untuk meredakan tekanan sesaat. Ini sering terlihat dalam situasi deadline di mana keputusan buru-buru diambil tanpa analisis mendalam.

Dampak di Kehidupan Sehari-hari dan di Tempat Kerja

Ini bukan cuma teori ilmiah di laboratorium. Dampak dari PFC yang terganggu saat stres terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari kita:

  • Meledak-ledak di Kantor: Respons emosional yang tidak proporsional saat ada konflik atau kritik.
  • Prokrastinasi: Sulit memulai atau menyelesaikan tugas karena ketidakmampuan PFC untuk merencanakan dan mengontrol diri.
  • Kesalahan Fatal: Mengambil keputusan penting secara impulsif karena PFC gagal menimbang semua opsi dengan baik.
  • Susah Fokus: Terdistraksi oleh pikiran cemas atau emosi negatif saat mencoba mengerjakan tugas.

Penelitian telah berulang kali menunjukkan korelasi antara stres kerja dan penurunan fungsi kognitif yang terkait dengan PFC. Sebuah studi oleh Lupien et al. (2007) menunjukkan bagaimana kortisol yang tinggi terkait dengan performa PFC yang buruk pada tugas memori kerja. Demikian pula, pengalaman stres traumatis dapat menyebabkan perubahan struktural dan fungsional pada PFC, yang berkontribusi pada gangguan regulasi emosi (Pitman et al., 2012). Bahkan stres yang lebih ringan namun kronis pun dapat memengaruhi PFC dan membuat individu lebih rentan terhadap kecemasan dan depresi (Arnsten, 2015).

Jadi, Bagaimana Cara "Menyelamatkan" PFC Rekan PSAK dari Stres?

Untungnya, PFC ini bisa dilatih dan dilindungi! Ini beberapa strategi yang didukung ilmu pengetahuan:

  1. Teknik Relaksasi & Mindfulness: Meditasi dan mindfulness telah terbukti dapat memperkuat konektivitas antara PFC dan amigdala, serta meningkatkan volume materi abu-abu di PFC (Hölzel et al., 2011; Tang et al., 2015). Ini membantu PFC mendapatkan kembali kendali atas respons emosional.
  2. Olahraga Teratur: Aktivitas fisik dapat meningkatkan aliran darah ke otak dan memicu pelepasan BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor), yang mendukung kesehatan dan plastisitas PFC (Cotman & Engesser-Cesar, 2002).
  3. Tidur Cukup: Kurang tidur adalah salah satu pemicu utama disfungsi PFC (Walker, 2017). Tidur yang berkualitas membantu PFC meregenerasi diri dan berfungsi optimal.
  4. Latihan Kognitif (Brain Training): Melibatkan diri dalam aktivitas yang menantang otak, seperti belajar bahasa baru atau memecahkan teka-teki, dapat memperkuat koneksi saraf di PFC (Lövden et al., 2010).
  5. Batasi Paparan Stres yang Tidak Perlu: Kenali pemicu stres Rekan PSAK dan jika memungkinkan, kurangi atau kelola paparan terhadapnya. Berani berkata "tidak" pada tuntutan yang berlebihan adalah bentuk kontrol diri yang sehat.

Mulai sekarang, ketika Rekan PSAK merasa emosi mendominasi saat stres, ingatlah: itu bukan kegagalan karakter, melainkan sinyal bahwa PFC Rekan PSAK sedang butuh bantuan! Dengan strategi yang tepat, Rekan PSAK bisa melatih "rem" otak Rekan PSAK agar bekerja lebih baik, sehingga Rekan PSAK bisa merespons stres dengan lebih rasional, bukan hanya bablas impulsif.

 

Referensi

Arnsten, A. F. T. (2009). Stress signalling pathways that impair prefrontal cortex function. Nature Reviews Neuroscience, 10(6), 410-422.

Arnsten, A. F. T. (2015). Stress and the prefrontal cortex: A drug target for the future. Journal of Psychopharmacology, 29(2), 160-166.

Cotman, C. W., & Engesser-Cesar, E. E. (2002). Exercise enhances and protects brain function. Exercise and Sport Sciences Reviews, 30(2), 75-79.

Diamond, D. M., Campbell, A. M., Park, C. R., Halonen, C. L., & Zoladz, P. R. (2007). The temporal dynamics of the effects of stress on the hippocampus: From synaptic plasticity to spatial learning. Psychological Bulletin, 133(2), 348-362.

Goldman-Rakic, P. S. (1996). The prefrontal cortex: from molecular genetics to brain imaging. American Journal of Psychiatry, 153(1), 22-37.

Hölzel, B. K., Carmody, J., Vangel, M., Congleton, C., Yerramsetti, S., Gard, T., & Lazar, S. W. (2011). Mindfulness practice leads to increases in regional brain gray matter density. Psychiatry Research: Neuroimaging, 191(1), 36-43.

Kim, M. J., & Ressler, K. J. (2011). Neural substrates of fear extinction. Learning & Memory, 18(11), 746-753.

Liston, C., Miller, M. M., Goldwater, D. S., Radley, J. J., Rocher, A. B., Hogg, E., ... & McEwen, B. S. (2009). Stress-induced alterations in prefrontal cortex mediate fear extinction deficits in adulthood. Journal of Neuroscience, 29(16), 4920-4928.

Lövden, M., Backman, L., Lindenberger, U., Schaefer, S., & Schmiedek, F. (2010). A theoretical framework for the study of adult cognitive plasticity. Psychological Bulletin, 136(6), 1073-1098.

Lupien, S. J., Maheu, F., Tu, M., Fiocco, E., & Schramek, T. E. (2007). The effects of stress throughout the lifespan on the brain and cognition: the importance of time of exposure. Brain and Cognition, 65(2), 183-193.

Ochsner, K. N., & Gross, J. J. (2004). Thinking makes it so: a social cognitive neuroscience approach to emotion regulation. Handbook of Affective Sciences, 67, 85-98.

Pitman, R. K., Rasmusson, A. M., Koenen, K. C., Shin, L. M., & Orr, S. P. (2012). Biological markers of posttraumatic stress disorder and their clinical implications. Dialogues in Clinical Neuroscience, 14(3), 291-304.

Shin, L. M., Whalen, P. J., Pitman, R. K., Bush, G., Macklin, M. L., Lasko, N. B., ... & Rauch, S. L. (2004). An fMRI study of amygdala and medial prefrontal cortex responses to fearful faces in posttraumatic stress disorder. Archives of General Psychiatry, 61(7), 682-692.

Starcke, K., & Brand, M. (2012). Decision making under stress: A review. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 36(5), 1227-1244.

Tang, Y. Y., Hölzel, B. K., & Posner, M. I. (2015). The neuroscience of mindfulness meditation. Nature Reviews Neuroscience, 16(4), 213-225.

Walker, M. P. (2017). Why We Sleep: Unlocking the Power of Sleep and Dreams. Scribner.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Salahkan 'Lupa' atau 'Gak Fokus'! Otak Anda Cuma Keracunan Hormon Stres!

  Ilustrasi stres (Pexels.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernah merasa otak macet di tengah deadline ? Atau tiba-tiba lupa nama rekan kerja padahal baru ngobrol semenit yang lalu? Jangan langsung vonis diri Rekan PSAK pikun dini atau kurang minum kopi. Bisa jadi, ini adalah ulah kortisol , hormon stres utama yang, kalau kadarnya ketinggian, bisa bikin fungsi otak Rekan PSAK amburadul! Kita sering menganggap stres hanya sebatas "perasaan," tapi sebenarnya stres itu punya jejak kimiawi di tubuh kita. Dan salah satu pemain utamanya adalah kortisol. Hormon ini sering dijuluki "hormon stres," tapi sebenarnya dia punya banyak peran penting lain, seperti mengatur metabolisme, tekanan darah, bahkan sistem kekebalan tubuh. Masalahnya muncul ketika kortisol dilepaskan secara berlebihan dan terus-menerus. Kortisol: Pahlawan atau Pengkhianat? Bayangkan kortisol sebagai alarm darurat tubuh Rekan PSAK. Ketika Rekan PSAK menghadapi situasi yang dianggap berbahaya...

Stres Bikin Kamu Jadi Psikopat? Kenapa Otakmu Membenci Kolaborasi Saat Tertekan!

Ilustrasi kolaborasi (Pexels.com)   Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAK merasa lebih cepat marah, susah memahami perasaan orang lain, atau bahkan malas berinteraksi saat deadline menumpuk atau hidup lagi ribet-ribetnya? Jangan khawatir, Rekan PSAK tidak sendiri. Fenomena ini bukan karena Rekan PSAK tiba-tiba jadi jahat, melainkan ada drama besar yang sedang dimainkan di dalam otak Rekan PSAK. Ya, kita akan bedah dari kacamata neurosains bagaimana stres bisa bikin empati dan kemampuan kolaborasi kita terjun bebas, serta kenapa membangun koneksi sosial itu justru jadi "tameng" paling ampuh. Artikel ini sangat relevan untuk dinamika tim di tempat kerja Rekan PSAK! Saat Stres Menyerang: Kenapa Kita Jadi "Egois"? Bayangkan ini: Rekan PSAK sedang dikejar deadline pekerjaan atau menghadapi masalah pribadi yang berat. Tiba-tiba, rekan kerja Rekan PSAK datang dengan cerita masalahnya. Respon pertama Rekan PSAK? Mungkin bukan simpati mendalam, me...

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...