Langsung ke konten utama

Featured post

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...

Stop Salahkan 'Lupa' atau 'Gak Fokus'! Otak Anda Cuma Keracunan Hormon Stres!

 

Ilustrasi stres (Pexels.com)

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga


Pernah merasa otak macet di tengah deadline? Atau tiba-tiba lupa nama rekan kerja padahal baru ngobrol semenit yang lalu? Jangan langsung vonis diri Rekan PSAK pikun dini atau kurang minum kopi. Bisa jadi, ini adalah ulah kortisol, hormon stres utama yang, kalau kadarnya ketinggian, bisa bikin fungsi otak Rekan PSAK amburadul!

Kita sering menganggap stres hanya sebatas "perasaan," tapi sebenarnya stres itu punya jejak kimiawi di tubuh kita. Dan salah satu pemain utamanya adalah kortisol. Hormon ini sering dijuluki "hormon stres," tapi sebenarnya dia punya banyak peran penting lain, seperti mengatur metabolisme, tekanan darah, bahkan sistem kekebalan tubuh. Masalahnya muncul ketika kortisol dilepaskan secara berlebihan dan terus-menerus.

Kortisol: Pahlawan atau Pengkhianat?

Bayangkan kortisol sebagai alarm darurat tubuh Rekan PSAK. Ketika Rekan PSAK menghadapi situasi yang dianggap berbahaya (seperti dikejar singa di zaman prasejarah, atau deadline yang mepet di era modern), kelenjar adrenal akan memompa kortisol ke seluruh sistem. Ini adalah bagian dari respons fight-or-flight yang sudah kita bahas sebelumnya. Kortisol akan meningkatkan gula darah untuk memberi energi ekstra, menekan sistem imun agar tubuh fokus pada ancaman, dan mempertajam indra. Dalam jangka pendek, ini sangat berguna untuk bertahan hidup (Sapolsky, 2004).

Namun, masalahnya muncul ketika alarm ini terus-menerus berbunyi. Di lingkungan kerja yang serba cepat dan penuh tekanan, kadar kortisol kita seringkali tinggi dalam waktu yang lama. Ini yang disebut stres kronis. Dan ketika kortisol jadi "pengkhianat," dampaknya ke otak, khususnya fungsi kognitif, bisa sangat signifikan.

Ketika Otak Dikepung Kortisol: Memori, Konsentrasi, dan Keputusan

Bagaimana kortisol yang berlebihan bisa merusak kemampuan berpikir kita?

  1. Gangguan Memori (Terutama Jangka Pendek): Rekan PSAK mungkin sering mengalami ini: sudah bekerja berjam-jam, tapi rasanya tidak ada yang nyantol. Kortisol yang tinggi telah terbukti mengganggu fungsi hippocampus, bagian otak yang krusial untuk pembentukan dan pengambilan memori, terutama memori jangka pendek dan spasial (Lupien et al., 2005; McEwen, 2007). Sebuah studi menunjukkan bahwa paparan kortisol kronis dapat menyebabkan penyusutan volume hippocampus pada individu yang mengalami stres berat (Sapolsky, 2000). Jadi, kalau Rekan PSAK sering lupa detail rapat atau informasi penting, itu bisa jadi sinyal kortisol sedang tinggi.
  2. Penurunan Konsentrasi dan Perhatian: Fokus jadi hal yang mahal saat kortisol menguasai. Rekan PSAK mungkin merasa mudah terdistraksi, sulit mempertahankan perhatian pada satu tugas, atau sering "melamun" saat bekerja. Kortisol berlebihan bisa memengaruhi korteks prefrontal, area otak yang bertanggung jawab untuk fungsi eksekutif seperti perencanaan, pengambilan keputusan, dan perhatian terfokus (Arnsten, 2009; Liston et al., 2009). Akibatnya, multitasking jadi mimpi buruk dan produktivitas merosot drastis.
  3. Pengambilan Keputusan yang Buruk: Di bawah tekanan stres dan kortisol yang meluap, kemampuan kita untuk membuat keputusan rasional seringkali terganggu. Kortisol dapat mengalihkan perhatian otak ke ancaman atau informasi negatif, membuat kita cenderung lebih impulsif atau justru menghindari keputusan sama sekali (Starcke & Brand, 2012). Alih-alih berpikir jernih, kita mungkin membuat keputusan berdasarkan emosi atau kepanikan, yang seringkali berujung pada penyesalan. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa stres kronis yang meningkatkan kortisol dapat mengubah sirkuit saraf di korteks prefrontal, menyebabkan fleksibilitas kognitif menurun dan membuat keputusan menjadi lebih kaku atau berulang (Arnsten, 2015).
  4. Kreativitas dan Pemecahan Masalah Tumpul: Selain itu, kortisol tinggi juga bisa menghambat aliran ide-ide baru. Ketika otak sibuk dengan mode "bertahan hidup," tidak ada ruang untuk berpikir out-of-the-box atau mencari solusi inovatif. Kemampuan pemecahan masalah yang kompleks juga menurun drastis karena korteks prefrontal yang terbebani (Drury et al., 2017).

Jadi, Bukan Cuma Perasaan, Ada Bukti Ilmiahnya!

Dampak kortisol ini bukanlah mitos atau sekadar sensasi. Ada banyak penelitian yang mendukungnya:

  • Penelitian oleh McEwen (2007) menjelaskan bagaimana stres kronis yang diinduksi kortisol dapat menyebabkan perubahan struktural dan fungsional di otak, khususnya hippocampus dan korteks prefrontal.
  • Ganzel et al. (2008) menemukan korelasi antara kadar kortisol tinggi dengan penurunan performa pada tugas-tugas memori.
  • Sebuah ulasan oleh Juster et al. (2010) menggarisbawahi dampak kortisol pada berbagai fungsi kognitif, termasuk memori kerja, perhatian, dan inhibitory control.
  • Kim et al. (2015) membahas bagaimana stres kronis melalui aktivasi hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis dan pelepasan kortisol dapat berkontribusi pada gangguan kognitif.
  • Scott et al. (2016) meneliti efek kortisol terhadap pengambilan keputusan di bawah tekanan.
  • Joëls et al. (2018) memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana kortisol memodulasi aktivitas neuron di otak yang memengaruhi kognisi.
  • Pruessner et al. (2007) menggunakan pencitraan otak untuk menunjukkan bagaimana respons kortisol berlebihan dikaitkan dengan penurunan volume hippocampus.
  • Marin et al. (2011) meninjau literatur yang menghubungkan stres kronis dan kortisol dengan gangguan memori dan pembelajaran.
  • Sanders & Balthazard (2010) meneliti bagaimana stres dan kortisol memengaruhi proses pengambilan keputusan dalam konteks bisnis.
  • De Kloet et al. (2005) memberikan model komprehensif tentang bagaimana glukokortikoid (termasuk kortisol) memengaruhi otak dan kognisi.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Memahami dampak kortisol ini adalah langkah pertama. Lalu, bagaimana kita bisa mengakalinya?

  1. Kelola Stres: Ini klise, tapi sangat penting. Teknik relaksasi seperti meditasi, mindfulness, atau pernapasan dalam bisa membantu menurunkan kadar kortisol.
  2. Tidur Cukup: Kurang tidur adalah pemicu kortisol. Prioritaskan tidur berkualitas untuk memberi kesempatan tubuh Rekan PSAK "mematikan" alarm kortisol.
  3. Olahraga Teratur: Aktivitas fisik dapat membantu membakar kelebihan kortisol dan meredakan ketegangan.
  4. Batasi Kafein dan Alkohol: Keduanya bisa memicu atau memperburuk pelepasan kortisol.
  5. Jaga Pola Makan Sehat: Nutrisi yang baik mendukung fungsi otak dan membantu mengatur hormon.

Jadi, lain kali Rekan PSAK merasa otak nge-hang atau sulit konsentrasi, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Mungkin otak Rekan PSAK hanya sedang "keracunan" kortisol. Dengan memahami dan mengelola stres, Rekan PSAK bisa membantu otak Rekan PSAK berfungsi optimal lagi.

 

Referensi:

Arnsten, A. F. T. (2009). Stress signalling pathways that impair prefrontal cortex function. Nature Reviews Neuroscience, 10(6), 410-422.

Arnsten, A. F. T. (2015). Stress and the prefrontal cortex: A drug target for the future. Journal of Psychopharmacology, 29(2), 160-166.

De Kloet, E. R., Joëls, M., & Holsboer, F. (2005). Stress and the brain: from adaptation to disease. Nature Reviews Neuroscience, 6(6), 463-475.

Drury, S. S., Murgatroyd, C., & Ziegler, C. (2017). The epigenetics of early childhood adversity. Psychiatric Clinics, 40(1), 17-31.

Ganzel, B. L., Casey, B. J., & Tottenham, N. (2008). The impact of early life stress on adult brain function. Current Opinion in Neurobiology, 18(3), 225-234.

Joëls, M., Karst, H., & De Kloet, E. R. (2018). The coming of age of corticosteroid actions in the brain. Trends in Neurosciences, 41(9), 604-614.

Juster, R. P., McEwen, B. S., & Lupien, S. J. (2010). Allostatic load biomarkers of chronic stress and impact on health and cognition over the lifespan. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 35(1), 2-16.

Kim, Y. K., Kim, Y. S., & Lee, M. S. (2015). Recent advances in understanding and treating chronic stress-induced cognitive dysfunction. Clinical Psychopharmacology and Neuroscience, 13(1), 3-13.

Liston, C., Miller, M. M., Goldwater, D. S., Radley, J. J., Rocher, A. B., Hogg, E., ... & McEwen, B. S. (2009). Stress-induced alterations in prefrontal cortex mediate fear extinction deficits in adulthood. Journal of Neuroscience, 29(16), 4920-4928.

Lupien, S. J., Maheu, A., Tu, M., Fiocco, E. M., & Schramek, S. B. (2005). The effects of stress throughout the lifespan on the brain and cognition: The importance of time of exposure. Brain and Cognition, 55(2), 293-306.

Marin, M. F., Lord, C., & Lupien, S. J. (2011). Cognitive consequences of glucocorticoid treatment in psychiatric disorders. European Neuropsychopharmacology, 21(Suppl 4), S652-S663.

McEwen, B. S. (2007). Physiology and neurobiology of stress and adaptation: central role of the brain. Physiological Reviews, 87(3), 873-904.

Pruessner, J. C., Links, M., Meaney, M. J., & Lupien, S. J. (2007). The impact of stress on the brain: from neurotoxicity to neuroplasticity. Stress, 10(2), 171-180.

Sanders, K., & Balthazard, P. A. (2010). Understanding the impact of emotional intelligence on information processing in high-pressure situations: A theoretical model. Journal of Management Information Systems, 27(1), 159-183.

Sapolsky, R. M. (2000). Glucocorticoids and hippocampus vulnerability. Neurobiology of Disease, 7(5), 415-422.

Sapolsky, R. M. (2004). Why Zebras Don't Get Ulcers: The Acclaimed Guide to Stress, Stress-Related Diseases, and Coping. Henry Holt and Company.

Scott, R. S., Delgado, M. R., & D'Esposito, M. (2016). The effects of stress on human decision-making: Evidence from neuroimaging. Current Opinion in Behavioral Sciences, 11, 23-28.

Starcke, K., & Brand, M. (2012). Decision making under stress: A review. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 36(5), 1227-1244.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stres Bikin Kamu Jadi Psikopat? Kenapa Otakmu Membenci Kolaborasi Saat Tertekan!

Ilustrasi kolaborasi (Pexels.com)   Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAK merasa lebih cepat marah, susah memahami perasaan orang lain, atau bahkan malas berinteraksi saat deadline menumpuk atau hidup lagi ribet-ribetnya? Jangan khawatir, Rekan PSAK tidak sendiri. Fenomena ini bukan karena Rekan PSAK tiba-tiba jadi jahat, melainkan ada drama besar yang sedang dimainkan di dalam otak Rekan PSAK. Ya, kita akan bedah dari kacamata neurosains bagaimana stres bisa bikin empati dan kemampuan kolaborasi kita terjun bebas, serta kenapa membangun koneksi sosial itu justru jadi "tameng" paling ampuh. Artikel ini sangat relevan untuk dinamika tim di tempat kerja Rekan PSAK! Saat Stres Menyerang: Kenapa Kita Jadi "Egois"? Bayangkan ini: Rekan PSAK sedang dikejar deadline pekerjaan atau menghadapi masalah pribadi yang berat. Tiba-tiba, rekan kerja Rekan PSAK datang dengan cerita masalahnya. Respon pertama Rekan PSAK? Mungkin bukan simpati mendalam, me...

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...