Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Featured post

Work From Home Bisa Merusak Kesehatan Mental? Ini Penjelasan Neurosainsnya

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Banyak orang mengira bekerja dari rumah ( work from home ) atau sistem hybrid adalah anugerah terbesar bagi pekerja di Jabodetabek. Tidak ada lagi drama macet di Sudirman, tidak perlu berdesakan di KRL Commuter Line pagi hari, dan bisa bekerja sambil mengenakan celana piyama. Namun, sebagai seorang pemerhati neurosains dan psikologi, saya ingin melemparkan sebuah kenyataan pahit yang mungkin tidak ingin Anda dengar: Bekerja dari kamar tamu atau meja makan Anda sebenarnya sedang menciptakan "kebakaran" di dalam sirkuit otak Anda yang jauh lebih berbahaya daripada polusi Jakarta. Kebebasan yang Anda rasakan itu semu. Tanpa disadari, dinding rumah Anda kini telah berubah menjadi dinding kantor yang tidak pernah tutup. Inilah yang disebut dengan jebakan boundary blurring atau pengikisan batas antara kehidupan profesional dan personal yang diperparah oleh technostress . Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Mod...

DETEKSI DINI STRES DIRI AKIBAT PANDEMI CORONA

Ketika Rumah yang Dulu Nyaman Mulai Terasa Menyesakkan “Gue stres! Di rumah terus, lihat tembok, tembok, dan tembok lagi!” “Pengen nongkrong sama teman, makan bakso langganan, tapi nggak bisa ke mana-mana.” “Pelanggan sepi, pemasukan turun, sementara tagihan terus datang.” Kalimat-kalimat seperti itu sangat sering terdengar ketika pandemi COVID-19 mencapai puncaknya pada tahun 2020–2022. Banyak orang yang sebelumnya aktif bekerja, bersosialisasi, dan beraktivitas di luar rumah mendadak harus membatasi geraknya demi mencegah penyebaran virus. Kondisi tersebut ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Bahkan bagi sebagian orang, tekanan psikologis akibat pandemi terasa lebih berat dibandingkan ancaman penyakit itu sendiri. Pandemi mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Aktivitas kerja berubah menjadi work from home (WFH), sekolah dilakukan secara daring, kegiatan ibadah dibatasi, dan berbagai bentuk interaksi sosial berkurang drastis. Pe...

WEBINAR NGABUBURIT KAJIAN RAMADHAN: KENALI GEJALA STRES AKIBAT PANDEMI CORONA

KENALI GEJALA STRES AKIBAT PANDEMI CORONA SEBELUM TERLAMBAT

Pandemi yang Mengubah Segalanya Ketika pandemi COVID-19 pertama kali muncul pada awal tahun 2020, sebagian besar masyarakat fokus pada dampak fisiknya. Berita mengenai angka penularan, kematian, rumah sakit yang penuh, hingga penggunaan masker menjadi konsumsi sehari-hari. Namun seiring berjalannya waktu, dunia menyadari bahwa pandemi tidak hanya menyerang kesehatan fisik. Ada dampak lain yang jauh lebih tersembunyi, tetapi tidak kalah berbahaya, yaitu gangguan kesehatan mental. Rasa takut tertular, kehilangan pekerjaan, pembatasan aktivitas sosial, kesepian, ketidakpastian ekonomi, hingga kehilangan orang-orang yang dicintai menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa. Banyak orang yang sebelumnya sehat secara mental mulai mengalami kecemasan, stres, gangguan tidur, bahkan depresi. Menurut World Health Organization (WHO), pandemi COVID-19 menyebabkan meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan mental di berbagai negara. Pada saat yang sama, banyak layanan kesehatan jiwa justru mengala...

Stres Bisa Menurunkan Produktivitas: Kenali Tanda-Tandanya Sebelum Terlambat

“Gue Stres!” Kalimat yang Semakin Sering Kita Dengar “Gue stres!” Kalimat tersebut mungkin menjadi salah satu ungkapan yang paling sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Di kantor, kampus, rumah, bahkan di media sosial, banyak orang menggunakan kata stres untuk menggambarkan kondisi ketika mereka merasa lelah, tertekan, kewalahan, atau kehilangan semangat. Terlebih di saat Pandemi Corona.  Menariknya, stres sebenarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Dalam kadar tertentu, stres dapat membantu seseorang lebih fokus dan termotivasi untuk menyelesaikan tugas. Namun ketika tekanan berlangsung terlalu lama dan tidak dikelola dengan baik, stres dapat berubah menjadi masalah yang serius, baik bagi kesehatan fisik maupun mental. Di era digital saat ini, sumber stres juga semakin beragam. Tidak hanya berasal dari pekerjaan atau masalah keluarga, tetapi juga dari media sosial, tuntutan pencapaian hidup, kondisi ekonomi, hingga banjir informasi yang terus menerus masuk ke dalam pikiran...