Langsung ke konten utama

Featured post

Work From Home Bisa Merusak Kesehatan Mental? Ini Penjelasan Neurosainsnya

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Banyak orang mengira bekerja dari rumah ( work from home ) atau sistem hybrid adalah anugerah terbesar bagi pekerja di Jabodetabek. Tidak ada lagi drama macet di Sudirman, tidak perlu berdesakan di KRL Commuter Line pagi hari, dan bisa bekerja sambil mengenakan celana piyama. Namun, sebagai seorang pemerhati neurosains dan psikologi, saya ingin melemparkan sebuah kenyataan pahit yang mungkin tidak ingin Anda dengar: Bekerja dari kamar tamu atau meja makan Anda sebenarnya sedang menciptakan "kebakaran" di dalam sirkuit otak Anda yang jauh lebih berbahaya daripada polusi Jakarta. Kebebasan yang Anda rasakan itu semu. Tanpa disadari, dinding rumah Anda kini telah berubah menjadi dinding kantor yang tidak pernah tutup. Inilah yang disebut dengan jebakan boundary blurring atau pengikisan batas antara kehidupan profesional dan personal yang diperparah oleh technostress . Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Mod...

Stres Bisa Menurunkan Produktivitas: Kenali Tanda-Tandanya Sebelum Terlambat


“Gue Stres!” Kalimat yang Semakin Sering Kita Dengar

“Gue stres!”

Kalimat tersebut mungkin menjadi salah satu ungkapan yang paling sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Di kantor, kampus, rumah, bahkan di media sosial, banyak orang menggunakan kata stres untuk menggambarkan kondisi ketika mereka merasa lelah, tertekan, kewalahan, atau kehilangan semangat. Terlebih di saat Pandemi Corona. 

Menariknya, stres sebenarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Dalam kadar tertentu, stres dapat membantu seseorang lebih fokus dan termotivasi untuk menyelesaikan tugas. Namun ketika tekanan berlangsung terlalu lama dan tidak dikelola dengan baik, stres dapat berubah menjadi masalah yang serius, baik bagi kesehatan fisik maupun mental.

Di era digital saat ini, sumber stres juga semakin beragam. Tidak hanya berasal dari pekerjaan atau masalah keluarga, tetapi juga dari media sosial, tuntutan pencapaian hidup, kondisi ekonomi, hingga banjir informasi yang terus menerus masuk ke dalam pikiran kita.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024), stres merupakan kondisi yang muncul ketika seseorang menghadapi tantangan atau perubahan yang mengharuskannya beradaptasi secara cepat. Sementara UNICEF Indonesia menjelaskan bahwa stres adalah perasaan yang muncul ketika seseorang merasa berada di bawah tekanan atau kewalahan menghadapi suatu situasi.

Baca juga: Stres dari Perspektif Psychoneuroimmunology

Ilustrasi stres di tempat kerja


Apa Itu Stres dan Mengapa Bisa Terjadi?

Secara sederhana, stres adalah respons alami tubuh terhadap tekanan.

Ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau menantang, tubuh akan mengaktifkan sistem pertahanan. Hormon seperti adrenalin dan kortisol dilepaskan ke dalam aliran darah sehingga tubuh menjadi lebih waspada.

Menurut Alodokter (2025), saat stres terjadi, detak jantung meningkat, tekanan darah naik, napas menjadi lebih cepat, dan otot menjadi lebih tegang. Respons ini sebenarnya dirancang untuk membantu manusia bertahan dalam situasi berbahaya. 

Masalah muncul ketika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus.

Tekanan pekerjaan yang tidak kunjung selesai, konflik dalam keluarga, masalah keuangan, kurang tidur, serta tuntutan sosial dapat membuat tubuh terus berada dalam kondisi siaga. Akibatnya, energi terkuras dan berbagai gangguan kesehatan mulai bermunculan.

Fenomena Stres di Indonesia: Angkanya Tidak Bisa Diabaikan

Masalah stres dan kesehatan mental semakin menjadi perhatian di Indonesia.

Data yang dipublikasikan oleh GoodStats pada tahun 2025 menunjukkan bahwa tingkat stres masyarakat Indonesia berada pada skor 51,64 dan menempatkan Indonesia pada peringkat ketujuh tertinggi di kawasan ASEAN. 

Sementara itu, Basrowi dan kolega (2024) melaporkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional di Indonesia meningkat dari 6% pada tahun 2013 menjadi 9,8% pada tahun 2018. Angka tersebut diperkirakan memengaruhi lebih dari 19 juta penduduk Indonesia.

Penelitian lain menunjukkan bahwa beban ekonomi akibat gangguan kecemasan dan depresi di Indonesia mencapai sekitar Rp463 triliun per tahun atau setara dengan 2,1% Produk Domestik Bruto (PDB). Menariknya, sekitar 88,5% kerugian tersebut berasal dari hilangnya produktivitas tenaga kerja.

Data ini menunjukkan bahwa stres bukan hanya masalah individu, tetapi juga berdampak pada produktivitas nasional.

Baca juga: Deteksi Dini Stres dan Depresi

Hasil Observasi Media Sosial: Banyak Orang Terlihat “Baik-Baik Saja”, Padahal Tidak

Jika kita mengamati berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), dan Threads selama beberapa tahun terakhir, terdapat pola yang menarik.

Tagar seperti #burnout, #healing, #capekkerja, #mentalhealth, #quarterlifecrisis, dan #worklifebalance sering kali mendapatkan ribuan hingga jutaan interaksi.

Banyak pengguna media sosial yang menceritakan:

  • Sulit tidur karena memikirkan pekerjaan.

  • Merasa cemas saat menerima notifikasi dari atasan.

  • Kehilangan motivasi bekerja.

  • Merasa hidup hanya berputar antara bekerja dan tidur.

  • Merasa tertinggal karena melihat pencapaian orang lain.

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan tekanan psikologis yang mereka alami. Namun di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi sumber stres baru melalui budaya perbandingan sosial (social comparison).

Melihat teman sebaya membeli rumah, menikah, memperoleh promosi jabatan, atau berlibur ke luar negeri sering kali membuat seseorang merasa hidupnya kurang berhasil, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian.

Baca juga: Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Bagaimana Stres Menurunkan Produktivitas?

Fokus Menurun

Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, otak akan lebih sulit berkonsentrasi.

Pikiran menjadi mudah terdistraksi dan sulit memprioritaskan pekerjaan. Akibatnya, tugas yang seharusnya selesai dalam satu jam dapat memakan waktu jauh lebih lama.

Kualitas Keputusan Memburuk

Stres juga memengaruhi kemampuan berpikir rasional.

Orang yang mengalami tekanan tinggi cenderung membuat keputusan secara impulsif atau justru terlalu lama dalam mengambil keputusan karena takut melakukan kesalahan.

Energi Cepat Habis

Tubuh yang terus-menerus berada dalam kondisi siaga akan menguras energi lebih cepat.

Akibatnya seseorang mudah lelah, mengantuk, dan kehilangan motivasi untuk menyelesaikan pekerjaan.

Meningkatkan Risiko Kesalahan

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres yang tinggi berkorelasi dengan penurunan produktivitas kerja.

Penelitian Bui dan kolega (2021) menemukan adanya hubungan negatif antara tingkat stres dan produktivitas. Semakin tinggi tingkat stres seseorang, semakin rendah produktivitas yang ditampilkan. 

Temuan serupa juga dijelaskan dalam berbagai studi mengenai stres kerja yang menunjukkan bahwa tekanan pekerjaan berlebihan dapat menurunkan performa, kesehatan fisik, dan kualitas hasil kerja. 

Baca juga: VITAMIN B DAN DEPRESI

Tanda-Tanda Tubuh Sedang Mengalami Stres

Gejala Fisik

Beberapa gejala fisik yang sering muncul antara lain:

  • Jantung berdebar-debar.

  • Berkeringat berlebihan.

  • Mulut terasa kering.

  • Napas menjadi lebih cepat.

  • Mudah lelah.

  • Nyeri kepala.

  • Gangguan tidur.

Gejala Emosional

Pada aspek emosional, stres sering ditandai dengan:

  • Mudah marah.

  • Merasa sedih tanpa sebab yang jelas.

  • Cemas berlebihan.

  • Gelisah.

  • Sulit merasa tenang.

Gejala Perilaku

Sementara itu, perubahan perilaku dapat berupa:

  • Menunda pekerjaan.

  • Menarik diri dari lingkungan sosial.

  • Menurunnya produktivitas.

  • Pola makan berubah drastis.

  • Meningkatnya konsumsi rokok atau kafein.

Menurut Alodokter (2025), gejala-gejala tersebut muncul karena tubuh melepaskan hormon stres secara terus-menerus sehingga memengaruhi hampir seluruh sistem tubuh.

Baca juga: KENALI GEJALA STRES AKIBAT PANDEMI CORONA SEBELUM TERLAMBAT

Contoh Kasus: Ketika Stres Membuat Produktivitas Anjlok

Kasus “Rina” (Nama Disamarkan)

Rina, 29 tahun, bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Awalnya ia dikenal sebagai karyawan yang rajin dan disiplin. Namun setelah perusahaannya menerapkan target baru yang lebih tinggi, jam kerja Rina menjadi semakin panjang.

Dalam tiga bulan terakhir, ia mulai mengalami kesulitan tidur. Setiap malam pikirannya dipenuhi daftar pekerjaan yang belum selesai. Ketika bangun pagi, tubuhnya terasa lelah meskipun sudah tidur selama tujuh jam.

Di kantor, Rina mulai sering melakukan kesalahan sederhana seperti salah menginput data dan lupa mengirim dokumen penting. Ia juga menjadi lebih sensitif terhadap kritik dari rekan kerja.

Karena merasa tidak sanggup lagi, Rina akhirnya berkonsultasi dengan psikolog. Dari hasil asesmen diketahui bahwa ia mengalami stres kerja yang cukup berat dan mulai menunjukkan gejala burnout.

Setelah menjalani konseling, mengatur ulang pola kerja, memperbaiki pola tidur, serta mengambil cuti singkat, kondisi Rina perlahan membaik.

Kasus seperti ini banyak ditemukan pada pekerja perkotaan dan sering kali tidak disadari hingga produktivitas menurun drastis.

Ketika Stres Menjadi Gangguan yang Lebih Serius

Dari Stres Menjadi Burnout

Jika tidak ditangani, stres berkepanjangan dapat berkembang menjadi burnout.

Burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat tekanan yang berlangsung terus-menerus.

Gejalanya meliputi:

  • Kehilangan motivasi.

  • Merasa sinis terhadap pekerjaan.

  • Penurunan performa kerja.

  • Kelelahan ekstrem.

Risiko Terhadap Kesehatan Fisik

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres kronis berhubungan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, diabetes, gangguan metabolik, dan berbagai masalah kesehatan lainnya. (CDC)

Artinya, mengabaikan stres bukan hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga kesehatan fisik dalam jangka panjang.

Analisis: Mengapa Stres Semakin Banyak Terjadi Saat Ini?

Tuntutan Kerja yang Meningkat

Perubahan dunia kerja membuat banyak orang harus bekerja lebih cepat, lebih fleksibel, dan lebih kompetitif dibandingkan sebelumnya.

Teknologi yang Tidak Pernah Berhenti

Teknologi memang membantu pekerjaan menjadi lebih mudah. Namun pada saat yang sama, notifikasi yang datang tanpa henti membuat banyak orang merasa selalu harus tersedia selama 24 jam.

Fenomena ini dikenal sebagai technostress, yaitu stres yang muncul akibat penggunaan teknologi yang berlebihan. Penelitian Atrian dan Ghobbeh (2023) menunjukkan bahwa tekanan untuk terus terhubung dan beradaptasi dengan teknologi baru dapat menurunkan performa kerja serta meningkatkan kecemasan.

Ketidakseimbangan Kehidupan dan Pekerjaan

Banyak pekerja kesulitan memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi. Akibatnya tubuh kehilangan kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan energi.

Laporan IOSH tahun 2026 menunjukkan bahwa berbagai program kesejahteraan karyawan tidak akan efektif apabila akar masalah seperti beban kerja berlebihan dan budaya kerja yang tidak sehat tidak ikut diperbaiki.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kenali Tanda-Tandanya Sejak Awal

Jangan menunggu hingga kondisi menjadi parah.

Jika mulai sering merasa lelah, sulit tidur, mudah marah, atau kehilangan motivasi, cobalah mengevaluasi kondisi diri.

Perbaiki Pola Hidup

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

  • Tidur yang cukup.

  • Mengurangi konsumsi kafein berlebihan.

  • Berolahraga secara rutin.

  • Mengatur pola makan yang sehat.

  • Mengurangi paparan media sosial jika diperlukan.

Berani Meminta Bantuan

Tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog apabila tekanan yang dirasakan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Deteksi dini sering kali menjadi langkah terbaik untuk mencegah masalah berkembang menjadi lebih serius.

Kesimpulan

Stres adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Namun ketika stres berlangsung terlalu lama dan tidak dikelola dengan baik, dampaknya dapat sangat luas, mulai dari menurunnya produktivitas, terganggunya hubungan sosial, hingga munculnya berbagai penyakit fisik dan mental.

Di Indonesia, masalah stres dan kesehatan mental semakin menjadi perhatian karena jumlah kasusnya terus meningkat dan berdampak langsung pada produktivitas masyarakat. Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda stres sejak dini merupakan langkah penting untuk menjaga kualitas hidup.

Ingat, produktivitas yang tinggi tidak hanya berasal dari kerja keras, tetapi juga dari kondisi mental yang sehat. Ketika tubuh dan pikiran berada dalam keadaan seimbang, kita dapat bekerja, berkarya, dan menjalani hidup dengan lebih optimal.

Referensi

Alodokter. (2025). Stres: Gejala, penyebab, dan pengobatanhttps://www.alodokter.com/stres

Arulsamy, K., Effendy, E., Mardhiyah, S., Amin, M. M., Husada, M. S., Camellia, V., ... & Finkelstein, E. A. (2025). The economic burden of anxiety and depression in Indonesia: evidence from a cross-sectional web panel survey. Frontiers in Public Health, 13, 1667726. https://www.frontiersin.org/journals/public-health/articles/10.3389/fpubh.2025.1667726/pdf

Basrowi, R. W., Wiguna, T., Samah, K., Moeloek, N. D. F., Soetrisno, M., Purwanto, S. A., ... & Pelangi, B. (2024). Exploring mental health issues and priorities in Indonesia through qualitative expert consensus. Clinical Practice and Epidemiology in Mental Health: CP & EMH, 20, e17450179331951. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11748059/

Bui, T., Zackula, R., Dugan, K., & Ablah, E. (2021). Workplace stress and productivity: a cross-sectional study. Kansas journal of medicine, 14(1), 42. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7889069/pdf/14-42.pdf

GoodStats. (2025). Tingkat stres publik Indonesia ada di urutan ke-7 se-ASEANhttps://data.goodstats.id/statistic/tingkat-stress-publik-indonesia-ada-di-urutan-ke-7-se-asean-RGaiK

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Apa itu stres? https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-stres

UNICEF Indonesia. (2024). Apa itu stres? https://www.unicef.org/indonesia/id/kesehatan-mental/artikel/stres#:~:text=Stres%20adalah%20perasaan%20yang%20umumnya,seperti%20mengerjakan%20tes%20atau%20berpidato.

VandenBos, G. R. (Ed.). (2007). APA dictionary of psychology (2nd ed.). American Psychological Association. https://psycnet.apa.org/record/2006-11044-000

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Macet Jabodetabek atau Beban Kerja? Menguak Akar Lelah Mental Pekerja Urban

  Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda merasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan dua jam dari Bekasi ke Sudirman, lalu sesampainya di meja kantor, Anda hanya menatap layar kosong selama 30 menit? Banyak dari kita menyalahkan kemacetan Jakarta yang legendaris sebagai biang keladi kelelahan ini. Namun, sebagai pemerhati neurosains yang sering menangani kasus kesehatan mental pekerja, saya ingin melemparkan sebuah pernyataan kontroversial: Macet Jabodetabek mungkin hanyalah kambing hitam yang nyaman untuk menyembunyikan kenyataan bahwa lingkungan kerja Anda sebenarnya sedang "merusak" fungsi otak Anda. Kita sering terjebak dalam mitos bahwa jika perjalanan komuter kita lebih singkat, kita akan lebih bahagia. Padahal, kelelahan yang Anda rasakan bukanlah sekadar "capek fisik" biasa, melainkan sinyal dari kondisi klinis yang jauh lebih serius. Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Modern: Tinjauan Neurosains terhadap...

Neuroleadership: Mengelola Tim dengan Kecerdasan Otak

  Foto: Pexels Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda merasa bahwa beberapa pemimpin dapat membaca suasana hati tim mereka dengan sangat baik? Atau bahwa mereka mampu menyelesaikan masalah dengan efisien meskipun berada di bawah tekanan tinggi? Kunci dari kemampuan ini mungkin terletak pada bagaimana pemimpin memahami dan memanfaatkan otak mereka. Konsep neuroleadership, yang mengintegrasikan temuan neuroscience ke dalam kepemimpinan, memberi kita wawasan penting tentang bagaimana pemahaman terhadap fungsi otak, khususnya prefrontal cortex dan sistem neuron cermin, dapat meningkatkan kolaborasi, empati, dan kemampuan kepemimpinan dalam lingkungan kerja yang dinamis, termasuk di sektor pendidikan. Salah satu komponen utama dalam neuroleadership adalah pemahaman terhadap prefrontal cortex , bagian otak yang terlibat dalam pengambilan keputusan, pengaturan emosi, dan pemecahan masalah. Di dunia kerja yang penuh dengan tekanan waktu dan tantangan yang terus berkembang, ke...

Cognitive Distortion dan Neuroscience of Burnout: Studi Literatur tentang Brain Fog, Emotional Exhaustion, dan Toxic Productivity pada Generasi Produktif

  Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Abstrak Burnout dalam ekosistem kerja kontemporer telah bertransformasi dari sekadar fenomena kelelahan okupasional menjadi krisis neurokognitif yang sistemik. Artikel ini mengeksplorasi hubungan kausalitas antara pola pikir maladaptif (distorsi kognitif) dengan mekanisme neurobiologis yang mendasari burnout pada generasi produktif, khususnya Milenial dan Generasi Z. Melalui tinjauan literatur kualitatif, ditemukan bahwa distorsi kognitif bertindak sebagai katalisator bagi disregulasi aksis hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) dan hiperaktivitas amigdala. Secara struktural, kondisi ini berkorelasi dengan penipisan materi abu-abu pada prefrontal cortex (PFC) dan penyusutan striatum, yang bermanifestasi secara klinis melalui emotional exhaustion, brain fog, dan fenomena dopamine depletion. Studi ini juga menyoroti bagaimana budaya hustle culture memperparah kondisi ini dengan menciptakan lingkaran setan toxic productivity. Implikasi dari temu...