“Gue Stres!” Kalimat yang Semakin Sering Kita Dengar
“Gue stres!”
Kalimat tersebut mungkin menjadi salah satu ungkapan yang paling sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Di kantor, kampus, rumah, bahkan di media sosial, banyak orang menggunakan kata stres untuk menggambarkan kondisi ketika mereka merasa lelah, tertekan, kewalahan, atau kehilangan semangat. Terlebih di saat Pandemi Corona.
Menariknya, stres sebenarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Dalam kadar tertentu, stres dapat membantu seseorang lebih fokus dan termotivasi untuk menyelesaikan tugas. Namun ketika tekanan berlangsung terlalu lama dan tidak dikelola dengan baik, stres dapat berubah menjadi masalah yang serius, baik bagi kesehatan fisik maupun mental.
Di era digital saat ini, sumber stres juga semakin beragam. Tidak hanya berasal dari pekerjaan atau masalah keluarga, tetapi juga dari media sosial, tuntutan pencapaian hidup, kondisi ekonomi, hingga banjir informasi yang terus menerus masuk ke dalam pikiran kita.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024), stres merupakan kondisi yang muncul ketika seseorang menghadapi tantangan atau perubahan yang mengharuskannya beradaptasi secara cepat. Sementara UNICEF Indonesia menjelaskan bahwa stres adalah perasaan yang muncul ketika seseorang merasa berada di bawah tekanan atau kewalahan menghadapi suatu situasi.
Baca juga: Stres dari Perspektif Psychoneuroimmunology
![]() |
| Ilustrasi stres di tempat kerja |
Apa Itu Stres dan Mengapa Bisa Terjadi?
Secara sederhana, stres adalah respons alami tubuh terhadap tekanan.
Ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau menantang, tubuh akan mengaktifkan sistem pertahanan. Hormon seperti adrenalin dan kortisol dilepaskan ke dalam aliran darah sehingga tubuh menjadi lebih waspada.
Menurut Alodokter (2025), saat stres terjadi, detak jantung meningkat, tekanan darah naik, napas menjadi lebih cepat, dan otot menjadi lebih tegang. Respons ini sebenarnya dirancang untuk membantu manusia bertahan dalam situasi berbahaya.
Masalah muncul ketika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus.
Tekanan pekerjaan yang tidak kunjung selesai, konflik dalam keluarga, masalah keuangan, kurang tidur, serta tuntutan sosial dapat membuat tubuh terus berada dalam kondisi siaga. Akibatnya, energi terkuras dan berbagai gangguan kesehatan mulai bermunculan.
Fenomena Stres di Indonesia: Angkanya Tidak Bisa Diabaikan
Masalah stres dan kesehatan mental semakin menjadi perhatian di Indonesia.
Data yang dipublikasikan oleh GoodStats pada tahun 2025 menunjukkan bahwa tingkat stres masyarakat Indonesia berada pada skor 51,64 dan menempatkan Indonesia pada peringkat ketujuh tertinggi di kawasan ASEAN.
Sementara itu, Basrowi dan kolega (2024) melaporkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional di Indonesia meningkat dari 6% pada tahun 2013 menjadi 9,8% pada tahun 2018. Angka tersebut diperkirakan memengaruhi lebih dari 19 juta penduduk Indonesia.
Penelitian lain menunjukkan bahwa beban ekonomi akibat gangguan kecemasan dan depresi di Indonesia mencapai sekitar Rp463 triliun per tahun atau setara dengan 2,1% Produk Domestik Bruto (PDB). Menariknya, sekitar 88,5% kerugian tersebut berasal dari hilangnya produktivitas tenaga kerja.
Data ini menunjukkan bahwa stres bukan hanya masalah individu, tetapi juga berdampak pada produktivitas nasional.
Baca juga: Deteksi Dini Stres dan Depresi
Hasil Observasi Media Sosial: Banyak Orang Terlihat “Baik-Baik Saja”, Padahal Tidak
Jika kita mengamati berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), dan Threads selama beberapa tahun terakhir, terdapat pola yang menarik.
Tagar seperti #burnout, #healing, #capekkerja, #mentalhealth, #quarterlifecrisis, dan #worklifebalance sering kali mendapatkan ribuan hingga jutaan interaksi.
Banyak pengguna media sosial yang menceritakan:
Sulit tidur karena memikirkan pekerjaan.
Merasa cemas saat menerima notifikasi dari atasan.
Kehilangan motivasi bekerja.
Merasa hidup hanya berputar antara bekerja dan tidur.
Merasa tertinggal karena melihat pencapaian orang lain.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan tekanan psikologis yang mereka alami. Namun di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi sumber stres baru melalui budaya perbandingan sosial (social comparison).
Melihat teman sebaya membeli rumah, menikah, memperoleh promosi jabatan, atau berlibur ke luar negeri sering kali membuat seseorang merasa hidupnya kurang berhasil, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian.
Baca juga: Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh
Bagaimana Stres Menurunkan Produktivitas?
Fokus Menurun
Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, otak akan lebih sulit berkonsentrasi.
Pikiran menjadi mudah terdistraksi dan sulit memprioritaskan pekerjaan. Akibatnya, tugas yang seharusnya selesai dalam satu jam dapat memakan waktu jauh lebih lama.
Kualitas Keputusan Memburuk
Stres juga memengaruhi kemampuan berpikir rasional.
Orang yang mengalami tekanan tinggi cenderung membuat keputusan secara impulsif atau justru terlalu lama dalam mengambil keputusan karena takut melakukan kesalahan.
Energi Cepat Habis
Tubuh yang terus-menerus berada dalam kondisi siaga akan menguras energi lebih cepat.
Akibatnya seseorang mudah lelah, mengantuk, dan kehilangan motivasi untuk menyelesaikan pekerjaan.
Meningkatkan Risiko Kesalahan
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres yang tinggi berkorelasi dengan penurunan produktivitas kerja.
Penelitian Bui dan kolega (2021) menemukan adanya hubungan negatif antara tingkat stres dan produktivitas. Semakin tinggi tingkat stres seseorang, semakin rendah produktivitas yang ditampilkan.
Temuan serupa juga dijelaskan dalam berbagai studi mengenai stres kerja yang menunjukkan bahwa tekanan pekerjaan berlebihan dapat menurunkan performa, kesehatan fisik, dan kualitas hasil kerja.
Baca juga: VITAMIN B DAN DEPRESI
Tanda-Tanda Tubuh Sedang Mengalami Stres
Gejala Fisik
Beberapa gejala fisik yang sering muncul antara lain:
Jantung berdebar-debar.
Berkeringat berlebihan.
Mulut terasa kering.
Napas menjadi lebih cepat.
Mudah lelah.
Nyeri kepala.
Gangguan tidur.
Gejala Emosional
Pada aspek emosional, stres sering ditandai dengan:
Mudah marah.
Merasa sedih tanpa sebab yang jelas.
Cemas berlebihan.
Gelisah.
Sulit merasa tenang.
Gejala Perilaku
Sementara itu, perubahan perilaku dapat berupa:
Menunda pekerjaan.
Menarik diri dari lingkungan sosial.
Menurunnya produktivitas.
Pola makan berubah drastis.
Meningkatnya konsumsi rokok atau kafein.
Menurut Alodokter (2025), gejala-gejala tersebut muncul karena tubuh melepaskan hormon stres secara terus-menerus sehingga memengaruhi hampir seluruh sistem tubuh.
Baca juga: KENALI GEJALA STRES AKIBAT PANDEMI CORONA SEBELUM TERLAMBAT
Contoh Kasus: Ketika Stres Membuat Produktivitas Anjlok
Kasus “Rina” (Nama Disamarkan)
Rina, 29 tahun, bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.
Awalnya ia dikenal sebagai karyawan yang rajin dan disiplin. Namun setelah perusahaannya menerapkan target baru yang lebih tinggi, jam kerja Rina menjadi semakin panjang.
Dalam tiga bulan terakhir, ia mulai mengalami kesulitan tidur. Setiap malam pikirannya dipenuhi daftar pekerjaan yang belum selesai. Ketika bangun pagi, tubuhnya terasa lelah meskipun sudah tidur selama tujuh jam.
Di kantor, Rina mulai sering melakukan kesalahan sederhana seperti salah menginput data dan lupa mengirim dokumen penting. Ia juga menjadi lebih sensitif terhadap kritik dari rekan kerja.
Karena merasa tidak sanggup lagi, Rina akhirnya berkonsultasi dengan psikolog. Dari hasil asesmen diketahui bahwa ia mengalami stres kerja yang cukup berat dan mulai menunjukkan gejala burnout.
Setelah menjalani konseling, mengatur ulang pola kerja, memperbaiki pola tidur, serta mengambil cuti singkat, kondisi Rina perlahan membaik.
Kasus seperti ini banyak ditemukan pada pekerja perkotaan dan sering kali tidak disadari hingga produktivitas menurun drastis.
Ketika Stres Menjadi Gangguan yang Lebih Serius
Dari Stres Menjadi Burnout
Jika tidak ditangani, stres berkepanjangan dapat berkembang menjadi burnout.
Burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat tekanan yang berlangsung terus-menerus.
Gejalanya meliputi:
Kehilangan motivasi.
Merasa sinis terhadap pekerjaan.
Penurunan performa kerja.
Kelelahan ekstrem.
Risiko Terhadap Kesehatan Fisik
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres kronis berhubungan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, diabetes, gangguan metabolik, dan berbagai masalah kesehatan lainnya. (CDC)
Artinya, mengabaikan stres bukan hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga kesehatan fisik dalam jangka panjang.
Analisis: Mengapa Stres Semakin Banyak Terjadi Saat Ini?
Tuntutan Kerja yang Meningkat
Perubahan dunia kerja membuat banyak orang harus bekerja lebih cepat, lebih fleksibel, dan lebih kompetitif dibandingkan sebelumnya.
Teknologi yang Tidak Pernah Berhenti
Teknologi memang membantu pekerjaan menjadi lebih mudah. Namun pada saat yang sama, notifikasi yang datang tanpa henti membuat banyak orang merasa selalu harus tersedia selama 24 jam.
Fenomena ini dikenal sebagai technostress, yaitu stres yang muncul akibat penggunaan teknologi yang berlebihan. Penelitian Atrian dan Ghobbeh (2023) menunjukkan bahwa tekanan untuk terus terhubung dan beradaptasi dengan teknologi baru dapat menurunkan performa kerja serta meningkatkan kecemasan.
Ketidakseimbangan Kehidupan dan Pekerjaan
Banyak pekerja kesulitan memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi. Akibatnya tubuh kehilangan kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan energi.
Laporan IOSH tahun 2026 menunjukkan bahwa berbagai program kesejahteraan karyawan tidak akan efektif apabila akar masalah seperti beban kerja berlebihan dan budaya kerja yang tidak sehat tidak ikut diperbaiki.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kenali Tanda-Tandanya Sejak Awal
Jangan menunggu hingga kondisi menjadi parah.
Jika mulai sering merasa lelah, sulit tidur, mudah marah, atau kehilangan motivasi, cobalah mengevaluasi kondisi diri.
Perbaiki Pola Hidup
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
Tidur yang cukup.
Mengurangi konsumsi kafein berlebihan.
Berolahraga secara rutin.
Mengatur pola makan yang sehat.
Mengurangi paparan media sosial jika diperlukan.
Berani Meminta Bantuan
Tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog apabila tekanan yang dirasakan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Deteksi dini sering kali menjadi langkah terbaik untuk mencegah masalah berkembang menjadi lebih serius.
Kesimpulan
Stres adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Namun ketika stres berlangsung terlalu lama dan tidak dikelola dengan baik, dampaknya dapat sangat luas, mulai dari menurunnya produktivitas, terganggunya hubungan sosial, hingga munculnya berbagai penyakit fisik dan mental.
Di Indonesia, masalah stres dan kesehatan mental semakin menjadi perhatian karena jumlah kasusnya terus meningkat dan berdampak langsung pada produktivitas masyarakat. Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda stres sejak dini merupakan langkah penting untuk menjaga kualitas hidup.
Ingat, produktivitas yang tinggi tidak hanya berasal dari kerja keras, tetapi juga dari kondisi mental yang sehat. Ketika tubuh dan pikiran berada dalam keadaan seimbang, kita dapat bekerja, berkarya, dan menjalani hidup dengan lebih optimal.
Referensi
Alodokter. (2025). Stres: Gejala, penyebab, dan pengobatan. https://www.alodokter.com/stres
Arulsamy, K., Effendy, E., Mardhiyah, S., Amin, M. M., Husada, M. S., Camellia, V., ... & Finkelstein, E. A. (2025). The economic burden of anxiety and depression in Indonesia: evidence from a cross-sectional web panel survey. Frontiers in Public Health, 13, 1667726. https://www.frontiersin.org/journals/public-health/articles/10.3389/fpubh.2025.1667726/pdf
Basrowi, R. W., Wiguna, T., Samah, K., Moeloek, N. D. F., Soetrisno, M., Purwanto, S. A., ... & Pelangi, B. (2024). Exploring mental health issues and priorities in Indonesia through qualitative expert consensus. Clinical Practice and Epidemiology in Mental Health: CP & EMH, 20, e17450179331951. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11748059/
Bui, T., Zackula, R., Dugan, K., & Ablah, E. (2021). Workplace stress and productivity: a cross-sectional study. Kansas journal of medicine, 14(1), 42. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7889069/pdf/14-42.pdf
GoodStats. (2025). Tingkat stres publik Indonesia ada di urutan ke-7 se-ASEAN. https://data.goodstats.id/statistic/tingkat-stress-publik-indonesia-ada-di-urutan-ke-7-se-asean-RGaiK
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Apa itu stres? https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-stres
UNICEF Indonesia. (2024). Apa itu stres? https://www.unicef.org/indonesia/id/kesehatan-mental/artikel/stres#:~:text=Stres%20adalah%20perasaan%20yang%20umumnya,seperti%20mengerjakan%20tes%20atau%20berpidato.
VandenBos, G. R. (Ed.). (2007). APA dictionary of psychology (2nd ed.). American Psychological Association. https://psycnet.apa.org/record/2006-11044-000

Komentar
Posting Komentar