Langsung ke konten utama

Featured post

Work From Home Bisa Merusak Kesehatan Mental? Ini Penjelasan Neurosainsnya

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Banyak orang mengira bekerja dari rumah ( work from home ) atau sistem hybrid adalah anugerah terbesar bagi pekerja di Jabodetabek. Tidak ada lagi drama macet di Sudirman, tidak perlu berdesakan di KRL Commuter Line pagi hari, dan bisa bekerja sambil mengenakan celana piyama. Namun, sebagai seorang pemerhati neurosains dan psikologi, saya ingin melemparkan sebuah kenyataan pahit yang mungkin tidak ingin Anda dengar: Bekerja dari kamar tamu atau meja makan Anda sebenarnya sedang menciptakan "kebakaran" di dalam sirkuit otak Anda yang jauh lebih berbahaya daripada polusi Jakarta. Kebebasan yang Anda rasakan itu semu. Tanpa disadari, dinding rumah Anda kini telah berubah menjadi dinding kantor yang tidak pernah tutup. Inilah yang disebut dengan jebakan boundary blurring atau pengikisan batas antara kehidupan profesional dan personal yang diperparah oleh technostress . Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Mod...

KENALI GEJALA STRES AKIBAT PANDEMI CORONA SEBELUM TERLAMBAT



Pandemi yang Mengubah Segalanya

Ketika pandemi COVID-19 pertama kali muncul pada awal tahun 2020, sebagian besar masyarakat fokus pada dampak fisiknya. Berita mengenai angka penularan, kematian, rumah sakit yang penuh, hingga penggunaan masker menjadi konsumsi sehari-hari.

Namun seiring berjalannya waktu, dunia menyadari bahwa pandemi tidak hanya menyerang kesehatan fisik. Ada dampak lain yang jauh lebih tersembunyi, tetapi tidak kalah berbahaya, yaitu gangguan kesehatan mental.

Rasa takut tertular, kehilangan pekerjaan, pembatasan aktivitas sosial, kesepian, ketidakpastian ekonomi, hingga kehilangan orang-orang yang dicintai menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa. Banyak orang yang sebelumnya sehat secara mental mulai mengalami kecemasan, stres, gangguan tidur, bahkan depresi.

Menurut World Health Organization (WHO), pandemi COVID-19 menyebabkan meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan mental di berbagai negara. Pada saat yang sama, banyak layanan kesehatan jiwa justru mengalami gangguan operasional akibat pandemi. WHO melaporkan bahwa 93% negara di dunia mengalami gangguan layanan kesehatan mental selama masa pandemi (WHO, 2020). 

Dengan kata lain, ketika kebutuhan bantuan meningkat, akses terhadap bantuan justru menjadi lebih sulit.

Baca juga: Stres dari Perspektif Psychoneuroimmunology

Pandemi dan Kesehatan Mental: Ancaman yang Sering Tidak Terlihat

Mengapa Pandemi Bisa Memengaruhi Kondisi Mental?

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan interaksi, aktivitas, dan kepastian dalam menjalani hidup.

Ketika pandemi datang, banyak hal berubah secara drastis:

  • Aktivitas sosial dibatasi.

  • Sekolah ditutup.

  • Tempat kerja menerapkan sistem kerja jarak jauh.

  • Banyak usaha gulung tikar.

  • Jutaan orang kehilangan pendapatan.

Perubahan mendadak ini memaksa masyarakat beradaptasi dalam waktu singkat. Tidak semua orang mampu menghadapi tekanan tersebut dengan baik.

Penelitian yang dilakukan oleh Kaligis, Indraswari, dan Ismail (2020) menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 telah meningkatkan tingkat stres masyarakat Indonesia secara signifikan. Faktor ketidakpastian, rasa takut tertular, dan perubahan pola hidup menjadi pemicu utama gangguan psikologis selama pandemi.

Baca juga: Deteksi Dini Stres dan Depresi

Fenomena di Indonesia: Ketika Gangguan Mental Ikut Meningkat

Pandemi ternyata memberikan dampak yang cukup besar terhadap kondisi psikologis masyarakat Indonesia.

Survei yang dirujuk dalam laporan WHO Indonesia tahun 2020 menunjukkan bahwa dari sekitar 2.800 responden yang disurvei, sebanyak 93% mengalami gejala kecemasan dan 91% menunjukkan tanda-tanda stres selama pandemi.

Sementara itu, penelitian Izzatika dan kolega (2022) menemukan bahwa selama pandemi terdapat peningkatan kasus depresi, kecemasan, dan stres pada masyarakat Indonesia. Sebanyak 34,6% responden mengalami kecemasan dan 25,4% mengalami stres dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

Penelitian lain dari Universitas Gadjah Mada juga menunjukkan bahwa pandemi berdampak negatif terhadap kesehatan mental masyarakat, terutama pada kelompok dengan kondisi ekonomi yang lebih rentan. Mereka yang mengalami penurunan pendapatan cenderung menunjukkan tingkat kecemasan dan stres yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.

Data-data tersebut menunjukkan bahwa pandemi bukan hanya krisis kesehatan, tetapi juga krisis psikologis.

Baca juga: Stres Bisa Menurunkan Produktivitas: Kenali Tanda-Tandanya Sebelum Terlambat

Hasil Observasi Media Sosial: Dari Curhat hingga Tanda-Tanda Distres

Jika kita mengingat kembali suasana media sosial pada tahun 2020 hingga 2022, ada satu pola yang sangat menonjol.

Tagar seperti:

  • #dirumahaja

  • #mentalhealth

  • #stress

  • #burnout

  • #lockdown

  • #covidanxiety

muncul hampir setiap hari di berbagai platform seperti Twitter (sekarang X), Instagram, Facebook, dan TikTok.

Banyak pengguna media sosial mengeluhkan:

  • Sulit tidur karena terus mengikuti berita COVID-19.

  • Takut tertular saat harus keluar rumah.

  • Kehilangan pekerjaan.

  • Kesepian akibat isolasi.

  • Kehilangan anggota keluarga akibat COVID-19.

Menariknya, penelitian mengenai penggunaan media sosial selama pandemi di Indonesia menemukan bahwa paparan informasi yang berlebihan mengenai COVID-19 dapat memperburuk kondisi psikologis seseorang. Informasi yang tidak akurat, hoaks, dan berita kematian yang terus-menerus muncul membuat tingkat kecemasan masyarakat meningkat.

Media sosial memang menjadi tempat mencari informasi dan dukungan sosial. Namun jika tidak digunakan secara bijak, media sosial juga dapat menjadi sumber stres baru.

Baca juga: Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Kisah-Kisah Nyata yang Menggambarkan Beratnya Tekanan Pandemi

1. Remaja Inggris yang Tidak Tahan dengan Isolasi

Salah satu kasus yang sempat menjadi perhatian dunia adalah meninggalnya seorang remaja Inggris berusia 18 tahun yang mengalami tekanan psikologis selama masa pembatasan aktivitas.

Menurut laporan media internasional yang kemudian dikutip berbagai media Indonesia, remaja tersebut mengaku tidak tahan dengan kondisi hidup yang terasa semakin sempit akibat isolasi sosial. Aktivitas yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupannya mendadak hilang.

Kasus ini menunjukkan bahwa isolasi sosial dapat menjadi tekanan yang sangat berat, terutama bagi kelompok usia muda yang sangat bergantung pada interaksi sosial.

2. Karyawan Pariwisata yang Kehilangan Pekerjaan

Di Indonesia, sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terpukul akibat pandemi.

Banyak hotel, restoran, dan tempat wisata mengalami penurunan pengunjung secara drastis. Akibatnya, ribuan pekerja kehilangan pekerjaan.

Salah satu kasus yang banyak diberitakan pada masa itu adalah seorang pekerja sektor pariwisata di Bali yang mengalami PHK setelah tempatnya bekerja mengalami penurunan okupansi secara signifikan.

Kasus tersebut menjadi gambaran bagaimana tekanan ekonomi dapat berubah menjadi tekanan psikologis yang berat.

3. Sopir Taksi Online yang Kehilangan Penghasilan

Pandemi juga memukul sektor transportasi.

Pembatasan mobilitas membuat jumlah penumpang menurun drastis. Banyak pengemudi taksi online kehilangan sumber penghasilan utama.

Tekanan ekonomi yang berkepanjangan, ditambah kewajiban membayar cicilan kendaraan, membuat sebagian orang mengalami kondisi psikologis yang sangat berat.

Kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kondisi ekonomi memiliki hubungan yang sangat erat.

Contoh Kasus: “Budi” yang Kehilangan Semangat Hidup

Nama Disamarkan

Budi adalah seorang karyawan swasta berusia 32 tahun yang tinggal di wilayah Jabodetabek.

Saat pandemi berlangsung, perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan pegawai. Budi memang tidak terkena PHK, tetapi gajinya dipotong hampir 40%.

Awalnya ia masih mampu bertahan.

Namun setelah beberapa bulan, kondisi mulai berubah.

Ia sering sulit tidur, kehilangan selera makan, mudah marah kepada keluarga, dan mulai menarik diri dari lingkungan sosial. Hampir setiap hari ia menghabiskan waktu membaca berita COVID-19 dan perkembangan ekonomi.

Budi merasa masa depannya tidak jelas.

Ketika akhirnya berkonsultasi dengan psikolog, ia diketahui mengalami stres berat disertai gejala depresi ringan.

Setelah menjalani konseling, membatasi konsumsi berita, memperbaiki pola tidur, dan memperoleh dukungan keluarga, kondisinya perlahan membaik.

Kasus seperti Budi tidak hanya terjadi pada satu atau dua orang. Banyak masyarakat Indonesia mengalami pengalaman serupa selama pandemi.

Baca juga: VITAMIN B DAN DEPRESI

Mengapa Sebagian Orang Lebih Rentan Mengalami Gangguan Mental?

Faktor Ekonomi

Kehilangan pekerjaan atau penurunan pendapatan merupakan salah satu faktor terbesar yang memicu stres selama pandemi.

Penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan kondisi ekonomi yang lebih rendah memiliki risiko gangguan mental yang lebih tinggi selama pandemi.

Faktor Isolasi Sosial

Manusia membutuhkan hubungan sosial.

Ketika interaksi dibatasi dalam waktu lama, muncul rasa kesepian yang dapat berkembang menjadi kecemasan atau depresi.

Faktor Ketidakpastian

Tidak adanya kepastian kapan pandemi berakhir membuat banyak orang hidup dalam kondisi waspada terus-menerus.

Otak yang terus berada dalam mode "siaga" akan lebih mudah mengalami kelelahan psikologis.

Tanda-Tanda Stres Akibat Pandemi yang Perlu Diwaspadai

Gejala Fisik

Beberapa tanda fisik yang sering muncul antara lain:

  • Jantung berdebar.

  • Sulit tidur.

  • Mudah lelah.

  • Sakit kepala.

  • Gangguan pencernaan.

  • Nafsu makan berubah.

Gejala Emosional

Sementara pada aspek emosional dapat muncul:

  • Sedih berkepanjangan.

  • Mudah tersinggung.

  • Merasa putus asa.

  • Cemas berlebihan.

  • Kehilangan motivasi.

Gejala Perilaku

Pada perilaku sehari-hari dapat terlihat dari:

  • Menarik diri dari lingkungan sosial.

  • Tidak produktif.

  • Menghindari aktivitas yang sebelumnya disukai.

  • Mengonsumsi alkohol atau zat adiktif secara berlebihan.

Menurut berbagai studi selama pandemi, kombinasi faktor biologis, psikologis, sosial, dan ekonomi menjadi penyebab utama meningkatnya gangguan mental masyarakat. 

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Pandemi?

Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran penting bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Selama bertahun-tahun masyarakat lebih fokus menjaga tubuh dari penyakit fisik. Namun pandemi menunjukkan bahwa tekanan psikologis juga dapat menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap kualitas hidup seseorang.

Kita belajar bahwa:

  • Dukungan keluarga sangat penting.

  • Hubungan sosial membantu menjaga kesehatan mental.

  • Informasi yang berlebihan dapat meningkatkan kecemasan.

  • Bantuan profesional seperti psikolog perlu diakses lebih awal.

  • Deteksi dini dapat mencegah masalah menjadi lebih berat.

Kesimpulan

Pandemi COVID-19 bukan hanya krisis kesehatan fisik, tetapi juga krisis kesehatan mental yang memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tekanan akibat ketidakpastian, kehilangan pekerjaan, isolasi sosial, dan ketakutan terhadap penyakit telah meningkatkan angka stres, kecemasan, dan depresi.

Berbagai kasus yang terjadi selama pandemi menunjukkan bahwa gangguan mental bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele. Oleh karena itu, mengenali gejala sejak dini dan mencari bantuan ketika diperlukan merupakan langkah penting untuk menjaga kualitas hidup.

Jika pandemi mengajarkan satu hal kepada kita, maka pelajaran tersebut adalah bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan.

Referensi 

Izzatika, M., Syakurah, R. A., & Bonita, I. (2021). Indonesia's mental health status during the Covid-19 pandemic. Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi, 6(2), 78-92. https://journals.ums.ac.id/index.php/indigenous/article/viewFile/14024/7013

Kaligis, F., Indraswari, M. T., & Ismail, R. I. (2020). Stress during COVID-19 pandemic: mental health condition in Indonesia. Medical Journal of Indonesia, 29(4), 436-41. https://mji.ui.ac.id/journal/index.php/mji/article/download/4640/1985

Khairan, C. A., & Widyanti, A. (2025). Examining the Mental Health Impact of Social Media Use Across the COVID-19 Pandemic Phases: A Narrative Review with Recommendations for Indonesia. Indonesian Journal of Sports and Health Psychology, 1(02), 84-97. https://journal.unesa.ac.id/index.php/indojshp/article/download/35820/13975

Qodariah, L., Abidin, F. A., Lubis, F. Y., Anindhita, V., & Purba, F. D. (2020). Socio-demographic determinants of Indonesian mothers’ psychological distress during COVID-19 pandemic. Makara Human Behavior Studies in Asia, 24(2), 101-108. https://scholarhub.ui.ac.id/context/hubsasia/article/1001/viewcontent/R1_HSCOV_3882.pdf

World Health Organization. (2020). Coronavirus Disease (COVID-19) Situation Report Indonesiahttps://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/situation-reports

World Health Organization. (2022). Addressing Mental Health in Indonesia. WHO Regional Office for South-East Asia.  https://www.who.int/publications/i/item/9789290210184

Yuniarti, D., & Nugroho, A. (2022). The effect of the COVID-19 pandemic on mental health. Journal of Indonesian Economy and Business. (Journal UGM)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deteksi Dini Stres dan Depresi

Stres! Itulah yang sering diungkapkan saat pikiran kita kalut atau banyak permasalahan. Namun jika ditelaah lebih lanjut, stres tidak hanya bersifat psikis saja. Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Oleh karena itu, saat tubuh kita merasakan tekanan dari luar baik fisik, psikis, emosi maupun mental maka tubuh dapat memberikan respon. Secara umum pemicu stres atau stressor dapat didefinsikan sebagai segala tantangan yang muncul dari dalam atau luar yang mengganggu internal tubuh kita. Tubuh kita akan merespon stressor yang terlibat dalam berbagai mekanisme fisiologi yang dirancang untuk mengembalikan homeostasis. Homeostasis adalah suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang di alaminya. Baca juga:  VITAMIN B DAN DEPRESI Saat stres datang kesei...

Macet Jabodetabek atau Beban Kerja? Menguak Akar Lelah Mental Pekerja Urban

  Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda merasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan dua jam dari Bekasi ke Sudirman, lalu sesampainya di meja kantor, Anda hanya menatap layar kosong selama 30 menit? Banyak dari kita menyalahkan kemacetan Jakarta yang legendaris sebagai biang keladi kelelahan ini. Namun, sebagai pemerhati neurosains yang sering menangani kasus kesehatan mental pekerja, saya ingin melemparkan sebuah pernyataan kontroversial: Macet Jabodetabek mungkin hanyalah kambing hitam yang nyaman untuk menyembunyikan kenyataan bahwa lingkungan kerja Anda sebenarnya sedang "merusak" fungsi otak Anda. Kita sering terjebak dalam mitos bahwa jika perjalanan komuter kita lebih singkat, kita akan lebih bahagia. Padahal, kelelahan yang Anda rasakan bukanlah sekadar "capek fisik" biasa, melainkan sinyal dari kondisi klinis yang jauh lebih serius. Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Modern: Tinjauan Neurosains terhadap...

Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Saat ini stres menjadi permasalahan utama di perkotaan. Bahkan stres yang berujung kepada depresi menjadi permasalahan serius. Tingginya rutinitas pekerjaan, beban tugas sekolah dan perkuliahan serta komplesitas masalah di perkotaan mendorong berbagai hal menjadi pemicu stres. Jika tidak ditangani dengan baik, maka stres yang berkepanjangan akan mengarah kepada depresi dan gangguan mood. Namun temuan ilmiah terakhir stres juga berkaitan erat dengan fisiologis tubuh dimana dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh atau immune system. Hal ini tidak tertutup kemungkinan menyebabkan penyakit autoimun. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh. Banyak ditemukan bahwa penyakit autoimun sepert Lupus, sarkoidosis, vitiligo, hipotiroidisme dimana salah satu pemi...