Pandemi yang Mengubah Segalanya
Ketika pandemi COVID-19 pertama kali muncul pada awal tahun 2020, sebagian besar masyarakat fokus pada dampak fisiknya. Berita mengenai angka penularan, kematian, rumah sakit yang penuh, hingga penggunaan masker menjadi konsumsi sehari-hari.
Namun seiring berjalannya waktu, dunia menyadari bahwa pandemi tidak hanya menyerang kesehatan fisik. Ada dampak lain yang jauh lebih tersembunyi, tetapi tidak kalah berbahaya, yaitu gangguan kesehatan mental.
Rasa takut tertular, kehilangan pekerjaan, pembatasan aktivitas sosial, kesepian, ketidakpastian ekonomi, hingga kehilangan orang-orang yang dicintai menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa. Banyak orang yang sebelumnya sehat secara mental mulai mengalami kecemasan, stres, gangguan tidur, bahkan depresi.
Menurut World Health Organization (WHO), pandemi COVID-19 menyebabkan meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan mental di berbagai negara. Pada saat yang sama, banyak layanan kesehatan jiwa justru mengalami gangguan operasional akibat pandemi. WHO melaporkan bahwa 93% negara di dunia mengalami gangguan layanan kesehatan mental selama masa pandemi (WHO, 2020).
Dengan kata lain, ketika kebutuhan bantuan meningkat, akses terhadap bantuan justru menjadi lebih sulit.
Baca juga: Stres dari Perspektif PsychoneuroimmunologyPandemi dan Kesehatan Mental: Ancaman yang Sering Tidak Terlihat
Mengapa Pandemi Bisa Memengaruhi Kondisi Mental?
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan interaksi, aktivitas, dan kepastian dalam menjalani hidup.
Ketika pandemi datang, banyak hal berubah secara drastis:
Aktivitas sosial dibatasi.
Sekolah ditutup.
Tempat kerja menerapkan sistem kerja jarak jauh.
Banyak usaha gulung tikar.
Jutaan orang kehilangan pendapatan.
Perubahan mendadak ini memaksa masyarakat beradaptasi dalam waktu singkat. Tidak semua orang mampu menghadapi tekanan tersebut dengan baik.
Penelitian yang dilakukan oleh Kaligis, Indraswari, dan Ismail (2020) menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 telah meningkatkan tingkat stres masyarakat Indonesia secara signifikan. Faktor ketidakpastian, rasa takut tertular, dan perubahan pola hidup menjadi pemicu utama gangguan psikologis selama pandemi.
Baca juga: Deteksi Dini Stres dan Depresi
Fenomena di Indonesia: Ketika Gangguan Mental Ikut Meningkat
Pandemi ternyata memberikan dampak yang cukup besar terhadap kondisi psikologis masyarakat Indonesia.
Survei yang dirujuk dalam laporan WHO Indonesia tahun 2020 menunjukkan bahwa dari sekitar 2.800 responden yang disurvei, sebanyak 93% mengalami gejala kecemasan dan 91% menunjukkan tanda-tanda stres selama pandemi.
Sementara itu, penelitian Izzatika dan kolega (2022) menemukan bahwa selama pandemi terdapat peningkatan kasus depresi, kecemasan, dan stres pada masyarakat Indonesia. Sebanyak 34,6% responden mengalami kecemasan dan 25,4% mengalami stres dengan tingkat keparahan yang bervariasi.
Penelitian lain dari Universitas Gadjah Mada juga menunjukkan bahwa pandemi berdampak negatif terhadap kesehatan mental masyarakat, terutama pada kelompok dengan kondisi ekonomi yang lebih rentan. Mereka yang mengalami penurunan pendapatan cenderung menunjukkan tingkat kecemasan dan stres yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.
Data-data tersebut menunjukkan bahwa pandemi bukan hanya krisis kesehatan, tetapi juga krisis psikologis.
Baca juga: Stres Bisa Menurunkan Produktivitas: Kenali Tanda-Tandanya Sebelum Terlambat
Hasil Observasi Media Sosial: Dari Curhat hingga Tanda-Tanda Distres
Jika kita mengingat kembali suasana media sosial pada tahun 2020 hingga 2022, ada satu pola yang sangat menonjol.
Tagar seperti:
#dirumahaja
#mentalhealth
#stress
#burnout
#lockdown
#covidanxiety
muncul hampir setiap hari di berbagai platform seperti Twitter (sekarang X), Instagram, Facebook, dan TikTok.
Banyak pengguna media sosial mengeluhkan:
Sulit tidur karena terus mengikuti berita COVID-19.
Takut tertular saat harus keluar rumah.
Kehilangan pekerjaan.
Kesepian akibat isolasi.
Kehilangan anggota keluarga akibat COVID-19.
Menariknya, penelitian mengenai penggunaan media sosial selama pandemi di Indonesia menemukan bahwa paparan informasi yang berlebihan mengenai COVID-19 dapat memperburuk kondisi psikologis seseorang. Informasi yang tidak akurat, hoaks, dan berita kematian yang terus-menerus muncul membuat tingkat kecemasan masyarakat meningkat.
Media sosial memang menjadi tempat mencari informasi dan dukungan sosial. Namun jika tidak digunakan secara bijak, media sosial juga dapat menjadi sumber stres baru.
Baca juga: Stres dan Sistem Kekebalan TubuhKisah-Kisah Nyata yang Menggambarkan Beratnya Tekanan Pandemi
1. Remaja Inggris yang Tidak Tahan dengan Isolasi
Salah satu kasus yang sempat menjadi perhatian dunia adalah meninggalnya seorang remaja Inggris berusia 18 tahun yang mengalami tekanan psikologis selama masa pembatasan aktivitas.
Menurut laporan media internasional yang kemudian dikutip berbagai media Indonesia, remaja tersebut mengaku tidak tahan dengan kondisi hidup yang terasa semakin sempit akibat isolasi sosial. Aktivitas yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupannya mendadak hilang.
Kasus ini menunjukkan bahwa isolasi sosial dapat menjadi tekanan yang sangat berat, terutama bagi kelompok usia muda yang sangat bergantung pada interaksi sosial.
2. Karyawan Pariwisata yang Kehilangan Pekerjaan
Di Indonesia, sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terpukul akibat pandemi.
Banyak hotel, restoran, dan tempat wisata mengalami penurunan pengunjung secara drastis. Akibatnya, ribuan pekerja kehilangan pekerjaan.
Salah satu kasus yang banyak diberitakan pada masa itu adalah seorang pekerja sektor pariwisata di Bali yang mengalami PHK setelah tempatnya bekerja mengalami penurunan okupansi secara signifikan.
Kasus tersebut menjadi gambaran bagaimana tekanan ekonomi dapat berubah menjadi tekanan psikologis yang berat.
3. Sopir Taksi Online yang Kehilangan Penghasilan
Pandemi juga memukul sektor transportasi.
Pembatasan mobilitas membuat jumlah penumpang menurun drastis. Banyak pengemudi taksi online kehilangan sumber penghasilan utama.
Tekanan ekonomi yang berkepanjangan, ditambah kewajiban membayar cicilan kendaraan, membuat sebagian orang mengalami kondisi psikologis yang sangat berat.
Kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kondisi ekonomi memiliki hubungan yang sangat erat.
Contoh Kasus: “Budi” yang Kehilangan Semangat Hidup
Nama Disamarkan
Budi adalah seorang karyawan swasta berusia 32 tahun yang tinggal di wilayah Jabodetabek.
Saat pandemi berlangsung, perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan pegawai. Budi memang tidak terkena PHK, tetapi gajinya dipotong hampir 40%.
Awalnya ia masih mampu bertahan.
Namun setelah beberapa bulan, kondisi mulai berubah.
Ia sering sulit tidur, kehilangan selera makan, mudah marah kepada keluarga, dan mulai menarik diri dari lingkungan sosial. Hampir setiap hari ia menghabiskan waktu membaca berita COVID-19 dan perkembangan ekonomi.
Budi merasa masa depannya tidak jelas.
Ketika akhirnya berkonsultasi dengan psikolog, ia diketahui mengalami stres berat disertai gejala depresi ringan.
Setelah menjalani konseling, membatasi konsumsi berita, memperbaiki pola tidur, dan memperoleh dukungan keluarga, kondisinya perlahan membaik.
Kasus seperti Budi tidak hanya terjadi pada satu atau dua orang. Banyak masyarakat Indonesia mengalami pengalaman serupa selama pandemi.
Baca juga: VITAMIN B DAN DEPRESI
Mengapa Sebagian Orang Lebih Rentan Mengalami Gangguan Mental?
Faktor Ekonomi
Kehilangan pekerjaan atau penurunan pendapatan merupakan salah satu faktor terbesar yang memicu stres selama pandemi.
Penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan kondisi ekonomi yang lebih rendah memiliki risiko gangguan mental yang lebih tinggi selama pandemi.
Faktor Isolasi Sosial
Manusia membutuhkan hubungan sosial.
Ketika interaksi dibatasi dalam waktu lama, muncul rasa kesepian yang dapat berkembang menjadi kecemasan atau depresi.
Faktor Ketidakpastian
Tidak adanya kepastian kapan pandemi berakhir membuat banyak orang hidup dalam kondisi waspada terus-menerus.
Otak yang terus berada dalam mode "siaga" akan lebih mudah mengalami kelelahan psikologis.
Tanda-Tanda Stres Akibat Pandemi yang Perlu Diwaspadai
Gejala Fisik
Beberapa tanda fisik yang sering muncul antara lain:
Jantung berdebar.
Sulit tidur.
Mudah lelah.
Sakit kepala.
Gangguan pencernaan.
Nafsu makan berubah.
Gejala Emosional
Sementara pada aspek emosional dapat muncul:
Sedih berkepanjangan.
Mudah tersinggung.
Merasa putus asa.
Cemas berlebihan.
Kehilangan motivasi.
Gejala Perilaku
Pada perilaku sehari-hari dapat terlihat dari:
Menarik diri dari lingkungan sosial.
Tidak produktif.
Menghindari aktivitas yang sebelumnya disukai.
Mengonsumsi alkohol atau zat adiktif secara berlebihan.
Menurut berbagai studi selama pandemi, kombinasi faktor biologis, psikologis, sosial, dan ekonomi menjadi penyebab utama meningkatnya gangguan mental masyarakat.
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Pandemi?
Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran penting bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Selama bertahun-tahun masyarakat lebih fokus menjaga tubuh dari penyakit fisik. Namun pandemi menunjukkan bahwa tekanan psikologis juga dapat menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap kualitas hidup seseorang.
Kita belajar bahwa:
Dukungan keluarga sangat penting.
Hubungan sosial membantu menjaga kesehatan mental.
Informasi yang berlebihan dapat meningkatkan kecemasan.
Bantuan profesional seperti psikolog perlu diakses lebih awal.
Deteksi dini dapat mencegah masalah menjadi lebih berat.
Kesimpulan
Pandemi COVID-19 bukan hanya krisis kesehatan fisik, tetapi juga krisis kesehatan mental yang memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tekanan akibat ketidakpastian, kehilangan pekerjaan, isolasi sosial, dan ketakutan terhadap penyakit telah meningkatkan angka stres, kecemasan, dan depresi.
Berbagai kasus yang terjadi selama pandemi menunjukkan bahwa gangguan mental bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele. Oleh karena itu, mengenali gejala sejak dini dan mencari bantuan ketika diperlukan merupakan langkah penting untuk menjaga kualitas hidup.
Jika pandemi mengajarkan satu hal kepada kita, maka pelajaran tersebut adalah bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan.
Referensi
Izzatika, M., Syakurah, R. A., & Bonita, I. (2021). Indonesia's mental health status during the Covid-19 pandemic. Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi, 6(2), 78-92. https://journals.ums.ac.id/index.php/indigenous/article/viewFile/14024/7013
Kaligis, F., Indraswari, M. T., & Ismail, R. I. (2020). Stress during COVID-19 pandemic: mental health condition in Indonesia. Medical Journal of Indonesia, 29(4), 436-41. https://mji.ui.ac.id/journal/index.php/mji/article/download/4640/1985
Khairan, C. A., & Widyanti, A. (2025). Examining the Mental Health Impact of Social Media Use Across the COVID-19 Pandemic Phases: A Narrative Review with Recommendations for Indonesia. Indonesian Journal of Sports and Health Psychology, 1(02), 84-97. https://journal.unesa.ac.id/index.php/indojshp/article/download/35820/13975
Qodariah, L., Abidin, F. A., Lubis, F. Y., Anindhita, V., & Purba, F. D. (2020). Socio-demographic determinants of Indonesian mothers’ psychological distress during COVID-19 pandemic. Makara Human Behavior Studies in Asia, 24(2), 101-108. https://scholarhub.ui.ac.id/context/hubsasia/article/1001/viewcontent/R1_HSCOV_3882.pdf
World Health Organization. (2020). Coronavirus Disease (COVID-19) Situation Report Indonesia. https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/situation-reports
World Health Organization. (2022). Addressing Mental Health in Indonesia. WHO Regional Office for South-East Asia. https://www.who.int/publications/i/item/9789290210184
Yuniarti, D., & Nugroho, A. (2022). The effect of the COVID-19 pandemic on mental health. Journal of Indonesian Economy and Business. (Journal UGM)

Komentar
Posting Komentar