Langsung ke konten utama

Featured post

Work From Home Bisa Merusak Kesehatan Mental? Ini Penjelasan Neurosainsnya

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Banyak orang mengira bekerja dari rumah ( work from home ) atau sistem hybrid adalah anugerah terbesar bagi pekerja di Jabodetabek. Tidak ada lagi drama macet di Sudirman, tidak perlu berdesakan di KRL Commuter Line pagi hari, dan bisa bekerja sambil mengenakan celana piyama. Namun, sebagai seorang pemerhati neurosains dan psikologi, saya ingin melemparkan sebuah kenyataan pahit yang mungkin tidak ingin Anda dengar: Bekerja dari kamar tamu atau meja makan Anda sebenarnya sedang menciptakan "kebakaran" di dalam sirkuit otak Anda yang jauh lebih berbahaya daripada polusi Jakarta. Kebebasan yang Anda rasakan itu semu. Tanpa disadari, dinding rumah Anda kini telah berubah menjadi dinding kantor yang tidak pernah tutup. Inilah yang disebut dengan jebakan boundary blurring atau pengikisan batas antara kehidupan profesional dan personal yang diperparah oleh technostress . Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Mod...

DETEKSI DINI STRES DIRI AKIBAT PANDEMI CORONA


Ketika Rumah yang Dulu Nyaman Mulai Terasa Menyesakkan

“Gue stres! Di rumah terus, lihat tembok, tembok, dan tembok lagi!”

“Pengen nongkrong sama teman, makan bakso langganan, tapi nggak bisa ke mana-mana.”

“Pelanggan sepi, pemasukan turun, sementara tagihan terus datang.”

Kalimat-kalimat seperti itu sangat sering terdengar ketika pandemi COVID-19 mencapai puncaknya pada tahun 2020–2022. Banyak orang yang sebelumnya aktif bekerja, bersosialisasi, dan beraktivitas di luar rumah mendadak harus membatasi geraknya demi mencegah penyebaran virus.

Kondisi tersebut ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Bahkan bagi sebagian orang, tekanan psikologis akibat pandemi terasa lebih berat dibandingkan ancaman penyakit itu sendiri.

Pandemi mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Aktivitas kerja berubah menjadi work from home (WFH), sekolah dilakukan secara daring, kegiatan ibadah dibatasi, dan berbagai bentuk interaksi sosial berkurang drastis. Perubahan yang sangat cepat ini membuat banyak orang kesulitan beradaptasi.

Menurut World Health Organization (WHO, 2022), pandemi COVID-19 menyebabkan peningkatan global gangguan kecemasan dan depresi hingga sekitar 25% dibandingkan sebelum pandemi. Kondisi tersebut terjadi karena ketidakpastian, isolasi sosial, kehilangan pekerjaan, dan kekhawatiran terhadap kesehatan diri maupun keluarga.

Baca juga: Stres dari Perspektif Psychoneuroimmunology

Dampak Pandemi terhadap Kehidupan Individu

Pembatasan Gerak yang Mengubah Pola Hidup

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita terbiasa berinteraksi, bekerja, belajar, beribadah, dan memenuhi kebutuhan hidup dengan bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Ketika pandemi datang, ruang gerak tersebut menjadi terbatas.

Pemerintah menerapkan berbagai kebijakan seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pembatasan perjalanan, hingga aturan bekerja dari rumah. Kebijakan tersebut memang penting untuk menekan penyebaran virus, tetapi di sisi lain menimbulkan konsekuensi psikologis yang cukup besar.

Banyak orang merasa kehilangan kebebasan.

Ada yang kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, bahkan kehilangan kesempatan bertemu keluarga dan sahabat.

Dalam psikologi, kondisi seperti ini disebut sebagai kehilangan kontrol (loss of control), yaitu ketika seseorang merasa tidak lagi mampu mengendalikan apa yang terjadi dalam hidupnya.

Kebutuhan Ekonomi yang Terganggu

Salah satu sumber stres terbesar selama pandemi adalah masalah ekonomi.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021, jutaan pekerja Indonesia mengalami pengurangan jam kerja, dirumahkan, atau kehilangan pekerjaan akibat pandemi.

Bagi sebagian keluarga, penghasilan yang sebelumnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tiba-tiba berkurang drastis.

Akibatnya muncul berbagai pertanyaan:

  • Bagaimana membayar cicilan?

  • Bagaimana membeli kebutuhan pokok?

  • Bagaimana membiayai sekolah anak?

  • Bagaimana jika pandemi berlangsung lebih lama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi sumber kecemasan yang terus menghantui pikiran.

Kebutuhan Sosial yang Tidak Terpenuhi

Selain kebutuhan ekonomi, manusia juga memiliki kebutuhan sosial.

Bertemu teman, berbincang dengan rekan kerja, menghadiri acara keluarga, hingga sekadar nongkrong di warung kopi merupakan bagian dari kehidupan sosial yang membantu menjaga kesehatan mental.

Ketika interaksi tersebut dibatasi, banyak orang mulai merasakan kesepian.

Kesepian yang berlangsung lama dapat memicu stres, kecemasan, bahkan depresi.

Baca juga: VITAMIN B DAN DEPRESI

Fenomena di Indonesia: Gangguan Mental Meningkat Selama Pandemi

Pandemi ternyata memberikan dampak yang cukup besar terhadap kesehatan mental masyarakat Indonesia.

Menurut survei Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) yang dilakukan selama pandemi, sekitar 68% responden mengalami gejala kecemasan, 67% mengalami gejala depresi, dan lebih dari 77% menunjukkan gejala trauma psikologis akibat pandemi.

Data WHO Indonesia juga menunjukkan bahwa pandemi meningkatkan kebutuhan layanan kesehatan mental secara signifikan. Namun ironisnya, banyak fasilitas kesehatan mengalami keterbatasan layanan akibat pembatasan aktivitas.

Penelitian Kaligis et al. (2021) menemukan bahwa ketidakpastian ekonomi, ketakutan terhadap penyakit, serta isolasi sosial menjadi faktor utama yang meningkatkan tingkat stres masyarakat Indonesia selama pandemi.

Artinya, pandemi bukan hanya krisis kesehatan fisik, tetapi juga krisis kesehatan mental.

Hasil Observasi Media Sosial: Curhat Warganet yang Menggambarkan Tingkat Stres

Jika kita melihat media sosial pada masa pandemi, berbagai keluhan muncul hampir setiap hari.

Di Twitter (sekarang X), Instagram, Facebook, hingga TikTok, banyak pengguna mengungkapkan perasaan mereka secara terbuka.

Beberapa tema yang paling sering muncul antara lain:

Kelelahan Mental Akibat WFH

Banyak pekerja mengeluhkan bahwa bekerja dari rumah justru membuat jam kerja menjadi lebih panjang.

Batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur.

Stres Mendampingi Anak Belajar

Para orang tua mengeluhkan beban tambahan karena harus mendampingi anak belajar daring sambil tetap menyelesaikan pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor.

Ketakutan Kehilangan Penghasilan

Pedagang, pekerja sektor informal, pengemudi transportasi online, hingga pelaku UMKM banyak mengungkapkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi mereka.

Kecemasan terhadap Berita COVID-19

Setiap hari masyarakat dibombardir dengan berita mengenai angka kematian, kasus positif, dan berbagai informasi yang sering kali menimbulkan ketakutan berlebihan.

Fenomena ini dikenal sebagai doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita negatif yang justru memperburuk kondisi psikologis seseorang.

Baca juga: Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Apa Itu Stres?

Definisi Stres Menurut Psikologi

Menurut American Psychological Association (APA), stres adalah respons emosional, fisik, dan perilaku terhadap tuntutan atau tekanan yang dianggap melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.

Stres sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh.

Ketika menghadapi ancaman, tubuh akan mengaktifkan sistem "fight or flight" atau "melawan atau menghindar."

Sistem ini memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin yang membuat tubuh menjadi lebih waspada.

Masalah muncul ketika kondisi stres berlangsung terlalu lama.

Ketika Stres Menjadi Berbahaya

Stres kronis dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti:

  • Gangguan tidur

  • Tekanan darah tinggi

  • Gangguan pencernaan

  • Penurunan sistem kekebalan tubuh

  • Gangguan kecemasan

  • Depresi

Karena itu, penting untuk mengenali gejalanya sejak dini.

Baca juga: Deteksi Dini Stres dan Depresi

Tanda-Tanda Stres yang Perlu Diwaspadai

Gejala Fisik

Beberapa gejala fisik yang sering muncul antara lain:

  • Sakit kepala

  • Jantung berdebar

  • Nyeri otot

  • Mudah lelah

  • Sulit tidur

  • Nafsu makan berubah

Gejala Emosional

Pada aspek emosional, seseorang yang mengalami stres biasanya menunjukkan:

  • Mudah marah

  • Sedih berkepanjangan

  • Gelisah

  • Cemas berlebihan

  • Kehilangan motivasi

Gejala Perilaku

Perubahan perilaku juga dapat menjadi indikator stres:

  • Menarik diri dari lingkungan sosial

  • Menunda pekerjaan

  • Menjadi lebih sensitif

  • Konsumsi rokok atau kafein meningkat

  • Sulit berkonsentrasi

Contoh Kasus: "Pak Andi" yang Kehilangan Kendali

(Nama disamarkan)

Pak Andi adalah seorang pemilik usaha katering kecil di Jawa Barat.

Sebelum pandemi, usahanya cukup ramai melayani acara kantor dan pesta keluarga.

Namun ketika pandemi datang, hampir seluruh pesanan dibatalkan.

Dalam waktu beberapa bulan, penghasilannya turun lebih dari 70%.

Awalnya Pak Andi berusaha tetap tenang.

Namun lama-kelamaan ia mulai sulit tidur, mudah marah kepada keluarga, dan kehilangan semangat bekerja.

Ia merasa masa depan keluarganya terancam.

Setelah berkonsultasi dengan psikolog melalui layanan konseling daring, Pak Andi diketahui mengalami stres berat akibat tekanan ekonomi.

Melalui pendampingan psikologis dan dukungan keluarga, kondisi Pak Andi perlahan membaik.

Kasus seperti ini dialami oleh banyak masyarakat Indonesia selama pandemi.

Pentingnya Pengukuran Stres Secara Ilmiah

Jangan Mendiagnosis Diri Sendiri

Sering kali seseorang mengatakan dirinya stres hanya berdasarkan perasaan sesaat.

Padahal tingkat stres setiap orang berbeda.

Karena itu diperlukan pengukuran yang lebih objektif.

Pengukuran Secara Biologis

Dalam dunia medis, stres dapat diukur melalui kadar hormon kortisol.

Kortisol merupakan hormon yang meningkat ketika tubuh mengalami tekanan.

Pengukuran dapat dilakukan melalui darah, saliva (air liur), atau metode laboratorium lainnya.

Pengukuran Secara Psikologis

Selain pengukuran biologis, psikolog menggunakan berbagai instrumen psikometri berupa kuesioner yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya.

Instrumen ini membantu mengukur:

  • Tingkat kecemasan

  • Tingkat stres

  • Tingkat depresi

  • Kemampuan regulasi emosi

Hasil pengukuran kemudian diinterpretasikan oleh tenaga profesional yang memiliki kompetensi dan kewenangan sesuai kode etik profesi.

Analisis: Mengapa Deteksi Dini Sangat Penting?

Menurut WHO (2022), sebagian besar gangguan mental dapat ditangani lebih efektif apabila dikenali sejak tahap awal.

Masalahnya, banyak orang baru mencari bantuan ketika kondisi sudah berat.

Padahal gejala awal biasanya sudah muncul jauh sebelumnya.

Deteksi dini memungkinkan seseorang:

  • Mengenali sumber stres.

  • Mengubah pola hidup yang tidak sehat.

  • Mencari bantuan profesional lebih cepat.

  • Mencegah berkembangnya gangguan yang lebih serius.

Dalam konteks pandemi, deteksi dini menjadi semakin penting karena tekanan psikologis yang dialami masyarakat terjadi secara masif dan berkepanjangan.

Kesimpulan

Pandemi Corona telah memberikan pelajaran besar bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Pembatasan aktivitas, ketidakpastian ekonomi, serta berkurangnya interaksi sosial menyebabkan banyak orang mengalami stres tanpa menyadarinya.

Karena itu, mengenali gejala stres sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas hidup. Jangan menganggap remeh perasaan cemas, gelisah, atau kelelahan yang berlangsung terus-menerus. Semakin cepat kondisi dikenali, semakin besar peluang untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan dengan sehat secara fisik maupun mental.

Referensi

American Psychological Association. (2023). APA Dictionary of Psychologyhttps://psycnet.apa.org/record/2006-11044-000

Kaligis, F., Ismail, R. I., Wiguna, T., Prasetyo, S., Indriatmi, W., Gunardi, H., ... & Magdalena, C. C. (2021). Mental health problems and needs among transitional-age youth in Indonesia. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(8), 4046. https://www.mdpi.com/1660-4601/18/8/4046

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. (2021). Survei kesehatan jiwa masyarakat Indonesia selama pandemi COVID-19.

VandenBos, G. R. (Ed.). (2007). APA Dictionary of Psychology (2nd ed.). Washington, DC: American Psychological Association. https://psycnet.apa.org/record/2006-11044-000

World Health Organization. (2022). Mental health and COVID-19: Early evidence of the pandemic's impact. Geneva: WHO. https://www.who.int/publications/i/item/WHO-2019-nCoV-Sci_Brief-Mental_health-2022.1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deteksi Dini Stres dan Depresi

Stres! Itulah yang sering diungkapkan saat pikiran kita kalut atau banyak permasalahan. Namun jika ditelaah lebih lanjut, stres tidak hanya bersifat psikis saja. Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Oleh karena itu, saat tubuh kita merasakan tekanan dari luar baik fisik, psikis, emosi maupun mental maka tubuh dapat memberikan respon. Secara umum pemicu stres atau stressor dapat didefinsikan sebagai segala tantangan yang muncul dari dalam atau luar yang mengganggu internal tubuh kita. Tubuh kita akan merespon stressor yang terlibat dalam berbagai mekanisme fisiologi yang dirancang untuk mengembalikan homeostasis. Homeostasis adalah suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang di alaminya. Baca juga:  VITAMIN B DAN DEPRESI Saat stres datang kesei...

Macet Jabodetabek atau Beban Kerja? Menguak Akar Lelah Mental Pekerja Urban

  Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda merasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan dua jam dari Bekasi ke Sudirman, lalu sesampainya di meja kantor, Anda hanya menatap layar kosong selama 30 menit? Banyak dari kita menyalahkan kemacetan Jakarta yang legendaris sebagai biang keladi kelelahan ini. Namun, sebagai pemerhati neurosains yang sering menangani kasus kesehatan mental pekerja, saya ingin melemparkan sebuah pernyataan kontroversial: Macet Jabodetabek mungkin hanyalah kambing hitam yang nyaman untuk menyembunyikan kenyataan bahwa lingkungan kerja Anda sebenarnya sedang "merusak" fungsi otak Anda. Kita sering terjebak dalam mitos bahwa jika perjalanan komuter kita lebih singkat, kita akan lebih bahagia. Padahal, kelelahan yang Anda rasakan bukanlah sekadar "capek fisik" biasa, melainkan sinyal dari kondisi klinis yang jauh lebih serius. Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Modern: Tinjauan Neurosains terhadap...

Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Saat ini stres menjadi permasalahan utama di perkotaan. Bahkan stres yang berujung kepada depresi menjadi permasalahan serius. Tingginya rutinitas pekerjaan, beban tugas sekolah dan perkuliahan serta komplesitas masalah di perkotaan mendorong berbagai hal menjadi pemicu stres. Jika tidak ditangani dengan baik, maka stres yang berkepanjangan akan mengarah kepada depresi dan gangguan mood. Namun temuan ilmiah terakhir stres juga berkaitan erat dengan fisiologis tubuh dimana dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh atau immune system. Hal ini tidak tertutup kemungkinan menyebabkan penyakit autoimun. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh. Banyak ditemukan bahwa penyakit autoimun sepert Lupus, sarkoidosis, vitiligo, hipotiroidisme dimana salah satu pemi...