Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

Featured post

Work From Home Bisa Merusak Kesehatan Mental? Ini Penjelasan Neurosainsnya

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Banyak orang mengira bekerja dari rumah ( work from home ) atau sistem hybrid adalah anugerah terbesar bagi pekerja di Jabodetabek. Tidak ada lagi drama macet di Sudirman, tidak perlu berdesakan di KRL Commuter Line pagi hari, dan bisa bekerja sambil mengenakan celana piyama. Namun, sebagai seorang pemerhati neurosains dan psikologi, saya ingin melemparkan sebuah kenyataan pahit yang mungkin tidak ingin Anda dengar: Bekerja dari kamar tamu atau meja makan Anda sebenarnya sedang menciptakan "kebakaran" di dalam sirkuit otak Anda yang jauh lebih berbahaya daripada polusi Jakarta. Kebebasan yang Anda rasakan itu semu. Tanpa disadari, dinding rumah Anda kini telah berubah menjadi dinding kantor yang tidak pernah tutup. Inilah yang disebut dengan jebakan boundary blurring atau pengikisan batas antara kehidupan profesional dan personal yang diperparah oleh technostress . Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Mod...

Work From Home Bisa Merusak Kesehatan Mental? Ini Penjelasan Neurosainsnya

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Banyak orang mengira bekerja dari rumah ( work from home ) atau sistem hybrid adalah anugerah terbesar bagi pekerja di Jabodetabek. Tidak ada lagi drama macet di Sudirman, tidak perlu berdesakan di KRL Commuter Line pagi hari, dan bisa bekerja sambil mengenakan celana piyama. Namun, sebagai seorang pemerhati neurosains dan psikologi, saya ingin melemparkan sebuah kenyataan pahit yang mungkin tidak ingin Anda dengar: Bekerja dari kamar tamu atau meja makan Anda sebenarnya sedang menciptakan "kebakaran" di dalam sirkuit otak Anda yang jauh lebih berbahaya daripada polusi Jakarta. Kebebasan yang Anda rasakan itu semu. Tanpa disadari, dinding rumah Anda kini telah berubah menjadi dinding kantor yang tidak pernah tutup. Inilah yang disebut dengan jebakan boundary blurring atau pengikisan batas antara kehidupan profesional dan personal yang diperparah oleh technostress . Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Mod...

Sering Lupa dan Sulit Fokus? Bisa Jadi Itu Brain Fog Akibat Burnout

  Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda duduk di depan laptop selama satu jam, menatap kursor yang berkedip, namun merasa otak Anda seperti "macet"? Anda tahu apa yang harus dikerjakan, tetapi memproses satu kalimat saja rasanya seperti mendaki gunung. Anda mulai sering lupa nama rekan kerja, kehilangan jejak di tengah rapat, atau merasa pikiran Anda "kosong" secara tiba-tiba. Banyak orang—mungkin termasuk atasan Anda—akan menyebut kondisi ini sebagai tanda Anda kurang kopi, kurang gigih, atau sekadar "kurang fokus". Namun, sebagai praktisi psikologi, saya ingin melemparkan pernyataan yang mungkin menyinggung banyak pihak: "Brain fog" atau kabut otak yang Anda alami bukanlah bukti bahwa Anda malas, melainkan bukti biologis bahwa lingkungan kerja Anda telah merusak arsitektur otak Anda. Kita sering meremehkan lupa sebagai hal sepele. Namun dalam artikel ini, kita akan membedah mengapa "lemot" yang Anda rasakan adalah...

Kantor Bilang "Kita Keluarga"? Waspada Toxic Culture Berkedok Empati

  Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga "Di sini, kita bukan cuma rekan kerja, tapi kita adalah keluarga." Kalimat ini sering kali terdengar sangat manis saat sesi onboarding atau wawancara kerja, terutama di perusahaan menengah (SME). Namun, sebagai seorang pemerhati neurosains dan psikologi, saya ingin melemparkan sebuah peringatan yang mungkin terdengar sinis namun nyata: Jika kantor Anda mulai terlalu sering mendengungkan jargon "kekeluargaan", berhati-hatilah. Itu bisa jadi adalah alarm awal bahwa batas-batas kehidupan pribadi Anda sedang terancam. Banyak Gen Z dan Milenial terjebak dalam romantisasi hubungan kerja ini, padahal di balik kata "keluarga" tersebut, sering kali bersembunyi budaya organisasi yang beracun ( toxic culture ). Sebagai penulis yang mendalami neurosains dan telah berkecimpung di berbagai perusahaan, saya melihat pola di mana metafora keluarga digunakan untuk memanipulasi emosi pekerja agar merasa bersalah jika tidak beker...