Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga
Pernahkah Anda merasa sangat lelah setelah
menempuh perjalanan dua jam dari Bekasi ke Sudirman, lalu sesampainya di meja
kantor, Anda hanya menatap layar kosong selama 30 menit? Banyak dari kita
menyalahkan kemacetan Jakarta yang legendaris sebagai biang keladi kelelahan
ini. Namun, sebagai pemerhati neurosains yang sering menangani kasus kesehatan
mental pekerja, saya ingin melemparkan sebuah pernyataan kontroversial: Macet
Jabodetabek mungkin hanyalah kambing hitam yang nyaman untuk menyembunyikan
kenyataan bahwa lingkungan kerja Anda sebenarnya sedang "merusak"
fungsi otak Anda.
Kita sering terjebak dalam mitos bahwa jika
perjalanan komuter kita lebih singkat, kita akan lebih bahagia. Padahal,
kelelahan yang Anda rasakan bukanlah sekadar "capek fisik" biasa,
melainkan sinyal dari kondisi klinis yang jauh lebih serius.
Baca artikel lainnya: Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Modern: Tinjauan Neurosains terhadap Brain Fog, Distorsi Kognitif, dan Dysregulasi Sistem Saraf
Hidup
Terlalu Cepat di Hutan Beton
Fenomena "hidup terlalu cepat" telah
menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di abad ke-21, terutama di kota
metropolitan seperti Jakarta. Menurut riset yang dilakukan oleh Mikołajewski,
Masiak, dan Mikołajewska (2023), gaya hidup yang serba instan dan cepat ini
memicu stres okupasional yang kronis. Bagi Gen Z dan Milenial, tekanan ini
berlipat ganda karena adanya fenomena boundary blurring atau pengikisan
batas antara dunia kerja dan kehidupan pribadi.
Zanella (2026) dalam studinya menjelaskan
bahwa hilangnya ritual perjalanan pulang-pergi yang biasanya berfungsi sebagai
momen "dekompresi psikologis" justru membuat otak kita kehilangan
sinyal untuk berhenti bekerja. Saat Anda bekerja secara hybrid atau
sering membawa pulang tugas, rumah bukan lagi tempat istirahat, melainkan
perpanjangan kantor. Akibatnya, sistem saraf kita terus berada dalam kondisi
siaga tinggi tanpa jeda pemulihan yang memadai.
Baca artikel lainnya: Cognitive Distortion dan Neuroscience of Burnout: Studi Literatur tentang Brain Fog, Emotional Exhaustion, dan Toxic Productivity pada Generasi Produktif
Burnout:
Bukan Malas, Tapi Otak yang "Padam"
Seringkali, atasan atau orang tua menganggap
rasa lelah kita sebagai tanda kurang gigih atau malas. Namun, secara
psikologis, ini adalah gejala burnout. Maslach, Schaufeli, dan Leiter
(2001) mendefinisikan burnout melalui tiga tanda utama: kelelahan
emosional yang luar biasa, sinisme atau menjauhkan diri secara mental dari
pekerjaan (depersonalisasi), dan perasaan tidak kompeten dalam bekerja.
Jangan salah, kelelahan ini memiliki dasar
biologis yang nyata. Chmiel dan Kurpas (2025) menggunakan pemindaian MRI untuk
membuktikan bahwa stres kerja kronis dapat menyebabkan pembesaran amygdala—pusat
emosi dan rasa takut di otak kita—sekaligus penyusutan pada area yang mengatur
kontrol diri dan emosi. Area otak Anda yang bertugas untuk fokus sedang
"menipis," sementara pusat alarm stres Anda justru semakin sensitif.
Inilah alasan mengapa muncul fenomena
"brain fog." Pihlaja dan kolega (2023) menemukan bahwa pekerja yang
mengalami burnout memiliki transisi kognitif yang lebih lambat; otak
mereka harus bekerja jauh lebih keras dan menghabiskan lebih banyak sumber daya
hanya untuk menyelesaikan tugas sederhana dibandingkan orang yang sehat. Jadi,
jika Anda merasa "lemot" di sore hari, itu bukan karena macet, tapi
karena otak Anda sudah kehabisan "baterai" mental.
Baca: Burnout & Brain Fog
Mendengarkan
Teriakan Tubuh
Masalahnya, literasi mengenai burnout
di kalangan pekerja urban masih rendah. Grossi, Perski, Osika, dan Savic (2015)
mencatat bahwa stres kronis seringkali muncul pertama kali melalui keluhan
fisik atau somatisasi. Sakit punggung yang tak kunjung sembuh, sinusitis
berulang, hingga sakit kepala hebat seringkali adalah cara tubuh Anda berteriak
meminta tolong.
Banyak dari kita juga terjebak dalam cognitive
distortion atau distorsi kognitif. Riset oleh Delavar, Erfani, dan Ebrahimi
(2015) menunjukkan bahwa pola pikir seperti mengabaikan pencapaian positif atau
terburu-buru mengambil kesimpulan negatif sangat berkorelasi dengan tingkat
stres kerja. Kita sering merasa bahwa jika kita tidak bekerja 12 jam sehari,
kita adalah kegagalan. Pola pikir inilah yang mempercepat proses pembakaran
energi emosional kita hingga habis.
Baca artikel lainnya: Kenapa Stres Bikin Sakit? Ini Rahasia Otakmu & Hormon yang Bekerja di Baliknya
Strategi
Adaptasi: Menjemput Kembali Kewarasan
Sebagai solusi, kita perlu melakukan
intervensi yang proaktif sebelum kerusakan otak menjadi permanen. Berdasarkan
analisis saya terhadap berbagai sumber riset, berikut adalah langkah praktis
yang bisa Anda ambil:
- Menetapkan Batas Digital (The Right to Disconnect).
Anda harus
berani mematikan notifikasi setelah jam kerja. Matturro (2019) menekankan bahwa
self-care adalah kewajiban etis bagi setiap profesional untuk menjaga
kesehatan emosionalnya.
- Job Crafting
Jangan
hanya menjadi robot. Cohen et al., (2023) menyarankan job crafting,
yaitu melakukan perubahan kecil pada tugas atau cara Anda berinteraksi di
kantor agar pekerjaan terasa lebih bermakna dan kurang menekan.
- Kombinasi Terapi dan Gerak.
Riset oleh Jaworska-Burzyńska
et al., (2016) membuktikan bahwa kombinasi psikoterapi (seperti CBT) dengan
aktivitas fisik ringan di tempat kerja—seperti peregangan 10 menit—sangat
efektif menurunkan tingkat kelelahan emosional.
- Kapasitas Kejujuran (Hours of Brilliance).
Zanella (2026) menyarankan konsep "hours of brilliance," di mana kita mengakui bahwa otak manusia hanya memiliki waktu fokus puncak sekitar 4 hingga 6 jam sehari. Manfaatkan waktu ini untuk tugas tersulit, dan jangan paksakan diri untuk terus "terlihat sibuk" di sisa waktu lainnya.
Baca artikel lainnya: Berhenti Stres! Kenapa "Santai" Itu Perintah Otak, Bukan Pilihan (Dan Cara Melakukannya!)
Kesimpulan
Kelelahan mental yang Anda rasakan di tengah
hiruk-pikuk Jabodetabek adalah nyata dan valid. Berhenti menyalahkan macet
sebagai satu-satunya alasan. Mulailah melihat ke dalam: bagaimana beban kerja
dan budaya kantor Anda memengaruhi kesehatan otak Anda secara biologis. Dengan
mengenali tanda-tanda awal dan berani menetapkan batas, Anda tidak hanya sedang
menyelamatkan karier, tetapi juga sedang menyelamatkan masa depan kesehatan
mental Anda.
Referensi
Chmiel, J., & Kurpas, D. (2025). Burnout
and the brain—A mechanistic review of Magnetic Resonance Imaging (MRI) studies.
International Journal of Molecular Sciences, 26(8379). https://www.mdpi.com/1422-0067/26/17/8379
Cohen, C., Pignata, S., Bezak, E., Tie, M.,
& Childs, J. (2023). Workplace interventions to improve well-being and
reduce burnout for nurses, physicians and allied healthcare professionals: A
systematic review. BMJ Open, 13(e071203).https://bmjopen.bmj.com/content/bmjopen/13/6/e071203.full.pdf
Delavar, M. Z., Erfani, N., & Ebrahimi, M.
I. (2015). Prediction of job stress based on cognitive distortions among
employees in industry, mine and trade organization in Hamadan Province. Indian
Journal of Fundamental and Applied Life Sciences, 5(S4), 633–642. https://www.academia.edu/download/80509117/81-JLS-S4-82-PREDICTION-PROVINCE.pdf
Grossi, G., Perski, A., Osika, W., &
Savic, I. (2015). Stress-related exhaustion disorder – clinical manifestation
of burnout? A review of assessment methods, sleep impairments, cognitive
disturbances, and neuro-biological and physiological changes in clinical
burnout. Scandinavian Journal of Psychology, 56, 626–636. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/sjop.12251
Jaworska-Burzyńska, L., Kanaffa-Kilijańska,
U., Przysiężna, E., & Szczepańska-Gieracha, J. (2016). The role of therapy
in reducing the risk of job burnout – a systematic review of literature. Archives
of Psychiatry and Psychotherapy, 4, 43–52. https://www.archivespp.pl/pdf-65815-80169?filename=The-role-of-therapy-in-re.pdf
Maslach, C., Schaufeli, W. B., & Leiter,
M. P. (2001). Job burnout. Annual Review of Psychology, 52,
397–422. https://dspace.library.uu.nl/bitstream/handle/1874/13606/maslach_01_jobburnout.pdf?sequence=2
Matturro, L. (2019). Stress, cognitive
distortions, engagement in self-care, and burnout in psychology graduate
students. PCOM Psychology Dissertations.https://digitalcommons.pcom.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1510&context=psychology_dissertations
Mikołajewski, D., Masiak, J., & Mikołajewska,
E. (2023). Neurophysiological determinants of occupational stress and burnout. Journal
of Education, Health and Sport, 21(1), 33-46. https://apcz.umk.pl/JEHS/article/download/43534/35443
Pihlaja, M., Peräkylä, J., Erkkilä, E. H.,
Tapio, E., Vertanen, M., & Hartikainen, K. M. (2023). Altered neural
processes underlying executive function in occupational burnout—Basis for a
novel EEG biomarker. Frontiers in Human Neuroscience, 17(1194714). https://www.frontiersin.org/journals/human-neuroscience/articles/10.3389/fnhum.2023.1194714/pdf

Komentar
Posting Komentar