Langsung ke konten utama

Apa Itu Burnout?


Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga 

Ilustrasi pekerja yang alami burnout


Kalau setiap hari Anda pulang kerja dengan tubuh dan pikiran terkuras, itu belum tentu burnout. Sebaliknya, kalau Anda masih bisa tersenyum di kantor tetapi diam-diam kehilangan semangat hidup, justru itulah yang patut diwaspadai.

Di media sosial, istilah burnout sering digunakan untuk menggambarkan semua bentuk kelelahan. Baru lembur dua hari disebut burnout, tugas sedang banyak disebut burnout, bahkan bos yang menyebalkan pun langsung dianggap penyebab burnout. Padahal, ilmu pengetahuan memiliki definisi yang jauh lebih spesifik. Tidak semua rasa lelah adalah burnout, dan tidak semua orang yang mengalami burnout terlihat lelah dari luar.

Pendahuluan

Bagi banyak pekerja di Jabodetabek, hari kerja sering dimulai sebelum matahari terbit dan berakhir ketika langit sudah gelap. Waktu habis untuk perjalanan, rapat, target kerja, serta notifikasi pekerjaan yang terus berdatangan hingga malam. Tidak mengherankan jika banyak pekerja, terutama Gen Z dan milenial, mulai mempertanyakan apakah rasa lelah yang mereka alami masih tergolong normal atau sudah mengarah pada burnout.

Fenomena ini juga terlihat dari berbagai diskusi di LinkedIn, X (Twitter), TikTok, hingga Reddit Indonesia. Dari pengamatan penulis, semakin banyak pekerja yang mengaku kehilangan motivasi, sulit fokus, dan merasa "capek secara mental" meskipun tidak melakukan pekerjaan fisik yang berat. Meski pengamatan tersebut bukan data ilmiah, pola percakapan yang berulang menunjukkan bahwa burnout telah menjadi isu yang semakin dekat dengan kehidupan pekerja modern.

Artikel ini akan membantu Anda memahami apa sebenarnya burnout, bagaimana organisasi kesehatan dunia mendefinisikannya, serta mengapa memahami definisi yang benar merupakan langkah pertama untuk mencegah dampak yang lebih serius.

Baca artikel lainnya: Burnout: Penyebab, Gejala, Dampak, Tes, dan Cara Pulih Berdasarkan Neurosains

Apa Itu Burnout?

Secara sederhana, burnout adalah kondisi kelelahan akibat stres kerja yang berlangsung terus-menerus dan tidak berhasil dikelola. Burnout bukan sekadar merasa lelah setelah lembur atau sibuk mengejar tenggat waktu. Kondisi ini berkembang secara bertahap ketika tekanan pekerjaan berlangsung dalam waktu lama tanpa adanya kesempatan yang cukup untuk pulih.

Dalam praktiknya, seseorang yang mengalami burnout tidak hanya kehilangan energi. Ia juga mulai merasa pekerjaannya tidak lagi bermakna, menjadi lebih sinis terhadap pekerjaan atau rekan kerja, serta merasa performanya terus menurun meskipun sudah bekerja lebih keras. Inilah yang membedakan burnout dari rasa lelah biasa.

Baca artikel lainnya: Burnout vs Stress: Apa Bedanya?

Definisi Menurut World Health Organization (WHO)

World Health Organization (WHO) melalui International Classification of Diseases edisi ke-11 (ICD-11) mendefinisikan burnout sebagai sindrom yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. WHO menegaskan bahwa burnout bukan penyakit, melainkan fenomena yang secara khusus berkaitan dengan pekerjaan. Artinya, istilah burnout tidak digunakan untuk menggambarkan semua bentuk stres dalam kehidupan pribadi.

Menurut WHO, burnout memiliki tiga karakteristik utama, yaitu:

  • perasaan kehabisan energi atau kelelahan yang berkepanjangan;
  • munculnya jarak emosional terhadap pekerjaan, seperti sinisme atau sikap negatif terhadap pekerjaan;
  • menurunnya efektivitas atau kinerja profesional.

Definisi ini penting karena membantu kita memahami bahwa burnout bukan sekadar "tidak semangat bekerja". Burnout adalah konsekuensi dari paparan stres kerja kronis yang terus berlangsung tanpa strategi pemulihan yang memadai. Inilah sebabnya mengapa mengenali tanda-tandanya sejak dini menjadi langkah penting, terutama bagi pekerja yang hidup di lingkungan kerja dengan tuntutan tinggi seperti Jabodetabek.

Baca artikel lainnya: Burnout vs Depresi

Definisi Menurut Christina Maslach

Jika WHO menjelaskan burnout dari sudut pandang kesehatan kerja, maka nama yang paling berpengaruh dalam penelitian burnout adalah Christina Maslach, seorang psikolog sosial dari University of California, Berkeley. Bersama Susan Jackson, Maslach mengembangkan Maslach Burnout Inventory (MBI) yang hingga kini menjadi instrumen paling banyak digunakan untuk mengukur burnout di berbagai negara.

Menurut Maslach, burnout adalah sindrom psikologis yang muncul akibat paparan stres kronis di tempat kerja, yang ditandai oleh tiga dimensi utama, yaitu kelelahan emosional (emotional exhaustion), sikap sinis atau menjaga jarak terhadap pekerjaan (depersonalization atau cynicism), dan menurunnya rasa mampu atau pencapaian profesional (reduced personal accomplishment). Konsep inilah yang kemudian menjadi dasar bagi definisi burnout dalam ICD-11 yang diterbitkan WHO.
Dengan kata lain, burnout bukan hanya soal merasa lelah. Seseorang bisa tetap datang ke kantor setiap hari, menyelesaikan tugas tepat waktu, tetapi secara emosional sudah "kosong". Ia mulai kehilangan antusiasme, merasa pekerjaannya tidak lagi bermakna, bahkan menjadi sinis terhadap rekan kerja atau pelanggan.

Baca artikel lainnya: Capek Terus Bukan Berarti Rajin! Ini 4 Gejala Burnout Fisik yang Sering Dianggap Sepele

Sejarah Perkembangan Konsep Burnout

Istilah burnout pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Amerika, Herbert Freudenberger, pada tahun 1974. Ia menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan kondisi kelelahan fisik dan mental yang dialami para pekerja layanan sosial setelah menghadapi tekanan pekerjaan dalam waktu lama. Beberapa tahun kemudian, Christina Maslach mengembangkan konsep tersebut melalui penelitian yang lebih sistematis dan memperkenalkan tiga dimensi burnout yang hingga kini menjadi acuan internasional.

Perkembangan penting berikutnya terjadi pada tahun 2019 ketika World Health Organization (WHO) memasukkan burnout ke dalam International Classification of Diseases (ICD-11) sebagai fenomena akibat pekerjaan (occupational phenomenon). WHO menegaskan bahwa burnout bukan penyakit, melainkan sindrom yang muncul karena stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola.

Perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa burnout bukan sekadar istilah populer di media sosial, tetapi merupakan konsep ilmiah yang telah berkembang selama lebih dari lima dekade.

Baca artikel lainnya: Bukan Karena Kamu Lemah! Ini Penyebab Burnout yang Diam-Diam Sedang Menggerogoti Otak Pekerja Muda

Fenomena Gen Z di Indonesia

Burnout kini semakin sering dibicarakan oleh pekerja muda, terutama Generasi Z. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa generasi ini memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap isu kesehatan mental, tetapi juga menghadapi tekanan baru berupa budaya kerja digital, ekspektasi produktivitas tinggi, dan tuntutan untuk selalu terhubung secara daring. Survei global Deloitte menunjukkan bahwa sekitar setengah dari pekerja Gen Z melaporkan pernah mengalami burnout di tempat kerja, sementara jam kerja yang panjang, kurangnya penghargaan, dan budaya kerja yang tidak sehat menjadi pemicu utama.

Di Indonesia, penelitian terhadap pekerja Generasi Z juga menemukan bahwa beban kerja yang tinggi meningkatkan stres kerja dan pada akhirnya berkontribusi terhadap burnout, sehingga perusahaan perlu menyesuaikan beban kerja dengan kapasitas karyawan agar risiko burnout dapat ditekan.

Baca juga artikel lainnya: Kerja Keras Saja Tidak Cukup! Ini Cara Mengatasi Burnout yang Benar Menurut Neurosains

Observasi Penulis

Selama beberapa tahun terakhir, penulis mengamati meningkatnya pembahasan mengenai burnout di berbagai platform seperti LinkedIn, X (Twitter), TikTok, dan Reddit Indonesia. Menariknya, sebagian besar pekerja muda tidak lagi mengeluhkan gaji sebagai masalah utama. Keluhan yang lebih sering muncul adalah kelelahan mental, sulit memisahkan kehidupan pribadi dan pekerjaan, rapat yang terlalu banyak, serta budaya always-on yang membuat notifikasi pekerjaan tetap masuk hingga malam hari.

Dari berbagai diskusi tersebut, terlihat bahwa banyak pekerja menganggap burnout identik dengan "tidak kuat bekerja". Padahal, berdasarkan literatur ilmiah, burnout justru lebih sering muncul pada individu yang awalnya memiliki motivasi tinggi, berdedikasi, dan berusaha mempertahankan performa dalam tekanan yang berlangsung lama. Dengan memahami definisi burnout secara benar, pekerja dapat lebih cepat mengenali tanda-tandanya dan mengambil langkah pemulihan sebelum kondisi tersebut memengaruhi kesehatan, hubungan sosial, maupun produktivitas kerja.

Baca artikel lainnya: Sering Bilang 'Capek Kerja'? Jangan-Jangan Itu Burnout. Coba Tes Ini Sebelum Terlambat!

Perspektif Neurosains: Apa yang Terjadi pada Otak Saat Burnout?

Selama bertahun-tahun, burnout sering dianggap hanya sebagai masalah motivasi atau sikap terhadap pekerjaan. Namun, perkembangan ilmu neurosains menunjukkan bahwa burnout berkaitan dengan perubahan cara otak dan tubuh merespons stres kronis.

Ketika seseorang menghadapi tekanan pekerjaan secara terus-menerus, tubuh akan mengaktifkan Hypothalamic–Pituitary–Adrenal (HPA) axis, yaitu sistem biologis yang mengatur respons terhadap stres. Aktivasi ini memicu pelepasan hormon kortisol agar tubuh siap menghadapi tantangan. Dalam kondisi normal, kadar kortisol akan kembali turun setelah sumber stres berakhir. Akan tetapi, pada burnout, tekanan berlangsung berulang tanpa pemulihan yang memadai sehingga sistem respons stres bekerja lebih lama dari yang seharusnya. Kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi perhatian, regulasi emosi, hingga kemampuan mengambil keputusan.

Penelitian menggunakan electroencephalography (EEG) juga menemukan bahwa pekerja dengan burnout menunjukkan perubahan aktivitas otak yang berkaitan dengan fungsi eksekutif, yaitu kemampuan untuk berkonsentrasi, merencanakan pekerjaan, mengendalikan impuls, dan berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya. Menariknya, sebagian pekerja masih mampu mempertahankan performa kerjanya, tetapi otaknya harus mengeluarkan usaha yang lebih besar dibandingkan orang yang tidak mengalami burnout. Hal ini menjelaskan mengapa banyak pekerja berkata, "Saya masih bisa bekerja, tetapi rasanya jauh lebih melelahkan daripada dulu."

Baca juga artikel: Burnout Bukan Cuma Bikin Capek. Penelitian Terbaru Menunjukkan Otak Anda Ikut Berubah

Mengapa Burnout Berbeda dengan Stres Biasa?

Setiap orang pasti pernah mengalami stres. Namun, tidak semua stres adalah burnout.

Stres biasanya bersifat sementara. Setelah pekerjaan selesai, libur akhir pekan, atau cuti beberapa hari, tubuh mulai pulih dan semangat kembali. Sebaliknya, burnout berkembang secara perlahan akibat stres kerja yang berlangsung terus-menerus tanpa kesempatan untuk benar-benar beristirahat. WHO bahkan menegaskan bahwa burnout hanya digunakan untuk menggambarkan fenomena yang berkaitan dengan konteks pekerjaan, bukan seluruh aspek kehidupan.

Dengan kata lain, stres adalah respons normal terhadap tekanan, sedangkan burnout merupakan konsekuensi ketika tekanan tersebut berlangsung terlalu lama hingga menguras energi fisik, emosional, dan mental.

Contoh Kasus Pekerja Profesional (Nama Disamarkan)

"Rina" (29 tahun), seorang analis pemasaran di Jakarta, dikenal sebagai karyawan yang berprestasi. Selama dua tahun pertama, ia hampir tidak pernah menolak lembur dan selalu siap menjawab pesan kantor di luar jam kerja.

Memasuki tahun ketiga, ia mulai mengalami sulit tidur, mudah lupa saat rapat, dan merasa setiap pekerjaan sekecil apa pun terasa berat. Meskipun hasil evaluasi kinerjanya masih baik, ia mengaku tidak lagi menikmati pekerjaannya dan sering merasa bersalah ketika mengambil cuti.

Setelah berkonsultasi dengan psikolog, tidak ditemukan gangguan neurologis ataupun penyakit fisik yang serius. Kondisi tersebut lebih mengarah pada burnout akibat paparan stres kerja yang berlangsung lama. Kasus seperti ini menunjukkan bahwa burnout sering kali tidak terlihat dari luar karena seseorang masih mampu menyelesaikan pekerjaannya, tetapi membutuhkan usaha mental yang jauh lebih besar.

Analisis Berdasarkan Pengalaman Lintas Industri

Berdasarkan berbagai laporan penelitian dan pengalaman praktisi di bidang kesehatan kerja, burnout tidak hanya dialami tenaga kesehatan. Kondisi ini juga banyak ditemukan pada pekerja teknologi, keuangan, pendidikan, layanan pelanggan, media, hingga sektor kreatif. Meskipun bentuk pekerjaannya berbeda, pola penyebabnya relatif serupa, yaitu kombinasi antara beban kerja tinggi, tuntutan performa yang terus meningkat, kurangnya kontrol terhadap pekerjaan, serta minimnya waktu untuk pemulihan.

Dari pengamatan penulis terhadap berbagai diskusi profesional di LinkedIn dan komunitas pekerja digital, muncul pola yang menarik. Banyak pekerja tidak mengeluhkan pekerjaannya semata, tetapi lebih sering mengeluhkan budaya kerja yang membuat mereka merasa harus selalu produktif. Notifikasi yang masuk di malam hari, rapat yang memenuhi kalender, dan ekspektasi untuk selalu tersedia secara daring membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur. Dalam jangka panjang, kondisi inilah yang menjadi lahan subur bagi munculnya burnout.

Ringkasan

Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja keras. Dari perspektif neurosains, burnout berkaitan dengan perubahan respons biologis terhadap stres kronis yang dapat memengaruhi fungsi otak, terutama kemampuan berkonsentrasi, mengatur emosi, dan mengambil keputusan. Berbeda dengan stres biasa yang dapat pulih setelah beristirahat, burnout memerlukan pemulihan yang lebih terarah karena melibatkan kelelahan emosional, sinisme terhadap pekerjaan, dan penurunan efektivitas kerja. Memahami perbedaan tersebut merupakan langkah penting agar burnout dapat dikenali lebih dini dan ditangani sebelum berdampak lebih luas terhadap kesehatan maupun karier.

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Apakah burnout sama dengan stres?

Tidak. Stres merupakan respons normal tubuh terhadap tekanan dan umumnya bersifat sementara. Burnout adalah kondisi yang berkembang akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola sehingga menimbulkan kelelahan emosional, sikap sinis terhadap pekerjaan, dan menurunnya efektivitas kerja. WHO bahkan menegaskan bahwa burnout hanya digunakan dalam konteks pekerjaan, bukan untuk menggambarkan seluruh masalah kehidupan.

2. Apakah burnout termasuk penyakit?

Tidak. Menurut World Health Organization (WHO), burnout bukan penyakit, melainkan occupational phenomenon (fenomena akibat pekerjaan) yang tercantum dalam ICD-11. Meskipun demikian, burnout dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan fisik maupun mental apabila tidak ditangani dengan baik.

3. Siapa yang paling berisiko mengalami burnout?

Burnout dapat dialami siapa saja. Namun, penelitian menunjukkan bahwa pekerja dengan beban kerja tinggi, tekanan target yang besar, jam kerja panjang, minimnya kontrol terhadap pekerjaan, serta profesi yang menuntut interaksi intensif dengan orang lain memiliki risiko lebih tinggi mengalami burnout.

4. Apakah burnout bisa pulih?

Ya. Sebagian besar orang dapat pulih apabila burnout dikenali sejak dini dan ditangani melalui kombinasi perubahan lingkungan kerja, istirahat yang cukup, dukungan sosial, serta pendampingan profesional bila diperlukan. Penelitian neurosains juga menunjukkan bahwa otak memiliki kemampuan beradaptasi (neuroplasticity), sehingga fungsi kognitif dapat membaik setelah sumber stres berhasil dikelola.

Kesimpulan

Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja keras. Burnout merupakan sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola dan telah diakui oleh WHO sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan. Kondisi ini berkembang secara bertahap, memengaruhi emosi, cara berpikir, produktivitas, hingga kesehatan fisik.

Perjalanan konsep burnout, mulai dari pengamatan Herbert Freudenberger pada tahun 1970-an, pengembangan model ilmiah oleh Christina Maslach, hingga pengakuan resmi dalam ICD-11, menunjukkan bahwa burnout bukan istilah populer semata, melainkan konsep yang memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Bagi pekerja modern, terutama di kota besar seperti Jabodetabek, memahami burnout merupakan langkah awal untuk menjaga kesehatan mental sekaligus mempertahankan kualitas hidup dan karier dalam jangka panjang.

Call to Action (CTA)

Merasa sering lelah, kehilangan motivasi, atau sulit menikmati pekerjaan bukan berarti Anda lemah.

Bisa jadi, tubuh dan otak Anda sedang memberikan sinyal bahwa sudah waktunya untuk pulih.

Pada artikel berikutnya, kita akan membahas lebih dalam mengenai penyebab burnout, mulai dari faktor organisasi, budaya kerja, perfeksionisme, hingga penjelasan neurosains tentang mengapa stres yang berlangsung terlalu lama dapat mengubah cara otak bekerja.

Jangan lupa simpan artikel ini dan bagikan kepada rekan kerja atau keluarga yang mungkin sedang mengalami tanda-tanda burnout. Semakin dini burnout dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah dampaknya terhadap kesehatan dan produktivitas.

Daftar Pustaka

Bianchi, R., & Schonfeld, I. S. (2023). Examining the evidence base for burnout. Bulletin of the World Health Organization101(11), 743. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10630726/pdf/BLT.23.289996.pdf

Jiao, W., Wu, A., & Wang, L. (2018). Correlation between emotion and job burnout decision-making quality based on cognitive neuroscience. NeuroQuantology, 16(5), 588–593. https://scholar.archive.org/work/lvqmum25wjbfplrotdc75kwvwm/access/wayback/http://pdfs.semanticscholar.org/e339/0a06fd3e699cc6380c742c47bbd803eff99b.pdf

Maslach, C., & Jackson, S. E. (1981). The measurement of experienced burnout. Journal of Occupational Behavior, 2(2), 99–113. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdfdirect/10.1002/job.4030020205?utm_source=consensus

MikoÅ‚ajewski, D., Masiak, J., & MikoÅ‚ajewska, E. (2023). Neurophysiological determinants of occupational stress and burnout. Journal of Education, Health and Sport, 21(1), 33–46. https://apcz.umk.pl/JEHS/article/download/43534/35443

Pihlaja, M., Peräkylä, J., Erkkilä, E.-H., Tapio, E., Vertanen, M., & Hartikainen, K. M. (2023). Altered neural processes underlying executive function in occupational burnout—Basis for a novel EEG biomarker. Frontiers in Human Neuroscience, 17, 1194714. https://www.frontiersin.org/journals/human-neuroscience/articles/10.3389/fnhum.2023.1194714/pdf

Sertoz, O. O., Binbay, I. T., Koylu, E., Noyan, A., Yıldırım, E., & Mete, H. E. (2008). The role of BDNF and HPA axis in the neurobiology of burnout syndrome. Progress in Neuro-Psychopharmacology & Biological Psychiatry, 32(6), 1459–1465. https://www.academia.edu/download/89453239/j.pnpbp.2008.05.00120220810-1-5d4m0u.pdf

World Health Organization. (2019). Burn-out an occupational phenomenon: International Classification of Diseases (ICD-11). https://www.who.int/news/item/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon-international-classification-of-diseases

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Burnout: Penyebab, Gejala, Dampak, Tes, dan Cara Pulih Berdasarkan Neurosains

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Burnout bukan terjadi karena Anda "lemah". Bisa jadi justru karena Anda terlalu kuat bertahan. Di media sosial, kita sering melihat budaya hustle : lembur dianggap dedikasi, selalu online dianggap profesional, dan membalas pesan kantor tengah malam dianggap loyalitas. Akibatnya, banyak pekerja merasa bersalah ketika beristirahat, padahal otaknya sudah memberi sinyal bahaya. Yang ironis, sebagian orang baru menyadari dirinya mengalami burnout ketika tubuh mulai "protes": sulit tidur, mudah marah, kehilangan motivasi, sering lupa, atau merasa lelah meski baru bangun tidur. Padahal, burnout bukan sekadar capek biasa. Menurut World Health Organization, burnout merupakan sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola, bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja. Ilustrasi pekerja yang alami burnout Baca artikel lainnya:  Apa itu Burnout? Pendahuluan Bayangkan seorang karyawan di Jakarta yang setiap hari menghab...

Deteksi Dini Stres dan Depresi

Stres! Itulah yang sering diungkapkan saat pikiran kita kalut atau banyak permasalahan. Namun jika ditelaah lebih lanjut, stres tidak hanya bersifat psikis saja. Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Oleh karena itu, saat tubuh kita merasakan tekanan dari luar baik fisik, psikis, emosi maupun mental maka tubuh dapat memberikan respon. Secara umum pemicu stres atau stressor dapat didefinsikan sebagai segala tantangan yang muncul dari dalam atau luar yang mengganggu internal tubuh kita. Tubuh kita akan merespon stressor yang terlibat dalam berbagai mekanisme fisiologi yang dirancang untuk mengembalikan homeostasis. Homeostasis adalah suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang di alaminya. Baca juga:  VITAMIN B DAN DEPRESI Saat stres datang kesei...

Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Saat ini stres menjadi permasalahan utama di perkotaan. Bahkan stres yang berujung kepada depresi menjadi permasalahan serius. Tingginya rutinitas pekerjaan, beban tugas sekolah dan perkuliahan serta komplesitas masalah di perkotaan mendorong berbagai hal menjadi pemicu stres. Jika tidak ditangani dengan baik, maka stres yang berkepanjangan akan mengarah kepada depresi dan gangguan mood. Namun temuan ilmiah terakhir stres juga berkaitan erat dengan fisiologis tubuh dimana dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh atau immune system. Hal ini tidak tertutup kemungkinan menyebabkan penyakit autoimun. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh. Banyak ditemukan bahwa penyakit autoimun sepert Lupus, sarkoidosis, vitiligo, hipotiroidisme dimana salah satu pemi...