Langsung ke konten utama

TRANSCRANIAL LLLT


Telah diketahui bahwa gangguan depresi terjadi karena adanya permasalahan pada tingkat seluler.  Metabolisme di tingkat seluler, khususnya mitokondria mengalami disfungsi sehingga terjadi produksi yang menggangu metabolisme sel saraf.  Hal ini dikarenakan adanya inflamasi atau pembengkakan pada jaringan saraf.  Proses inflamasi ini menghasilkan protein yang memberikan sinyal kepada sistem kekebalan tubuh.  Proses yang terjadi pada tingkatan seluler ini mempengaruhi kerja pada tingkatan jaringan dan organ. 


Oleh karena itu permasalahan depresi harus ditangani dengan intervensi yang mampu menjangkau tingkat seluler.  Bagaimana mekanisme metabolisme di tingkat sel diperbaiki sehingga akan berdampak positif di tingkatan jaringan dan organ.  Bahkan pada tingkatan yang komplek, perbaikan di tingkat seluler ini diharapkan dapat memperbaiki sistem kerja organ dan tubuh secara keseluruhan.
Salah satu intervensi depresi adalah dengan menggunakan laser dengan intensitas rendah (low laser light therapy / LLT).  Terapi ini prinsipnya adalah menggunakan cahaya untuk memperbaiki metabolisme tubuh.  Sudah kita ketahui bahwa cahaya matahari memiliki dampak positif pada tubuh bahkan tingkatan sel.  Hal inilah yang dijadikan dasar bagaimana radiasi cahaya digunakan untuk memperbaiki jaringan ataupun organ yang memiliki masalah. Prinsip iniliah yang disebut dengan 


Photobiomodulation. 
Pemberian cahaya dalam bentuk photobiomodulation adalah kunci perubahan fisiologi. Hal ini terjadi dengan meningkatkan sekresi atau pengeluaran protein (sitokines) yang bersifat anti inflamasi.  Pemberian paparan cahaya tersebut juga menurunkan kadar sekresi protein yang memperburuk inflamasi.  Hal tersebut juga menurunkan tingkatan apoptosis. 

Pada tingkatan jaringan, aliran darah menjadi meningkat.  Aliran darah menjadi lancar, yang pada akhirnya memperbaiki metabolisme di tingkat jaringan.  Di sisi lain, pemberian cahaya akan menurunkan pengeluaran cairan limfatik. Kedua hal ini akan meningkatkan proses metabolisme di jaringan yang menekan pembentukan oedema (pembengkakan karena carian limfatik).  Oedema disebut juga sembab, yaitu meningkatnya volume cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler (cairan interstitium) yang disertai dengan penimbunan cairan abnormal dalam sela-sela jaringan dan rongga serosa (jaringan ikat longgar dan rongga-rongga badan). Oedema dapat bersifat setempat (lokal) dan umum (general).Pada akhirnya proses penyembuhan terjadi melalui proses angiogenesis, migrasi sel, dan pembentukan kolagen.  Angiogenesis adalah proses pembentukan pembuluh darah baru dalam tubuh manusia, dan merupakan proses alamiah yang berperan penting dalam penyembuhan luka dan reproduksi.


Penelitian yang dilakukan oleh Schiffer dan kawan-kawan (2009) menunjukkan pemberian sinar laser memperbaiki pasien dengan depresi berat serta kecemasan.  Pemberian LLT pada 10 pasein selama 4 menit setelah dua minggu menurunkan skala depresi sebanyak 10 poin (23,9 menjadi 13,2).  Meskipun pemberian LLT setelah 4 minggu, simptomp depresi tersebut mulai menghilang. 

Gangguan atau masalah kesehatan yang dapat menerima treatment photobiomodulation atau LLLT.  Untuk gangguan psikiatrik antara lain adalah depresi berat, gagasan untuk bunuh diri, kecemasan akut, kecanduan, post traumatic stress disorder, dan insomnia.  Photobiomodulation adalah salah satu alternatif untuk permasalahan gangguan di otak.  Sampai saat ini belum ditemukan obat yang benar-benar efektif dalam menangani masalah traumatic brain injury dan anti depressan.  Penggunaan obat terbukti memberikan efek samping bagi pengguna. 


DAFTAR PUSTAKA
Hamblin, M.R. (2016). Photobiomodulation for the brain: has the light dawned? Biochemical Society, Desember 2016; 24-28. https://healabc.com/wp-content/uploads/2020/07/NovoTHOR_BrainDamage-2.pdf

Schiffer, F., Johnston, A.L., Ravichandran, C., Polcari, A., Teicher, M.H., Webb, R.H., & Hamblin, M.R. Psychological benefits 2 and 4 weeks after a single treatment with near infrared light to the forehead: a pilot study of 10 patients with major depression and anxiety. Behav Brain Funct, 5, 46 (2009). https://link.springer.com/content/pdf/10.1186/1744-9081-5-46.pdf


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Burnout: Penyebab, Gejala, Dampak, Tes, dan Cara Pulih Berdasarkan Neurosains

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Burnout bukan terjadi karena Anda "lemah". Bisa jadi justru karena Anda terlalu kuat bertahan. Di media sosial, kita sering melihat budaya hustle : lembur dianggap dedikasi, selalu online dianggap profesional, dan membalas pesan kantor tengah malam dianggap loyalitas. Akibatnya, banyak pekerja merasa bersalah ketika beristirahat, padahal otaknya sudah memberi sinyal bahaya. Yang ironis, sebagian orang baru menyadari dirinya mengalami burnout ketika tubuh mulai "protes": sulit tidur, mudah marah, kehilangan motivasi, sering lupa, atau merasa lelah meski baru bangun tidur. Padahal, burnout bukan sekadar capek biasa. Menurut World Health Organization, burnout merupakan sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola, bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja. Ilustrasi pekerja yang alami burnout Baca artikel lainnya:  Apa itu Burnout? Pendahuluan Bayangkan seorang karyawan di Jakarta yang setiap hari menghab...

Deteksi Dini Stres dan Depresi

Stres! Itulah yang sering diungkapkan saat pikiran kita kalut atau banyak permasalahan. Namun jika ditelaah lebih lanjut, stres tidak hanya bersifat psikis saja. Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Oleh karena itu, saat tubuh kita merasakan tekanan dari luar baik fisik, psikis, emosi maupun mental maka tubuh dapat memberikan respon. Secara umum pemicu stres atau stressor dapat didefinsikan sebagai segala tantangan yang muncul dari dalam atau luar yang mengganggu internal tubuh kita. Tubuh kita akan merespon stressor yang terlibat dalam berbagai mekanisme fisiologi yang dirancang untuk mengembalikan homeostasis. Homeostasis adalah suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang di alaminya. Baca juga:  VITAMIN B DAN DEPRESI Saat stres datang kesei...

Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Saat ini stres menjadi permasalahan utama di perkotaan. Bahkan stres yang berujung kepada depresi menjadi permasalahan serius. Tingginya rutinitas pekerjaan, beban tugas sekolah dan perkuliahan serta komplesitas masalah di perkotaan mendorong berbagai hal menjadi pemicu stres. Jika tidak ditangani dengan baik, maka stres yang berkepanjangan akan mengarah kepada depresi dan gangguan mood. Namun temuan ilmiah terakhir stres juga berkaitan erat dengan fisiologis tubuh dimana dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh atau immune system. Hal ini tidak tertutup kemungkinan menyebabkan penyakit autoimun. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh. Banyak ditemukan bahwa penyakit autoimun sepert Lupus, sarkoidosis, vitiligo, hipotiroidisme dimana salah satu pemi...