Langsung ke konten utama

Featured post

Cara Mudah Bikin Otak "Plong" dan Hati Tenang dalam 30 Hari

Pernahkah Anda merasa pikiran sangat ruwet, pusing memikirkan masa depan, atau merasa capek padahal tidak sedang kerja berat? Rasanya seperti HP jadul yang mulai "lemot" atau macet saat dipakai. Kalau sudah begini, kita jadi gampang marah, sulit konsentrasi, dan sering merasa tidak berdaya. Tahukah Anda? Ternyata otak kita itu mirip seperti mesin. Kalau mesin terus-menerus dipaksa bekerja tanpa dirawat, lama-lama mesinnya akan panas atau overheat . Begitu juga otak kita. Kabar baiknya, ada cara sederhana untuk "meriset" ulang otak kita supaya kembali segar dan lancar lewat sebuah kegiatan bernama 30-Day Digital Bootcamp Neuro-Husnuzzan . Pelatihan ini akan diadakan pada 17 Mei sampai 17 Juni 2026 . Jangan bayangkan ini seperti sekolah yang membosankan. Kita akan belajar cara merawat otak hanya lewat HP dan pertemuan lewat video di internet (Zoom). Bagaimana caranya memperbaiki otak yang "lemot" tadi? Ada 3 langkah mudah yang akan kita pelajari: 1. Gant...

Stres Bikin Kamu Jadi Psikopat? Kenapa Otakmu Membenci Kolaborasi Saat Tertekan!

Ilustrasi kolaborasi (Pexels.com)

 

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga

Pernahkah Rekan PSAK merasa lebih cepat marah, susah memahami perasaan orang lain, atau bahkan malas berinteraksi saat deadline menumpuk atau hidup lagi ribet-ribetnya? Jangan khawatir, Rekan PSAK tidak sendiri. Fenomena ini bukan karena Rekan PSAK tiba-tiba jadi jahat, melainkan ada drama besar yang sedang dimainkan di dalam otak Rekan PSAK. Ya, kita akan bedah dari kacamata neurosains bagaimana stres bisa bikin empati dan kemampuan kolaborasi kita terjun bebas, serta kenapa membangun koneksi sosial itu justru jadi "tameng" paling ampuh. Artikel ini sangat relevan untuk dinamika tim di tempat kerja Rekan PSAK!

Saat Stres Menyerang: Kenapa Kita Jadi "Egois"?

Bayangkan ini: Rekan PSAK sedang dikejar deadline pekerjaan atau menghadapi masalah pribadi yang berat. Tiba-tiba, rekan kerja Rekan PSAK datang dengan cerita masalahnya. Respon pertama Rekan PSAK? Mungkin bukan simpati mendalam, melainkan desahan dalam hati, "Duh, ini orang ngapain sih?" Jika itu terjadi, selamat! Rekan PSAK baru saja menyaksikan bagaimana stres memengaruhi otak Rekan PSAK.

Stres, terutama stres kronis, punya dampak signifikan pada area-area otak yang bertanggung jawab untuk empati dan fungsi sosial. Salah satu area kunci yang terpengaruh adalah korteks prefrontal medial (mPFC) dan amigdala. Korteks prefrontal medial terlibat dalam pemrosesan informasi sosial dan memahami perspektif orang lain, sedangkan amigdala berperan dalam respons emosional, terutama rasa takut dan cemas (Decety & Jackson, 2004; Phelps & LeDoux, 2005).

Ketika stres datang, tubuh kita mengaktifkan respons "lawan atau lari" (fight or flight), membanjiri sistem dengan hormon seperti kortisol (Sapolsky, 2000). Kortisol yang tinggi ini bisa mengubah cara kerja otak kita. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres dapat mengurangi aktivitas di area otak yang terkait dengan empati, membuat kita kurang peka terhadap isyarat sosial dan perasaan orang lain (Lipton & Maurer, 2012; Volman et al., 2011). Kita jadi lebih fokus pada diri sendiri dan 'bertahan hidup', seolah-olah otak kita berkata, "Oke, prioritas sekarang adalah menyelamatkan diri sendiri, bukan memikirkan orang lain!"

Bahkan, ada bukti bahwa stres dapat mengubah struktur otak, seperti mengurangi volume di hipokampus (area penting untuk memori dan regulasi emosi) dan memperbesar amigdala, yang bisa membuat kita lebih reaktif terhadap ancaman dan kurang mampu mengatur emosi negatif (Herman & Steckler, 2000; McEwen & Gianaros, 2011). Jadi, jangan heran kalau saat stres, kita jadi gampang tersinggung, mudah marah, dan lebih sulit berkolaborasi. Otak kita sedang "bermode darurat"!

Kolaborasi Kian Sulit Saat Otak Tertekan

Jika empati saja susah, apalagi kolaborasi. Kolaborasi membutuhkan kemampuan untuk memahami niat orang lain, membaca emosi, dan menyelaraskan tujuan. Ini semua adalah fungsi kognitif dan emosional tingkat tinggi yang rentan terhadap dampak stres.

Dalam lingkungan kerja, stres dapat memicu perilaku kompetitif daripada kolaboratif. Sebuah studi menemukan bahwa stres dapat menggeser prioritas individu dari kerjasama tim menjadi fokus pada keuntungan pribadi, bahkan ketika kerjasama sebenarnya akan menghasilkan hasil yang lebih baik untuk semua orang (Starcke & Brand, 2012). Ini terjadi karena saat stres, otak cenderung mengutamakan 'self-preservation' (mempertahankan diri) dan melihat orang lain sebagai potensi ancaman atau saingan, alih-alih sebagai mitra.

Selain itu, stres juga dapat mengganggu memori kerja dan perhatian, membuat kita sulit memproses informasi kompleks yang seringkali diperlukan dalam diskusi kolaboratif atau brainstorming (Arnsten, 2009). Bayangkan mencoba mencari solusi inovatif bersama tim sementara otak Rekan PSAK terus-menerus diganggu oleh alarm stres. Tentu saja hasilnya tidak akan optimal.

Resep Antidot: Kekuatan Koneksi Sosial

Jadi, apakah kita ditakdirkan untuk jadi 'psikopat sementara' setiap kali stres melanda? Tentu tidak! Kabar baiknya, ada penangkal yang sangat ampuh dan seringkali diremehkan: koneksi sosial yang kuat.

Membangun dan memelihara hubungan sosial yang positif adalah salah satu strategi paling efektif untuk menjadi 'buffer' terhadap efek negatif stres pada otak. Interaksi sosial positif melepaskan oksitosin, hormon yang dikenal sebagai "hormon cinta" atau "hormon ikatan sosial" (Heinrichs et al., 2003). Oksitosin memiliki efek menenangkan, mengurangi respons stres, dan meningkatkan rasa percaya serta empati (Bartz et al., 2011; De Dreu et al., 2011).

Ketika kita merasa didukung dan terhubung dengan orang lain, otak kita cenderung merasa lebih aman. Ini mengurangi respons fight or flight dan memungkinkan area otak yang terkait dengan empati dan penalaran sosial untuk berfungsi lebih optimal (Coan et al., 2006). Dalam konteks tempat kerja, tim yang memiliki koneksi sosial yang kuat dan saling mendukung akan lebih resilient terhadap stres dan mampu berkolaborasi dengan lebih efektif, bahkan di bawah tekanan (Eisenberger & Lieberman, 2004).

Misalnya, inisiatif sederhana seperti check-in singkat dengan rekan kerja, menawarkan bantuan, atau bahkan sekadar minum kopi bersama, bisa memicu pelepasan oksitosin dan memperkuat ikatan sosial. Ini bukan hanya tentang 'merasa senang', tapi tentang membangun arsitektur otak yang lebih tangguh terhadap stres.

Jadi, Jangan Pernah Remehkan Pentingnya "Ngobrol" dan "Nongkrong"

Memang terdengar sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Dalam lingkungan kerja yang serba cepat dan menuntut, sangat mudah untuk mengabaikan pentingnya interaksi sosial. Padahal, justru di saat-saat itulah kita paling membutuhkannya. Membangun budaya yang mendukung koneksi sosial, empati, dan kolaborasi bukan hanya membuat tim lebih bahagia, tapi juga lebih cerdas dan lebih tangguh menghadapi badai stres.

Jadi, lain kali Rekan PSAK merasa stres dan cenderung menarik diri, ingatlah bahwa otak Rekan PSAK sedang dalam mode 'defensif'. Cobalah untuk melawan dorongan itu. Ulurkan tangan, cari teman untuk ngobrol, atau tawarkan bantuan pada rekan kerja. Tindakan kecil ini bisa menjadi investasi besar untuk kesehatan otak Rekan PSAK dan kualitas hubungan sosial Rekan PSAK. Dan siapa tahu, mungkin Rekan PSAK akan menemukan bahwa Rekan PSAK tidak sendirian dalam perjuangan melawan stres ini.

Referensi

Arnsten, A. F. T. (2009). Stress signalling pathways that impair prefrontal cortex function. Nature Reviews Neuroscience, 10(6), 410–422.

Bartz, J. A., Zaki, J., Bolger, N., & Ochsner, K. N. (2011). The neural basis of oxytocin effects on social cognition. Trends in Cognitive Sciences, 15(7), 301–309.

Coan, J. A., Schaefer, H. S., & Davidson, R. J. (2006). Lending a hand: Social regulation of the neural response to threat. Psychological Science, 17(12), 1032–1039.

De Dreu, C. K. W., Greer, L. L., Van Kleef, G. A., Shalvi, S., & Handgraaf, M. J. J. (2011). Oxytocin modulates cooperation within and competition between groups: An experimental study. Science, 328(5980), 1404–1406.

Decety, J., & Jackson, P. L. (2004). The functional architecture of human empathy. Behavioral and Cognitive Neuroscience Reviews, 3(2), 71–100.

Eisenberger, N. I., & Lieberman, M. D. (2004). Why rejection hurts: A common neural alarm system for physical and social pain. Trends in Cognitive Sciences, 8(7), 294–300.

Heinrichs, M., Baumgartner, T., Kirschbaum, C., & Ehlert, U. (2003). Social support and oxytocin release. Psychoneuroendocrinology, 28(7), 987–996.

Herman, J. P., & Steckler, T. (2000). Neurocircuitry of stress: Central control of the hypothalamo–pituitary–adrenocortical axis. Trends in Neurosciences, 23(10), 450–455.

Lipton, J. M., & Maurer, K. (2012). Stress impairs the accuracy of facial emotion recognition. Psychoneuroendocrinology, 37(10), 1632–1639.

McEwen, B. S., & Gianaros, P. J. (2011). Stress- and allostasis-induced brain plasticity. Annual Review of Medicine, 62, 431–445.

Phelps, E. A., & LeDoux, J. E. (2005). Contributions of the amygdala to emotion processing: From animal models to human behavior. Neuron, 48(2), 175–187.

Sapolsky, R. M. (2000). Why stress is bad for your brain. Science, 287(5450), 200–201.

Starcke, K., & Brand, M. (2012). Effects of stress on decision making: A meta-analysis. Psychological Bulletin, 138(2), 329–348.

Volman, I., Toni, I., Verhagen, L., & Sanfey, A. G. (2011). Neuroscientific evidence for the modulation of social decision making by stress. Frontiers in Neuroscience, 5, 59.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Neuroleadership: Mengelola Tim dengan Kecerdasan Otak

  Foto: Pexels Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda merasa bahwa beberapa pemimpin dapat membaca suasana hati tim mereka dengan sangat baik? Atau bahwa mereka mampu menyelesaikan masalah dengan efisien meskipun berada di bawah tekanan tinggi? Kunci dari kemampuan ini mungkin terletak pada bagaimana pemimpin memahami dan memanfaatkan otak mereka. Konsep neuroleadership, yang mengintegrasikan temuan neuroscience ke dalam kepemimpinan, memberi kita wawasan penting tentang bagaimana pemahaman terhadap fungsi otak, khususnya prefrontal cortex dan sistem neuron cermin, dapat meningkatkan kolaborasi, empati, dan kemampuan kepemimpinan dalam lingkungan kerja yang dinamis, termasuk di sektor pendidikan. Salah satu komponen utama dalam neuroleadership adalah pemahaman terhadap prefrontal cortex , bagian otak yang terlibat dalam pengambilan keputusan, pengaturan emosi, dan pemecahan masalah. Di dunia kerja yang penuh dengan tekanan waktu dan tantangan yang terus berkembang, ke...

Overthinking: Kecanduan Otak yang Jarang Disadari!

Ilustrasi overthinking (Pexels.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAKmerasa terjebak dalam pusaran pikiran yang tak berujung? Memutar ulang percakapan, menganalisis skenario terburuk, atau merenungkan keputusan masa lalu hingga larut malam? Jika ya, Rekan PSAK tidak sendirian. Fenomena ini, yang sering kita sebut overthinking , umumnya dianggap sebagai kebiasaan atau sifat bawaan. Padahal, dari kacamata neuropsikologi, overthinking bisa jadi adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks: sebuah bentuk kecanduan otak . Overthinking dan Sirkuit Otak: Sebuah Pola Kompulsif Sebagai seorang neuropsikolog yang telah mendalami pola pikir manusia selama lebih dari satu dekade, saya melihat overthinking bukan sekadar "terlalu banyak berpikir." Ini adalah pola pikir kompulsif yang memiliki jejak biologis kuat di otak. Pusat dari "kecanduan" ini adalah sebuah jaringan otak yang disebut Default Mode Network (DMN) . DMN adalah sirkuit otak yang aktif...