![]() |
| Ilustrasi kolaborasi (Pexels.com) |
Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga
Pernahkah Rekan PSAK merasa lebih cepat marah, susah
memahami perasaan orang lain, atau bahkan malas berinteraksi saat deadline
menumpuk atau hidup lagi ribet-ribetnya? Jangan khawatir, Rekan PSAK tidak
sendiri. Fenomena ini bukan karena Rekan PSAK tiba-tiba jadi jahat, melainkan
ada drama besar yang sedang dimainkan di dalam otak Rekan PSAK. Ya, kita akan
bedah dari kacamata neurosains bagaimana stres bisa bikin empati dan
kemampuan kolaborasi kita terjun bebas, serta kenapa membangun koneksi sosial
itu justru jadi "tameng" paling ampuh. Artikel ini sangat relevan
untuk dinamika tim di tempat kerja Rekan PSAK!
Saat Stres Menyerang: Kenapa Kita Jadi "Egois"?
Bayangkan ini: Rekan PSAK sedang dikejar deadline
pekerjaan atau menghadapi masalah pribadi yang berat. Tiba-tiba, rekan kerja Rekan
PSAK datang dengan cerita masalahnya. Respon pertama Rekan PSAK? Mungkin bukan
simpati mendalam, melainkan desahan dalam hati, "Duh, ini orang ngapain
sih?" Jika itu terjadi, selamat! Rekan PSAK baru saja menyaksikan
bagaimana stres memengaruhi otak Rekan PSAK.
Stres, terutama stres kronis, punya dampak signifikan
pada area-area otak yang bertanggung jawab untuk empati dan fungsi
sosial. Salah satu area kunci yang terpengaruh adalah korteks prefrontal
medial (mPFC) dan amigdala. Korteks prefrontal medial terlibat dalam
pemrosesan informasi sosial dan memahami perspektif orang lain, sedangkan
amigdala berperan dalam respons emosional, terutama rasa takut dan cemas
(Decety & Jackson, 2004; Phelps & LeDoux, 2005).
Ketika stres datang, tubuh kita mengaktifkan respons
"lawan atau lari" (fight or flight), membanjiri sistem dengan
hormon seperti kortisol (Sapolsky, 2000). Kortisol yang tinggi ini bisa
mengubah cara kerja otak kita. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres
dapat mengurangi aktivitas di area otak yang terkait dengan empati, membuat
kita kurang peka terhadap isyarat sosial dan perasaan orang lain (Lipton &
Maurer, 2012; Volman et al., 2011). Kita jadi lebih fokus pada diri sendiri dan
'bertahan hidup', seolah-olah otak kita berkata, "Oke, prioritas sekarang
adalah menyelamatkan diri sendiri, bukan memikirkan orang lain!"
Bahkan, ada bukti bahwa stres dapat mengubah struktur otak,
seperti mengurangi volume di hipokampus (area penting untuk memori dan
regulasi emosi) dan memperbesar amigdala, yang bisa membuat kita lebih reaktif
terhadap ancaman dan kurang mampu mengatur emosi negatif (Herman &
Steckler, 2000; McEwen & Gianaros, 2011). Jadi, jangan heran kalau saat
stres, kita jadi gampang tersinggung, mudah marah, dan lebih sulit
berkolaborasi. Otak kita sedang "bermode darurat"!
Kolaborasi Kian Sulit Saat Otak Tertekan
Jika empati saja susah, apalagi kolaborasi. Kolaborasi
membutuhkan kemampuan untuk memahami niat orang lain, membaca emosi, dan
menyelaraskan tujuan. Ini semua adalah fungsi kognitif dan emosional tingkat
tinggi yang rentan terhadap dampak stres.
Dalam lingkungan kerja, stres dapat memicu perilaku
kompetitif daripada kolaboratif. Sebuah studi menemukan bahwa stres dapat
menggeser prioritas individu dari kerjasama tim menjadi fokus pada keuntungan
pribadi, bahkan ketika kerjasama sebenarnya akan menghasilkan hasil yang lebih
baik untuk semua orang (Starcke & Brand, 2012). Ini terjadi karena saat
stres, otak cenderung mengutamakan 'self-preservation' (mempertahankan
diri) dan melihat orang lain sebagai potensi ancaman atau saingan, alih-alih
sebagai mitra.
Selain itu, stres juga dapat mengganggu memori kerja
dan perhatian, membuat kita sulit memproses informasi kompleks yang
seringkali diperlukan dalam diskusi kolaboratif atau brainstorming
(Arnsten, 2009). Bayangkan mencoba mencari solusi inovatif bersama tim
sementara otak Rekan PSAK terus-menerus diganggu oleh alarm stres. Tentu saja
hasilnya tidak akan optimal.
Resep Antidot: Kekuatan Koneksi Sosial
Jadi, apakah kita ditakdirkan untuk jadi 'psikopat
sementara' setiap kali stres melanda? Tentu tidak! Kabar baiknya, ada penangkal
yang sangat ampuh dan seringkali diremehkan: koneksi sosial yang kuat.
Membangun dan memelihara hubungan sosial yang positif adalah
salah satu strategi paling efektif untuk menjadi 'buffer' terhadap efek
negatif stres pada otak. Interaksi sosial positif melepaskan oksitosin,
hormon yang dikenal sebagai "hormon cinta" atau "hormon ikatan
sosial" (Heinrichs et al., 2003). Oksitosin memiliki efek menenangkan,
mengurangi respons stres, dan meningkatkan rasa percaya serta empati (Bartz et
al., 2011; De Dreu et al., 2011).
Ketika kita merasa didukung dan terhubung dengan orang lain,
otak kita cenderung merasa lebih aman. Ini mengurangi respons fight or
flight dan memungkinkan area otak yang terkait dengan empati dan penalaran
sosial untuk berfungsi lebih optimal (Coan et al., 2006). Dalam konteks tempat
kerja, tim yang memiliki koneksi sosial yang kuat dan saling mendukung akan
lebih resilient terhadap stres dan mampu berkolaborasi dengan lebih
efektif, bahkan di bawah tekanan (Eisenberger & Lieberman, 2004).
Misalnya, inisiatif sederhana seperti check-in
singkat dengan rekan kerja, menawarkan bantuan, atau bahkan sekadar minum kopi
bersama, bisa memicu pelepasan oksitosin dan memperkuat ikatan sosial. Ini
bukan hanya tentang 'merasa senang', tapi tentang membangun arsitektur otak
yang lebih tangguh terhadap stres.
Jadi, Jangan Pernah Remehkan Pentingnya
"Ngobrol" dan "Nongkrong"
Memang terdengar sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Dalam
lingkungan kerja yang serba cepat dan menuntut, sangat mudah untuk mengabaikan
pentingnya interaksi sosial. Padahal, justru di saat-saat itulah kita paling
membutuhkannya. Membangun budaya yang mendukung koneksi sosial, empati,
dan kolaborasi bukan hanya membuat tim lebih bahagia, tapi juga lebih
cerdas dan lebih tangguh menghadapi badai stres.
Jadi, lain kali Rekan PSAK merasa stres dan cenderung
menarik diri, ingatlah bahwa otak Rekan PSAK sedang dalam mode 'defensif'.
Cobalah untuk melawan dorongan itu. Ulurkan tangan, cari teman untuk ngobrol,
atau tawarkan bantuan pada rekan kerja. Tindakan kecil ini bisa menjadi
investasi besar untuk kesehatan otak Rekan PSAK dan kualitas hubungan sosial Rekan
PSAK. Dan siapa tahu, mungkin Rekan PSAK akan menemukan bahwa Rekan PSAK tidak
sendirian dalam perjuangan melawan stres ini.
Referensi
Arnsten, A. F. T. (2009). Stress signalling pathways that
impair prefrontal cortex function. Nature Reviews Neuroscience, 10(6),
410–422.
Bartz, J. A., Zaki, J., Bolger, N., & Ochsner, K. N.
(2011). The neural basis of oxytocin effects on social cognition. Trends in
Cognitive Sciences, 15(7), 301–309.
Coan, J. A., Schaefer, H. S., & Davidson, R. J. (2006).
Lending a hand: Social regulation of the neural response to threat. Psychological
Science, 17(12), 1032–1039.
De Dreu, C. K. W., Greer, L. L., Van Kleef, G. A., Shalvi,
S., & Handgraaf, M. J. J. (2011). Oxytocin modulates cooperation within and
competition between groups: An experimental study. Science, 328(5980),
1404–1406.
Decety, J., & Jackson, P. L. (2004). The functional
architecture of human empathy. Behavioral and Cognitive Neuroscience Reviews,
3(2), 71–100.
Eisenberger, N. I., & Lieberman, M. D. (2004). Why
rejection hurts: A common neural alarm system for physical and social pain. Trends
in Cognitive Sciences, 8(7), 294–300.
Heinrichs, M., Baumgartner, T., Kirschbaum, C., &
Ehlert, U. (2003). Social support and oxytocin release. Psychoneuroendocrinology,
28(7), 987–996.
Herman, J. P., & Steckler, T. (2000). Neurocircuitry of
stress: Central control of the hypothalamo–pituitary–adrenocortical axis. Trends
in Neurosciences, 23(10), 450–455.
Lipton, J. M., & Maurer, K. (2012). Stress impairs the
accuracy of facial emotion recognition. Psychoneuroendocrinology, 37(10),
1632–1639.
McEwen, B. S., & Gianaros, P. J. (2011). Stress- and
allostasis-induced brain plasticity. Annual Review of Medicine, 62,
431–445.
Phelps, E. A., & LeDoux, J. E. (2005). Contributions of
the amygdala to emotion processing: From animal models to human behavior. Neuron,
48(2), 175–187.
Sapolsky, R. M. (2000). Why stress is bad for your brain. Science,
287(5450), 200–201.
Starcke, K., & Brand, M. (2012). Effects of stress on
decision making: A meta-analysis. Psychological Bulletin, 138(2),
329–348.
Volman, I., Toni, I., Verhagen, L., & Sanfey, A. G.
(2011). Neuroscientific evidence for the modulation of social decision making
by stress. Frontiers in Neuroscience, 5, 59.

Komentar
Posting Komentar