Langsung ke konten utama

Featured post

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...

Kesehatan Otak dan Efektivitas Manajerial

 

Foto: Pexels


Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga



Pernahkah Anda merasa cemas atau tertekan di tempat kerja, hanya untuk kemudian merasa sulit untuk fokus atau membuat keputusan yang tepat? Ini bukan hanya masalah biasa — kondisi ini dapat terkait langsung dengan kesehatan neuropsikologis, yang memengaruhi kemampuan atensi dan memori kerja kita. Dalam konteks manajerial, kelelahan atensi atau defisit dalam working memory (memori kerja) dapat berdampak serius terhadap efektivitas kinerja dalam tugas-tugas yang menuntut, seperti negosiasi, inovasi, dan pengawasan.

Penelitian menunjukkan bahwa pemimpin yang memiliki kontrol atensi yang baik dan memori kerja yang kuat cenderung lebih mampu mengatasi kompleksitas dan tekanan di tempat kerja. Sebagai contoh, dalam negosiasi, pemimpin perlu menjaga fokus pada berbagai informasi yang relevan, mengingat detail penting dari berbagai pihak yang terlibat, dan secara bersamaan menanggapi perubahan situasi dengan cepat. Jika memori kerja terganggu, pemimpin mungkin kesulitan untuk mempertahankan alur pemikiran yang koheren, atau bahkan kehilangan peluang penting dalam proses negosiasi.

Inovasi juga sangat dipengaruhi oleh kesehatan otak. Dalam lingkungan kerja yang cepat berubah, pemimpin yang mampu berpikir fleksibel dan kreatif dapat mengembangkan solusi baru yang efektif. Namun, inovasi membutuhkan kemampuan untuk mempertahankan ide-ide kompleks dalam ingatan, membandingkan alternatif, dan menghindari gangguan eksternal yang tidak relevan. Defisit dalam working memory atau ketidakmampuan untuk beralih perhatian secara efektif (shifting) bisa menghambat kemampuan untuk menghubungkan ide-ide baru dan lama, yang pada gilirannya menghambat proses inovasi.

Selain itu, pengawasan dalam manajerial juga dipengaruhi oleh kesehatan otak. Seorang manajer yang kelelahan atensi atau mengalami kesulitan dalam mengelola memori kerja akan kesulitan dalam melacak progres berbagai proyek atau pengelolaan tim. Pengawasan yang efektif memerlukan kemampuan untuk mengingat berbagai detail pekerjaan tim, menilai kemajuan, dan membuat penyesuaian strategi ketika diperlukan. Kelelahan atensi dapat menyebabkan gangguan dalam pemantauan yang tepat, meningkatkan kemungkinan pengambilan keputusan yang buruk atau penundaan yang tidak perlu.

Dengan pemahaman ini, penting bagi organisasi untuk mengadopsi pendekatan yang lebih holistik dalam pengelolaan kesehatan neuropsikologis karyawan, khususnya para pemimpin. Pelatihan yang fokus pada pengembangan fungsi eksekutif, seperti kontrol atensi, memori kerja, dan shifting, bisa menjadi kunci untuk meningkatkan efektivitas manajerial. Program pelatihan yang dirancang untuk memperkuat kemampuan ini dapat membantu manajer menghadapi tantangan yang lebih kompleks, serta menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kesehatan mental mereka.

Penilaian kesehatan otak dan fungsi eksekutif ini dapat diintegrasikan dalam proses perekrutan dan pengembangan kepemimpinan. Dengan mengidentifikasi pemimpin yang memiliki kemampuan kognitif yang baik, organisasi dapat lebih tepat dalam memilih individu yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga dapat menangani beban kognitif yang datang dengan posisi mereka. Ini akan meningkatkan efektivitas manajerial dalam tugas-tugas yang penuh tekanan dan kompleks, serta menciptakan budaya kerja yang lebih sehat dan produktif.

Referensi:

Chan, T., Wang, I., & Ybarra, O. (2018). Leading and managing the workplace: The role of executive functions. Academy of Management Perspectives, 32(3), 1-20. https://doi.org/10.5465/amp.2017.0215

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Salahkan 'Lupa' atau 'Gak Fokus'! Otak Anda Cuma Keracunan Hormon Stres!

  Ilustrasi stres (Pexels.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernah merasa otak macet di tengah deadline ? Atau tiba-tiba lupa nama rekan kerja padahal baru ngobrol semenit yang lalu? Jangan langsung vonis diri Rekan PSAK pikun dini atau kurang minum kopi. Bisa jadi, ini adalah ulah kortisol , hormon stres utama yang, kalau kadarnya ketinggian, bisa bikin fungsi otak Rekan PSAK amburadul! Kita sering menganggap stres hanya sebatas "perasaan," tapi sebenarnya stres itu punya jejak kimiawi di tubuh kita. Dan salah satu pemain utamanya adalah kortisol. Hormon ini sering dijuluki "hormon stres," tapi sebenarnya dia punya banyak peran penting lain, seperti mengatur metabolisme, tekanan darah, bahkan sistem kekebalan tubuh. Masalahnya muncul ketika kortisol dilepaskan secara berlebihan dan terus-menerus. Kortisol: Pahlawan atau Pengkhianat? Bayangkan kortisol sebagai alarm darurat tubuh Rekan PSAK. Ketika Rekan PSAK menghadapi situasi yang dianggap berbahaya...

Stres Bikin Kamu Jadi Psikopat? Kenapa Otakmu Membenci Kolaborasi Saat Tertekan!

Ilustrasi kolaborasi (Pexels.com)   Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAK merasa lebih cepat marah, susah memahami perasaan orang lain, atau bahkan malas berinteraksi saat deadline menumpuk atau hidup lagi ribet-ribetnya? Jangan khawatir, Rekan PSAK tidak sendiri. Fenomena ini bukan karena Rekan PSAK tiba-tiba jadi jahat, melainkan ada drama besar yang sedang dimainkan di dalam otak Rekan PSAK. Ya, kita akan bedah dari kacamata neurosains bagaimana stres bisa bikin empati dan kemampuan kolaborasi kita terjun bebas, serta kenapa membangun koneksi sosial itu justru jadi "tameng" paling ampuh. Artikel ini sangat relevan untuk dinamika tim di tempat kerja Rekan PSAK! Saat Stres Menyerang: Kenapa Kita Jadi "Egois"? Bayangkan ini: Rekan PSAK sedang dikejar deadline pekerjaan atau menghadapi masalah pribadi yang berat. Tiba-tiba, rekan kerja Rekan PSAK datang dengan cerita masalahnya. Respon pertama Rekan PSAK? Mungkin bukan simpati mendalam, me...

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...