Langsung ke konten utama

Featured post

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...

Self-Regulation dan Evolusi Kepemimpinan Manusia

 

Foto: Pexels

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga



Kepemimpinan sering kali dikaitkan dengan kemampuan teknis atau kecerdasan intelektual (IQ), namun pendekatan evolusioner terhadap fungsi eksekutif dan regulasi diri memberikan wawasan yang lebih mendalam. Menurut teori ini, fungsi eksekutif (EF), yang mencakup kemampuan untuk mengatur diri sendiri, tidak hanya berkembang untuk menyelesaikan masalah pribadi, tetapi juga untuk mendukung tujuan sosial dalam konteks interaksi manusia. Proses ini sangat penting dalam organisasi modern, di mana pemimpin tidak hanya perlu memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan untuk mengelola perilaku diri dan orang lain dalam situasi yang penuh tantangan.

Teori evolusioner ini menantang pandangan tradisional tentang kepemimpinan, yang seringkali lebih mengutamakan kemampuan teknis atau kecerdasan. Fungsi eksekutif manusia, seperti pengaturan perhatian, pengambilan keputusan yang fleksibel, dan penghambatan impuls, muncul sebagai respons terhadap tantangan sosial dalam kelompok manusia. Dalam kelompok besar, di mana individu harus bekerja sama dan mengelola hubungan antarpribadi yang kompleks, kemampuan untuk menunda kepuasan atau menyesuaikan perilaku untuk jangka panjang menjadi sangat penting untuk kelangsungan hidup dan kesuksesan sosial (Barkley, 2001).

Berkaitan dengan kepemimpinan, fungsi eksekutif ini tidak hanya mempengaruhi bagaimana pemimpin membuat keputusan strategis atau mengelola tugas yang berbeda secara bersamaan, tetapi juga bagaimana mereka memengaruhi dan membimbing orang lain. Pemimpin yang baik harus mampu menahan impuls, membuat perencanaan jangka panjang, dan memotivasi diri mereka sendiri serta orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Dengan kata lain, regulasi diri, yang merupakan bagian integral dari fungsi eksekutif, memungkinkan pemimpin untuk tetap fokus pada tujuan meskipun ada banyak gangguan atau tekanan dari lingkungan sekitarnya.

Pentingnya regulasi diri dalam konteks kepemimpinan dapat dipahami dengan lebih baik melalui lensa neuroscience. Sebagai contoh, bagian otak yang terlibat dalam regulasi diri, yaitu prefrontal cortex, berfungsi untuk menekan impuls-impuls yang tidak sesuai dengan tujuan jangka panjang. Kemampuan untuk menahan diri dalam menghadapi godaan atau tekanan sesaat merupakan faktor yang membedakan pemimpin yang efektif dari yang tidak efektif. Hal ini tidak hanya berlaku dalam pengambilan keputusan strategis, tetapi juga dalam interaksi sehari-hari dengan tim, di mana pemimpin yang memiliki kemampuan regulasi diri yang tinggi dapat mempengaruhi lingkungan sosial mereka secara positif (Barkley, 2001).

Namun, pendekatan ini juga membawa kontroversi. Beberapa kritikus berargumen bahwa terlalu banyak fokus pada aspek biologis atau neuropsikologis dari kepemimpinan dapat mengabaikan faktor-faktor sosial dan budaya yang juga memainkan peran besar dalam membentuk perilaku pemimpin. Meskipun demikian, integrasi antara pemahaman tentang fungsi otak dan faktor sosial dalam kepemimpinan dapat menciptakan gambaran yang lebih holistik. Pemimpin yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga mampu mengatur emosi dan perilaku mereka serta memahami kebutuhan sosial tim mereka, akan lebih sukses dalam mencapai tujuan organisasi.

Secara keseluruhan, evolusi fungsi eksekutif yang mendukung regulasi diri membuka wawasan baru dalam perancangan kepemimpinan yang lebih adaptif. Pemimpin yang efektif adalah mereka yang dapat mengelola beban kognitif dan emosional dengan baik, sambil tetap berfokus pada tujuan jangka panjang yang berorientasi sosial. Pendekatan ini mengajak kita untuk melihat kepemimpinan tidak hanya sebagai hasil dari IQ atau keterampilan teknis, tetapi sebagai kemampuan untuk mengatur diri dan membimbing orang lain menuju kesuksesan bersama dalam lingkungan yang kompleks.

Referensi:

Barkley, R. A. (2001). The Executive Functions and Self-Regulation: An Evolutionary Neuropsychological Perspective. Neuropsychology Review

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Salahkan 'Lupa' atau 'Gak Fokus'! Otak Anda Cuma Keracunan Hormon Stres!

  Ilustrasi stres (Pexels.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernah merasa otak macet di tengah deadline ? Atau tiba-tiba lupa nama rekan kerja padahal baru ngobrol semenit yang lalu? Jangan langsung vonis diri Rekan PSAK pikun dini atau kurang minum kopi. Bisa jadi, ini adalah ulah kortisol , hormon stres utama yang, kalau kadarnya ketinggian, bisa bikin fungsi otak Rekan PSAK amburadul! Kita sering menganggap stres hanya sebatas "perasaan," tapi sebenarnya stres itu punya jejak kimiawi di tubuh kita. Dan salah satu pemain utamanya adalah kortisol. Hormon ini sering dijuluki "hormon stres," tapi sebenarnya dia punya banyak peran penting lain, seperti mengatur metabolisme, tekanan darah, bahkan sistem kekebalan tubuh. Masalahnya muncul ketika kortisol dilepaskan secara berlebihan dan terus-menerus. Kortisol: Pahlawan atau Pengkhianat? Bayangkan kortisol sebagai alarm darurat tubuh Rekan PSAK. Ketika Rekan PSAK menghadapi situasi yang dianggap berbahaya...

Stres Bikin Kamu Jadi Psikopat? Kenapa Otakmu Membenci Kolaborasi Saat Tertekan!

Ilustrasi kolaborasi (Pexels.com)   Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAK merasa lebih cepat marah, susah memahami perasaan orang lain, atau bahkan malas berinteraksi saat deadline menumpuk atau hidup lagi ribet-ribetnya? Jangan khawatir, Rekan PSAK tidak sendiri. Fenomena ini bukan karena Rekan PSAK tiba-tiba jadi jahat, melainkan ada drama besar yang sedang dimainkan di dalam otak Rekan PSAK. Ya, kita akan bedah dari kacamata neurosains bagaimana stres bisa bikin empati dan kemampuan kolaborasi kita terjun bebas, serta kenapa membangun koneksi sosial itu justru jadi "tameng" paling ampuh. Artikel ini sangat relevan untuk dinamika tim di tempat kerja Rekan PSAK! Saat Stres Menyerang: Kenapa Kita Jadi "Egois"? Bayangkan ini: Rekan PSAK sedang dikejar deadline pekerjaan atau menghadapi masalah pribadi yang berat. Tiba-tiba, rekan kerja Rekan PSAK datang dengan cerita masalahnya. Respon pertama Rekan PSAK? Mungkin bukan simpati mendalam, me...

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...