Langsung ke konten utama

Featured post

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...

Rahasia Otak Hebat: Atasi Konflik di Tempat Kerja dengan Jitu!

 

Kuasai diri saat konflik menghampiri dengan meningkatkan kemampuan self-regulation

Pernahkah Sobat PSAK merasa frustrasi saat tim di tempat kerja dilanda konflik? Pertengkaran, kesalahpahaman, dan rasa tidak nyaman bisa menghambat kinerja dan membuatmu stres. Tapi, tahukah Sobat PSAK bahwa otak kita memiliki kekuatan super untuk mengatasi situasi ini?

Ya, Sobat PSAK! Kemampuan self-regulation, atau mengatur diri sendiri, adalah kunci utama untuk menyelesaikan konflik dengan cerdas dan konstruktif. Yuk, kita pelajari lebih dalam bagaimana otak bekerja dalam proses ini dan bagaimana kamu bisa meningkatkan kemampuan self-regulation!

Otak dan Rahasia Self-Regulation

Otak kita bagaikan sebuah komputer canggih. Bagian depan otak, prefrontal cortex, berperan penting dalam mengatur emosi, membuat keputusan, dan menyelesaikan masalah. Saat konflik terjadi, prefrontal cortex bekerja keras untuk menganalisis situasi, menimbang pilihan, dan mengambil tindakan yang tepat.

Namun, saat stres atau tertekan, bagian lain otak, amygdala, mengambil alih. Amygdala bertanggung jawab atas respons "fight-or-flight", membuat kita mudah marah, cemas, dan impulsif. Hal ini bisa memperburuk situasi konflik.

Tips Meningkatkan Self-Regulation untuk Mengatasi Konflik

Berita baiknya, Sobat PSAK! Kita bisa melatih self-regulation untuk mengendalikan amygdala dan mengaktifkan prefrontal cortex saat konflik terjadi. Berikut 3 tips jitu yang bisa kamu lakukan:

1. Tarik Nafas Dalam-Dalam. Saat konflik melanda, tarik napas dalam-dalam dan hitung perlahan. Hal ini membantu menenangkan amygdala dan mengaktifkan prefrontal cortex, sehingga kamu bisa berpikir jernih dan membuat keputusan yang tepat.

2. Dengarkan dengan Penuh Perhatian. Dengarkan dengan seksama apa yang dikatakan orang lain, tanpa menyela. Usahakan untuk memahami sudut pandang mereka dan tunjukkan empati. Hal ini membangun rasa saling menghormati dan membuka jalan untuk solusi yang konstruktif.

3. Komunikasikan dengan Jelas dan Terbuka. Sampaikan pendapatmu dengan jelas dan sopan, tanpa menyerang atau menyalahkan orang lain. Gunakan kata "saya" untuk mengungkapkan perasaan Sobat PSAK dan hindari kata "kamu" yang bisa memicu pertengkaran.

Latih Otakmu, Taklukkan Konflik!

Dengan melatih self-regulation, Sobat PSAK dapat mengubah konflik menjadi peluang untuk membangun tim yang lebih kuat dan solid. Ingatlah, otak kita memiliki kekuatan super untuk menyelesaikan masalah dengan cerdas dan konstruktif. Jadi, tunggu apa lagi? Mulai latih self-regulation kita hari ini dan taklukkan konflik di tempat kerja!

Bonus:

  • Meditasi dan yoga dapat membantu meningkatkan fokus dan kontrol diri, yang bermanfaat untuk self-regulation.
  • Tidur yang cukup dan makan makanan sehat juga penting untuk menjaga kesehatan otak dan meningkatkan kemampuan self-regulation.

Semoga tips ini bermanfaat, Sobat PSAK! Selamat berlatih dan rasakan kekuatan super dari otak kita untuk mengatasi konflik dan mencapai kesuksesan bersama tim!

Referansi

Mischel, W., DeSmet, A. L., & Kross, E. (2000). Self-regulation in the service of conflict resolution. The handbook of conflict resolution: Theory and practice, 256-275.

Kleiman, T., & Enisman, M. (2018). The conflict mindset: How internal conflicts affect self‐regulation. Social and Personality Psychology Compass12(5), e12387.

Gonis, A. E. (2015). An examination of emotional intelligence, decision-making styles, and exposure to criminal gang activity. Northcentral University.

Gu, S., Wang, W., Wang, F., & Huang, J. H. (2016). Neuromodulator and emotion biomarker for stress induced mental disorders. Neural plasticity2016(1), 2609128.

Gongora, M., Teixeira, S., Martins, L., Marinho, V., Velasques, B., Moraes, L., ... & Ribeiro, P. (2019). Neurobiological evidences, functional and emotional aspects associated with the amygdala: From “What is it?” to “What's to be done?”. Neuropsychiatry9(3), 749-751.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Salahkan 'Lupa' atau 'Gak Fokus'! Otak Anda Cuma Keracunan Hormon Stres!

  Ilustrasi stres (Pexels.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernah merasa otak macet di tengah deadline ? Atau tiba-tiba lupa nama rekan kerja padahal baru ngobrol semenit yang lalu? Jangan langsung vonis diri Rekan PSAK pikun dini atau kurang minum kopi. Bisa jadi, ini adalah ulah kortisol , hormon stres utama yang, kalau kadarnya ketinggian, bisa bikin fungsi otak Rekan PSAK amburadul! Kita sering menganggap stres hanya sebatas "perasaan," tapi sebenarnya stres itu punya jejak kimiawi di tubuh kita. Dan salah satu pemain utamanya adalah kortisol. Hormon ini sering dijuluki "hormon stres," tapi sebenarnya dia punya banyak peran penting lain, seperti mengatur metabolisme, tekanan darah, bahkan sistem kekebalan tubuh. Masalahnya muncul ketika kortisol dilepaskan secara berlebihan dan terus-menerus. Kortisol: Pahlawan atau Pengkhianat? Bayangkan kortisol sebagai alarm darurat tubuh Rekan PSAK. Ketika Rekan PSAK menghadapi situasi yang dianggap berbahaya...

Stres Bikin Kamu Jadi Psikopat? Kenapa Otakmu Membenci Kolaborasi Saat Tertekan!

Ilustrasi kolaborasi (Pexels.com)   Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAK merasa lebih cepat marah, susah memahami perasaan orang lain, atau bahkan malas berinteraksi saat deadline menumpuk atau hidup lagi ribet-ribetnya? Jangan khawatir, Rekan PSAK tidak sendiri. Fenomena ini bukan karena Rekan PSAK tiba-tiba jadi jahat, melainkan ada drama besar yang sedang dimainkan di dalam otak Rekan PSAK. Ya, kita akan bedah dari kacamata neurosains bagaimana stres bisa bikin empati dan kemampuan kolaborasi kita terjun bebas, serta kenapa membangun koneksi sosial itu justru jadi "tameng" paling ampuh. Artikel ini sangat relevan untuk dinamika tim di tempat kerja Rekan PSAK! Saat Stres Menyerang: Kenapa Kita Jadi "Egois"? Bayangkan ini: Rekan PSAK sedang dikejar deadline pekerjaan atau menghadapi masalah pribadi yang berat. Tiba-tiba, rekan kerja Rekan PSAK datang dengan cerita masalahnya. Respon pertama Rekan PSAK? Mungkin bukan simpati mendalam, me...

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...