Langsung ke konten utama

Featured post

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...

Gagal Paham Diri = Gagal Kerja Sama? Buktikan!

 

Mengenali diri adalah awalan dari keterampilan self-awareness yang menjadi keberhasilan dari sebuah kerja tim


Sobat PSAK, apakah pernah berpikir bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar "berkerja" di tempat kerja? Apakah Sobat PSAK pernah merasakan tidak bisa beradaptasi dengan perubahan di tempat kerja? Apakah PSAK pernah merasakan tidak bisa bekerja sama dengan tim kita? Jika jawabannya "ya", maka artikel ini adalah untuk Sobat PSAK.

Mengapa Self-awareness dan Kemampuan Beradaptasi Penting dalam Kerja Sama Tim

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi kaitan antara self-awareness dan kemampuan beradaptasi dalam kerja sama tim. Kedua hal ini sangat penting untuk membangun tim yang efektif dan produktif. Menurut penelitian oleh Boylan dan Turner, self-awareness dan kemampuan beradaptasi adalah dua keterampilan yang paling penting untuk keberhasilan tim dalam lingkungan organisasi yang dinamis.

Bagaimana Otak Bekerja

Otak kita memiliki beberapa bagian yang berperan dalam self-awareness dan kemampuan beradaptasi. Bagian-bagian tersebut adalah:

  1. Prefrontal Cortex (PFC): Bagian ini bertanggung jawab atas self-awareness, emosi, dan pengambilan keputusan.
  2. Amygdala: Bagian ini berperan dalam pengelolaan emosi, termasuk stres dan kecemasan.
  3. Hippocampus: Bagian ini berperan dalam memori, pengingatan, dan adaptasi.

Mengapa Self-awareness Penting

Self-awareness adalah kemampuan untuk mengenal diri sendiri, termasuk kekuatan, kelemahan, emosi, dan motivasi. Ini membantu Sobat PSAK untuk membuat keputusan yang lebih baik, memimpin dengan lebih baik, dan berkomunikasi dengan lebih efektif. Penelitian Gerbrandt tentang self-awareness atau kesadaran diri, menunjukkan bahwa kemampuan ini membantu Sobat PSAK dalam mengelola stres, mengembangkan karier, dan membangun hubungan yang lebih baik dengan rekan kerja.

Mengapa Kemampuan Beradaptasi Penting

Kemampuan beradaptasi adalah kemampuan untuk berubah sesuai dengan perubahan lingkungan. Ini sangat penting dalam kerja sama tim karena perubahan sering kali terjadi, dan tim yang tidak dapat beradaptasi akan ketinggalan. Menurut Stålsett, tim yang dapat beradaptasi akan lebih berhasil dalam lingkungan yang dinamis.

Self-awareness dan kemampuan beradaptasi adalah dua keterampilan yang sangat penting untuk keberhasilan tim dalam lingkungan organisasi yang dinamis. Oleh karenanya kedua hal ini, Sobat PSAK dapat membuat keputusan yang lebih baik, memimpin dengan lebih baik, dan berkomunikasi dengan lebih efektif. Jadi, apakah Sobat PSAK siap untuk mengubah cara bekerja dan menjadi seorang anggota tim yang lebih efektif?

Refrensi

Boylan, S. A., & Turner, K. A. (2017). Developing organizational adaptability for complex environment. Journal of Leadership Education16(2), 183-198.

Davidson, R. J. (2002). Anxiety and affective style: role of prefrontal cortex and amygdala. Biological psychiatry51(1), 68-80.

Eichenbaum, H., Otto, T., & Cohen, N. J. (1994). Two functional components of the hippocampal memory system. Behavioral and Brain Sciences17(3), 449-472.

Eurich, T. (2018). What self-awareness really is (and how to cultivate it). Harvard Business Review4(4), 1-9.

Gerbrandt, S. (2006). Self-awareness: Its relationship to personal effectiveness and success in the workplace. Library and Archives Canada= Bibliothèque et Archives Canada, Ottawa.

McCraty, R., & Tomasino, D. (2006). Emotional stress, positive emotions, and psychophysiological coherence. Stress in health and disease, 342-365.

Shany-Ur, T., Lin, N., Rosen, H. J., Sollberger, M., Miller, B. L., & Rankin, K. P. (2014). Self-awareness in neurodegenerative disease relies on neural structures mediating reward-driven attention. Brain137(8), 2368-2381.

Showry, M., & Manasa, K. V. L. (2014). Self-Awareness-Key to Effective Leadership. IUP Journal of Soft Skills8(1).

StÃ¥lsett, K., Sjøvold, E., & Olsen, T. R. (2016). From routine to uncertainty: Leading adaptable teams within integrated operations. Scandinavian Psychologist3.

Wagner, U., N'diaye, K., Ethofer, T., & Vuilleumier, P. (2011). Guilt-specific processing in the prefrontal cortex. Cerebral cortex21(11), 2461-2470.

Yumatov, E. A. (2022). Duality of the Nature of Emotions and Stress: Neurochemical Aspects. Neurochemical Journal16(4), 429-442



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transformational Leadership dan Fungsi Eksekutif Otak

  Foto: Pexels Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Apa yang membuat seorang pemimpin mampu menginspirasi perubahan besar dalam organisasi, memotivasi tim untuk bekerja lebih keras, dan mengarahkan mereka untuk mencapai tujuan besar? Jawabannya bisa jadi terletak pada fungsi eksekutif otak mereka. Transformational leadership, atau kepemimpinan transformatif, dikenal dengan kemampuannya untuk mendorong inovasi dan perilaku prososial, tetapi apakah kita benar-benar memahami apa yang terjadi di balik otak pemimpin hebat tersebut? Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa pemimpin transformatif memiliki kemampuan tinggi dalam inhibisi dan pengambilan keputusan yang cermat dengan risiko yang relatif rendah. Kedua faktor ini, yang merupakan bagian dari executive functions , memainkan peran krusial dalam kepemimpinan yang efektif. Executive functions , seperti fleksibilitas kognitif dan inhibisi respons, adalah kemampuan otak untuk mengelola perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengatu...

Kesehatan Otak dan Efektivitas Manajerial

  Foto: Pexels Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda merasa cemas atau tertekan di tempat kerja, hanya untuk kemudian merasa sulit untuk fokus atau membuat keputusan yang tepat? Ini bukan hanya masalah biasa — kondisi ini dapat terkait langsung dengan kesehatan neuropsikologis, yang memengaruhi kemampuan atensi dan memori kerja kita. Dalam konteks manajerial, kelelahan atensi atau defisit dalam working memory (memori kerja) dapat berdampak serius terhadap efektivitas kinerja dalam tugas-tugas yang menuntut, seperti negosiasi, inovasi, dan pengawasan. Penelitian menunjukkan bahwa pemimpin yang memiliki kontrol atensi yang baik dan memori kerja yang kuat cenderung lebih mampu mengatasi kompleksitas dan tekanan di tempat kerja. Sebagai contoh, dalam negosiasi, pemimpin perlu menjaga fokus pada berbagai informasi yang relevan, mengingat detail penting dari berbagai pihak yang terlibat, dan secara bersamaan menanggapi perubahan situasi dengan cepat. Jika memori kerja te...

Self-Regulation dan Evolusi Kepemimpinan Manusia

  Foto: Pexels Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Kepemimpinan sering kali dikaitkan dengan kemampuan teknis atau kecerdasan intelektual (IQ), namun pendekatan evolusioner terhadap fungsi eksekutif dan regulasi diri memberikan wawasan yang lebih mendalam. Menurut teori ini, fungsi eksekutif (EF), yang mencakup kemampuan untuk mengatur diri sendiri, tidak hanya berkembang untuk menyelesaikan masalah pribadi, tetapi juga untuk mendukung tujuan sosial dalam konteks interaksi manusia. Proses ini sangat penting dalam organisasi modern, di mana pemimpin tidak hanya perlu memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan untuk mengelola perilaku diri dan orang lain dalam situasi yang penuh tantangan. Teori evolusioner ini menantang pandangan tradisional tentang kepemimpinan, yang seringkali lebih mengutamakan kemampuan teknis atau kecerdasan. Fungsi eksekutif manusia, seperti pengaturan perhatian, pengambilan keputusan yang fleksibel, dan penghambatan impuls, muncul sebagai respons...