Langsung ke konten utama

Gagal Paham Diri = Gagal Kerja Sama? Buktikan!

 

Mengenali diri adalah awalan dari keterampilan self-awareness yang menjadi keberhasilan dari sebuah kerja tim


Sobat PSAK, apakah pernah berpikir bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar "berkerja" di tempat kerja? Apakah Sobat PSAK pernah merasakan tidak bisa beradaptasi dengan perubahan di tempat kerja? Apakah PSAK pernah merasakan tidak bisa bekerja sama dengan tim kita? Jika jawabannya "ya", maka artikel ini adalah untuk Sobat PSAK.

Mengapa Self-awareness dan Kemampuan Beradaptasi Penting dalam Kerja Sama Tim

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi kaitan antara self-awareness dan kemampuan beradaptasi dalam kerja sama tim. Kedua hal ini sangat penting untuk membangun tim yang efektif dan produktif. Menurut penelitian oleh Boylan dan Turner, self-awareness dan kemampuan beradaptasi adalah dua keterampilan yang paling penting untuk keberhasilan tim dalam lingkungan organisasi yang dinamis.

Bagaimana Otak Bekerja

Otak kita memiliki beberapa bagian yang berperan dalam self-awareness dan kemampuan beradaptasi. Bagian-bagian tersebut adalah:

  1. Prefrontal Cortex (PFC): Bagian ini bertanggung jawab atas self-awareness, emosi, dan pengambilan keputusan.
  2. Amygdala: Bagian ini berperan dalam pengelolaan emosi, termasuk stres dan kecemasan.
  3. Hippocampus: Bagian ini berperan dalam memori, pengingatan, dan adaptasi.

Mengapa Self-awareness Penting

Self-awareness adalah kemampuan untuk mengenal diri sendiri, termasuk kekuatan, kelemahan, emosi, dan motivasi. Ini membantu Sobat PSAK untuk membuat keputusan yang lebih baik, memimpin dengan lebih baik, dan berkomunikasi dengan lebih efektif. Penelitian Gerbrandt tentang self-awareness atau kesadaran diri, menunjukkan bahwa kemampuan ini membantu Sobat PSAK dalam mengelola stres, mengembangkan karier, dan membangun hubungan yang lebih baik dengan rekan kerja.

Mengapa Kemampuan Beradaptasi Penting

Kemampuan beradaptasi adalah kemampuan untuk berubah sesuai dengan perubahan lingkungan. Ini sangat penting dalam kerja sama tim karena perubahan sering kali terjadi, dan tim yang tidak dapat beradaptasi akan ketinggalan. Menurut Stålsett, tim yang dapat beradaptasi akan lebih berhasil dalam lingkungan yang dinamis.

Self-awareness dan kemampuan beradaptasi adalah dua keterampilan yang sangat penting untuk keberhasilan tim dalam lingkungan organisasi yang dinamis. Oleh karenanya kedua hal ini, Sobat PSAK dapat membuat keputusan yang lebih baik, memimpin dengan lebih baik, dan berkomunikasi dengan lebih efektif. Jadi, apakah Sobat PSAK siap untuk mengubah cara bekerja dan menjadi seorang anggota tim yang lebih efektif?

Refrensi

Boylan, S. A., & Turner, K. A. (2017). Developing organizational adaptability for complex environment. Journal of Leadership Education16(2), 183-198.

Davidson, R. J. (2002). Anxiety and affective style: role of prefrontal cortex and amygdala. Biological psychiatry51(1), 68-80.

Eichenbaum, H., Otto, T., & Cohen, N. J. (1994). Two functional components of the hippocampal memory system. Behavioral and Brain Sciences17(3), 449-472.

Eurich, T. (2018). What self-awareness really is (and how to cultivate it). Harvard Business Review4(4), 1-9.

Gerbrandt, S. (2006). Self-awareness: Its relationship to personal effectiveness and success in the workplace. Library and Archives Canada= Bibliothèque et Archives Canada, Ottawa.

McCraty, R., & Tomasino, D. (2006). Emotional stress, positive emotions, and psychophysiological coherence. Stress in health and disease, 342-365.

Shany-Ur, T., Lin, N., Rosen, H. J., Sollberger, M., Miller, B. L., & Rankin, K. P. (2014). Self-awareness in neurodegenerative disease relies on neural structures mediating reward-driven attention. Brain137(8), 2368-2381.

Showry, M., & Manasa, K. V. L. (2014). Self-Awareness-Key to Effective Leadership. IUP Journal of Soft Skills8(1).

StÃ¥lsett, K., Sjøvold, E., & Olsen, T. R. (2016). From routine to uncertainty: Leading adaptable teams within integrated operations. Scandinavian Psychologist3.

Wagner, U., N'diaye, K., Ethofer, T., & Vuilleumier, P. (2011). Guilt-specific processing in the prefrontal cortex. Cerebral cortex21(11), 2461-2470.

Yumatov, E. A. (2022). Duality of the Nature of Emotions and Stress: Neurochemical Aspects. Neurochemical Journal16(4), 429-442



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah Tidur yang Cukup Justru Membuat Stres Anda Semakin Parah?

  Ilustrasi stress (Pexels.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAK merasa semakin pusing dan pikiran kalut setelah semalaman suntuk tidak bisa tidur? Atau sebaliknya, saat stres melRekan PSAK, tidur pun jadi barang mahal? Jika ya, Rekan PSAK tidak sendiri. Hubungan antara stres dan kualitas tidur ibarat lingkaran setan yang tak ada habisnya, dan efeknya pada otak kita bisa jauh lebih merusak dari yang kita bayangkan. Kita semua tahu kalau stres itu tidak enak. Jantung berdebar, pikiran berkecamuk, dan rasanya ingin lari dari kenyataan. Di sisi lain, tidur adalah kebutuhan dasar, seperti makan dan minum. Tapi, apa jadinya jika dua hal ini saling memengaruhi dengan cara yang merugikan? Stres Merampas Tidur Rekan PSAK Saat kita stres, tubuh melepaskan hormon-hormon seperti kortisol dan adrenalin. Ini adalah respons alami "lawan atau lari" yang dirancang untuk membantu kita menghadapi ancaman. Namun, jika stres berkepanjangan, kadar hormon ini tetap ...

Stop Bilang Stres Itu Penyakit Mental! Otak Primitif Anda Cuma Panik!

Ilustrasi stres (Pexel.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernah merasa jantung berdebar kencang, tangan dingin, atau napas tersengal-sengal padahal Rekan PSAK cuma dikejar deadline atau berhadapan dengan atasan yang lagi bad mood ? Selamat, Rekan PSAK baru saja merasakan respons fight-or-flight klasik. Tapi jangan langsung cap diri Rekan PSAK punya masalah kecemasan atau "penyakit mental" lainnya. Seringkali, ini bukan tentang kesehatan mental yang rapuh, melainkan karena otak primitif Rekan PSAK sedang dalam mode siaga. Kita sering menganggap stres sebagai momok modern yang identik dengan gaya hidup serba cepat. Tapi sebenarnya, respons stres adalah fitur bawaan yang sudah ada sejak nenek moyang kita harus berhadapan dengan predator ganas di sabana. Ini bukan kelemahan, melainkan sebuah mekanisme bertahan hidup yang luar biasa canggih. Otak Primitif: Alarm Anti-Punah Rekan PSAK Di dalam kepala kita, ada dua bagian otak yang punya peran sangat besar dalam u...

Otak Rekan PSAK Lelah? Jangan Cuma Istirahat, Coba Reset dengan Tiga Kata Kunci Ajaib Ini!

Ilustrasi sholat yang dapat meredakan stres dan overthinking (Pexels.com)   Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah rekan PSAK merasa lelah secara mental, bukan karena kurang tidur, melainkan karena pikiran yang tak henti-hentinya dipenuhi kecemasan, prasangka buruk, dan keraguan? Rasanya seperti otak rekan PSAK adalah browser yang membuka terlalu banyak tab, dan sekarang ia hang . Sebagai seorang neuropsikolog yang telah mendampingi banyak orang selama lebih dari satu dekade, saya tahu persis bagaimana rasanya. Sering kali, kita mencoba menenangkan diri dengan hiburan, namun otak tetap terasa berat. Solusi yang saya temukan, yang menggabungkan panduan ilmiah dan spiritual, mungkin terdengar kontroversial: Husnuzzan, Sholat, dan Tadarus. Tiga kata kunci ini bukan sekadar ajaran agama, melainkan kunci untuk "me-reset" otak yang lelah. Husnuzzan: Melatih Otak Mengubah Pola Pikir Otak kita memiliki kecenderungan alami untuk negativity bias , yaitu lebih mudah men...