Langsung ke konten utama

17 Deteksi Dini Gangguan Belajar yang Dapat Dilakukan Orang Tua di Rumah

 

Deteksi Dini Gangguan Belajar oleh Orang Tua

Sobat PSAK, ada deteksi dini kesulitan belajar yang dapat dilakukan orang tua di rumah. Deteksi dini ini dilakukan khususnya saat anak memasuki usia Sekolah Dasar (SD) pada usia kelas awal (1-3 SD),


gangguan belajar

Ilustrasi anak sedang  belajar (Foto: Olia Danilevich, Pexels)



Berikut ini hal yang perlu orang tua amati dari perilaku anak, khususnya kemampuan belajar pada tingkat kelas awal (1-3 SD):

Baca juga:  Apa Penyebab Gangguan Belajar? Waspadai Potensi Putus Sekolah dari Anak dengan Gangguan Belajar

1.   Amati kemampuan membacanya

a.       Apakah sudah mampu mengenal huruf dan angka?

b.      Apakah ketika membaca kata-kata ada yang huruf salah atau sudah lancar?

c.       Sudahkah mampu memaknai kata-kata dan kalimat sederhana dari yang dia baca?

d.  Bagaimana kemampuan membacanya, apakah lancar, mengeja, atau tidak mampu membaca sama sekali.

2. Amati kemampuan menulisnya.

a.       Apakah mampu memegang pensil atau alat tulis dengan baik dan benar?

b.      Apakah ada huruf yang terlewat pada satu atau beberapa kata?

c.       Apakah tulisan tangannya tidak mampu dibaca oleh orang lain.


Baca juga: Kenali Ciri Gangguan Belajar Anak: Waspadai dan Tangani Sejak Usia Sekolah Dasar!

3.   Amati kemampuan berhitungnya.

a.       Apakah mampu membedakan mana lebih kecil atau lebih besar?

b.      Apakah mampu menghitung objek atau benda?

c.     Apakah mampu mengurutkan bilangan dari yang terkecil hingga terbesar pada kisaran 1-10?

d.    Apakah mampu mnghitung mundur dari bilangan terbsar ke bilangan paling kecil pada kisaran 1-10?


Baca juga: Kenali Penyebab Stres! Ini Langkah Awal untuk Atasinya

4.   Amati kemampuan berbahasa dan komunikasi anak

a.       Apakah anak mampu memahami pembicaraan dari orang lain?

b.      Apakah dalam tanya jawab sudah menyambung antara pertanyaan dengan jawaban yang diberikan?

c.    Apakah anak mampu mengingat informasi penting di keseharian seperti tugas sekolah dan mengkomunikasikannya kepada orang tua?

5.       Amati daya tahun pemusatan perhatian anak

a.       Apakah anak sudah mampu duduk diam dalam belajar selama 1 jam?

b.  Anak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik di kelas dan tidak mengganggu temannya?

c.       Apakah sudah mampu mempertahankan perhatian dalam membaca?

 

Baca juga:  Apa Penyebab Gangguan Belajar? Waspadai Potensi Putus Sekolah dari Anak dengan Gangguan Belajar

Jika ananda mengalami masalah di atas, pada tingkatan kelas 1 semester genap, langkah pertama bagi Sobat PSAK adalah mendatangi ahli ya Ayah dan Bunda.  Saat anak mengalami masalah dalam menulis, membaca, dan berhitung yang disertai dengan rendahnya pencapaian akademis, maka datanglah ke psikolog klinis anak atau psikolog pendidikan.

Kunjungan ke psikolog klinis anak atau psikolog pendidikan akan menegakkan diagnosa apakah anak mengalami masalah kesulitan belajar.  Selanjutnya adalah ditindak lanjuti dengan melakukan terapi sesuai masalah yang dialami. 

Ada kalanya masalah kesulitan belajar mengalami tumpang tindah dengan masalah psikologis lainnya. Oleh karenanya perlu diagnosa yang tepat dan komprehensif. Para ahli akan merujuk ke berbagai intervensi untuk menangani masalah ini.

Salah satu terapi untuk masalah kesulitan belajar adalah terapi belajar dan terapi metakognitif.  Melalui terapi tersebut anak diperkenalkan dengan berbagai strategi belajar yang dapat mengatasi dalam penerimaan, pemerosesan, dan pengolahan informasi saat belajar.    

Di sisi lain, pengakuan sejak awal bahwa anak-anak mungkin berisiko terkena kesulitan belajar dapat mencegah keraguan diri dari orang tua dan anak selama bertahun-tahun. Hal ini akan mempermudah anak dalam proses belajar dan menerima dirinya.

Baca juga: Label "Anak Nakal" atau "Anak Lambat": Membongkar Mitos Tersembunyi di Balik ADHD dan ADD

Seiring bertambahnya usia anak, mereka akan belajar tentang sifat khusus kesulitan belajar yang dialami.  Mereka akan  menerima bahwa kesulitan belajar bukanlah siapa diri mereka tetapi apa yang mereka miliki. 

Mereka akan menggunakan berbagai strategi untuk mengatur jenis pendekatan belajar yang sesuai, penyediaan kebutuhan belajar, dan dukungan yang dibutuhkan untuk sukses.  Hal ini akan membantu anak mengatasi hambatan untuk belajar dan menjadi anggota masyarakat yang mandiri, percaya diri dan berkontribusi di masyarakat.

Referensi

Arnaldi, M. (2016). Kupas tuntas masalah anak slow learner (keterlambatan perkembangan fungsi bahasa dan bicara). Jakarta: Klinik Psikonurologi Hang Lekiu & Asosiasi Cinta Guru Indonesia.

Cortiella, C. & Horowitz, S.H. (2014). The State of Learning Disabilities: Facts, Trends and Emerging Issues. 3 eds. New York: National Center for Learning Disabilities https://help4mychild.org/wp-content/uploads/woocommerce_uploads/2015/10/gen-The-State-of-Learning-Disabilities-2014.pdf

Helen Hargreaves, H., Rowbotham, M., & Phillips, M. (2009). A Handbook onLearning Disabilities. Walk a Mile in My Shoes Workhsop. Diakses 15 April 2021 dari https://www.childdevelop.ca/sites/default/files/files/WAM%20LD%20handbook.pdf.

Syarifudin, A. (3 Juni 2021). Mengenal angka dan kemampuan berhitung anak. www.ilmuparenting.net. Diakses 6 Februari 2022 dari https://ilmuparenting.net/kemampuan-berhitung-anak/

Syarifudin, A. (4 Juni 2021). Karakteristik gangguan belajar pada anak. www.ilmuparenting.net. Diakses 6 Februari 2022 dari https://ilmuparenting.net/gangguan-belajar-pada-anak/

VandenBos, G. R., & American Psychological Association. (2007). APA dictionary of psychology. 2nd  eds. Washington, DC: American Psychological Association https://psycnet.apa.org/record/2006-11044-000

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Burnout: Penyebab, Gejala, Dampak, Tes, dan Cara Pulih Berdasarkan Neurosains

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Burnout bukan terjadi karena Anda "lemah". Bisa jadi justru karena Anda terlalu kuat bertahan. Di media sosial, kita sering melihat budaya hustle : lembur dianggap dedikasi, selalu online dianggap profesional, dan membalas pesan kantor tengah malam dianggap loyalitas. Akibatnya, banyak pekerja merasa bersalah ketika beristirahat, padahal otaknya sudah memberi sinyal bahaya. Yang ironis, sebagian orang baru menyadari dirinya mengalami burnout ketika tubuh mulai "protes": sulit tidur, mudah marah, kehilangan motivasi, sering lupa, atau merasa lelah meski baru bangun tidur. Padahal, burnout bukan sekadar capek biasa. Menurut World Health Organization, burnout merupakan sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola, bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja. Ilustrasi pekerja yang alami burnout Baca artikel lainnya:  Apa itu Burnout? Pendahuluan Bayangkan seorang karyawan di Jakarta yang setiap hari menghab...

Deteksi Dini Stres dan Depresi

Stres! Itulah yang sering diungkapkan saat pikiran kita kalut atau banyak permasalahan. Namun jika ditelaah lebih lanjut, stres tidak hanya bersifat psikis saja. Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Oleh karena itu, saat tubuh kita merasakan tekanan dari luar baik fisik, psikis, emosi maupun mental maka tubuh dapat memberikan respon. Secara umum pemicu stres atau stressor dapat didefinsikan sebagai segala tantangan yang muncul dari dalam atau luar yang mengganggu internal tubuh kita. Tubuh kita akan merespon stressor yang terlibat dalam berbagai mekanisme fisiologi yang dirancang untuk mengembalikan homeostasis. Homeostasis adalah suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang di alaminya. Baca juga:  VITAMIN B DAN DEPRESI Saat stres datang kesei...

Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Saat ini stres menjadi permasalahan utama di perkotaan. Bahkan stres yang berujung kepada depresi menjadi permasalahan serius. Tingginya rutinitas pekerjaan, beban tugas sekolah dan perkuliahan serta komplesitas masalah di perkotaan mendorong berbagai hal menjadi pemicu stres. Jika tidak ditangani dengan baik, maka stres yang berkepanjangan akan mengarah kepada depresi dan gangguan mood. Namun temuan ilmiah terakhir stres juga berkaitan erat dengan fisiologis tubuh dimana dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh atau immune system. Hal ini tidak tertutup kemungkinan menyebabkan penyakit autoimun. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh. Banyak ditemukan bahwa penyakit autoimun sepert Lupus, sarkoidosis, vitiligo, hipotiroidisme dimana salah satu pemi...