Deteksi Dini Gangguan Belajar oleh Orang Tua
Sobat PSAK, ada deteksi dini kesulitan belajar yang dapat dilakukan orang tua di rumah. Deteksi dini ini dilakukan khususnya saat anak memasuki usia Sekolah Dasar (SD) pada usia kelas awal (1-3 SD),
Ilustrasi anak sedang belajar (Foto: Olia Danilevich, Pexels) |
Berikut ini hal yang perlu orang tua amati dari perilaku anak, khususnya kemampuan belajar pada tingkat kelas awal (1-3 SD):
Baca juga: Apa Penyebab Gangguan Belajar? Waspadai Potensi Putus Sekolah dari Anak dengan Gangguan Belajar
1. Amati kemampuan membacanya
a.
Apakah sudah mampu mengenal huruf dan angka?
b.
Apakah ketika membaca kata-kata ada yang huruf salah
atau sudah lancar?
c.
Sudahkah mampu memaknai kata-kata dan kalimat sederhana
dari yang dia baca?
d. Bagaimana kemampuan membacanya, apakah lancar, mengeja, atau tidak mampu membaca sama sekali.
2. Amati kemampuan menulisnya.
a.
Apakah mampu memegang pensil atau alat tulis
dengan baik dan benar?
b.
Apakah ada huruf yang terlewat pada satu atau
beberapa kata?
c.
Apakah tulisan tangannya tidak mampu dibaca oleh
orang lain.
Baca juga: Kenali Ciri Gangguan Belajar Anak: Waspadai dan Tangani Sejak Usia Sekolah Dasar!
3. Amati kemampuan berhitungnya.
a.
Apakah mampu membedakan mana lebih kecil atau
lebih besar?
b.
Apakah mampu menghitung objek atau benda?
c. Apakah mampu mengurutkan bilangan dari yang
terkecil hingga terbesar pada kisaran 1-10?
d. Apakah mampu mnghitung mundur dari bilangan
terbsar ke bilangan paling kecil pada kisaran 1-10?
Baca juga: Kenali Penyebab Stres! Ini Langkah Awal untuk Atasinya
4. Amati kemampuan berbahasa dan komunikasi anak
a.
Apakah anak mampu memahami pembicaraan dari
orang lain?
b.
Apakah dalam tanya jawab sudah menyambung antara
pertanyaan dengan jawaban yang diberikan?
c. Apakah anak mampu mengingat informasi penting di
keseharian seperti tugas sekolah dan mengkomunikasikannya kepada orang tua?
5. Amati daya tahun pemusatan perhatian anak
a.
Apakah anak sudah mampu duduk diam dalam belajar
selama 1 jam?
b. Anak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik di
kelas dan tidak mengganggu temannya?
c.
Apakah sudah mampu mempertahankan perhatian dalam
membaca?
Baca juga: Apa Penyebab Gangguan Belajar? Waspadai Potensi Putus Sekolah dari Anak dengan Gangguan Belajar
Jika ananda mengalami masalah di atas, pada tingkatan kelas 1 semester genap, langkah pertama bagi Sobat PSAK adalah mendatangi ahli ya Ayah dan Bunda. Saat anak mengalami masalah dalam menulis, membaca, dan berhitung yang disertai dengan rendahnya pencapaian akademis, maka datanglah ke psikolog klinis anak atau psikolog pendidikan.
Kunjungan ke psikolog klinis anak atau psikolog pendidikan akan menegakkan diagnosa apakah anak mengalami masalah kesulitan belajar. Selanjutnya adalah ditindak lanjuti dengan melakukan terapi sesuai masalah yang dialami.
Ada kalanya masalah kesulitan belajar mengalami tumpang tindah dengan masalah psikologis lainnya. Oleh karenanya perlu diagnosa yang tepat dan komprehensif. Para ahli akan merujuk ke berbagai intervensi untuk menangani masalah ini.
Salah satu terapi untuk masalah kesulitan belajar adalah terapi belajar dan terapi metakognitif. Melalui terapi tersebut anak diperkenalkan dengan berbagai strategi belajar yang dapat mengatasi dalam penerimaan, pemerosesan, dan pengolahan informasi saat belajar.
Di sisi lain, pengakuan sejak awal bahwa anak-anak mungkin berisiko terkena kesulitan belajar dapat mencegah keraguan diri dari orang tua dan anak selama bertahun-tahun. Hal ini akan mempermudah anak dalam proses belajar dan menerima dirinya.
Baca juga: Label "Anak Nakal" atau "Anak Lambat": Membongkar Mitos Tersembunyi di Balik ADHD dan ADD
Seiring bertambahnya usia anak, mereka akan belajar
tentang sifat khusus kesulitan belajar yang dialami. Mereka akan menerima bahwa kesulitan belajar bukanlah
siapa diri mereka tetapi apa yang mereka miliki.
Mereka akan menggunakan berbagai strategi untuk mengatur jenis pendekatan belajar yang sesuai, penyediaan kebutuhan belajar, dan dukungan yang dibutuhkan untuk sukses. Hal ini akan membantu anak mengatasi hambatan untuk belajar dan menjadi anggota masyarakat yang mandiri, percaya diri dan berkontribusi di masyarakat.
Referensi
Arnaldi, M. (2016). Kupas
tuntas masalah anak slow learner (keterlambatan perkembangan fungsi bahasa dan
bicara). Jakarta: Klinik Psikonurologi Hang Lekiu & Asosiasi Cinta Guru
Indonesia.
Cortiella,
C. & Horowitz, S.H. (2014). The State of Learning Disabilities:
Facts, Trends and Emerging Issues. 3 eds. New York: National Center
for Learning Disabilities https://help4mychild.org/wp-content/uploads/woocommerce_uploads/2015/10/gen-The-State-of-Learning-Disabilities-2014.pdf
Helen
Hargreaves, H., Rowbotham, M., & Phillips, M. (2009). A Handbook
onLearning Disabilities. Walk a Mile in My Shoes Workhsop. Diakses 15 April
2021 dari https://www.childdevelop.ca/sites/default/files/files/WAM%20LD%20handbook.pdf.
Syarifudin,
A. (3 Juni 2021). Mengenal angka dan kemampuan berhitung anak.
www.ilmuparenting.net. Diakses 6 Februari 2022 dari https://ilmuparenting.net/kemampuan-berhitung-anak/
Syarifudin,
A. (4 Juni 2021). Karakteristik gangguan belajar pada anak.
www.ilmuparenting.net. Diakses 6 Februari 2022 dari https://ilmuparenting.net/gangguan-belajar-pada-anak/
VandenBos,
G. R., & American Psychological Association. (2007). APA dictionary
of psychology. 2nd eds. Washington, DC: American Psychological
Association https://psycnet.apa.org/record/2006-11044-000
Komentar
Posting Komentar