![]() |
| Ilustrasi stres (foto: Pexels.com) |
Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga
Stres Itu Ada yang Bermanfaat?
Ketika mendengar kata stres, apa yang pertama kali terlintas
di benak Anda? Mungkin tumpukan pekerjaan yang tak ada habisnya, tenggat waktu
yang mencekik, atau kecemasan yang membuat dada terasa sesak. Kita semua
setuju, stres adalah momok yang selalu ingin kita hindari. Tapi, bagaimana jika
saya bilang bahwa tidak semua stres itu buruk? Bahkan, ada jenis stres yang
justru bisa membuat Anda lebih fokus, termotivasi, dan produktif.
Kontroversial, bukan? Sebagian besar dari kita hanya
mengenal sisi negatif stres, yaitu dampak buruknya pada kesehatan fisik dan
mental. Namun, dari sudut pandang neuropsikologi, pemahaman ini kurang lengkap.
Faktanya, ada berbagai jenis stres dengan efek yang berbeda pada otak dan tubuh
kita. Memahami perbedaan ini adalah kunci untuk mengelola stres dengan lebih
bijak. Mari kita telusuri lebih dalam.
Eustress: Stres Positif yang Membakar Semangat
Pernahkah Anda merasa jantung berdebar kencang sebelum
presentasi penting, tetapi setelah selesai, Anda merasa puas dan lega? Atau,
merasakan adrenalin saat berolahraga ekstrem? Itu adalah eustress.
Istilah eustress pertama kali diperkenalkan oleh
endokrinologis Hans Selye pada tahun 1974. Eustress adalah bentuk stres positif
yang memicu respons fisiologis optimal untuk meningkatkan performa. Ketika kita
menghadapi eustress, otak melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin
dalam jumlah terkontrol. Hormon ini bukan untuk merusak, melainkan untuk
membantu kita tetap fokus dan waspada (Bieler, 2017).
Contoh eustress:
- Mempersiapkan
diri untuk wawancara kerja.
- Merasa
tertantang saat mengerjakan proyek baru.
- Berolahraga
dan memecahkan rekor pribadi.
- Mengatur
acara pernikahan atau pesta.
Menurut sebuah studi dari Journal of Applied Psychology,
eustress dapat meningkatkan kreativitas dan mendorong penyelesaian masalah
(Pearsall & Fiksenbaum, 2021). Eustress membuat kita keluar dari zona
nyaman, tetapi dalam batas yang terkendali, sehingga kita merasa tertantang,
bukan tertekan. Ini adalah jenis stres yang mendorong pertumbuhan.
Distress: Stres Negatif yang Menguras Energi
Sebaliknya, distress adalah jenis stres yang paling
kita kenal. Ini adalah respons tubuh dan otak terhadap situasi yang terasa
tidak dapat dikendalikan atau terlalu berat. Distress dibagi menjadi dua jenis:
stres akut (jangka pendek) dan stres kronis (jangka panjang).
Stres akut adalah respons cepat terhadap ancaman yang
tiba-tiba, misalnya, hampir menabrak mobil atau dikejar anjing. Tubuh akan
mengaktifkan respons "lawan-atau-lari" (fight-or-flight), yang
menyebabkan detak jantung meningkat dan otot menegang. Setelah ancaman hilang,
tubuh kembali normal. Namun, stres akut yang berulang bisa melelahkan (Arnsten,
2009).
Stres kronis adalah kondisi yang jauh lebih
berbahaya. Ini terjadi ketika kita terus-menerus terpapar stres, seperti
tekanan finansial yang tidak pernah berakhir, pekerjaan yang tidak disukai,
atau hubungan yang toxic. Berbeda dengan eustress, stres kronis membanjiri otak
dengan kortisol dalam jumlah besar, yang jika terus berlanjut, dapat merusak
sel-sel saraf di hipokampus, bagian otak yang vital untuk memori dan regulasi
emosi (Lupien et al., 2009).
Dampak stres kronis sangat luas, mulai dari masalah
pencernaan, insomnia, depresi, hingga peningkatan risiko penyakit jantung
(American Psychological Association, 2019). Sebuah meta-analisis di Journal
of Health Psychology menunjukkan korelasi kuat antara stres kronis dengan
penurunan fungsi kognitif dan masalah kesehatan mental (Grant et al., 2003).
Bagaimana Cara Mengelola Stres dengan Bijak?
Kunci untuk mengelola stres adalah dengan mengenali
jenisnya. Jika Anda merasa tertantang dan termotivasi, kemungkinan besar itu
adalah eustress. Gunakan energi positif tersebut untuk mencapai tujuan Anda.
Namun, jika Anda merasa lelah, tidak berdaya, atau cemas, itu adalah tanda
distress. Segera ambil tindakan.
Berikut beberapa cara praktis untuk mengelola distress:
- Identifikasi
sumber stres: Tuliskan apa saja yang memicu stres Anda. Apakah
pekerjaan, hubungan, atau masalah keuangan? Mengenali masalah adalah
langkah pertama.
- Teknik
relaksasi: Praktikkan meditasi, pernapasan dalam, atau yoga. Studi di Frontiers
in Psychology menunjukkan bahwa mindfulness dapat mengurangi kadar
kortisol dan meningkatkan kesehatan mental (Grossman, Niemann, Schmidt,
& Walach, 2004).
- Gerak
fisik: Olahraga adalah cara terbaik untuk membakar hormon stres.
Aktivitas fisik melepaskan endorfin, senyawa kimia di otak yang membuat
kita merasa bahagia (Harvard Medical School, 2018).
- Istirahat
yang cukup: Kurang tidur adalah pemicu stres utama. Pastikan Anda
tidur 7-8 jam per malam untuk meregenerasi sel otak dan tubuh.
- Minta
bantuan profesional: Jangan ragu untuk mencari bantuan dari psikolog
atau terapis jika stres terasa tidak terkendali.
Kendalikan Stres, Jangan Biarkan Ia Mengendalikanmu
Stres tidak selalu menjadi musuh. Dengan memahami eustress
dan distress, kita bisa mengubah cara pandang kita terhadap tekanan
hidup. Eustress adalah alat yang bisa kita gunakan untuk mencapai potensi
maksimal, sementara distress adalah sinyal bahaya yang harus segera kita
tangani. Jadi, lain kali Anda merasa tertekan, tanyakan pada diri sendiri:
"Apakah ini stres yang membangun, atau stres yang merusak?" Jawaban
itu akan menuntun Anda menuju hidup yang lebih seimbang dan sehat.
Referensi
American Psychological Association. (2019). Stress in
America: The Role of Stress in Physical and Mental Health.
Arnsten, A. F. (2009). Stress signaling pathways that impair
prefrontal cortex structure and function. Nature Neuroscience, 12(4),
410–416.
Bhasin, M. K., Dusek, J. A., et al. (2013). Relaxation
Response and Resiliency. PLOS ONE, 8(6), e67192.
Bieler, M. (2017). The Role of Stress in the Workplace. Journal
of Business and Management, 5(2), 45-58.
Grant, K. E., Compas, B. E., Stuhlmacher, K. D., &
Thomsen, A. H. (2003). Stress and psychological adjustment in adolescence. Journal
of Health Psychology, 8(5), 553–569.
Grossman, P., Niemann, L., Schmidt, S., & Walach, H.
(2004). Mindfulness-based stress reduction and health benefits. Journal of
Psychosomatic Research, 57(1), 35-43.
Harvard Medical School. (2018). Exercising to relax.
Diakses dari: https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/exercising-to-relax
Lupien, S. J., Maheu, S. E., Tu, M., Fiocco, A., &
McEwen, B. S. (2009). The effects of stress throughout the lifespan on the
brain. Annual Review of Neuroscience, 32, 289–310.
McEwen, B. S. (1998). Protective and damaging effects of
stress mediators. New England Journal of Medicine, 338(3), 171–179.
Pearsall, R. & Fiksenbaum, L. (2021). The Double-Edged
Sword of Challenge Stressors. Journal of Applied Psychology, 106(4),
548–567.
Selye, H. (1974). Stress Without Distress. J.B. Lippincott
Company.

Komentar
Posting Komentar