Langsung ke konten utama

Featured post

Work From Home Bisa Merusak Kesehatan Mental? Ini Penjelasan Neurosainsnya

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Banyak orang mengira bekerja dari rumah ( work from home ) atau sistem hybrid adalah anugerah terbesar bagi pekerja di Jabodetabek. Tidak ada lagi drama macet di Sudirman, tidak perlu berdesakan di KRL Commuter Line pagi hari, dan bisa bekerja sambil mengenakan celana piyama. Namun, sebagai seorang pemerhati neurosains dan psikologi, saya ingin melemparkan sebuah kenyataan pahit yang mungkin tidak ingin Anda dengar: Bekerja dari kamar tamu atau meja makan Anda sebenarnya sedang menciptakan "kebakaran" di dalam sirkuit otak Anda yang jauh lebih berbahaya daripada polusi Jakarta. Kebebasan yang Anda rasakan itu semu. Tanpa disadari, dinding rumah Anda kini telah berubah menjadi dinding kantor yang tidak pernah tutup. Inilah yang disebut dengan jebakan boundary blurring atau pengikisan batas antara kehidupan profesional dan personal yang diperparah oleh technostress . Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Mod...

Stres Bukan Cuma Musuh! Ternyata Ada Stres yang Bikin Kamu Lebih Produktif

 

Ilustrasi stres (foto: Pexels.com)

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga

Stres Itu Ada yang Bermanfaat?

Ketika mendengar kata stres, apa yang pertama kali terlintas di benak Anda? Mungkin tumpukan pekerjaan yang tak ada habisnya, tenggat waktu yang mencekik, atau kecemasan yang membuat dada terasa sesak. Kita semua setuju, stres adalah momok yang selalu ingin kita hindari. Tapi, bagaimana jika saya bilang bahwa tidak semua stres itu buruk? Bahkan, ada jenis stres yang justru bisa membuat Anda lebih fokus, termotivasi, dan produktif.

Kontroversial, bukan? Sebagian besar dari kita hanya mengenal sisi negatif stres, yaitu dampak buruknya pada kesehatan fisik dan mental. Namun, dari sudut pandang neuropsikologi, pemahaman ini kurang lengkap. Faktanya, ada berbagai jenis stres dengan efek yang berbeda pada otak dan tubuh kita. Memahami perbedaan ini adalah kunci untuk mengelola stres dengan lebih bijak. Mari kita telusuri lebih dalam.

Eustress: Stres Positif yang Membakar Semangat

Pernahkah Anda merasa jantung berdebar kencang sebelum presentasi penting, tetapi setelah selesai, Anda merasa puas dan lega? Atau, merasakan adrenalin saat berolahraga ekstrem? Itu adalah eustress.

Istilah eustress pertama kali diperkenalkan oleh endokrinologis Hans Selye pada tahun 1974. Eustress adalah bentuk stres positif yang memicu respons fisiologis optimal untuk meningkatkan performa. Ketika kita menghadapi eustress, otak melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin dalam jumlah terkontrol. Hormon ini bukan untuk merusak, melainkan untuk membantu kita tetap fokus dan waspada (Bieler, 2017).

Contoh eustress:

  • Mempersiapkan diri untuk wawancara kerja.
  • Merasa tertantang saat mengerjakan proyek baru.
  • Berolahraga dan memecahkan rekor pribadi.
  • Mengatur acara pernikahan atau pesta.

Menurut sebuah studi dari Journal of Applied Psychology, eustress dapat meningkatkan kreativitas dan mendorong penyelesaian masalah (Pearsall & Fiksenbaum, 2021). Eustress membuat kita keluar dari zona nyaman, tetapi dalam batas yang terkendali, sehingga kita merasa tertantang, bukan tertekan. Ini adalah jenis stres yang mendorong pertumbuhan.

Baca artikel lainnya: Berhenti Stres! Kenapa "Santai" Itu Perintah Otak, Bukan Pilihan (Dan Cara Melakukannya!)

Distress: Stres Negatif yang Menguras Energi

Sebaliknya, distress adalah jenis stres yang paling kita kenal. Ini adalah respons tubuh dan otak terhadap situasi yang terasa tidak dapat dikendalikan atau terlalu berat. Distress dibagi menjadi dua jenis: stres akut (jangka pendek) dan stres kronis (jangka panjang).

Stres akut adalah respons cepat terhadap ancaman yang tiba-tiba, misalnya, hampir menabrak mobil atau dikejar anjing. Tubuh akan mengaktifkan respons "lawan-atau-lari" (fight-or-flight), yang menyebabkan detak jantung meningkat dan otot menegang. Setelah ancaman hilang, tubuh kembali normal. Namun, stres akut yang berulang bisa melelahkan (Arnsten, 2009).

Stres kronis adalah kondisi yang jauh lebih berbahaya. Ini terjadi ketika kita terus-menerus terpapar stres, seperti tekanan finansial yang tidak pernah berakhir, pekerjaan yang tidak disukai, atau hubungan yang toxic. Berbeda dengan eustress, stres kronis membanjiri otak dengan kortisol dalam jumlah besar, yang jika terus berlanjut, dapat merusak sel-sel saraf di hipokampus, bagian otak yang vital untuk memori dan regulasi emosi (Lupien et al., 2009).

Dampak stres kronis sangat luas, mulai dari masalah pencernaan, insomnia, depresi, hingga peningkatan risiko penyakit jantung (American Psychological Association, 2019). Sebuah meta-analisis di Journal of Health Psychology menunjukkan korelasi kuat antara stres kronis dengan penurunan fungsi kognitif dan masalah kesehatan mental (Grant et al., 2003).

Baca artikel lainnya: Stres Bikin Kamu Jadi Psikopat? Kenapa Otakmu Membenci Kolaborasi Saat Tertekan!

Bagaimana Cara Mengelola Stres dengan Bijak?

Kunci untuk mengelola stres adalah dengan mengenali jenisnya. Jika Anda merasa tertantang dan termotivasi, kemungkinan besar itu adalah eustress. Gunakan energi positif tersebut untuk mencapai tujuan Anda. Namun, jika Anda merasa lelah, tidak berdaya, atau cemas, itu adalah tanda distress. Segera ambil tindakan.

Berikut beberapa cara praktis untuk mengelola distress:

  • Identifikasi sumber stres: Tuliskan apa saja yang memicu stres Anda. Apakah pekerjaan, hubungan, atau masalah keuangan? Mengenali masalah adalah langkah pertama.
  • Teknik relaksasi: Praktikkan meditasi, pernapasan dalam, atau yoga. Studi di Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa mindfulness dapat mengurangi kadar kortisol dan meningkatkan kesehatan mental (Grossman, Niemann, Schmidt, & Walach, 2004).
  • Gerak fisik: Olahraga adalah cara terbaik untuk membakar hormon stres. Aktivitas fisik melepaskan endorfin, senyawa kimia di otak yang membuat kita merasa bahagia (Harvard Medical School, 2018).
  • Istirahat yang cukup: Kurang tidur adalah pemicu stres utama. Pastikan Anda tidur 7-8 jam per malam untuk meregenerasi sel otak dan tubuh.
  • Minta bantuan profesional: Jangan ragu untuk mencari bantuan dari psikolog atau terapis jika stres terasa tidak terkendali.

Kendalikan Stres, Jangan Biarkan Ia Mengendalikanmu

Stres tidak selalu menjadi musuh. Dengan memahami eustress dan distress, kita bisa mengubah cara pandang kita terhadap tekanan hidup. Eustress adalah alat yang bisa kita gunakan untuk mencapai potensi maksimal, sementara distress adalah sinyal bahaya yang harus segera kita tangani. Jadi, lain kali Anda merasa tertekan, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah ini stres yang membangun, atau stres yang merusak?" Jawaban itu akan menuntun Anda menuju hidup yang lebih seimbang dan sehat.

Baca artikel lainnya: Apakah Meditasi Hanya Mitos untuk Orang Stres?

Referensi

American Psychological Association. (2019). Stress in America: The Role of Stress in Physical and Mental Health.

Arnsten, A. F. (2009). Stress signaling pathways that impair prefrontal cortex structure and function. Nature Neuroscience, 12(4), 410–416.

Bhasin, M. K., Dusek, J. A., et al. (2013). Relaxation Response and Resiliency. PLOS ONE, 8(6), e67192.

Bieler, M. (2017). The Role of Stress in the Workplace. Journal of Business and Management, 5(2), 45-58.

Grant, K. E., Compas, B. E., Stuhlmacher, K. D., & Thomsen, A. H. (2003). Stress and psychological adjustment in adolescence. Journal of Health Psychology, 8(5), 553–569.

Grossman, P., Niemann, L., Schmidt, S., & Walach, H. (2004). Mindfulness-based stress reduction and health benefits. Journal of Psychosomatic Research, 57(1), 35-43.

Harvard Medical School. (2018). Exercising to relax. Diakses dari: https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/exercising-to-relax

Lupien, S. J., Maheu, S. E., Tu, M., Fiocco, A., & McEwen, B. S. (2009). The effects of stress throughout the lifespan on the brain. Annual Review of Neuroscience, 32, 289–310.

McEwen, B. S. (1998). Protective and damaging effects of stress mediators. New England Journal of Medicine, 338(3), 171–179.

Pearsall, R. & Fiksenbaum, L. (2021). The Double-Edged Sword of Challenge Stressors. Journal of Applied Psychology, 106(4), 548–567.

Selye, H. (1974). Stress Without Distress. J.B. Lippincott Company.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deteksi Dini Stres dan Depresi

Stres! Itulah yang sering diungkapkan saat pikiran kita kalut atau banyak permasalahan. Namun jika ditelaah lebih lanjut, stres tidak hanya bersifat psikis saja. Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Oleh karena itu, saat tubuh kita merasakan tekanan dari luar baik fisik, psikis, emosi maupun mental maka tubuh dapat memberikan respon. Secara umum pemicu stres atau stressor dapat didefinsikan sebagai segala tantangan yang muncul dari dalam atau luar yang mengganggu internal tubuh kita. Tubuh kita akan merespon stressor yang terlibat dalam berbagai mekanisme fisiologi yang dirancang untuk mengembalikan homeostasis. Homeostasis adalah suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang di alaminya. Baca juga:  VITAMIN B DAN DEPRESI Saat stres datang kesei...

Macet Jabodetabek atau Beban Kerja? Menguak Akar Lelah Mental Pekerja Urban

  Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Anda merasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan dua jam dari Bekasi ke Sudirman, lalu sesampainya di meja kantor, Anda hanya menatap layar kosong selama 30 menit? Banyak dari kita menyalahkan kemacetan Jakarta yang legendaris sebagai biang keladi kelelahan ini. Namun, sebagai pemerhati neurosains yang sering menangani kasus kesehatan mental pekerja, saya ingin melemparkan sebuah pernyataan kontroversial: Macet Jabodetabek mungkin hanyalah kambing hitam yang nyaman untuk menyembunyikan kenyataan bahwa lingkungan kerja Anda sebenarnya sedang "merusak" fungsi otak Anda. Kita sering terjebak dalam mitos bahwa jika perjalanan komuter kita lebih singkat, kita akan lebih bahagia. Padahal, kelelahan yang Anda rasakan bukanlah sekadar "capek fisik" biasa, melainkan sinyal dari kondisi klinis yang jauh lebih serius. Baca artikel lainnya:  Burnout pada Generasi Z di Lingkungan Kerja Modern: Tinjauan Neurosains terhadap...

Stres dan Sistem Kekebalan Tubuh

Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Saat ini stres menjadi permasalahan utama di perkotaan. Bahkan stres yang berujung kepada depresi menjadi permasalahan serius. Tingginya rutinitas pekerjaan, beban tugas sekolah dan perkuliahan serta komplesitas masalah di perkotaan mendorong berbagai hal menjadi pemicu stres. Jika tidak ditangani dengan baik, maka stres yang berkepanjangan akan mengarah kepada depresi dan gangguan mood. Namun temuan ilmiah terakhir stres juga berkaitan erat dengan fisiologis tubuh dimana dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh atau immune system. Hal ini tidak tertutup kemungkinan menyebabkan penyakit autoimun. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh. Banyak ditemukan bahwa penyakit autoimun sepert Lupus, sarkoidosis, vitiligo, hipotiroidisme dimana salah satu pemi...